NovelToon NovelToon
Cinta Anak SMA

Cinta Anak SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Ketos / Idola sekolah
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: dinda.glow

Bagaimana jika dua orang remaja yang tidak saling dekat, namun dipaksakan berdua karena perjodohan?

Akankah mereka menerima nya? atau sebaliknya?

"Dia selalu serius ketika menyimak penjelasan dari guru saat jam pelajaran di kelas," batin seorang gadis yang bernama Lyra, sedang memandangi seorang cowo yang terlihat keren saat pelajaran, namun terlihat kesal dengan kesombongannya.

____

"Kenapa harus dia?!" teriak Lyra, tidak menyukai perjodohan yang dilakukan orang tua mereka.

Sedangkan di sisi lain, cowo itu menatapnya dingin dan tajam, sesekali menyetujui ucapan Lyra, tidak ingin perjodohan mereka berlanjut.

____

"Oh iya... yang pintar mah beda." ucap Lyra menyindir cowo dihadapannya itu.

"Makanya belajar! Bukan baca novel!" sarkas cowo itu, yang membuat Lyra ingin mencabik-cabik cowo yang dihadapannya ini.

-- Dua orang Sikap berbeda yang terpaksa bersama --

Follow akun ini(@dinda.glow), like & komen disetiap cerita yaw! di upload setiap hari Jam 09:00 WIB & 21:00 WIB

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dinda.glow, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10. Rian dan Tanggung jawabnya sebagai Ketua Kelas

Rian mendapat kesempatan pertama. Dengan suara yang agak serak namun terdengar tulus, ia mulai berbicara.

"Teman-teman, saya tahu kelas kita ini isinya orang-orang hebat dengan kepala batu yang berbeda-beda. Tapi, X-3 tidak akan bisa kompak kalau kita terus-terusan kubu-kubuan. Program utama saya sederhana: kita buat forum diskusi santai setiap akhir bulan untuk evaluasi kelas, dan saya berjanji akan menjadi jembatan langsung antara kalian dan para guru. Saya tidak mau jadi ketua yang memerintah, saya mau jadi teman yang merangkul."

Prok! Prok! Prok! (Suara tepuk tangan)

Tepuk tangan riuh terdengar dari barisan belakang, tempat geng Rian biasa berkumpul.

Giliran Tasya tiba. Ia melangkah maju dengan percaya diri, menatap langsung ke arah audiens.

"Visi saya adalah menjadikan X-3 sebagai kelas dengan prestasi akademik dan non-akademik terbaik di angkatan ini. Saya akan membuat jadwal belajar bersama sebelum pekan ujian dan mendisiplinkan kas kelas untuk mendukung kegiatan pensi kelak. Kita butuh struktur yang tegas agar tidak tertinggal dari kelas lain."

Penjelasan yang sistematis itu langsung mendapat anggukan setuju dari murid-murid di barisan depan yang cenderung ambisius.Setelah sesi penyampaian gagasan selesai, Ibu Ratna mengambil alih kendali kelas.

"Terima kasih Rian dan Tasya. Sekarang, saatnya kita melakukan pemungutan suara secara demokratis. Tolong selembar kertas kecil disiapkan oleh masing-masing dari kalian."

Lyra membantu membagikan potongan kertas kosong ke setiap meja.

Suasana mendadak tegang. Setiap murid mulai menuliskan satu nama di kertas tersebut secara rahasia, lalu melipatnya menjadi dua bagian.

Lyra kemudian berjalan memutari kelas membawa kotak kardus kecil bekas sepatu untuk mengumpulkan seluruh suara.

Setelah semua kertas terkumpul, Ibu Ratna menunjuk Lyra untuk membacakan surat suara di depan kelas, sementara Doni bertugas menuliskan turus (garis hitung) di papan tulis.

"Rian," ucap Lyra lantang. Doni membuat satu garis di bawah nama Rian.

"Tasya," lanjut Lyra.

Satu garis untuk Tasya.

