Bagaimana rasanya dihancurkan oleh orang-orang yang seharusnya melindungimu? Dari orang tua yang egois hingga 'cinta' yang berujung pada tindak kriminal dan hilangnya kehormatan. Novel ini adalah perjalananku menghadapi kenyataan bahwa dunia tidak pernah adil. Tentang bagaimana berdiri di antara pengkhianatan keluarga dan trauma masa remaja yang merusak harga diri. Saat pintu-pintu baru mulai terbuka, justru ingin lari. Karena tahu, tidak semua yang datang berniat menyembuhkan beberapa mungkin hanya ingin mematahkan apa yang sudah retak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjelisitinjak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 27
Aku menarik napas perlahan, mencoba mengumpulkan sisa tenagaku. Suara monitor jantung di samping tempat tidurku berbunyi teratur, kontras dengan gemuruh di dadaku.
"Ma..." panggilku lirih.
Mama yang sedang menyeka air matanya langsung tersentak dan mendekat.
"Iya, Sayang? Ini Mama. Kamu sudah bangun? Syukurlah, Nak... Mama takut sekali, badanmu dingin sekali tadi pagi."
Papa yang sejak tadi berdiri kaku di
dekat jendela langsung menghampiri, wajahnya yang biasa tegas kini tampak sangat rapuh. Ia menggenggam jemariku yang tidak terpasang infus.
"Hana, lihat Papa, Nak," suara Papa berat. "Kenapa kamu bisa begini? Apa yang sebenarnya membebani pikiranmu sampai kamu mengabaikan diri sendiri seperti ini? Cerita sama Papa, siapa yang buat kamu begini?"
Aku terdiam.
Lidahku terasa kelu, seolah membeku. Aku ingin berteriak bahwa aku hancur melihat Wira sudah bahagia sementara aku masih membusuk dalam trauma yang mereka ciptakan dulu.
Tapi aku takut. Aku takut jika aku menyebut nama Wira, Papa akan kembali meledak seperti dulu. Aku takut kedamaian yang baru kami bangun di rumah selama enam bulan ini akan hancur seketika.
Tepat saat suasana menjadi sangat tegang karena keheninganku, ponsel Mama di atas meja berdering nyaring. Mama melihat layarnya.
"Ini... ini Diva, temen kamu, Han," ucap Mama.
Mama mengangkatnya,
"Halo, Diva? Iya, ini Tante. Hana... Hana ada di rumah sakit sekarang. Tadi pagi pingsan. Iya, tadi satpam di rumah pasti kasih tahu ya? Kami ada di RS Medika, kamar 402. Datang saja, Nak."
Mama menutup teleponnya dan menatap Papa.
"Diva sama Dhea mau ke sini, Pa. Mereka tadi ke rumah tapi cuma ketemu satpam."
Aku merasa sedikit lega.
Kehadiran sahabat-sahabatku mungkin bisa menjadi tameng agar Papa tidak terus-menerus mendesakku dengan pertanyaan yang belum sanggup kujawab.
...----------------...
Pintu kamar rawat 402 itu akhirnya terbuka dengan terburu-buru. Diva dan Dhea muncul di sana dengan napas yang masih tersengal, wajah mereka memancarkan kecemasan yang luar biasa.
"Tante! Om!" sapa Diva dan Dhea hampir bersamaan sambil menyalami orang tuaku dengan sopan, meski mata mereka langsung tertuju ke arah ranjangku.
"Masuk, Nak Diva, Nak Dhea. Syukurlah kalian datang," balas Mama dengan suara yang masih sedikit bergetar.
Tanpa menunggu komando kedua kalinya, mereka berdua langsung menghampiriku.
Pelukan Diva dan Dhea terasa begitu tulus, seolah mereka sedang menyalurkan kekuatan ke tubuhku yang masih lemas.
Aroma parfum mereka yang akrab sejak zaman kuliah dulu membawa sedikit rasa nyaman ke tengah bau obat-obatan rumah sakit yang menyesakkan ini.
"Hana! Kamu beneran bikin kita jantungan, tahu nggak?" Diva melepaskan pelukannya, matanya merah menatapku.
"Tadi pagi aku telepon ke rumah mau ajak berangkat bareng atau sekadar tanya kabar karena perasaan aku nggak enak, eh Satpam rumah kamu bilang kamu dilarikan ke RS darurat. Aku langsung telepon Dhea, kita langsung kabur dari kantor masing-masing buat ke sini!"
Dhea mengangguk cepat, menggenggam tanganku yang bebas infus.
"Iya, Han! Aku tadi lagi ada meeting pagi, langsung aku izin keluar pas Diva telepon sambil nangis-nangis. Kamu kenapa sih? Kok bisa sampai pingsan di bawah shower gitu? Apa karena tekanan kerjaan kamu di perusahaan Papa yang baru enam bulan ini?"
