NovelToon NovelToon
Jodohku Gadis BAR-BAR

Jodohku Gadis BAR-BAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dosen / Romansa Fantasi
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Miss_Fey

Hanan mendekat perlahan ke arah istrinya. Senyum tipis namun tulus di wajahnya tak pernah hilang. “Alhamdulillah… sekarang kamu adalah istriku sepenuhnya, sah secara agama dan negara.” Kanza melirik suaminya itu dengan mata menyipit, berusaha menutupi rasa salting-nya yang luar biasa. “Iya, sudah sah secara dokumen, tapi kan belum sah secara dompet. Kado mana kadooo? Manaaa? Katanya dosen sukses!” Bella menepuk jidatnya sendiri. “Ya Allah, Kanza… baru semenit jadi istri sudah malak suami.” Hanan tertawa pelan, tawa yang jarang sekali ia tunjukkan di depan umum. Ia kemudian menyodorkan sebuah kotak kecil mungil yang manis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Fey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Hanan Arkan sedang sibuk memasukkan botol minum ke dalam tas kerjanya dengan gerakan yang tenang dan teratur.

Di ruang tamu, Kanza Arumi tampak sibuk berdiri di depan cermin besar.

Ia berdandan sekenanya, bukan untuk gaya-gayaan yang berlebihan, tapi lebih untuk menambah rasa percaya diri yang mulai goyah.

Hari ini adalah hari pertamanya kuliah, dan dia sudah berusaha menyiapkan mentalnya... setidaknya secara teori.

Hanan melirik dari balik pintu kamar, menatap istrinya dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Mas antar Kanza saja ke kampus, ya? Biar Mas tenang,” tawarnya lembut.

Kanza menoleh cepat, alisnya naik sebelah.

“Hah? Ngapain? Kanza mau mandiri. Masa hari pertama kuliah saja masih harus diantar jemput? Nanti dikira anak PAUD salah masuk jurusan!”

Hanan berjalan pelan ke arah Kanza, sorot matanya serius namun tetap memancarkan kelembutan yang teduh.

“Mas hanya khawatir. Kampus itu tempat umum, banyak orang asing. Kanza itu cantik. Mas takut ada yang berniat mengganggu atau mencari perhatian.”

Kanza langsung manyun, menatap Hanan sambil nyengir lebar.

“Tenang saja, Mas. Kalau ada yang berani mengganggu, Kanza screenshot mukanya pakai mata ini, terus kirim ke Mas. Biar langsung di-blacklist dari peradaban pesantren!”

Hanan terdiam sebentar, lalu tersenyum tipis, sebuah senyum yang menunjukkan betapa ia mulai terbiasa dengan retorika ajaib istrinya.

“Yaudah, tapi hati-hati. Kalau ada apa-apa, sekecil apa pun itu, langsung kabari Mas.”

“Siap, Komandan!” Kanza memberi hormat dengan dua jari di dahi, lalu menyampirkan tas selempangnya dan melangkah menuju pintu dengan semangat.

“Doakan Kanza dapat teman yang sama-sama absurd juga, ya!”

Hanan merasakan perlahan Kanza mulai membuka hati untuknya, entah itu hanya bagian dari sandiwara atau benar-benar tulus.

Ia hanya berdiri mematung menatap punggung istrinya yang mulai menjauh, sambil membatin dalam hati: Semoga semua mahasiswa laki-laki hari ini mendadak lupa caranya melihat.

Pagi itu, Kanza Arumi melangkah perlahan memasuki area kampus dengan rasa gugup yang sulit disembunyikan.

Meski mulutnya sesekali melontarkan candaan absurd dalam hati seperti menghitung jumlah semut di lantai, detak jantungnya tak mampu dibohongi.

Ini adalah hari pertama ia menjadi mahasiswi. Status baru, dunia baru, dan orang-orang baru yang penuh tanda tanya.

Di dalam kelas, suasana masih cukup sepi. Beberapa mahasiswa tampak sudah duduk rapi, sebagian lainnya sedang berbincang kecil atau sibuk dengan gawai mereka.

Kanza memilih duduk di dekat jendela, menenangkan diri sambil memandangi rimbunnya pohon di halaman luar kelas.

Tak lama kemudian, seorang gadis datang menghampirinya dengan senyum ceria.

“Hai, kamu anak baru juga?” sapanya dengan nada hangat.

Kanza menoleh dan tersenyum kikuk.

“Iya, aku Kanza.”

“Aku Tasya. Boleh duduk di sini? Kursi sebelahmu sepertinya masih jomblo.”

“Boleh, boleh banget. Silakan tempati kursinya sebelum diambil alih penjajah,” jawab Kanza mulai mengeluarkan sisi aslinya.

