"Sttt...dia tidak akan tahu, dia kan buta..." Suara bisikan seorang wanita.
"Kamu begitu agresif..." Suara seorang pria juga turut terdengar.
Stefanie Triatmaja memang buta, tapi tidak tuli. Dirinya yang kehilangan arah saat persiapan pesta pernikahannya, mendengar dengan mata kepalanya sendiri, calon suaminya Danu berselingkuh.
Air matanya mengalir, dirinya tahu tapi pura-pura tidak tahu. Menunggu saat yang tepat, mencari cara untuk membatalkan pernikahan ini.
Hingga, saat di altar, dirinya mengucapkan kalimat yang membuat pernikahannya dapat dibatalkan dengan mudah.
"Aku tidak bisa menikah denganmu. Aku hamil anak Derrel Virgo Chandradinata." Wanita yang mengatakan terus terang tentang perselingkuhan palsunya.
Semua mata tertuju pada Chandra."Aku tidak menghamilinya---"
Tapi Chandra, pemuda yang merupakan musuh Stefani pada masa SMU itu, entah kenapa perlahan tersenyum penuh obsesi dan kegilaan."Benar! Aku kemari untuk mencuri pengantin."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Percaya Diri
Mereka hanya bisa menatap kesal ke arah Chandra dan Stefanie. Di mana pemuda itu menyuapi istrinya. Wajahnya tersenyum, tapi setiap kata-kata sinis yang keluar dari mulut mereka. Selalu dibalas dengan kalimat sepedas boncabe level 50.
Hingga pada akhirnya, satu persatu orang di rumah ini berangkat untuk bekerja. Dimulai dari Victor, Johan, dan Risa.
Sedangkan Fandi lebih banyak diam di kamarnya. Katanya work in house, padahal aslinya bermain judi online.
Dan yang berangkat paling terakhir adalah Chandra. Stephanie mengantarnya hingga ke teras. Pemuda yang tersenyum, tentu saja tidak akan menyia-nyiakan kesempatan dalam kesempitan yang begitu sulit untuk didapatkan olehnya.
Pemuda itu bergerak begitu cepat, mengecup kening dan bibir Stefanie.
“Apa yang kamu lakukan?” Tanya Stefanie dengan suara kecil membulatkan matanya.
“Erin dan Dina mengamati kita.” Pemuda itu kemudian memeluknya, usai berbisik demikian.
“Sayang, di rumah kamu jangan nakal. Jika ada hal penting atau seseorang yang berani mengganggumu, suruh Gaby untuk menghubungiku. Mengerti? Aku akan selalu merindukanmu. Dan juga calon anak kita.” Lagi-lagi pemuda yang ambil kesempatan dalam kesempitan. Benar-benar tidak memberikan sedikitpun celah, dirinya bergerak cepat mengecup perut wanita itu yang masih berbalut mini dress.
“I…iya.” Stefanie berusaha keras untuk tersenyum.”Aku akan sangat merindukanmu sayang. Pada awalnya aku tidak dapat melihat, tapi setelah bertemu denganmu, jangankan melihat, hidupku menjadi warna-warni.”
Baik! Itu kalimat yang aneh, tapi sukses membuat sang pemuda menipiskan bibir menahan tawanya.”Aku akan segera pulang, jaga kesehatanmu dan anak kita.”
Stefanie mengangguk, melakukan drama bagaikan pasangan suami istri sungguhan. Benar-benar tiada duanya, maksudnya tiada duanya untuk dalam kategori memalukan.
Hingga ketika dirinya melambaikan tangan, pemuda yang telah memasuki mobilnya. Kemudian melajukan mobilnya keluar dari gerbang. Barulah wanita itu menghela nafas. Di rumah ini kini hanya ada dirinya, tanpa keberadaan Chandra.
Tidak apa-apa…hanya harus bersembunyi di dalam kamar.
