NovelToon NovelToon
ISTRI RAHASIA PANGERAN KAMPUS

ISTRI RAHASIA PANGERAN KAMPUS

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rizky Mutha

Raymond dikenal di seluruh kampus sebagai Pangeran Kampus. Wajahnya tampan dengan sorot mata dingin yang sulit ditebak. Ia jarang berbicara, tetapi sekali bertindak, tak seorang pun berani membantah. Latar belakang keluarganya yang kaya dan berpengaruh membuat namanya selalu menjadi pusat perhatian. Namun, di balik sikapnya yang tenang dan dingin, Raymond memiliki sisi yang sangat posesif terhadap satu orang—istri rahasianya.
Angela adalah kebalikan dari Raymond. Gadis berusia delapan belas tahun itu berpenampilan tomboy, lebih nyaman mengenakan jaket dan sepatu kets daripada gaun. Rambut hitamnya selalu dikuncir satu sederhana, membuat wajah manisnya terlihat segar. Meski terlihat ceria dan mandiri, Angela tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah terikat dalam pernikahan rahasia dengan pria yang paling populer di kampus.

Di tengah halaman kampus yang dipenuhi sinar matahari dan pepohonan rindang, Raymond berdiri di belakang Angela. Tanpa memedulikan tatapan orang-orang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizky Mutha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 12

Sore itu, gedung olahraga kampus udah rame banget. Padahal latihan basket belum mulai.

Tapi tribun hampir penuh. Mayoritas yang datang bahkan bukan buat nonton latihan.

Mereka datang buat lihat satu orang.

Raymond.

"Eh, cepetan! Nanti nggak kebagian tempat!"

"Denger-denger Kak Raymond latihan hari ini."

"Gue rela nggak nongkrong demi nonton dia."

"Mana jersey nomor tujuh lagi... duh, bikin lemes."

Angela yang baru masuk bareng Maya langsung berhenti di depan pintu.

Matanya menyapu isi gedung, lalu melongo.

"...Buset." Maya nyengir.

"Tuh, kan." Angela masih nggak percaya.

"Ini latihan basket..."

"Iya."

"...atau lagi bagi-bagi uang?" Maya ngakak.

"Ya jelas latihan."

"Terus kenapa yang nonton bejibun begini?"

"Soalnya yang main Raymond."

Angela cuma geleng-geleng kepala.

"Pantes dijuluki Pangeran Kampus." Belum sempat mereka jalan lebih jauh, Kevin melambaikan tangan dari pinggir lapangan.

"Angela! Maya! Sini!"

Keduanya menghampiri.

"Eh, Kak Kevin."

Kevin langsung nyengir.

"Dateng juga akhirnya."

"Iya."

Kevin melihat ke arah tribun.

"Ayo, gue anter ke tempat duduk."

Angela langsung mengangkat tangan.

"Nggak usah repot, Kak. Aku duduk mana aja boleh." Kevin malah geleng.

"Nggak bisa."

"Lho, kenapa?"

"Udah ada yang mesen."

Angela mengernyit.

"Siapa?" Kevin melirik ke arah lapangan sambil senyum jail.

"Siapa lagi kalau bukan bos gue."

Angela langsung memejamkan mata.

"...Raymond lagi?"

"Iya."

"Aduh..." Kevin terkekeh.

"Dia bilang, 'Kalau Angela datang, dudukin paling depan.'" Angela langsung menoleh ke Maya.

"Tolong deh..." Maya malah angkat bahu.

"Gue nggak bisa nolong." Angela mendesah panjang.

"Orang itu emang hobi bikin gue jadi pusat perhatian." Kevin ikut ketawa.

"Tenang aja."

"Nggak tenang!"

"Kenapa?"

"Lo lihat sendiri, deh." Angela menunjuk ke arah tribun. Hampir semua mahasiswa lagi ngelihatin mereka. Bahkan ada yang mulai bisik-bisik.

"Itu Angela."

"Duduknya di depan."

"Fix... kursinya udah disiapin Raymond."

