Tahun 2042.
Manusia hidup seperti biasa dengan teknologi modern. Tidak ada yang tahu bahwa energi spiritual di Bumi mulai bangkit kembali setelah menghilang selama ribuan tahun.
Arkana Wijaya, mahasiswa berusia 20 tahun, menjalani hidup biasa hingga menemukan cincin kuno peninggalan kakeknya. Saat darahnya menyentuh cincin itu, jiwa seorang kultivator legendaris dari ribuan tahun lalu terbangun.
Namun, alih-alih mengambil alih tubuh Arkana, jiwa itu justru menghilang setelah mewariskan seluruh ingatan dan teknik kultivasinya.
Arkana menjadi satu-satunya orang yang mengetahui cara kultivasi sejati.
Sementara dunia mulai berubah, organisasi rahasia, keluarga kuno, dan makhluk yang selama ini bersembunyi juga mulai bergerak.
Bumi ternyata hanyalah dunia tingkat terendah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagus Dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Pukulan Perak Melawan Pedang Plasma
Tekanan spiritual yang dilepaskan Arkana Wijaya dari ranah Spirit Gathering Tingkat Tiga yang baru saja ia tembus terasa begitu pekat dan berat. Kabut spiritual di dalam kamar inti makam purba berputar membentuk pusaran raksasa yang berpusat pada tubuhnya. Pasokan Qi Primordial berwarna perak keemasan mengalir deras, membungkus tubuh pemuda berusia dua puluh tahun itu dengan aura keagungan yang mutlak.
Di depan pintu kamar yang hancur, Mayor Jenderal Aditia Pramono merasakan alarm bahaya berbunyi konstan di dalam implan otak sibernya. Lensa taktis biru di mata kirinya berputar liar, mencoba membaca tingkat ancaman Arkana.
ANALISIS RADAR SIBER:
Target: Tidak Teridentifikasi (Target Kode: Silver Flash)
Fluktuasi Energi: Error — Melebihi Batas Maksimal Sensor Portabel!
Tingkat Ancaman: KRITIS / FATAL
"Tidak mungkin!" geram Aditia Pramono, urat-urat di pelipisnya menonjol tegang. "Skrining siber tiga hari lalu menyatakan tidak ada manusia fana di Jakarta yang bisa melampaui sepuluh persen adaptasi energi dalam waktu singkat! Siapa kau sebenarnya?!"
Arkana tidak menjawab. Ia hanya menatap dingin ke arah jenderal militer tersebut. Keheningan Arkana justru membakar sisa-sisa kewarasan Aditia yang sudah terdesak oleh efek over-drive reaktor siber di tubuhnya.
"Mati kau!"
Dengan raungan murka, Aditia melesat maju. Sepatu bot beratnya menghancurkan lantai pualam di bawahnya. Pedang teknologi berat di tangannya berdengung keras, memuntahkan jalinan arus listrik bertegangan tinggi bercampur dengan partikel energi merah buatan hasil modifikasi genetika militer. Tebasan horizontal itu mengincar leher Arkana, membawa daya hancur yang mampu membelah tank baja.
Arkana tidak mundur selangkah pun. Sepasang mata peraknya berkilat tenang. Di saat pedang plasma itu berjarak hanya beberapa sentimeter dari kulitnya, Arkana mengangkat tangan kanannya dengan santai, hanya menggunakan dua jari—jari telunjuk dan jari tengah.
TING!
Suara dentingan logam yang jernih menggema di seluruh ruangan.
Bilah pedang plasma berat yang dialiri ribuan volt listrik itu mendadak berhenti total di udara, dijepit dengan akurasi mutlak oleh dua jari Arkana. Semburan arus listrik dan energi merah buatan Aditia meledak di sekitar tubuh Arkana, namun semua energi destruktif itu lenyap seperti asap saat menyentuh pelindung Qi Primordial tak kasat mata yang menyelimuti kulit sang pemuda.
"Apa?!" Mata siber Aditia membelalak sempurna. Seluruh sistem komputasi di otaknya mendadak macet. Pedang taktis terbaik milik Biro Keamanan Khusus, yang dirancang untuk membantai monster spiritual, kini tidak bisa bergerak seinci pun hanya karena jepitan dua jari seorang pemuda.