Kejar-kejaran nilai terjadi dengan sangat sengit. Ketika hitungan mencapai angka 18 untuk Rian dan 18 untuk Tasya, ketegangan di kelas X-3 memuncak.

Hanya tersisa satu kertas terakhir di dalam kotak. Lyra menarik napas dalam-dalam, membuka lipatan kertas itu, dan membacanya dengan senyuman tipis.

"Rian!" seru Lyra.

Kelas langsung pecah oleh sorak-sorai.

Hasil akhir menunjukkan Rian terpilih menjadi ketua kelas X-3 dengan keunggulan tipis, yaitu 19 suara, sementara Tasya mendapatkan 18 suara.

Rian tampak terkejut sekaligus lega. Ia langsung berbalik dan mengulurkan tangannya ke arah Tasya.

"Terima kasih atas persaingannya, Tasya. Saya butuh bantuanmu untuk mendisiplinkan kelas ini seperti yang kamu bilang tadi."

Tasya sempat terdiam sesaat, namun perlahan senyum tipis muncul di wajahnya. Ia menjabat tangan Rian dengan erat.

"Selamat, Rian. Tepati janjimu untuk merangkul semua orang, atau aku yang akan mengudetamu," candanya yang langsung disambut tawa oleh seluruh isi kelas.

Ibu Ratna tersenyum puas melihat kedewasaan anak-anak didiknya, sementara Lyra kembali ke bangkunya dengan perasaan damai karena konflik pertama kelas mereka berakhir dengan sangat indah.

__________________

Hari pertama Rian menjabat sebagai ketua kelas X-3 dimulai dengan ujian yang cukup berat.

kriiiiiiingg.....

Sejak bel masuk berbunyi, suasana kelas sudah tidak kondusif.

Pengumuman mendadak dari speaker sekolah menyatakan bahwa guru mata pelajaran Fisika, Pak joko, tidak bisa hadir karena mendadak ada rapat dinas.

Sebagai gantinya, beliau meninggalkan setumpuk tugas yang harus dikerjakan dan dikumpulkan pada jam terakhir.

Bagi sebagian besar murid X-3, kabar "jam kosong" adalah lampu hijau untuk berpesta.

Dalam sekejap, barisan belakang yang dipimpin oleh geng Rian langsung riuh.

Ada yang mulai menyetel musik kencang-kencang dari ponsel, ada yang bermain pembatas buku, dan beberapa murid laki-laki bahkan mulai memindahkan meja untuk bermain bola plastik di dalam kelas.

Di sudut lain, Tasya dan kelompoknya mulai menunjukkan raut wajah frustrasi. Tasya berjalan menghampiri meja Rian sambil melipat kedua tangannya di dada.

"Rian, lihat tuh kelakuan teman-temanmu. Ini hari pertama kamu jadi ketua. Kalau tugas Fisika ini tidak selesai, sekelas bisa kena hukuman minggu depan. Mana janji kamu yang katanya mau merangkul dan bertanggung jawab?" sindir Tasya tajam.

Rian sempat menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia merasa canggung.

Di satu sisi, mereka yang membuat keributan adalah teman-teman nongkrongnya sendiri.

Di sisi lain, ia kini memegang ban lengan ketua kelas.

Lyra, yang duduk tidak jauh dari sana, menatap Rian dengan pandangan menyemangati, seolah mengingatkannya pada keberanian yang mereka bahas kemarin.

Rian menarik napas dalam-dalam. Ia berdiri dari kursinya dan berjalan menuju ke depan kelas.

Ia mengambil penghapus papan tulis dan memukulkannya ke meja guru dengan cukup keras.

Plak!

Suasana kelas mendadak hening seketika. Semua mata tertuju pada Rian yang kini berdiri tegak di depan mimbar.

"Teman-teman, minta waktunya sebentar!" seru Rian, suaranya terdengar tegas namun tidak bernada marah.

"Gue tahu jam kosong itu surga. Gue juga pengen santai-santai kayak kalian. Tapi, Pak Joko ninggalin tugas dua bab yang harus dikumpul hari ini. Kalau kita tidak kumpulin, taruhannya nilai rapot kita sekelas."

