Randy, mahasiswa Teknik Mesin semester dua, punya segalanya: tinggi menjulang, senyum manis, motor Kawasaki Ninja yang gagah, dan kamera DSLR yang setia menemaninya berburu foto di sudut-sudut kota. Tapi di balik pesona itu, Randy tetap jomblo—lebih suka memotret penjual cilok atau suasana kumuh daripada nongkrong romantis. Cewek-cewek kampus gemas, tapi Randy selalu jaim, seolah menutup pintu hatinya.
Suatu malam, hidupnya berubah. Dalam mimpi yang terasa terlalu nyata, ia bertemu Ki Suromenggolo—kakek buyut tabib sakti yang mewariskan ilmu penyembuhan legendaris. Randy bangun dengan dada hangat dan perasaan aneh, seakan membawa kekuatan baru.
Di tengah hiruk-pikuk kota, persahabatan, godaan cinta, dan bahaya yang mengintai, Randy akan belajar bahwa menjadi “tabib tampan” bukan sekadar gelar. Ini adalah perjalanan tentang keberanian, tanggung jawab, dan hati yang selalu diuji oleh banyak perempuan yang diam-diam jatuh hati padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jeffc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Ambang Putus Asa
“Ada apa ini, bang?” tanya Randy sembari menghentikan motornya.
“Apa perkataanku barusan belum jelas?” geram salah seorang preman yang bercodet itu seraya mencengkram kerah jaket Randy. “Aku ulangi sekali lagi, dengarkan baik-baik: ‘kalau tak mau tulangmu patah, jauhi Helen!’”
“Lah siapa yang mendekati Helen?” tanya Randy kebingungan. “Tahu rumahnya aja enggak.”
“Jangan banyak mulut kamu!” kata si codet dan mendorong Randy sampai jatuh dari motornya. Untung dia masih sempat menahan motornya dengan tangannya, jadi motornya nggak jatuh.
“Jangan macam-macam,” kata Randy yang segera berdiri dan menstandar motornya lalu ambil posisi siap-siap berkelahi.
“Berani kamu?” bentak si codet. “Kami berenam, kamu sendirian, mau kupatahkan kakimu sekarang?”
“Hey! Kami bersembilan!” tiba-tiba Mat Pelor berteriak dari kejauhan dan berlari mendekat ke arah Randy. “Jangan kamu buat onar di wilayah kami!”
Keenam preman itu langsung menyerang, tapi kawan-kawan Mat Pelor sudah siap. Pentungan yang beradu dengan ruyung yang dibawa kawanan si codet di balik jaket mereka itu suaranya terdengar keras, dan beberapa warga yang berada agak jauh mulai berdatangan, namun tak ada yang berani mendekat. Randy menahan sabetan ruyung dengan helmnya, lalu mendorong tubuh salah seorang preman itu hingga mundur dua langkah.
Teriakan dan benturan keras memenuhi suasana sore itu, namun Mat Pelor dan teman-temannya bergerak cepat, segera memukul kawanan preman pendatang itu dengan kekuatan penuh.
“Ayo, jangan biarkan mereka bernapas!” teriak Mat Pelor sambil mengayunkan pentungannya untuk menahan salah satu preman. “Ini wilayah kita, jangan biarkan mereka menginjak-injak wilayah kita!”
Anak buah Mat Pelor tampak terbakar semangatnya, dan hanya dalam hitungan menit, para preman asing itu mulai terdesak, napas mereka tersengal, dan akhirnya mundur.
“Lari!” kata si codet memberi komando kepada teman-temannya. “Hey kunyuk! Kita kalah hari ini, tapi ancamanku untuk mematahkan kakimu masih berlaku!”
Si codet kemudian menunjuk ke muka Randy dengan tatapan tajam mengintimidasi sebelum kawanan tak dikenal itu lari.
“Terima kasih, Mat,” kata Randy pelan sambil mengibas-ngibaskan jaketnya yang penuh debu. “Omong-omong kok tahu-tahu muncul sama teman-teman ke sini?”
“Biasalah, bang, rumah saya kan jadi posko,” kata Mat Pelor sambil menepuk-nepuk bahu Randy. “Pas mereka datang sehabis pulang, dari kejauhan kami lihat bang Randy sedang bersitegang dengan mereka. Ada yang luka?”
