NovelToon NovelToon
Dikejar Cinta CEO Galak

Dikejar Cinta CEO Galak

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Cintapertama
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rifani

Lucien Scott, pengusaha muda yang menggawangi raksasa bisnis di bawah naungan GS Company, tak sadar telah jatuh cinta pada seorang gadis bernama Andrea. Sosok menggemaskan dengan sikap tegas dan terang-terangan, hadir memberikan warna baru di hidupnya yang terkontrol rapi tanpa cacat. Mencintai dengan bengis, menjadi perjalanan cinta cukup menggelitik di mata orang-orang sekitar mereka. Intrik sederhana menjadi pemanis saat keduanya mulai saling menyadari perasaan masing-masing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16. ( Pingsan )

Tok tok tok

Andrea yang sedang terkapar lemas di ranjang, menggumam pelan saat mendengar suara ketukan pintu. Neneknya sedang menjaga kedai, jadi dia seorang diri di rumah.

Tok tok tok

"Iya sebentar," sahut Andrea lirih. Setengah mati saat dia mencoba untuk bangun. Tertatih, dia berjalan membuka pintu sambil berpegangan ke dinding. "Mencari siapa?"

Veroz dan William kompak membelalakkan mata begitu melihat kemunculan Andrea. Apa yang terjadi pada gadis ini? Kedua matanya memerah dan area di sekitarnya menggelap. Mirip mata panda.

"Oh kalian ternyata. Ada apa?" tanya Andrea lesu tanpa menyadari raut keterkejutan di wajah kedua tamu.

"Nona Andrea, apa yang terjadi padamu?" tanya Veroz khawatir. Untung saja yang datang bukan bosnya, entah apa yang akan terjadi jika tiran itu melihat kondisi Nona Andrea sekarang.

"Kau dipukul orang ya, An?" tanya William penuh selidik.

"Sembarangan. Memangnya siapa yang berani memukulku?" sewot Andrea sambil berusaha keras menjaga keseimbangan badan.

"Lalu kenapa matamu menghitam? Tahu tidak, sekarang kau terlihat seperti panda. Hihihi."

Andrea cemberut. Dia lalu mempersilahkan Veroz dan William masuk ke dalam rumah. Langkahnya yang sempoyongan, hampir saja membuat Andrea jatuh terjerembab andai William tak sigap memeluk pinggangnya dari belakang.

"Tadi malam kau pasti pesta m1ras ya. Makanya sesiang ini jalanmu masih sempoyongan. Dasar gadis liar!" omel William kaget. Dia tak sadar tangannya masih melingkar di pinggang Andrea yang ramping.

Plaakkk

"Singkirkan tanganmu sejauh mungkin dari pinggang Nona Andrea kalau tidak ingin mati cepat. Itu area terlarang, William!" bisik Veroz penuh penekanan. Lagi-lagi dia bersyukur karena bosnya tak melihat ulah temannya ini.

"Ah maaf-maaf, aku tak sengaja. Tadi cuma tindakan reflek saja kok. Sama sekali tak ada niat jahat."

"Tidak apa-apa. Aku tahu kau bukan orang mesum. Terima kasih ya sudah menolongku," sahut Andrea sambil tersenyum tipis. Dibantu William, dia duduk di sofa lalu menyender. Kepalanya berdenyut.

Masih kikuk, William memilih duduk agak menjauh. Dia lalu menyenggol sepatu Veroz, bermaksud memintanya untuk membuka pembicaraan.

"Kau sakit?" tanya Veroz sembari mengamati wajah Nona Andrea. Pucat, jelas kurang istirahat.

"Tubuhnya tidak terlalu panas kok saat aku memegang pinggangnya tadi," bisik William menimpali.

Veroz menoleh lalu menggeretakkan gigi. "Kalau Tuan Lucien mendengar omonganmu barusan, hari ini pasti menjadi dari terakhir kau memiliki jari. Dasar ceroboh!"

Glukk

Dengan ekspresi bingung, Andrea menatap bergantian pada Veroz dan William. Kedua orang ini malah asik berbisik-bisik sendiri dimana wajah William mendadak jadi berkeringat. Bingung, Andrea pun menanyakan apa yang sedang terjadi.