Percakapan mereka berkembang cepat, seolah sudah lama saling mengenal.

Dalam waktu singkat, keduanya tertawa bersama membicarakan hal-hal sepele, mulai dari model sepatu hingga drama pendaftaran.

Ada kecocokan aneh di antara mereka, khas persahabatan yang terbangun secara spontan namun kuat.

Beberapa menit berlalu, hingga suara langkah yang tegas memasuki ruangan membuat seluruh kelas mendadak menoleh.

Seorang pria berkemeja biru langit, berpenampilan sangat tenang dan rapi, berdiri dengan wibawa penuh di hadapan mereka.

“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,” ucapnya tenang, suaranya menggema di seluruh ruangan.

“Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh!” sahut para mahasiswa serempak.

“Perkenalkan, nama saya Hanan Arkan. Saya akan menjadi dosen pengampu mata kuliah ini selama satu semester ke depan.”

Kanza meneguk ludah payah. Meskipun ia sudah mengetahui siapa yang akan menjadi dosennya, tetap saja melihat Hanan berdiri formal dengan aura otoriter di depan kelas membuatnya gugup setengah mati.

Apalagi, Hanan tampak sangat berbeda saat mengenakan peran sebagai pengajar; jauh dari sikap lembut dan penuh senyum seperti saat di rumah. Dingin, kaku, namun sangat berwibawa.

Salah seorang mahasiswi yang duduk di barisan paling depan tiba-tiba mengangkat tangan dengan gaya yang dibuat-buat manis.

“Pak, kalau ada mahasiswa yang tidak sengaja bolos tapi sebenarnya datang dengan niat baik di hati, kira-kira masih bisa mendapatkan senyuman dari Bapak tidak?” ujarnya dengan nada yang jelas-jelas bernada menggoda.

Hanan menghela napas pelan, wajahnya tetap datar tak tersentuh.

“Tolong jaga etika selama perkuliahan berlangsung. Kita di sini untuk belajar ilmu, bukan untuk bercanda di luar batas atau mencari celah peraturan.”

Suasana kelas langsung berubah hening mencekam. Semua mahasiswa mendadak menegakkan punggung dengan wajah serius.

Sementara itu, di barisan dekat jendela, Kanza menatap gadis di depan tadi dengan ekspresi yang sangat tidak suka.

Hatinya mendadak terasa panas, seperti baru saja disiram kuah seblak level maksimal.

"Ganjen banget nih perempuan, sepertinya butuh digaruk pakai cakar ayam supaya sadar tempat. Murahan sekali, ih geli aku lihatnya! Dapat bahan berantem nih aku nanti di rumah... Awas saja kalau Mas Hanan sampai berani membalas senyumnya! " batinnya penuh emosi.

Malam telah turun dengan tenang. Suara jangkrik bersahut-sahutan di luar rumah, memberikan simfoni alam yang kontras dengan suasana hati yang mulai bergejolak.

Angin malam berhembus pelan dari celah jendela, membawa aroma tanah basah sisa hujan sore tadi.

Di dalam kamar, Kanza Arumi duduk bersila di atas kasur, mengenakan piyama bermotif stroberi yang nyentrik pakaian "dinas" andalannya saat sedang ingin bersantai sambil mengunyah biskuit sisa sore tadi dengan penuh penghayatan.

Hanan Arkan masuk dengan langkah pelan, sisa lelah dari kampus masih membekas di wajahnya.

Ia meletakkan tas kerja di meja, lalu langsung menghampiri istrinya.

Ia menyibak sedikit jilbab Kanza yang sudah setengah melorot karena posisi duduk yang terlalu santai, lalu mengecup ubun-ubunnya dengan penuh kasih.

“Capek?” tanya Hanan lembut.

Kanza menoleh pelan, namun bukannya membalas dengan kemesraan, ia justru langsung menjitak pundak Hanan dengan gemas.

“Mas! Tadi Kanza ditatap-tatapin sama perempuan aneh! Sumpah demi Allah, Mas, matanya itu seperti... seperti di sinetron-sinetron! Persis nenek sihir yang sedang menyusun rencana licik untuk menculik permaisuri dari istana!”

Hanan terkesiap, gerakannya terhenti. Ia menatap Kanza dengan ekspresi bingung yang campur aduk.

“Perempuan mana, Sayang? Siapa yang berani menatapmu seperti itu?”

“Kanza tidak kenal! Tapi sepertinya dia sangat mengenal Kanza. Tatapannya itu seperti... ‘I know what you did last summer’ gitulah! Gila, Mas! Mental Kanza hampir robek-robek dibuatnya!”

Hanan duduk di sebelah Kanza, menarik bahu istrinya pelan agar bersandar di pundaknya yang kokoh.

