NovelToon NovelToon
Enam Serangkai

Enam Serangkai

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan / Action
Popularitas:837
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Di bawah terik matahari dan topi caping warna-warni yang merendahkan harga diri, Dewi Laras tak menyangka hari pertama ospek justru mempertemukannya dengan lima orang paling “ajaib” dalam hidupnya. Bagas si santai penuh akal, Juna yang cemas setengah mati, Gia si logis tanpa takut, Rhea si penyelundup biskuit profesional, dan Eno si dramatis penyelamat semut.
Sebuah hukuman kecil karena ponsel dan kekacauan konyol menjadi awal dari persahabatan yang tak terduga. Dari bangku kuliah hingga perjuangan skripsi, dari tawa karena dompet kosong hingga rahasia hati yang perlahan tumbuh, mereka berenam belajar bahwa takdir sering kali dimulai dari hal paling memalukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Project blackout dan operasi kata-kata amatir

Malam itu, kostan Juna Pratama berubah menjadi pusat komando. Ruangan sempit yang biasanya penuh dengan bungkus mi instan itu kini dipenuhi tiga layar monitor yang menyala terang, menampilkan barisan kode hijau yang bergerak cepat. Di sudut ruangan, Gia Kirana sibuk dengan tumpukan dokumen legal yang ia selundupkan dari firma hukum sepupunya.

"Oke, dengerin semuanya," Gia memulai dengan nada bicara yang kembali ke mode 'Sersan Kepala'. "Pak Gunawan bukan cuma punya uang, dia punya jaringan. Kita nggak bisa asal serang. Kita harus cabut akarnya: aliran dana ilegal yang dia pake buat nyuap atasan bokapnya Bagas."

Dewi Laras duduk di samping Juna, matanya masih merah namun sorotnya kini lebih tajam. "Gue tahu di mana dia nyimpen arsip fisiknya. Ada satu brankas kecil di ruang kerjanya yang nggak pernah dia kasih lihat ke siapa pun. Bahkan nyokap gue nggak tahu kodenya."

"Itu bagian lo dan Bagas," sahut Gia. "Tapi karena Bagas lagi di mode 'serigala penyendiri', biar gue yang urus dia nanti. Sekarang, fokus ke distraksi."

Gia menoleh ke arah Eno Surya dan Rhea Amara. "Eno, Rhea. Kalian adalah unit lapangan. Kita butuh kalian masuk ke acara peresmian yayasan baru Pak Gunawan besok malam. Di sana bakal ada banyak petinggi polisi dan pejabat. Kita butuh kalian naruh bug (alat penyadap) di meja utama."

"Gue jadi apa kali ini? Jerapah lagi?" tanya Eno sambil memperbaiki letak kacamatanya.

"Nggak. Kali ini lo harus jadi sesuatu yang nggak akan dicurigai siapa pun di acara mewah," Gia tersenyum tipis. "Lo dan Rhea jadi pelayan katering tambahan. Gue udah atur supaya vendornya pake jasa temen Rhea yang tempo hari."

Besok malamnya, gedung pertemuan mewah itu tampak berkilauan. Pak Gunawan berdiri di atas panggung dengan senyum kemenangannya, memberikan pidato tentang "kebajikan dan masa depan".

Di balik layar dapur, Eno sedang berjuang memakai seragam pelayan yang ukurannya agak kekecilan di bagian perut. "Rhe, kenapa sih setiap misi penyelamatan dunia, gue harus tersiksa secara fisik? Ini celananya ngetat banget, kalau gue jongkok dikit bisa pecah nih."

"Diem lo, No! Fokus!" bisik Rhea yang tampak anggun meski hanya memakai seragam pelayan. "Inget, target kita meja nomor satu. Tempat Pak Gunawan dan atasan bokapnya Bagas duduk. Lo bawa nampan minumannya, gue yang bakal tempel alatnya di bawah meja pas gue pura-pura benerin taplak."

Eno menarik napas panjang, memasang wajah paling "pelayan profesional" yang dia bisa—walaupun dia lebih kelihatan seperti orang yang lagi nahan sakit perut.