Randy menggeleng. “Tidak, Mat. Terima kasih.”
“Omong-omong siapa mereka?” tanya Mat Pelor. “Yang pasti bukan dari sini, kalau dari sini aku sudah kenal tampang-tampangnya semua.”
“Aku juga nggak tahu dan nggak kenal mereka, Mat,” jawab Randy lirih.
“Ya sudah, hati-hati saja bang,” kata Mat Pelor. “Kalau mereka macam-macam lagi, mereka akan berhadapan dengan Mat Pelor.”
“Iya, Mat. Sekali lagi terima kasih,” ujar Randy yang segera menstarter motornya.
Tak jauh dari rumah Mat Pelor, hanya terpaut tiga rumah, Pak Sugeng tengah tergolek lemah dengan badan bengkak di kamar tidurnya dan wajahnya terlihat pucat. Seminggu sekali dia harus menjalani cuci darah karena penyakit ginjalnya sudah sangat parah.
Hari ini sudah ada sebulan mereka tidak cuci darah, dan Pak Sugeng sadar tidak melakukan cuci darah sampai sebulan resikonya akan sangat serius: racun dan cairan akan menumpuk dalam tubuh, bisa menyebabkan sesak napas, pembengkakan, koma, bahkan kematian.
Namun dia tak punya pilihan lain, karena uang sudah benar-benar habis dan tak ada lagi barang yang bisa dijual.
“Bu, ikhlaskan bila aku meninggal,” kata Pak Sugeng lemah. “Aku juga sangat tersiksa jika aku hidup dengan keadaan seperti ini, harus cuci ginjal seminggu sekali.”
“Jangan bicara seperti itu, Pak,” jawab Bu Sugeng sambil menyeka matanya yang basah oleh air mata. “Gusti mboten sare, pasti ada jalan.”
Pak Sugeng hanya diam dan air mata meleleh membasahi pipinya, lalu memejamkan mata.
Bu Sugeng dengan berlinang air mata keluar dari kamar dan kemudian duduk termangu di teras. Ia merasa yakin pasti akan ada jalan, tapi jalan apa? Otaknya buntu, tapi di hadapan suaminya dia tak boleh menunjukkan itu, dia harus tampak optimis.
Mbak Ratih, istri Mat Pelor, mampir ke rumahnya untuk membawakan kolak yang barusan dia buat. Memang, di kampung yang sederhana dan kumuh itu, untungnya persaudaraan tetap terjalin di antara warganya di tengah kesulitan hidup.
“Ini ada sedikit kolak, Bu,” kata Mbak Ratih. “Tapi kenapa menangis, Bu? Ada yang bisa dibantu?”
Bu Sugeng kemudian menceritakan dengan detail kepada Mbak Ratih tentang kondisi suaminya termasuk kesulitan berobat karena masalah biaya yang mereka hadapi. Mbak Ratih tiba-tiba teringat Randy yang memiliki kekuatan gaib yang barusan dia saksikan sendiri saat Randy menyembuhkan patah tulang Harris, anaknya. Namun dia tak mau memberikan harapan semu kepada Bu Sugeng sebelum semuanya pasti.
“Sabar, Bu, pasti ada jalan,” kata Mbak Ratih sambil memeluk Bu Sugeng dan berbincang sebentar sebelum Mbak Ratih berpamitan pulang.
Sesampainya di rumah, suaminya sedang bermain catur di teras rumah dan langsung dipanggilnya. Mbak Ratih menyampaikan kesulitan yang dihadapi Pak dan Bu Sugeng.
“Saya akan coba WhatsApp ke Bang Randy, Bu,” ujar Mat Pelor kepada istrinya, dan segera menulis pesan WhatsApp kepada Randy:
“Selamat malam, Bang Randy. Tetangga aku, Pak Sugeng sudah tidak cuci darah sebulanan karena kesulitan biaya. Apa bisa dibantu, Bang?”
Tak lama datang jawaban dari Randy: “Siap, Mat. Besok aku pulang kuliah sekitar jam empat, aku langsung ke rumah Mat Pelor.”
Besok sorenya sesuai janji, sepulang kuliah Randy langsung menuju ke rumah Mat Pelor. Jalanan sore itu untungnya agak lancar, jadi nggak terlalu lama Randy sudah tiba di rumah Mat Pelor.