"Teknologi modifikasi energi milik kalian... terlalu kasar," ucap Arkana datar, suaranya terdengar jernih namun membawa tekanan batin yang menusuk jiwa. "Kalian memaksakan energi alam masuk ke dalam mesin, tanpa tahu cara menyelaraskannya dengan hukum semesta."
Kehancuran Sang Jenderal
Arkana memberikan sedikit sentakan pada dua jarinya.
KRAAAK!
Bilah pedang teknologi baja titanium milik Aditia seketika retak dan hancur berkeping-keping menjadi puluhan serpihan logam tak berguna. Sebelum Aditia sempat memproses rasa terkejutnya, Arkana melangkah maju satu langkah, memperpendek jarak di antara mereka dalam sekejap mata.
Tangan kanan Arkana mengepal, pendaran cahaya perak keemasan memadat di permukaan tinjunya.
"Pukulan Roda Langit: Getaran Inti!"
Pukulan Arkana melesat lurus, menghantam tepat di tengah-tengah pelat zirah dada Exo-Skeleton milik Aditia. Serangan ini tidak menghasilkan ledakan visual yang besar, melainkan melepaskan gelombang frekuensi Qi murni yang menembus langsung ke dalam lapisan terdalam tubuh sang jenderal.
BUM!
Zirah baja tebal di dada Aditia melesat melengkung ke dalam. Di detik berikutnya, reaktor siber penyokong kehidupan yang ditanam di dalam dadanya mengalami korsleting massal, menyemburkan percikan api hitam dan asap tebal. Seluruh implan mekanis di tubuh Aditia seketika mati total, memutus suplai daya ke sistem otot buatannya.
"Uhukk!"
Aditia Pramono memuntahkan seteguk darah segar. Tubuhnya terlempar linear ke belakang, menabrak dinding batu kamar inti hingga menciptakan retakan dalam yang menjalar ke langit-langit. Sang Jenderal jatuh terduduk di atas reruntuhan batu, napasnya tersengal-sengal, sementara mata sibernya berkedip rusak sebelum akhirnya padam sepenuhnya.
Ia menatap Arkana dengan pandangan yang dipenuhi kengerian yang mendalam. Di era baru tahun 2042 ini, ia mengira militer dengan senjata mutakhir adalah penguasa mutlak dunia. Namun malam ini, di dalam makam purba terisolasi ini, seluruh keyakinannya dihancurkan berkeping-keping oleh seorang kultivator sejati.
"Kau... monster..." bisik Aditia dengan sisa kekuatannya, sebelum akhirnya kesadarannya tumbang akibat syok berat pada sistem saraf sibernya.
Meninggalkan Ruang Runtuh
Arkana tidak mengambil nyawa Aditia. Baginya, jenderal yang terluka parah ini akan menjadi pengalih perhatian yang sangat sempurna bagi Biro Keamanan Khusus dan klan-klan kuno lainnya di luar. Begitu Aditia ditemukan dalam kondisi sekarat, fokus penyelidikan pemerintah akan tertuju pada misteri "Silver Flash", memberikan waktu lebih banyak bagi Arkana untuk bergerak di bawah bayang-bayang.
KRAAAK... RUMBLE...
Langit-langit kamar inti mulai runtuh. Aktivitas formasi luar yang hancur disertai bentrokan energi dahsyat tadi membuat kestabilan dimensi kantong Istana Peristirahatan Hijau Giok berada di ambang kehancuran total.
BZZZZT... "Arka! Energi spasial di makam itu lagi kolaps! Lo harus keluar sekarang lewat jalur evakuasi darurat bawah air yang gua temukan di cetak biru!" Suara Dani berdenging panik melalui anting mekanis mikro.
"Paham, Dan. Gua bergerak sekarang," jawab Arkana tenang.
Arkana melirik ke arah kolam spiritual kecil yang airnya mulai menyusut. Tanpa ragu, ia melompat masuk ke dalam kolam tersebut, mengaktifkan kembali Teknik Kamuflase Napas Kaisar untuk melindunginya dari tekanan air dan menyembunyikan sisa-sisa energinya. Tubuhnya melesat cepat menembus saluran air bawah tanah yang terhubung langsung dengan sistem sungai alami di luar perbukitan Sentul.
Di belakangnya, kamar inti istana purba itu perlahan terkubur oleh ribuan ton runtuhan batu giok, menyegel rapat sisa-sisa sejarah masa lalu yang telah berhasil diperas habis keuntungannya oleh sang pewaris tunggal Kaisar Abadi.