Angela langsung menutup wajahnya pakai kedua tangan.

"Ya Allah... pengen ngilang aja rasanya."

Kevin cuma bisa nyengir.

"Maaf ya."

"Nggak apa-apa."

"Tapi kalau gue nggak nurut..."

"..."

"...gue yang kena semprot Raymond." Angela langsung melotot.

"Emang dia galak?" Kevin sama Maya kompak mengangguk.

"Banget." Angela akhirnya pasrah.

"Oke... oke... gue duduk."

"Nah, gitu dong." Kevin mengantar mereka ke bangku paling depan. Begitu Angela duduk...

Sorotan mata satu gedung kayak langsung pindah ke arahnya. Angela langsung menunduk.

"Fix... besok gue viral lagi."

Tiba-tiba...

Priiit!

Peluit berbunyi. Suasana gedung langsung heboh. Pintu masuk pemain terbuka.

Rio keluar lebih dulu.

Disusul Kevin yang langsung lari kecil ke lapangan.

Lalu beberapa pemain lainnya.

Dan yang terakhir...

Raymond.

Begitu sosoknya muncul dengan jersey hitam bernomor 7, suara teriakan langsung menggema.

"AAAAA!!"

"KAK RAYMOND!!"

"SEMANGAT!!"

"GANTENG BANGET!!"

Angela sampai refleks menutup sebelah telinganya.

"Ya ampun..." Maya ketawa.

"Kaget?"

"Ini mereka nonton basket apa konser?"

Raymond sama sekali nggak terpengaruh sama teriakan itu. Wajahnya tetap datar. Langkahnya santai. Begitu sampai di tengah lapangan, dia menyapu tribun dengan pandangan singkat.

Lalu...

Tatapannya berhenti tepat ke arah Angela.

Begitu sadar Angela beneran datang, sudut bibir Raymond terangkat tipis. Dia mengangkat tangan sebentar.

Isyarat kecil. Seolah bilang...

"Makasih udah datang."

Angela langsung membeku.

"Hah..."

Dengan wajah panik, dia buru-buru membalas lambaian kecil.

Namun...

"WOIIII!!"

"RAYMOND NYAPA ANGELA!!"

"LIHAT! LIHAT!"

"ASTAGA!"

Satu gedung langsung heboh.

Angela spontan menutup wajahnya.

"Ya Allah... malu banget...." Maya sampai ngakak sambil nepuk-nepuk paha.

"Hahaha... udah! Besok gosipnya naik level lagi." Angela menoleh kesal.

"Nah, kan! Gara-gara dia!" Maya masih ketawa.

"Terus siapa yang datang karena dia?"

Angela langsung terdiam.

"..."

"Nah."

Angela mendengus pelan.

"Ih... nyebelin." Sementara di tengah lapangan, Kevin menyenggol bahu Raymond.

"Bos."

"Hm?"

"Mission accomplished." Raymond tetap fokus memantulkan bola.

"Hm."

"Angela datang." Raymond melirik sekilas ke arah tribun.

"Iya." Kevin menggeleng sambil terkekeh.

"Lo tuh ya... biasanya nggak peduli siapa yang nonton." Raymond mengambil bola, lalu menjawab singkat.

"Dia beda."

Kevin langsung melongo.

"Hah?"

Belum sempat bertanya lagi, pelatih meniup peluit panjang.

"Semua kumpul! Latihan dimulai!" Raymond menggiring bola ke tengah lapangan.

Tapi sebelum benar-benar fokus latihan...

Dia masih sempat melirik sekali lagi ke arah Angela. Memastikan... Gadis itu masih duduk di sana. Latihan akhirnya dimulai.

"Oper! Oper!"

"Defense, woi!"

"Jangan kasih celah!"

Suara pelatih menggema di seluruh gedung olahraga.

Plak!

Plak!

Plak!

Bola basket terus memantul di lantai.

Raymond menggiring bola dengan santai, lalu melewati satu, dua, sampai tiga pemain sekaligus.

"Cepet banget..." gumam Angela tanpa sadar.

