NovelToon NovelToon
Maaf.. Kukira Ini Taksi

Maaf.. Kukira Ini Taksi

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: arrasy

Di tengah guyuran hujan deras yang membasahi jalanan Jakarta, Rima masuk ke mobil mewah yang baru saja ia buka dengan tergesa-gesa. Wajahnya memancarkan kaget luar biasa. Mata terbelalak lebar, mulut terbuka melongo. Saat baru menyadari bahwa ia salah masuk kendaraan, bukan taksi yang sudah dipesannya. Pantulan di kaca spion memperlihatkan Andre yang duduk di kursi pengemudi dengan wajah dingin kaku, tatapan tajam tanpa senyum, seolah tak percaya ada kejadian seaneh ini. Butiran air menetes di kaca jendela dan bodi mobil hitam mengkilap, memperkuat suasana yang canggung sekaligus kocak di pertemuan pertama mereka. Kontras jelas antara ekspresi Rima yang panik lucu dan sikap Andre yang tenang kaku langsung menyiratkan kisah pertemuan tak terduga yang penuh kekacauan manis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Terlambat Mengantar Dokumen

Pagi itu jam menunjukkan pukul delapan lebih tiga puluh menit. Rima sudah berdiri di depan meja kerja sejak setengah jam yang lalu, memastikan semuanya sudah siap. Di atas meja tergeletak map berwarna merah tebal dengan label emas bertuliskan Laporan Proyek Kerjasama – Rahasia. Ini adalah dokumen paling penting minggu ini, dan Bu Tia sudah berpesan berkali-kali, harus sampai di tangan Pak Andre tepat pukul sembilan pagi, tidak boleh kurang satu menit pun.

"Oke Rima, tenang saja," bisiknya pelan sambil memeluk map itu erat-erat di dada. "Tadi kan sudah berjanji sama Pak Dino, nggak akan telat, nggak akan berantakan, nggak akan banyak omong. Jalannya pelan-pelan, hati-hati di tangga, selesai."

Rima memang begitu. Selalu tidak sadar berbicara sendiri.

Ia memeriksa jam tangannya lagi. Masih ada waktu tiga puluh menit. Jarak dari ruang arsip ke lantai atas tempat ruangan Andre tidak sampai sepuluh menit jalan kaki. Rima mengangguk puas, yakin kali ini pasti aman.

Ia berjalan keluar ruangan dengan langkah tegap, percaya diri dan mata waspada mengawasi setiap langkahnya. Lewat lorong, melewati ruangan lain, menyapa staf yang berpapasan dengan senyum sopan singkat saja. Semuanya berjalan lancar sampai ia sampai di depan pintu lift lantai satu.

Namun hari ini nasib sepertinya belum berpihak padanya. Saat ia hendak melangkah masuk ke lift yang baru saja terbuka, tiba-tiba ada sekelompok karyawan yang membawa kotak besar berjalan tergesa-gesa lewat di depannya. Rima mundur selangkah untuk memberi jalan, lalu melangkah cepat menuju pintu tangga darurat. Lebih baik naik tangga saja daripada menunggu lift penuh.

Ia naik tangga dengan langkah cepat namun hati-hati, matanya fokus pada anak tangga di bawah kakinya. Sampai di lantai tiga, ia berbelok ke lorong utama menuju ruangan CEO. Lorong ini dilapisi karpet tebal berwarna gelap yang permukaannya agak licin jika tidak diperhatikan baik-baik.

Rima melangkah lebih cepat lagi. Matanya melirik jam tangan. 08.58.

Dua menit lagi sampai jam sembilan! Ia hampir sampai!

Tiba-tiba ujung sepatunya tersangkut pada lipatan karpet yang sedikit terangkat di tengah lorong.

"Aduh!"

Rima kehilangan keseimbangan. Ia mencoba memegang dinding, tapi tangannya hanya menyapu udara. Tubuhnya terhuyung ke depan, dan map merah yang dipeluknya erat terlempar ke udara.

Prak!