"Ah, elah, Yan! Biasanya juga lo ikut gabung main bola!" teriak salah satu teman dekatnya dari belakang, memicu tawa dari murid lain.

Rian tersenyum tipis, tidak terpancing. "Itu kemarin, waktu gue belum kalian pilih jadi ketua. Sekarang, karena kalian sudah percaya sama gue, gue punya tanggung jawab buat mastiin kita semua aman. Jadi, gue punya solusi."

Rian menuliskan sesuatu di papan tulis dengan spidol.

"Kita bagi kelas ini jadi lima kelompok belajar. Tugas Fisika ini ada 20 soal essay. Daripada kita pusing ngerjain sendiri-sendiri dan malah berakhir tidak ngumpulin, setiap kelompok wajib bertanggung jawab nyelesaiin 4 soal saja. Nanti, perwakilan kelompok maju ke depan untuk ngejelasin dan kita salin bareng-bareng. Adil, kan? Kerja kelompoknya cuma 30 menit, sisa waktunya terserah kalian mau ngapain, asal jangan berisik sampai kedengaran ke luar kelas."

Mendengar tawaran Rian, suasana kelas yang tadinya tegang mulai mencair. Metode yang ditawarkan Rian sangat pragmatis dan meringankan beban mereka.

"Boleh juga tuh! Daripada pusing sendiri!" sahut Doni dari bangku tengah. Rian kemudian menatap Tasya.

"Tasya, gue minta tolong boleh? Karena kelompok lo yang paling pinter Fisika, bisa tolong jadi mentor buat kelompok empat dan lima yang kesusahan? Gue sendiri yang bakal jagain anak-anak belakang supaya tidak bikin ribut."

Tasya sempat tertegun. Ia tidak menyangka Rian akan langsung mendelegasikan tugas dengan cara menghargai kemampuannya, alih-alih merasa tersaingi.

Ketegasan Rian yang dicampur dengan gaya bicaranya yang santai rupanya sangat efektif meredam ego anak-anak X-3.

"Oke," jawab Tasya singkat, mulai berjalan menuju kelompok yang ditunjuk dengan membawa buku paketnya.

Selama satu jam berikutnya, Rian benar-benar menjalankan perannya. Ia berjalan keliling dari satu meja ke meja lain.

Saat teman-teman gengnya mulai malas dan ingin bermain lagi, Rian menegur mereka dengan candaan namun tetap memaksa mereka menyelesaikan bagian soal mereka.

Lyra yang memperhatikan dari kursinya tersenyum lega.

Rian tidak memimpin dengan tangan besi seperti yang ditakutkan banyak orang, melainkan dengan pendekatan personal yang merangkul—tepat seperti janjinya saat kampanye.

Sebelum bel pulang berbunyi, seluruh tugas Fisika kelas X-3 selesai dikerjakan dengan rapi dan dikumpulkan ke ruang guru tepat waktu.

Hari pertama Rian dilewati dengan sukses besar, membuktikan bahwa seorang ketua kelas tidak harus ditakuti untuk bisa dipatuhi.

Bersambung ~~~

Hallo gess!! semoga suka ceritanya ya!! 🤗

Jangan lupa follow akun ini, like, komen dan share ceritanya ya!! 😉

Instagram: @dinndaayu_64

Wattpad: @dinda.glow

See you~~

1
Jum😊
aku udah mampir kak semangat yaa💪🤭
dinda.glow: wah... maaci udah mampir 🤩🤩🤩✨
total 1 replies
MamiAmira
semangat kak makasih tadi udah mampir
dinda.glow: makasi juga udah beri support!! ✨🥳
total 1 replies
Waaaaaa_
Aku mampir jugaaa
dinda.glow: makasi sudah mampir ihihi
total 1 replies
Sandhyaruntala
Semangat kecilll🫶
dinda.glow: maaci akk 😍
total 1 replies
Firmahadi
izin mampir kak
dinda.glow: hay... makasi sudah mampir ^^
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!