Maya langsung nyenggol lengannya.

"Tuh, kan."

"Hm?"

"Gue bilang juga apa." Angela masih fokus melihat ke lapangan.

"Dia jago juga, ya." Maya langsung melotot.

"Jago?"

"Iya."

"Itu bukan jago lagi, Bu."

"Lah?"

"Raymond itu kapten tim basket. Tahun lalu dia yang bawa kampus kita juara turnamen antaruniversitas."

Angela langsung menoleh.

"Serius?" Maya mengangguk mantap.

"Iya."

"Pantes...."

Belum selesai mereka ngobrol...

Brak!

Raymond melompat tinggi.

Tangannya menghantam bola ke dalam ring dengan dunk keras.

"AAAAAAAAAA!!"

Satu gedung langsung bergemuruh.

"KEREN BANGET!!"

"YA AMPUN!!"

"RAYMOND!!"

Angela sampai ikut berdiri karena kaget.

"Buset...."

Di lapangan, Kevin langsung ngakak.

"Bos, santai dikit napa."

Rio ikut nyeletuk.

"Kasihan ring-nya."

Raymond cuma mengambil bola lagi.

"Lanjut."

Pelatih sampai menggeleng sambil senyum.

"Makanya jangan lengah. Begitu dikasih ruang sedikit, langsung dihukum sama Raymond."

Latihan berlanjut.

Kali ini Kevin mencoba menjaga Raymond lebih ketat.

"Bos, kali ini nggak bakal lolos."

Raymond cuma mengangguk.

"Oke."

Dua detik kemudian...

Kevin kehilangan bola.

"Lah?!"

Raymond sudah ada di belakangnya.

"Fokus."

Kevin langsung menepuk jidat.

"Gila...."

Tribun kembali dipenuhi sorakan.

Angela yang sedari tadi memperhatikan jadi ikut larut. Tanpa sadar, ia bertepuk tangan.

"Bagus!"

Begitu suara Angela terdengar... Raymond spontan menoleh. Tatapan mereka kembali bertemu. Raymond tersenyum tipis.Hanya sepersekian detik.

Tapi...

Itu cukup.

"AAAAAA!!"

"RAYMOND SENYUM LAGI!!"

"YA ALLAH!!"

Angela langsung menepuk dahinya.

"Haduh...." Maya sampai ketawa nggak karuan.

"Ang."

"Hm?"

"Kayaknya lo doang yang bisa bikin Pangeran Kampus senyum."

"Ih! Jangan ngarang."

"Bukti ada di depan mata." Angela mendesah pasrah.

"Gue cuma tepuk tangan...."

"Iya."

"Dia yang senyum."

"Nah."

Angela langsung melirik ke arah Raymond yang kini kembali fokus latihan.

"Orang ini sengaja apa gimana, sih?" batinnya.

Sementara itu...

Di sisi lain tribun. Clarissa duduk sambil menyilangkan kedua tangan.

Tatapannya dingin mengarah ke Angela.

Sejak latihan dimulai...

Raymond memang tetap bermain serius.

Tetapi setiap kali ada jeda...

Tatapannya selalu mencari satu orang.

Dan orang itu...

Selalu Angela.

Clarissa menggigit bibir bawahnya pelan.

"Aku nggak bisa terus diam."

"Kalau terus begini..."

"Semua orang bakal menganggap Angela memang pantas berdiri di samping Raymond."

Ia mengembuskan napas pelan.

Lalu, sebuah senyum tipis kembali terukir di bibirnya.

Namun kali ini...

Senyum itu sama sekali tidak terlihat ramah.

Sementara di tengah lapangan, pelatih meniup peluit panjang.

"Water break! Istirahat sepuluh menit!"

Seluruh pemain langsung berjalan ke pinggir lapangan.

Raymond mengambil handuk, lalu tanpa sengaja matanya kembali menemukan Angela yang masih duduk di tribun depan.

Ia mengangkat botol minumnya ke arah Angela sambil memberi isyarat kecil.

"Tunggu bentar."