Aku hanya bisa tersenyum tipis, sebuah senyum getir yang kusembunyikan di balik wajah pucatku.
Mereka tidak tahu. Mereka tidak tahu kalau alasan aku hancur semalam adalah karena mengingat unggahan foto Facebook Wira pria dari masa laluku yang mereka pun tidak pernah tahu keberadaannya.
"Maafin aku ya, Div, Dhe... aku cuma lagi drop banget aja. Mungkin emang bener kata kalian, aku terlalu forsir tenaga di kantor Papa akhir-akhir ini," jawabku bohong.
Lidahku terasa kelu untuk jujur.
Diva menghela napas panjang, dia duduk di pinggir ranjangku.
"Han, kita ini sahabat kamu dari zaman kuliah. Kita tahu kamu itu perempuan paling tangguh yang pernah kita kenal. Tapi kalau sampai pingsan begini, pasti ada yang nggak beres. Kamu beneran nggak mau cerita? Kita ini tempat sampah kamu, Han, jangan dipendam sendiri."
Aku menggeleng pelan, berusaha menghindari tatapan menyelidik mereka.
"Nggak ada, Div. Beneran cuma kecapekan aja."
Dhea mengusap rambutku dengan lembut.
"Ya udah kalau kamu belum mau cerita, kita nggak bakal maksa. Yang penting sekarang kamu fokus sembuh dulu. Ibu Manajer kita nggak boleh lama-lama terkapar di sini."
Kehadiran mereka benar-benar menjadi tameng yang luar biasa.
Di saat aku merasa dunia ini tidak adil karena melihat kebahagiaan Wira, sahabat-sahabatku ada di sini, meninggalkan pekerjaan mereka demi melihatku.
Kehadiran Diva dan Dhea benar-benar menjadi obat penawar yang paling ampuh saat ini.
Setelah Papa dan Mama pamit keluarmungkin sengaja memberi kami ruang untuk bicara sebagai sesama anak muda suasana kamar rawat yang tadinya kaku mendadak berubah jadi lebih hidup.
Dhea, seperti biasa, tidak bisa diam.
Sambil duduk di kursi samping tempat tidur, tangannya sibuk mengupas buah apel yang mereka bawa, tapi mulutnya jauh lebih sibuk berceloteh.
"Han, kamu tau nggak? Tadi pas aku mau izin kabur dari kantor, bos aku mukanya udah kayak kepiting rebus! Tapi aku bilang aja, 'Pak, ini urusan negara, sahabat saya lagi tumbang!'. Eh, dia malah bingung sendiri," cerocos Dhea sambil menyodorkan sepotong apel ke mulutku.
Aku tertawa kecil, meskipun perutku sedikit sakit saat terguncang.
"Kamu ya, Dhe... selalu aja cari gara-gara sama bos sendiri."
Diva yang duduk di ujung ranjang ikut menimpali sambil memijat kakiku pelan.
"Ya lagian kamu juga sih, Han. Ibu Manajer yang biasanya paling disiplin, tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Kita hampir aja mau lapor tim SAR tau nggak! Aku udah bayangin kamu pingsan gara-gara tumpukan berkas di kantor Papa kamu itu."
"Nggak segitunya juga kali, Div," balasku sambil mengunyah apel.
Rasanya manis, sedikit mengusir rasa pahit di lidahku akibat obat-obatan.
"Pokoknya ya, Han," Dhea melanjutkan sambil mengacungkan pisau buahnya dengan gaya dramatis,
"setelah kamu keluar dari sini, kita harus staycation atau minimal spa seharian. Kamu itu butuh refreshing. Jangan cuma kerja, kerja, kerja terus. Inget, kamu itu aset berharga kita!"
Kami bertiga tertawa lepas.
Celotehan receh Dhea dan perhatian Diva yang tulus benar-benar membuatku sejenak melupakan foto sialan di Facebook itu. Bayangan Wira yang sedang tersenyum bahagia dengan wanita lain perlahan memudar, tertutup oleh hangatnya persahabatan kami yang sudah terjalin sejak zaman kuliah.
Aku merasa sangat beruntung. Di saat duniaku terasa runtuh karena masa lalu, aku masih punya mereka yang hidup di masa kiniku. Untuk beberapa saat, aku benar-benar bahagia. Aku tidak perlu menjadi manajer yang kaku, aku tidak perlu menjadi Hana yang penuh luka. Di depan mereka, aku hanyalah Hana, sahabat mereka yang sedang butuh pelukan.
"Makasih ya, kalian udah datang," ucapku tulus, menatap mereka berdua bergantian.
"Dih, pakai makasih segala. Kayak sama siapa aja!" Diva menjitak pelan kakiku, membuat kami tertawa lagi.
Namun, di tengah tawa itu, mataku sempat melirik ke arah ponsel yang tergeletak di nakas
Sepertinya Hana gadis yang menyimpan banyak luka dan beban batin ya.....semangat Hana 💪💪