“Tenang dulu, tarik napas. Siapa namanya? Mas kenal?”

“Hmm… yang Zahira-Zahira itu, Mas..”

Seketika Hanan terdiam seribu bahasa. Wajahnya yang semula tenang mendadak menegang.

Napasnya terdengar lebih berat, seolah ada beban tak kasat mata yang baru saja mendarat di dadanya.

Kanza yang peka, langsung memiringkan kepala, menatap suaminya dengan penuh kecurigaan.

“Eh? Kok Mas diam saja? Hah? Kenapa? Kenapaaa... jangan-jangan dia itu mantan Mas dulu, ya? Ya Allah! Ini benar-benar seperti drama China episode tujuh yang penuh plot twist!”

Hanan menatap mata Kanza, mencoba mencari kata yang tepat.

“Dia bukan siapa-siapa lagi sekarang, Kanza. Benar-benar tidak penting untuk dibahas.”

“Mas, ini memang bukan sinetron. Tapi kok rasanya Kanza seperti istri sah yang sedang diganggu mantan tokoh utama! Hati Kanza rasanya seperti bolu kukus yang dikukus dua kali! Sudah lembek, terus hancur berantakan!”

Hanan tidak tahan lagi, ia langsung memeluk Kanza dengan erat, seolah ingin melindunginya dari segala badai yang mungkin datang.

“Kanza tidak perlu takut atau cemas. Selama Mas ada di sini, tidak akan ada yang bisa mengganggu Kanza, apalagi sampai membuatmu menangis. Satu tetes air matamu saja, itu sudah cukup untuk membuat Mas memulai perang dunia ketiga.”

Kanza terdiam sejenak dalam pelukan hangat itu, merasakan detak jantung Hanan yang berdegup kencang. Ia lalu bergumam pelan dengan nada yang mulai kembali usil.

“Tapi kalau drama ini berlanjut, Kanza harus jadi pemeran utama yang punya kekuatan super buat mengusir semua masa lalu yang mencoba mendekat.”

Hanan menahan tawa, rasa tegangnya sedikit mencair.

“Iya, iya, Mas setuju. Memangnya kekuatan supermu apa?”

“Kekuatan ngomel dua puluh empat jam non-stop tanpa jeda iklan!” jawab Kanza bangga, membuat Hanan akhirnya benar-benar tertawa lepas di tengah sunyinya malam.

Ternyata, keabsurdan istrinya adalah obat paling ampuh untuk meredam kecemasan akan masa lalu yang kembali membayangi.

"Mas mandi dulu, Sudah gerah banget, seharian sibuk urusan birokrasi kampus rasanya kayak mau meleleh," ujar Hanan sambil menyampirkan handuk di bahunya.

Kanza menutup hidung dengan gerakan dramatis.

"Ih... pantas dari tadi Kanza merasa oksigen di ruangan ini agak terkontaminasi. Ternyata ada oknum dosen yang belum mandi!"

Hanan tertawa pelan, menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya.

"Awas ya, nanti kalau sudah wangi jangan nempel-nempel!" balasnya dari balik pintu kamar mandi.

Beberapa menit berlalu hingga pintu kamar mandi terbuka, menyisakan uap hangat yang merayap keluar.

Hanan muncul dengan penampilan yang sanggup menghentikan detak jantung sesaat.

Ia hanya mengenakan selembar handuk putih yang melilit pinggangnya, membiarkan tubuh bagian atasnya terekspos tanpa penghalang.

Pria itu tampak jauh lebih segar, dan ada sesuatu yang berbeda pada wajahnya.

Helai-helai jenggot tipis yang biasanya menghiasi rahang tegasnya kini telah sirna, dicukur habis hingga menyisakan kulit yang bersih dan halus, sebuah bukti nyata bahwa ia lebih memilih menuruti protes kecil Kanza daripada mempertahankan egonya sendiri.

Sambil berjalan, jemarinya bergerak acak mengacak rambutnya yang basah, membuat butiran air jatuh membasahi bahunya yang bidang.

Otot-otot tubuhnya yang selama ini tersembunyi dengan rapi di balik kemeja dosen yang kaku, kini terpampang nyata; kokoh dan atletis, seolah menyimpan kekuatan yang selama ini tak pernah Kanza duga.

Melihat pemandangan itu untuk pertama kalinya, Kanza mendadak lupa cara bernapas.

Matanya terpaku, terkunci pada setiap lekuk tubuh suaminya yang tampak berkilau tertimpa lampu kamar.

Ia tertegun di tempatnya, bahkan nyaris tidak berkedip, menyadari bahwa pria kalem yang tadi mengantarkan bekal di kampus ternyata menyimpan pesona yang begitu mengintimidasi saat berada di ruang pribadi mereka.