"Ini ada apa ya? Dan kau William, kenapa wajahmu tiba-tiba jadi pucat? Apa terjadi hal buruk?" cecar Andrea penasaran.

"Oh tidak-tidak, aku baru ingat kalau di kantor ada pekerjaan yang belum ku serahkan pada Tuan Lucien. Makanya aku panik," kilah William sambil menelan ludah. Takut salah bertindak lagi, dia memutuskan untuk diam saja.

Ruangan sempat hening sebelum akhirnya Veroz kembali membuka pembicaraan. Kali ini dia serius.

"Nona, kenapa ponselmu tidak bisa dihubungi? Setengah hari ini Tuan Lucien terus saja marah karena kau menghilang tanpa kabar."

"Dia marah?"

"Ya. Sekarang ini kau adalah bagian dari GS Company sebagai karyawan magang. Tiba-tiba absen tanpa ada penjelasan, sebagai pemimpin perusahaan wajar jika Tuan Lucien lusin marah. Apalagi kau dipekerjakan untuk terus berada di sisinya. Jadi bisakah kau jelaskan pada kami alasan kenapa tidak masuk kantor dan kenapa nomor ponselmu tidak dapat dihubungi?" Veroz detail menanyakannya.

"Emm itu Tuan Veroz, aku ....

"Panggil Veroz saja."

"Baiklah."

Sambil memijit kepalanya yang pusing, Andrea menceritakan penyebab mengapa dirinya tak masuk kantor. Termasuk juga alasan kenapa ponselnya tidak bisa dihubungi.

"Aku lupa diri. Semalaman aku tidak tidur karena mempelajari hal-hal yang ada di ponsel baruku. Rumit, tapi menyenangkan. Kalau tidak salah aku baru tidur di jam 5 pagi dan saat bangun tiba-tiba dunia seperti berputar. Kepalaku pusing, perutku mual, mataku berkunang-kunang dan sekujur tubuhku ngilu semua. Nenekku bilang aku masuk angin karena kurang tidur jadi tidak diizinkan berangkat bekerja."

William cengo. Sedangkan Veroz, dia terdiam seribu bahasa.

"Soal kenapa ponselku tak bisa dihubungi, aku lupa mengecasnya. Begitu," ucap Andrea mengakhiri penjelasan. Tangannya kemudian bergerak mengusap tengkuk, agak malu melihat reaksi Veroz dan William. "Maklumi saja ya. Ini adalah kali pertama aku memiliki ponsel. Jadi ....

"An, tahu tidak. Ini adalah pertama kali aku melihat ada orang kolot sekaligus bodoh sepertimu. Untuk apa kau buang-buang waktu semalaman hanya untuk melihat isi ponsel? Itu namanya sia-sia, Andrea. Astaga," kelakar William lalu tertawa terbahak-bahak. Sumpah, gadis desa ini sungguh ketinggalan zaman. Dan tawa William baru berhenti setelah sepatunya diinjak oleh Veroz. "Aku tidak tahan. Sungguh."

"Ekhmmm!" Veroz mengendurkan ikatan dasi di leher. "Lain kali kau harus lebih mengutamakan kesehatan. Kurang istirahat akan sangat berpengaruh pada aktivitasmu, Nona."

"Iya aku tahu. Aku janji tidak akan melakukan kebodohan seperti ini lagi," sahut Andrea malu-malu.

"Sekarang apa yang kau rasakan di tubuhmu? Jika ada yang tidak nyaman, kami akan mengantarmu periksa ke dokter."

"Kepalaku pusing. Sekarang saja di mataku kepala kalian ada tujuh dan terus berputar seperti baling-baling. Membuat perutku jadi mual dan ingin muntah."

Paham akan apa yang dirasakan Nona Andrea, Veroz meminta izin untuk menelpon sebentar. Sebenarnya dia bisa saja langsung membawanya ke rumah sakit. Namun, izin pada seseorang jauh lebih penting. Jika tidak entah apa yang akan terjadi padanya nanti.