Saat mereka berjalan menuju meja utama, jantung Laras yang memantau lewat earpiece di mobil Juna di parkiran, serasa mau copot. "Eno, Rhea, hati-hati. Di sebelah kanan ada ajudan bokap gue yang paling teliti."

Eno melangkah maju. "Permisi, Pak... Wine merah untuk merayakan kesuksesan?" suaranya dibuat seberat mungkin.

Tepat saat Pak Gunawan mengambil gelas, Rhea sedikit menyenggol kaki meja. "Aduh, maaf Pak, taplaknya sedikit miring," katanya dengan suara lembut. Dalam hitungan detik, tangannya bergerak secepat kilat menempelkan alat penyadap kecil di kolong meja kayu jati itu.

"Hati-hati kalau jalan," tegur Pak Gunawan dingin tanpa menoleh.

"Baik, Pak. Sekali lagi maaf," Rhea membungkuk dan mereka segera menjauh.

"Misi berhasil, Laras! Suara mereka jernih banget di sini!" bisik Juna kegirangan sambil memakai headphone di dalam mobil.

Namun, di tengah keberhasilan itu, Laras melihat sebuah sosok familiar masuk lewat pintu samping gedung. Itu Bagas. Dia tidak memakai seragam, hanya jaket hitam polos dengan topi yang ditarik rendah. Wajahnya gelap, dan di tangannya, dia memegang sesuatu yang dibungkus kain.

"Gas? Bagas ngapain di sana?" Laras panik. "Juna, Bagas ada di dalam! Dia nggak tahu soal rencana kita!"

Laras melihat Bagas berjalan lurus menuju panggung, matanya hanya tertuju pada Pak Gunawan. Tatapan Bagas bukan lagi tatapan mahasiswa, tapi tatapan seseorang yang sudah tidak peduli lagi dengan masa depan asalkan dendamnya lunas.

"Gawat! Bagas mau main fisik!" teriak Eno lewat mik tersembunyinya. "Gue harus hentiin dia!"

Eno berlari melintasi ruangan mewah itu dengan nampan yang masih bergoyang-goyang, mengabaikan tatapan heran para tamu undangan. Sementara itu, Bagas sudah berdiri hanya lima meter dari Pak Gunawan yang baru saja turun panggung.

"Pak Gunawan!" suara Bagas menggelegar, menghentikan musik orkestra yang sedang bermain.

Pak Gunawan menoleh, alisnya terangkat. "Oh, pemuda emosional itu lagi. Kamu mau apa? Mau minta sumbangan buat pengobatan ibumu?"

Bagas membuka bungkusan kain di tangannya. Bukan pistol, bukan pisau. Tapi sebuah dokumen usang berlogo kepolisian milik ayahnya yang selama ini disembunyikan.

"Gue bukan mau uang lo," kata Bagas, suaranya bergetar karena emosi yang tertahan. "Gue mau lo tahu, kalau nggak semua orang bisa lo beli. Termasuk kehormatan bokap gue."

Saat itu juga, Juna menekan tombol 'Enter' di laptopnya. Semua layar besar di dalam gedung yang tadinya menampilkan foto-foto kegiatan yayasan, mendadak berubah. Menampilkan rekaman percakapan Pak Gunawan yang baru saja ditangkap oleh penyadap Rhea—suara dia yang sedang membicarakan 'jatah' untuk para petinggi agar kasus kecelakaan itu ditutup.

Seluruh ruangan mendadak senyap. Pak Gunawan mematung, wajahnya yang tadi merah karena sombong kini pucat pasi seputih kertas.

"Itu... itu suara siapa?!" teriak salah satu pejabat yang panik.

Laras keluar dari balik pintu samping, berdiri di samping Bagas. "Itu suara kebenaran yang Bapak coba kubur."

Di tengah kekacauan itu, Eno berteriak dari tengah ruangan sambil mengangkat nampannya tinggi-tinggi, "SKAKMAT, PAK TUA!"

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!