“Antar aku ke dalam kamar.” Kalimat yang diucapkannya kepada Tini.
“Baik nyonya…” seorang pelayan sekaligus perawat yang begitu profesional.
Wanita itu membimbingnya berjalan, walaupun dirinya juga menggunakan tongkat lipat yang biasanya dimiliki oleh orang tunanetra.
Hingga pada akhirnya langkah dari sang pelayan yang membimbingnya terhenti. Sudah diduga, benar-benar dapat ditebak bahwa dirinya tidak akan dilepaskan.
“Bagus ya! Benalu sepertimu berani melawan kami.” Itulah kata pembuka yang diucapkan oleh Dina.
“Bagus ya, benalu seperti kalian yang sudah hidup dari harta kedua orang tuaku selama 2 tahun, masih bersikap tidak tahu malu terhadap putri mereka. Seharusnya kalian melayaniku selaku pemilik rumah yang memberikan kenyamanan kepada kalian. Tapi malah kalian yang menganggapku benalu, kan aneh saja gitu…” wanita yang tersenyum sinis. Pandangan matanya kosong, pertanda wanita itu belum dapat melihat sama sekali.
“Stefanie! Kamu benar-benar sudah keterlaluan!” Suara bentakan dari Erin. Tangannya bergerak dengan cepat menampar Stefanie.
Plak!
Sebuah tamparan yang cukup keras. Pipinya terasa kebas, wanita ini sudah pasti ingin balas dendam kepadanya, karena apa yang dilakukan oleh Melani.
Tapi.
Plak!
Suara tamparan kembali terdengar, tapi bukan tamparan yang mengenai pipi Stefanie. Wanita yang menelan ludah, dirinya tidak dapat melihat apapun, benar-benar tidak mengetahui apa yang terjadi. Dari mana suara tamparan tadi?
“Kamu hanya seorang pelayan! Berani beraninya kamu—” kalimat yang diucapkan oleh Erin, memegangi pipinya yang kebas.
“Seorang pelayan?” Suara tawa arogan dari Tini terdengar.”Saya adalah seorang pelayan yang digaji, bekerja dengan tekun untuk majikan saya. Sedangkan anda, sepertinya Anda hanyalah orang yang menumpang gratis di rumah orang tanpa bekerja. Sungguh amat sangat memalukan, dapat dikatakan status anda lebih rendah di rumah ini dibandingkan dengan hewan peliharaan yang hanya makan sedikit.”
Ucapan yang begitu sarkas dan mengejek. Bagaimana bisa seorang pelayan dapat begitu berani.
“Keamanan! Security! Usir orang ini!” Suara teriakan dari Erin.
Stefanie mengepalkan tangannya. Ternyata Tini dapat diandalkan, tapi tanpa Tini apa yang akan dilakukan olehnya?
“Kalian tidak bisa mengusir pelayanku! Seharusnya aku yang berhak memecat semua pelayan yang kalian perkerjakan! Mereka digaji menggunakan uang peninggalan kedua orang tuaku! Tapi mereka tidak pernah mau melayaniku!” Suara bentakan yang menggelegar, Stefanie tidak akan lemah seperti dulu. Karena kini dirinya menemukan orang yang benar-benar bersedia untuk membimbing jalannya.
Dirinya tidak akan jatuh dalam lubang kegelapan. Karena dirinya tidak akan sendirian lagi.
Dua orang security datang, mendengar suara panggilan Erin.
Stefanie mengepalkan tangannya. Dirinya harus lebih berani lagi, ini adalah rumahnya! Dirinya harus berani melawan! Karena Chandra tidak akan selalu ada bersamanya.
“Usir pelayan yang begitu tidak tahu diri ini!” Kalimat yang diucapkan oleh Erin penuh penekanan.
Kedua orang security bergerak mendekat. Bagaimanapun mereka harus mengikuti perintah orang-orang dari keluarga Triatmaja. Mengingat mereka bekerja di tempat ini.