Angela yang menangkap isyarat itu cuma bisa menghela napas sambil geleng-geleng kepala.

"Ih..."

Maya langsung nyenggol bahunya.

"Jangan bilang..."

"Apa lagi?"

"Abis istirahat dia pasti nyamperin lo."

Angela langsung membulatkan mata.

"Nggak mungkin." Maya terkekeh.

"Kita lihat aja."

Peluit tanda istirahat masih menggema di dalam gedung olahraga.

Para pemain berjalan ke bangku cadangan sambil mengelap keringat.

Sebagian langsung meneguk air mineral.

Sebagian lagi bercanda satu sama lain.

Angela ikut berdiri.

"Nah, mumpung lagi istirahat, kita pulang aja, yuk." Maya langsung menarik lengan Angela.

"Lho? Mau ke mana?"

"Pulang."

"Hah?"

"Aku udah nonton, kan." Maya sampai melotot.

"Ang..."

"Hm?"

"Lo lupa?"

"Lupa apa?"

"Lo diundang langsung sama Raymond."

"Terus?"

"Kalau lo pulang sekarang, dia bisa nyamperin kontrakan lo buat nanya kenapa kabur."

Angela langsung menepuk dahinya.

"Ya ampun...."

Belum sempat mereka melanjutkan obrolan, Kevin berlari kecil menghampiri tribun.

"Kak Kevin?" sapa Maya. Kevin mengangguk sambil mengatur napas.

"Angela."

"Iya?"

"Bos manggil." Angela langsung menunjuk dirinya sendiri.

"Gue?"

"Iya."

"Buat apa?" Kevin mengangkat bahu.

"Nggak tahu."

"Dia cuma bilang, 'Panggil Angela.'"

Angela langsung menghela napas panjang.

"Ya ampun... lagi." Maya menyenggol bahunya sambil cengar-cengir.

"Tuh, kan."

"Nggak usah senyum gitu."

"Udah sana." Angela mendelik.

"Kalau nanti satu gedung ngelihatin lagi gimana?" Kevin terkekeh.

"Udah telat."

"Hah?"

Kevin menunjuk ke belakang Angela. Refleks Angela menoleh. Benar saja. Puluhan pasang mata sudah memperhatikan dirinya. Bahkan ada yang terang-terangan mengangkat ponsel. Angela langsung memejamkan mata.

"Ya Allah... kenapa hidup gue begini, sih?"

Dengan langkah pelan, Angela akhirnya turun ke pinggir lapangan. Raymond yang sedang duduk langsung berdiri begitu melihatnya mendekat. Masih dengan handuk yang menggantung di leher dan rambut yang sedikit basah oleh keringat.

"Kenapa?" tanya Angela pelan.

Raymond membuka tas olahraganya.

Ia mengeluarkan sekotak susu dan sebungkus roti.

"Nih."

Angela mengernyit.

"Buat Gue?"

"Iya."

Angela menatap Raymond beberapa detik.

"Lo manggil gue ..."

"...cuma buat ngasih ini?"

"Iya."

Angela spontan mengusap wajahnya sendiri.

"Ray..."

"Hm?"

"Lo tahu nggak sih..."

"Apa?"

"...satu gedung sekarang lagi ngelihatin kita?"

Raymond melirik sekilas ke arah tribun.

"Iya."

"Terus kenapa santai banget?"

"Soalnya aku cuma ngasih kamu roti."

Angela mendesah panjang.

"Masalahnya bukan rotinya...."

"Lalu?"

"Yang ngasih!" Raymond terlihat berpikir beberapa detik.

"Oke."

Angela mengira Raymond akhirnya mengerti.

Namun detik berikutnya, pria itu malah membuka bungkus rotinya.

"Lho?"

Raymond menyodorkannya ke arah Angela.

"Biar gampang dimakan." Angela langsung melotot.

"Raymond!"

"Hm?"

"Jangan sekalian disuapin juga!"

Ucapan Angela membuat Kevin, Rio, dan beberapa pemain lain langsung menoleh.

Rio spontan batuk.

"Uhuk!"