"Mas..." panggil Kanza lirih, suaranya nyaris tertelan keheningan kamar.

"Hm?" Hanan menyahut pendek, namun pandangannya terkunci sepenuhnya pada sang istri yang kini melangkah mendekat dengan tatapan yang sulit diartikan.

Kanza terus bergerak maju hingga jarak di antara mereka terkikis habis.

Tangannya terangkat ragu di udara, seolah sedang terhipnotis oleh deretan otot perut Hanan yang tampak begitu kokoh di bawah cahaya lampu yang temaram.

Hanan hanya diam mematung, memperhatikan setiap gerak-gerik istrinya dengan senyum heran yang perlahan terbit di sudut bibirnya.

"Ternyata apa?" tanya Hanan lembut, nada suaranya terdengar serak dan menggoda, menikmati rasa penasaran yang terpancar dari wajah istrinya.

"Ternyata Mas punya..." Kalimat Kanza menggantung di udara.

Matanya sama sekali tidak berkedip saat jemarinya akhirnya mendarat sempurna di atas permukaan kulit Hanan yang hangat.

Ujung jarinya mulai menelusuri lekuk otot perut yang keras itu dengan penuh kekaguman, seolah sedang membaca sebuah mahakarya yang selama ini tersembunyi rapat di balik kemeja polos sang dosen.

Sentuhan halus itu mengirimkan sengatan listrik kecil yang membuat Kanza terpesona, menyadari bahwa suaminya jauh lebih memukau daripada sekadar imajinasi dalam novel-novel atau Drama yang selama ini ia tonton.

Sensasi hangat dari otot perut Hanan yang baru saja ia sentuh seolah menjadi pemicu bagi gejolak di hati Kanza.

Tanpa berpikir dua kali, Kanza menarik napas panjang, lalu menghambur ke depan.

Ia memeluk tubuh polos suaminya itu dengan sangat erat, menyembunyikan wajahnya di dada bidang Hanan yang masih terasa lembap dan hangat.

Hanan sedikit terkesiap dengan tindakan impulsif istrinya. Ia bisa merasakan degup jantung Kanza yang berpacu cepat di balik pelukan itu.

Dengan perlahan, ia meletakkan tangannya di punggung Kanza, membalas pelukan tersebut sambil tersenyum tipis.

"Kenapa, hmm? Tiba-tiba jadi manja begini?" tanya Hanan lembut, suaranya bergetar di atas kepala Kanza.

Kanza semakin mengeratkan pelukannya, seolah sedang memagari tubuh suaminya agar tidak ada celah bagi dunia luar untuk ikut menikmatinya.

Bayangan tentang Zahira dan tatapan wanita-wanita di kampus yang sering mencuri pandang ke arah suaminya mendadak muncul di benak Kanza, membuatnya merasa sangat posesif.

"Mas..." gumam Kanza dengan suara yang teredam di dada suaminya.

"Ya, Sayang?"

"Mulai hari ini, Mas harus pakai kemeja yang kancingnya paling atas dan nggak boleh buka-buka baju di depan siapa pun, kecuali Kanza," ucap Kanza tegas, meski terdengar seperti rengekan yang menggemaskan.

"Mas itu 'harta karun' milik Kanza sendiri. Kanza nggak rela kalau ada perempuan lain yang tahu kalau di balik kemeja dosen yang kaku itu... Mas punya bentuk tubuh yang bikin mata mereka bisa sakit karena terlalu kagum."

Hanan terkekeh pelan. Getaran tawa dari dada suaminya itu membuat Kanza semakin merasa nyaman, namun juga semakin protektif.

"Jadi, ini alasannya? Istri Mas lagi cemburu sama tubuh suaminya sendiri?" goda Hanan sambil mengusap rambut Kanza dengan penuh kasih sayang.

"Bukan cemburu," bantah Kanza sambil mendongak, menatap mata Hanan dengan ekspresi serius yang justru terlihat lucu.

"Ini namanya pengamanan aset nasional. Dan aset ini cuma boleh dilihat, disentuh, dan dimiliki oleh Kanza Arumi. Titik."

Hanan tak mampu menahan senyumnya yang semakin lebar. Ia menunduk, mengecup kening Kanza dengan lembut sebelum menarik istrinya itu lebih dalam ke dalam pelukannya.

"Baik, Nyonya Arkan. Pesanmu diterima dengan sepenuh hati. Mulai besok, Mas akan lebih tertutup, hanya untukmu."

Keduanya berpelukan untuk sesaat, sebelum akhirnya mengakhiri malam dengan tertidur pulas.

Salam Hangat Dari Penuliss....

1
partini
tau agama tapi hati penuh iblis no good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!