Tapi.
“Kalian digaji dengan uang kedua orang tuaku! Sejak 2 tahun yang lalu kalian selalu mengikuti perintah mereka. Sekarang aku sudah menikah dan memiliki wali, jika kalian berani macam-macam posisi kalian akan aku gantikan dengan orang lain. Gaji kalian tidak akan pernah dibayar lagi! Karena kalian bekerja kepada orang yang salah!” Itulah perintah yang diucapkan oleh Stefanie.
Dirinya bukannya tidak takut selama ini. Tapi ini semua karena Stefanie tidak memiliki sandaran sama sekali. Hanya seorang wanita buta yang bahkan tidak dapat bekerja, hidup dari warisan kedua orang tuanya. Yang dapat dilakukan olehnya hanya mempercayakan semuanya kepada keluarganya.
Namun, ternyata keluarga kandungnya sendiri melakukan konspirasi yang begitu jahat. Menjodohkannya dengan Danu, setelah melahirkan satu orang anak, maka dirinya akan dihabisi. Sesuai ketentuan surat wasiat dari kedua orang tuanya.
Dalam permainan membunuh atau dibunuh. Dirinya akan merebut 35% harta yang telah mereka ambil. Juga mempertahankan 65% harta miliknya.
Kedua orang security menghentikan langkah mereka. Dua orang ini saling melirik, benar apa yang dikatakan oleh Stefanie Triatmaja. Mereka harus berpihak kepada orang yang memberikan uang lebih banyak. Dan pekerjaan yang lebih stabil.
Mata mereka melirik ke arah para pelayan di tempat ini. Kulkas sudah disegel, bahkan makanan untuk para pekerja hari ini seadanya. Jika berpihak kepada Nona besar…
“Maafkan kami Nona Stefanie, selama ini kami memang tidak berpihak kepada anda. Tapi itu semua karena kami takut dipecat jika berpihak kepada anda. Mohon Nona memaafkan kami.” Kedua orang security menunduk, salah satunya berucap demikian.
Stefanie mengepalkan tangan. Hanya dengan memiliki wali, hanya dengan memiliki orang-orang yang dapat dipercayai olehnya. Maka semua orang akan kembali menunduk. Dirinya kuat bukan untuk merebut milik orang lain. Tapi menjadi lebih kuat untuk mempertahankan miliknya sendiri.
“Kalian! Aku bilang usir orang-orang ini! Kalau tidak aku akan melaporkan semuanya kepada suamiku!” Suara teriakan Erin kepada mereka.
Stefanie menghela nafas, jika dirinya tidak bisa mempertahankan Tini. Maka dirinya akan selalu ditindas, karena tidak dapat melihat, dirinya memerlukan Tini untuk membimbingnya. Karena itu…
“Aku akan memberikan bonus kepada kalian. Masing-masing 2 juta untuk bulan ini. Seharusnya kalian tahu siapa yang sebenarnya menggaji kalian bukan? Atau kalian ingin seperti pelayan lainnya, yang bahkan hanya dapat makan seadanya. Ini baru hari pertama…kesengsaraan yang lebih berat akan menunggu di hari berikutnya. Jika kalian tidak berpihak kepada nyonya rumah sebenarnya…” suara Stefanie terdengar begitu tenang. Padahal aslinya tangan wanita itu gemetar. Tidak! dirinya harus sekuat Melani. Dirinya harus lebih percaya diri seperti Candra.
siap2 diterkam kau
dan ga bakalan ngelepas sampe kita mati kering 😒
siap" ya
🤣🤣🤣
dg alasan apapun semoga jd ide utk derrel menendang danu dan lisa dari stefanie
😍
udah pake mobil stefanie... ehh... masih nambah black card stefanie juga
stefanie begitu kamu sudah bisa melihat,, kamu akan terpesona dg kegantengan derrel 😄😄😄