Kevin buru-buru memalingkan wajah sambil menahan tawa. Sedangkan Dion sampai menepuk bahu Rio.

"Bang kita bahaya." Rio mengangguk cepat.

"Bahaya banget." Raymond sendiri terlihat bingung.

"Gue memang nggak mau nyuapin." Angela langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan.

"Ya ampun..."

Melihat Angela malu sendiri, sudut bibir Raymond kembali terangkat tipis.

"Nggak usah malu." Angela menurunkan kedua tangannya perlahan.

"Gimana nggak malu?"

"Lo manggil gue turun..."

"Iya."

"...ternyata cuma buat ngasih roti sama susu."

"Iya."

"Terus semua orang ngelihatin."

"Iya."

Angela mendelik gemas.

"Kamu tuh jawabnya 'iya' mulu."

"Soalnya memang begitu."

Angela sampai nggak tahu lagi harus ngomong apa. Akhirnya ia menerima roti dan susu itu sambil mendengus pelan.

"Iya deh... makasih."

"Jangan lupa dimakan."

"Iya, Bos."Raymond mengangguk puas.

"Bagus."

Dari atas tribun, Maya tertawa sampai memegangi perut.

"Ang, udah nggak bisa ngapa-ngapain kalau ketemu Kak Raymond."

Sementara itu, di sudut tribun yang lain, Clarissa memperhatikan semua kejadian itu tanpa berkedip.

Tangannya mengepal pelan.

"Perhatian sekecil apa pun..."

"Selalu diberikan ke Angela."

"Kalau terus seperti ini..."

"Aku benar-benar akan kehilangan kesempatan."

Angela akhirnya kembali ke tribun sambil membawa sekotak susu dan sebungkus roti.

Baru aja duduk...

Maya langsung nyenggol lengannya berkali-kali.

"Cieee..."

Angela langsung mendelik.

"Apaan?"

"Cie... dibekalin."

Angela mendesah.

"Ini gara-gara dia takut gue kelaperan."

"Nah, itu dia masalahnya."

"Lho?"

Maya melotot.

"Masalahnya, kenapa yang dia takut kelaperan cuma lo?"

Angela langsung kehabisan kata-kata.

"..."

"Nah, kan."

Angela membuka sedotan susu, lalu menyeruput pelan.

"Nggak usah lebay."

"Lebay apanya? Satu tim basket juga nggak ada yang dikasih roti."

Angela refleks menoleh ke arah bangku pemain. Benar aja.

Kevin lagi sibuk rebutan botol minum sama Rio. Sedangkan Dion sibuk nyari handuknya yang entah nyasar ke mana. Nggak ada satu pun yang pegang roti.

Angela langsung melirik roti di tangannya.

"Jangan-jangan... ini emang khusus buat gue?"

Belum sempat mikir lebih jauh...

Priiit!

Peluit panjang kembali berbunyi.

"Istirahat selesai! Semua pemain masuk!" teriak pelatih.

"Siap, Coach!"

Raymond berdiri paling depan. Sebelum masuk lapangan, dia sempat noleh ke arah tribun. Tatapan mereka ketemu lagi.

Raymond ngangguk pelan.

Isyarat sederhana.

"Udah dimakan, ya."

Angela yang ngerti maksudnya langsung mengangkat rotinya sedikit.

Seolah membalas,

"Iya, lagi dimakan, nih."

Raymond kelihatan puas.

Dia langsung berbalik dan masuk ke lapangan.

Maya yang ngelihat interaksi itu langsung nepuk jidat.

"Ang..."

"Hm?"

"Kalian berdua udah bisa ngobrol tanpa ngomong." Angela langsung nyengir kaku.

"Nggak segitunya juga."

"Oh ya?" Maya nunjuk ke arah Raymond.

"Itu barusan bahasa isyarat apaan?"

Angela langsung nyengir malu.

"...Kebetulan aja." Maya cuma ketawa.

"Iya, kebetulan."

---

Latihan babak kedua dimulai.

Tempo permainan jauh lebih cepat.

