Tiga tahun Davira bertahan dalam pernikahan perjodohan yang dingin dengan Arka. Baginya, Arka adalah satu-satunya tempat bersandar setelah ayahnya meninggal karena bangkrut dan adik laki-lakinya hilang tanpa kabar di luar negeri. Davira terus bertahan, berharap kehadiran seorang anak kelak bisa melunakkan hati suaminya.
Namun, takdir justru merenggut segalanya dalam semalam. Di saat dokter memvonisnya menderita kanker rahim stadium 3 dan harus mengangkat rahimnya.
Bukannya mendapat perlindungan, Davira malah dihujat mandul oleh ibu mertua dan adik iparnya. Arka yang tega bahkan memberinya ultimatum: menerima Sheila sebagai istri kedua, atau pergi dari rumah tanpa membawa sepeser pun uang.
Di titik terendah hidupnya, hati Davira mati. Dia memilih pergi membawa luka dan penyakitnya. Davira bersumpah akan sembuh, bangkit, dan kembali untuk membuat Arka beserta keluarganya membayar mahal setiap tetes air mata dan penghianatan keji ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Almesha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Runtuhnya Kemewahan dan Bayang-Bayang Sang Pelindung
Atmosfer di dalam ruang rapat utama Narendra Group berangsur-angsur menjadi begitu pekat, hingga deru napas tertahan dari para jajaran direksi terdengar sangat jelas. Siska Narendra duduk membeku, wajahnya yang biasa dilapisi kosmetik mahal kini tampak pucat pasi bagai kehilangan seluruh darahnya. Di sebelahnya, Maya menggigit bibir bawahnya begitu keras hingga memutih, meremas tas tangan bermerek miliknya yang kini terasa seperti barang pinjaman yang siap dirampas kapan saja.
Vira tidak memberikan waktu barang sedetik pun bagi mereka untuk meratapi nasib. Baginya, setiap air mata dan kepanikan keluarga ini adalah bayaran yang teramat murah dibandingkan dengan penderitaan, darah, dan hancurnya harapan hidup yang dia alami tiga tahun lalu di koridor rumah sakit itu.
"Agenda kedua," Vira kembali membuka lembaran dokumen tebal dengan gerakan tangan yang anggun namun penuh penekanan. "Saya melihat ada alokasi dana khusus sebesar dua ratus juta rupiah setiap bulannya untuk lini bisnis mode dan kecantikan bernama Sheila’s Botique & Spa. Bisnis itu terdaftar sebagai salah satu anak perusahaan atau mitra sekunder dari Narendra Group."
Mendengar nama Sheila disebut, jantung Arka mencelos. Dia buru-buru menegakkan punggungnya. "Vira, itu... itu adalah bisnis milik Sheila. Perusahaan memberikan subsidi modal karena bisnis itu juga membawa nama baik keluarga di kalangan sosialita."
"Membawa nama baik?" Vira mengulang kalimat itu dengan nada sarkasme yang begitu halus, namun sanggup membuat beberapa direktur di ujung meja menyembunyikan senyum geli mereka. "Berdasarkan audit independen yang tim saya lakukan dalam waktu empat puluh delapan jam terakhir, Sheila’s Botique selalu mengalami kerugian berturut-turut sejak pertama kali didirikan. Tidak ada keuntungan satu persen pun yang masuk ke kas Narendra Group. Dana dua ratus juta per bulan itu murni digunakan untuk menutupi gaya hidup boros istri keduamu yang tidak bisa mengelola bisnis."
Vira menutup dokumen tersebut dengan dentuman yang cukup keras, membuat Maya kembali tersentak.
"Mulai hari ini, potong seluruh aliran dana ke bisnis tersebut. Tarik semua aset Narendra Group yang ada di sana, termasuk ruko tiga lantai di kawasan Jakarta Selatan yang saat ini digunakan secara cuma-cuma oleh Sheila," perintah Vira pada direktur operasional. "Jika dalam waktu tiga hari tempat itu tidak dikosongkan, tim hukum saya yang akan turun tangan untuk melakukan eksekusi penyegelan."
"Davira! Kamu benar-benar keterlaluan! Kamu sengaja ingin membunuh kami perlahan-lahan, kan?!" teriak Siska, akhirnya kehilangan seluruh kendali dirinya. Dia berdiri, menunjuk wajah Vira dengan jari yang gemetar hebat. "Kamu dendam karena Arka menceraikanmu! Kamu dendam karena kamu tidak bisa memberikan keturunan untuk keluarga ini, makanya kamu melampiaskannya pada Sheila yang sedang hamil?!"