Map terbuka lebar saat menyentuh lantai. Ratusan lembar dokumen berantakan berserakan di atas karpet, terbalik-balik, ada yang melengkung, bahkan beberapa lembar meluncur sampai ke depan pintu ruangan Andre.

Rima langsung berlutut dengan panik, memunguti kertas satu per satu dengan tangan gemetar. Jantungnya berdegup kencang seolah mau melompat keluar. Ia menoleh ke jam tangan.

09.01.Ia terlambat.

Saat itu juga pintu ruangan terbuka dari dalam. Andre berdiri di ambang pintu dengan wajah dingin yang sudah tidak asing lagi. Matanya menyapu pemandangan di depannya.

Rima yang berlutut di lantai dengan wajah pucat, dan dokumen penting yang berantakan di mana-mana.

Andre melirik jam di dinding lorong, lalu menatap Rima dengan tatapan yang makin tajam dan dingin.

"Pukul sembilan lewat satu menit," ucapnya datar, suaranya terdengar berat dan menekan. "Saya sudah menunggu sejak tadi."

Rima buru-buru mengumpulkan sisa dokumen, berdiri dengan map yang masih belum rapi, lalu membungkuk dalam-dalam. Wajahnya memerah padam karena malu dan gugup. Lidahnya terasa kelu, tapi keinginan untuk menjelaskan segalanya muncul begitu saja.

ingin bercerita soal karpet yang terangkat, soal orang yang lewat tadi, soal sepatunya yang licin...

Tapi tiba-tiba pesan Pak Dino terngiang di telinganya.

Jangan bertele-tele, langsung ke inti, ingat batasan jabatan.

Rima menelan ludah, menahan semua penjelasan yang hampir meluncur keluar. Ia meremas pinggiran map dengan kuat, lalu menundukkan kepala lebih dalam lagi.

"Maaf Pak Andre," ucapnya pelan tapi jelas, tanpa tambahan alasan apa pun. "Saya terlambat dan dokumennya berantakan karena kelalaian saya. Saya akan perbaiki sekarang."

Andre masih berdiri diam di tempat, menatapnya lama sekali sebelum melangkah maju dan mengambil map itu dari tangan Rima. Ia melihat lembaran-lembaran yang belum urut, sudut kertas yang tertekuk, dan wajah Rima yang penuh penyesalan namun berusaha tenang.

"Kamu tahu apa isi dokumen ini?" tanyanya tegas. "Ini adalah rancangan kerjasama dengan investor luar negeri. Setiap menit penundaan bisa mengubah keputusan mereka. Setiap lembar yang salah urutan bisa membuat mereka salah paham isi perjanjian."

Ia berhenti sejenak, menatap lurus ke mata Rima.

"Keterlambatan dan keteledoran bukan sekadar kesalahan kecil. Itu bisa merugikan perusahaan, merusak kepercayaan mitra, dan membuang waktu orang lain yang sudah dihargai mahal. Kamu sudah diberi waktu cukup lama untuk menyiapkannya."

Rima mengangguk pelan, matanya berkaca-kaca tapi ia berusaha menahannya agar tidak jatuh. "Saya mengerti Pak. Saya benar-benar minta maaf. Ini tanggung jawab saya sepenuhnya."

Andre melihat ketulusan di wajah gadis itu dan juga usaha kerasnya untuk tidak melontarkan ribuan alasan seperti biasanya. Ada perubahan kecil yang ia sadari. Ia tidak melanjutkan omelannya, malah menyodorkan map kembali ke tangan Rima.

"Pergilah ke ruangan sebelah, susun ulang semuanya dengan urutan yang benar. Pastikan tidak ada satu lembar pun yang terbalik atau terlipat. Bawa ke saya lagi setelah selesai. Dan hati-hati lain kali."

"Baik Pak! Terima kasih Pak," jawab Rima sopan, lalu segera berjalan cepat menuju ruangan administrasi di sebelah tanpa menoleh lagi.