Kevin mengoper bola ke Raymond.

Plak!

Raymond langsung menggiring bola melewati dua pemain.

"Jaga! Jaga dia!" teriak salah satu pemain.

Tapi semuanya terlambat.

Raymond melakukan gerakan tipuan, lalu melepaskan tembakan tiga angka.

Swiiish!

Bola masuk bersih tanpa menyentuh ring.

"WOOOOO!!"

Satu gedung langsung bergemuruh.

"MASUK LAGI!"

"GOKIL!"

"KEREN BANGET!"

Angela sampai ikut tepuk tangan.

"Gilaaa..."

Maya langsung nyenggol bahunya.

"Tuh, mulai kagum."

Angela masih ngelihatin Raymond yang lagi balik bertahan.

"Ya... emang keren, sih."

"Nggak cuma keren."

"Lho?"

"Lo lagi senyum ngelihatin dia."

Angela langsung buru-buru nahan senyumnya.

"Hah? Nggak kok."

"Cermin nggak bohong."

Angela mendecak pelan.

"Ih... rese."

Di lapangan, Kevin sengaja nyenggol bahu Raymond.

"Bos."

"Hm?"

"Tadi Angela tepuk tangan buat lo."

Raymond tetap fokus ngatur posisi.

"Iya."

"Cuma 'iya'?"

"Mau jawab apa lagi?"

Kevin ngakak.

"Minimal seneng kek."

Raymond diem beberapa detik.

"...Seneng."

Kevin langsung melongo.

"Hah?"

Raymond noleh sebentar ke arah tribun.

Senyum kecil Angela masih keliatan jelas dari tempatnya berdiri.

Tanpa sadar...

Sudut bibir Raymond ikut naik tipis.

Kevin langsung nepuk bahu Rio.

"Woi."

"Apa?"

"Bos senyum lagi." Rio cuma geleng-geleng kepala.

"Parah..."

"Kenapa?"

"Abis latihan ini fix satu kampus bakal makin heboh."

Dan benar aja.

Di tribun, bisik-bisik mulai terdengar lagi.

"Eh, dari tadi Raymond senyum terus deh."

"Iya... tiap lihat Angela."

"Fix banget."

Sementara itu, di sudut paling belakang tribun, Clarissa berdiri sambil menyilangkan kedua tangan.

Tatapannya nggak lepas dari Angela.

"Kalau aku terus diem..."

"Raymond bakal makin jauh."

Perlahan, sebuah rencana mulai terbentuk di kepalanya.

Dan kali ini...

Dia nggak berniat cuma jadi penonton.

1
Lyvia
suwun thor crazy upnya
Rizky Mutha: sama-sama kak
total 1 replies
Miasell Tea
bagus banget menghibur para pem baca,,,
kalau bisa up nya di tambahin
Miasell Tea
lah kapan nikah nya thor,,,harus ada penjelasan nya ini mah, makin penasaran aj,, 💪💪💪
Rizky Mutha: aduh.. typo
total 1 replies
Lenny Utami
so sweet banget..
Lenny Utami
ihhh bisa ae ahh
Lenny Utami
ahhh masaa...
Lenny Utami
lucu bangett
Lyvia
thor km bikinQ senyum2 sendiri, jadi ingat masa2 sekolah dulu, suwun thor upnya, ttp semangat 💪💪💪😄
yaya
lucuu ih...😍
Lenny Utami
kode sekeras itu masa enggak ngeh sih Anggela
Lenny Utami
gemes🤭
Lenny Utami
Reymond kyk piyik ngintilin Angela Mulu...😌
Lenny Utami
kalo aku kabur. GK pede di liatin GT...😭
Lenny Utami
so sweettt nya.... bikin aku senyum² sendiri
Miasell Tea
di tunggu lanjutan nya
awal yang seru😍
Miasell Tea
manis banget,,,,,
padahal seru kenapa sepi komen nan y
Miasell Tea: oh pantesan,,, sama2 ka jangan lama2 y up ny penasaran di tunggu lanjutan ny
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!