[Lucien: "Bagaimana? Gadis gila itu tidak mati 'kan? Kenapa ponselnya tidak bisa dihubungi? Bilang padanya kalau ponsel itu cuma dijadikan pajangan, aku akan menyitanya lagi. Membuat orang naik darah saja."]

"Nona Andrea tidak baik-baik saja, Tuan. Saya berniat membawanya ke rumah sakit," ucap Veroz melaporkan. "Dan tentang kenapa pon ....

Belum juga Veroz menyelesaikan ucapannya, panggilan sudah lebih dulu dimatikan sepihak. Dia lalu mendesah, sudah bisa menebak sepanik apa bosnya sekarang.

"Mau sampai kapan Anda menipu diri sendiri, Tuan. Jelas sedang khawatir tapi Anda malah melontarkan kata yang kasar. Sekarang panik kan setelah tahu kondisi Nona Andrea yang tidak baik-baik saja?"

Di dalam rumah, William dibuat cemas oleh kondisi Andrea yang semakin lemah. Tak lagi mau membuka mata, wajah gadis ini kian memucat seperti mayat. Panik, William meraih kotak tisu lalu membungkus tangannya sebelum menyentuh kening Andrea.

"Demam," gumam William iba. Takut terjadi hal buruk, dia bergegas menyusul Veroz diluar lalu memberitahukan kondisi Andrea. "Cepat masuk ke dalam. Sepertinya calon nona bos kita mulai hilang kesadaran."

"Apa?"

Benar saja. Saat Veroz masuk Andrea telah benar-benar kehilangan kesadarannya. Tak membuang waktu, dia bergegas membopong dan membawanya keluar menuju mobil.

"Hubungi Tuan Lucien sekarang. Katakan kalau Nona Andrea pingsan dan kita sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit terdekat. Cepat!"

"Oke."

Akibat bermain ponsel tak tahu waktu, Andrea sampai tak sadarkan diri dibuatnya. Beruntung Veroz dan William datang ke rumah, jadi ada yang membawanya ke rumah sakit.

"Veroz, sepertinya kita akan segera berjumpa dengan para leluhur," ucap William lirih. "Tuan Lucien bilang dia akan membunuh kita jika sampai terjadi sesuatu pada Andrea. Bagaimana ini? Aku belum menikah,"

"Pengecut. Baru begitu saja nyalimu sudah menciut. Begitu kau berani ingin menyebarkan gosip tentang Tuan Lucien dan Nona Andrea. Memalukan sekali," ejek Veroz sambil mengemudi. Sesekali dia melihat ke kursi belakang, memantau kondisi Nona Andrea.

"Itu dua hal yang berbeda. Bagaimana sih."

"Berbeda apanya. Dua-duanya jelas menuju ke kematian."

"Ck kau ini. Bisa tidak jangan melantur? Nyawa kita sedang diujung jurang sekarang. Seriuslah," protes William ketar-ketir.

"Jangan bawa-bawa kita dalam hal ini. Kau saja sana," sahut Veroz tiba-tiba merasa terhibur oleh kepanikan William.

Mobil terus melaju dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit terdekat. Veroz dan William hanya bisa berdoa semoga gadis yang mereka bawa tidak bernasib buruk karena dampaknya akan sama buruk pada mereka.

***

1
Fadillah Ahmad
Covernya bagus... Menarik juga... 😂😂😂

Sudah lama juga, nggk pernah baca novel dari penulis ini. 😂😂😂 Terakir tahun 2022 yang lalu dah. Waktu Di Novel "Love Story Eleanor dan Gabriele... 😂😂😂
Mak Rifani: Amiinnn m 🙏🙏
total 3 replies
❤️⃟Wᵃf🍾⃝ ͩʏᷞᴜͧᴢᷡᴀͣ.ѕ⍣⃝✰zc❖
makkkk
❤️⃟Wᵃf🍾⃝ ͩʏᷞᴜͧᴢᷡᴀͣ.ѕ⍣⃝✰zc❖ : ok mak😘
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!