Mendengar kata "hamil" dan "keturunan", suasana ruangan mendadak menjadi sangat dingin. Reno yang berada di samping Vira langsung mengepalkan tangannya, siap melangkah maju untuk menyeret wanita tua itu keluar. Namun, sebuah isyarat tangan dari Vira menghentikannya.
Vira perlahan bangkit dari kursi Komisaris Utama. Dia berjalan memutari meja elips raksasa tersebut, melangkah pelan hingga akhirnya berhenti tepat di belakang kursi Siska. Vira menundukkan tubuhnya sedikit, membisikkan kata-kata yang hanya bisa didengar oleh Siska, Arka, dan Maya dengan suara yang teramat tenang namun dipenuhi racun yang mematikan.
"Nyonya Siska... rahimku yang hancur tiga tahun lalu adalah akibat dari racun yang kalian berikan di dalam supku setiap malam, dengan dalih jamu kesuburan. Kalian pikir aku tidak tahu."
Siska membelalakkan matanya sempurna, tubuhnya gemetar hebat seolah-olah baru saja melihat hantu di siang bolong. Dia mencoba menatap Arka, namun putranya itu juga tampak syok dan kebingungan.
"Jadi," lanjut Vira, menegakkan kembali tubuhnya dan menatap seluruh orang di ruangan itu dengan senyuman kemenangan. "Nikmati setiap detik kehamilan Sheila. Karena anak yang ada di dalam kandungannya... akan lahir dan tumbuh di sebuah keluarga yang miskin, hancur, dan tidak memiliki apa-apa lagi. Rapat hari ini selesai."
Tanpa menunggu respons, Vira berbalik dan melangkah keluar dari ruang rapat dengan langkah kaki yang angkuh. Reno dan tim hukumnya mengikuti dari belakang, meninggalkan ruang rapat yang kini dipenuhi oleh isak tangis histeris Maya dan keputusasaan Arka.
Sore harinya, badai yang sesungguhnya menghantam rumah utama kediaman Narendra. Sheila yang baru saja menerima surat penarikan fasilitas dan perintah pengosongan rukonya langsung mengamuk bagai orang gila. Dia melempar vas bunga kaca ke arah lantai marmer, membuat pecahan-pecahannya berserakan di depan pintu masuk saat Arka baru saja melangkah ke dalam rumah dengan tubuh yang teramat lelah.
"Mas, Apa-apaan ini?" jerit Sheila sambil menyodorkan selembar surat resmi berlogo V-Tech. "Orang-orang dari bank baru saja meneleponku. Mereka bilang ruko butikku akan disita dalam waktu tiga hari. Dan mobil Alphard yang biasa kupakai... kuncinya diminta oleh sopir kantor siang tadi. Kamu CEO di sana Mas. Kenapa kamu membiarkan wanita mandul itu menginjak-injak kita seperti ini?."
"Diam, Sheila! Aku pusing." bentak Arka, melemparkan tas kerjanya ke atas sofa dengan frustrasi. "Kamu pikir aku diam saja?. Davira sekarang memegang 55% saham. Dia punya kuasa mutlak atas perusahaan. Kalau aku melawan sedikit saja, dia akan memecatku dari posisi CEO dan membiarkan Narendra Group bangkrut."
"Lalu aku harus bagaimana, Mas?. Aku sedang hamil anakmu. Anak ini butuh biaya besar, butuh fasilitas mewah. Aku tidak mau hidup susah." tangis Sheila, terduduk di lantai sambil memegangi perutnya yang mulai membuncit.
Siska yang baru turun dari lantai dua langsung memeluk menantu kesayangannya itu dengan wajah yang dipenuhi dendam membara. "Tenang, Sheila. Ibu tidak akan membiarkan anak di dalam kandunganmu menderita. Jika Davira ingin bermain kotor dengan menggunakan uangnya, maka kita harus mencari cara lain untuk menjatuhkannya."
Siska menatap Arka dengan pandangan mata yang licik. "Arka, wanita itu tidak terkalahkan hanya karena dia punya uang dari investasinya. Tapi posisinya sebagai wanita lajang di dunia bisnis sangat rentan terhadap rumor. Kita harus mencari tahu siapa penyokongnya di Singapura, atau... kita gunakan media untuk menyebarkan berita bahwa kesuksesannya saat ini adalah hasil dari menjual diri pada para taipan asing. Dengan begitu, nama baiknya akan hancur, dan dewan direksi yang lain pasti akan mendesaknya untuk mundur."
Arka terdiam, menimbang-nimbang rencana ibunya. Rasa cintanya yang sempat tersisa untuk Vira kini telah sepenuhnya menguap, digantikan oleh rasa takut akan kemiskinan dan kehancuran harga dirinya sendiri. "Baik, Ma. Aku akan menyuruh orang untuk menyelidiki seluruh aktivitas Davira selama di Singapura, termasuk siapa saja pria yang dekat dengannya baru-baru ini."