Setelah berbasa-basi sebentar, mereka ditemani Mbak Ratih, istri Mat Pelor, langsung menuju rumah Pak Sugeng yang hanya berjarak tiga rumah dari rumah Mat Pelor.
“Assalamualaikum, Bu,” ujar Mbak Ratih sesampainya di depan pintu rumah Pak dan Bu Sugeng. Bu Sugeng tampak terkejut dengan kehadiran Mbak Ratih, Mat Pelor, dan seseorang yang belum dikenalnya.
“Waalaikumsalam,” sahut Bu Sugeng. “Oh tetangga jauh, mari, mari masuk, maaf rumah agak berantakan. Sejak Pak Sugeng sakit, waktu saya banyak tersita ngurusin dia.”
“Nggak apa-apa, Bu, saya maklum,” ujar Mat Pelor. “Omong-omong ini Bang Randy yang
akan berusaha membantu Pak Sugeng.”
“Saya Randy, Bu,” ujar Randy memperkenalkan diri. “Semua tergantung Yang Di Atas, Bu, saya tidak bisa menjanjikan apa-apa. Saya hanya berusaha semampu saya.”
Bu Sugeng hanya mampu menganggukkan kepalanya dan air mata mulai berlinang, membasahi kedua matanya.
“Sebelumnya, saya tolong diceritakan kondisi Bapak, Bu,” ujar Randy.
“Sudah setahun ini Bapak harus cuci darah setiap minggu. Namun sudah sebulan ini Bapak tidak menjalani cuci darah karena kehabisan dana,” ujar Bu Sugeng sambil meneteskan air matanya. “Oleh karenanya kondisi Bapak makin melemah.”
“Saya ikut prihatin, Bu,” jawab Randy. “Semoga saya bisa membantu.”
Lalu mereka semua masuk ke dalam kamar Pak Sugeng yang tampak terbaring lemah, pucat, dan tubuh bengkak. Sudah tampak kritis sekali kayaknya kondisinya. Pak Sugeng sadar, namun dia sudah tidak mampu bicara sepatah kata pun. Kondisinya sudah jauh menurun jika dibandingkan kemarin yang masih mampu berkomunikasi dengan Bu Sugeng.
Mat Pelor yang biasa berbicara keras dan lantang hanya mampu terdiam menyaksikan kondisi Pak Sugeng. Demikian juga Mbak Ratih, dia tak berani memandang Pak Sugeng yang tampak begitu menderita dan tergolek lemah di pembaringannya.
Randy duduk di tepi ranjang Pak Sugeng dan memejamkan mata sambil berkonsentrasi. Kedua telapak tangannya didekatkan di atas pinggang Pak Sugeng. Dan hangat tiba-tiba terasa bersamaan dengan ribuan setrum. Telapak tangan Randy kemudian bersemu merah, dan sensasi panas dan setrum itu menjalar ke pinggang Pak Sugeng.
Pak Sugeng mengerang perlahan, tapi matanya terpejam dan perlahan-lahan wajahnya yang tadinya pucat mulai nampak segar.
“Kita tunggu di luar saja sementara menunggu proses kesembuhan Pak Sugeng,” ajak Randy, dan mereka semua meninggalkan Pak Sugeng yang masih terpejam matanya seorang diri.
Mereka menunggu beberapa lama di ruang tamu seraya berbasa-basi. Tiba-tiba terdengar erangan Pak Sugeng. Buru-buru Bu Sugeng masuk kamar, diikuti Randy, Mat Pelor, dan istrinya.
“Pak,” panggil Bu Sugeng perlahan sambil mengusap pipi suaminya itu. Pak Sugeng hanya mengerang perlahan dan matanya masih terpejam. Tampaknya kondisinya masih terlalu lemah.
“Bagaimana kondisi Bapak, Bang Randy?” tanya Bu Sugeng sambil menangis menatap Randy.
“Kita sama-sama tunggu mujizat terjadi, Bu,” jawab Randy pelan. “Tidak mungkin kesembuhan terjadi secara instan.”
Bu Sugeng hanya bisa tertunduk dalam tangis.
Tiba-tiba terdengar Pak Sugeng mengerang lebih keras, tangannya bergerak pelan seolah mencari-cari sesuatu.