Setelah Rima pergi, Dino muncul dari arah ruangan kerjanya sambil membawa berkas lain. Ia melihat Andre yang masih menatap ke arah Rima pergi.

"Maaf Pak, tadi saya sudah ingatkan mbak Rima untuk berangkat lebih awal," ucap Dino.

Andre menggeleng pelan. "Tadi dia hampir menjelaskan panjang lebar, tapi akhirnya menahan diri. Dia mencoba untuk belajar."

"Benar juga Pak," Dino tersenyum tipis. "Mbak Rima berusaha keras menyesuaikan diri."

Sementara di ruangan sebelah, Rima menyusun ulang dokumen dengan sangat teliti. Setiap lembar diperiksa nomor halamannya, diluruskan sudutnya, disusun berurutan dengan hati-hati. Ia tidak lagi bergumam sendiri, tidak lagi bergerak tergesa-gesa. Kali ini ia melakukannya dengan tenang, memastikan semuanya sempurna.

Sekitar sepuluh menit kemudian, ia mengetuk pintu ruangan Andre lagi.

"Masuk."

Rima melangkah masuk, menyodorkan map yang sudah rapi tanpa satu pun kerutan. "Dokumennya sudah selesai disusun ulang, Pak. Mohon diperiksa."

Andre mengambilnya, membuka sekilas, dan melihat urutan halaman yang sempurna. Ia menatap Rima sebentar, lalu mengangguk singkat.

"Sudah benar. Kamu boleh pergi."

"Terima kasih Pak," Rima membungkuk sekali lagi, lalu berjalan keluar dengan perasaan lega yang luar biasa. Ia berhasil menahan diri. Ia berhasil berusaha lebih baik.

Meski masih ada jarak yang jauh antara dirinya dan sang CEO, setidaknya hari ini ia sudah melangkah satu langkah lebih dekat menjadi anak magang yang diharapkan.

1
partini
jaraknya kaya Cilacap Jogyakarta naik bus efisiensi atau purwokerto Jogya
❥␠⃝ ͭ🍁Hes'💋𝗔𝗿𝗿𝗮𝘀𝘆🍁
betul ka. mau hujan deres kek.. bomat😄
🌺⃟ SasMaya
Oohh... ternyata emng Rima-nya yang mau anter hujan-hujanan... 🙄
🌺⃟ SasMaya
jangan sebel-sebel sama Rima pak Andre nanti ketulah jadi bucin 😆
🌺⃟ SasMaya
Andre ini tipe-tipe yang ga mau ribet dan bomat sama urusan orang lain 🫠
Mingyu gf😘
aduhh si bapak galak banget
❥␠⃝ ͭ🍁Hes'💋𝗔𝗿𝗿𝗮𝘀𝘆🍁: galak dan kesel dikira supir taksi😄
total 1 replies
Mingyu gf😘
sibuk banget ngurusin perut orang lain di saat kamu aja sedang terjebak masalah
Tulisan__mawar
Heh nota utang🥲
ini namanya waktu kecil lihat orang tua kita suka bon di warung sekarang kita sudah dewasa bisa bon warung sendiri🤣🙏
Alia Chans
Dan ke salah pahaman di mulai dari sini😌
kenzi moretti
bisa-bisanya rim salah masuk mobil/Facepalm/
kenzi moretti
wuihh/Blush//Sly/
THE GIRL COOL😑
😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
RahmaYesi
Rima Rima, kamu itu menggemaskan bingittt zih dg segala gedebag gedebug hidup mu
arsyila putri
lucu banget ceritanya, bikin penasaran part selanjutnya. 😍😍
mama Al
aduh salah alamat
arsyila putri
makin malu🤣🤣
arsyila putri
wih malu pasti, mana aku pernah lagi🤣🤣
Nyai Aksara 👩‍🦯
Dasar ceroboh, udah lihat Andre juga masih aja ngomong santai
RahmaYesi
Syukurlah
Mutia Kim🍑
Kok tiba-tiba mau di ganti mobilnya🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!