Di saat yang sama, di dalam mobil Bentley mewah yang melaju membelah kemacetan jalanan protokol Jakarta, Vira sedang menyandarkan kepalanya di bantalan kursi belakang yang empuk. Matanya terpejam, mencoba mengusir rasa penat yang mendera kepalanya setelah seharian penuh menghadapi keluarga Narendra.
Tiba-tiba, ponsel pribadinya bergetar. Sebuah nomor yang tidak dikenal tertera di layar. Vira mengernyitkan dahi, namun tetap menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan tersebut.
"Halo?"
"Apakah hari pertamamu sebagai pemilik baru Narendra Group berjalan dengan menyenangkan, Vira?"
Suara bariton yang berat, dalam, dan dipenuhi oleh karisma mutlak itu langsung membuat mata Vira terbuka sempurna. Dia mengenali suara itu seketika, Adrian Atmadja.
"Tuan Adrian? Bagaimana Anda bisa mendapatkan nomor pribadi saya?" tanya Vira, mencoba menjaga suaranya tetap formal meski ada debaran halus yang mendadak muncul di dadanya.
Mendengar pertanyaan itu, terdengar kekehan rendah yang sangat seksi dari seberang telepon. "Bagi seorang Atmadja, mencari nomor telepon wanita yang telah mencuri hati putranya bukanlah hal yang sulit."
Vira terdiam sejenak, wajahnya sedikit merona namun dia buru-buru menepis perasaan itu. "Jika Anda menelepon hanya untuk membahas urusan piknik hari Sabtu lalu, saya rasa saya sudah mengucapkan terima kasih lewat sekretaris Anda."
"Bukan, Vira. Aku menelepon untuk urusan yang jauh lebih penting," nada suara Adrian mendadak berubah menjadi serius dan sarat akan proteksi. "Mata-mataku di lingkungan keluarga Narendra baru saja melaporkan bahwa Arka dan ibunya sedang berencana untuk menyewa peretas dan agen rahasia. Mereka ingin mencari celah masa lalumu di Singapura untuk membuat skandal pencemaran nama baikmu di media masa."
Kilat dingin kembali muncul di mata Vira. Dia mengepalkan tangannya. "Biarkan saja mereka mencoba. Semua dokumen medis dan identitasku di Singapura dilindungi oleh hukum yang sangat ketat. Mereka tidak akan menemukan apa pun kecuali dinding kosong."
"Aku tahu kamu wanita yang kuat dan mandiri, Vira. Tapi kamu tidak perlu mengotori tanganmu untuk menghadapi kecoa-kecoa seperti mereka," ucap Adrian dengan nada suara yang melembut, namun memiliki ketegasan yang tak terbantahkan. "Aku sudah memerintahkan Yuda untuk membekukan seluruh akses peretas yang mereka sewa di pasar gelap. Mulai malam ini, setiap orang yang mencoba mencari tahu tentang nama 'Davira Mahendra' di internet atau jaringan privat akan langsung berurusan dengan tim keamanan siber Atmadja Group."
Vira terpaku mendengarnya. Jantungnya berdegup berkali-kali lipat lebih cepat. "Tuan Adrian... kenapa Anda melakukan ini? Ini adalah urusan pribadi saya. Saya tidak ingin berutang budi pada Anda atau keluarga Atmadja."
"Kamu tidak berutang apa pun padaku, Vira," bisik Adrian di ujung telepon, suaranya terdengar begitu dekat seolah pria itu sedang berbisik tepat di samping telinganya. "Anggap saja ini adalah investasi jangka panjangku. Aku tidak suka melihat wanita yang kuinginkan diganggu oleh pria tidak berguna seperti mantan suamimu. Oh, dan satu hal lagi... Elvano merindukanmu lagi. Dia bilang, malam ini dia ingin tidur sambil mendengarkan suaramu lewat telepon. Bisakah aku menyambungkan panggilan ini padanya setelah kita selesai?"
Vira menggigit bibir bawahnya, menatap keluar jendela mobil di mana lampu-lampu kota Jakarta mulai menyala satu per satu. Pertahanan es di hatinya yang dia bangun dengan susah payah selama tiga tahun terakhir, perlahan tapi pasti, mulai meleleh di bawah kehangatan dan kekuatan pria bernama Adrian Atmadja.
Rencana kotor keluarga Arka telah dipatahkan oleh Adrian bahkan sebelum sempat dimulai. Bagaimana kelanjutan hubungan Vira dan Adrian setelah ini?.