NovelToon NovelToon
Teman Hidup, Bukan Pasangan Hidup?

Teman Hidup, Bukan Pasangan Hidup?

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Penyesalan Suami
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: AkeilanaTZ

Hari pernikahan adalah momen paling membahagiakan bagi seorang wanita.
Setidaknya, itulah yang selalu kupercaya.
Aku menikah dengan pria yang kupikir telah kupahami.
Ia baik, bertanggung jawab, dan tidak pernah menyakitiku.
Namun sejak malam pertama, ada jarak yang tak mampu kujelaskan.
Kami berbagi rumah, berbagi meja makan, bahkan berbagi ranjang—
tetapi tidak pernah benar-benar berbagi kedekatan.
Ia tidak pernah bersikap kasar.
Ia hanya. terlalu hati-hati.
Terlalu jauh.
Dalam diam, aku mulai bertanya:
apakah aku istrinya,
atau hanya teman hidup yang kebetulan ia nikahi?
Dan ketika pernikahan ini hampir kehilangan maknanya,
ia harus memutuskan—
tetap berjalan setengah hati,
atau belajar mencinta dengan utuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AkeilanaTZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Akhirnya

Kedatangan Raka beberapa hari lalu masih membekas di pikiranku.

Bukan karena apa yang ia katakan dengan nada dramatis, tetapi karena hal-hal kecil yang akhirnya mulai masuk akal.

Tentang Ashar.

Tentang masa kecilnya.

Tentang mengapa ia sering terlihat seperti seseorang yang sedang berjalan di ruangan gelap—hati-hati, takut menabrak sesuatu yang tidak ia pahami.

Aku berdiri di dapur pagi itu, menuangkan teh hangat ke dalam dua cangkir.

Rumah ini terasa lebih hidup sejak aku pindah sepenuhnya setelah pemakaman ibu. Walaupun kadang rasa sepi masih datang tanpa diundang.

Sebagai anak tunggal dari seorang ibu yang membesarkanku sendirian, kehilangan beliau seperti kehilangan separuh dari dunia.

Namun Ashar…

Ia selalu ada.

Diam-diam.

Tenang.

Seperti pohon besar yang tidak banyak bicara tetapi memberi teduh.

“Harumnya sampai ke ruang kerja.”

Aku menoleh.

Ashar berdiri di ambang pintu dapur dengan kemeja rumah dan rambut yang sedikit berantakan.

“Aku kira kamu sudah berangkat,” kataku.

“Masih ada waktu.”

Aku menyerahkan cangkir teh kepadanya.

Jari kami bersentuhan sebentar.

Sentuhan yang sederhana itu saja sudah cukup membuat dadaku hangat.

Hal kecil seperti ini sering terjadi di antara kami.

Sentuhan yang hampir berarti sesuatu…

tetapi selalu berhenti sebelum menjadi sesuatu.

Ashar menyeruput tehnya perlahan.

“Kamu tidur nyenyak?”

Aku mengangguk.

“Mungkin karena sudah tidak terlalu capek.”

Ia menatapku sejenak.

Tatapan yang lembut, tetapi selalu seperti menyimpan sesuatu yang tidak pernah ia ucapkan.

Aku tahu sejak Raka bercerita tentang masa kecilnya, aku mulai melihat Ashar dengan cara yang berbeda.

Seorang pria yang tumbuh tanpa figur ayah.

Seorang pria yang tidak pernah belajar bagaimana menjadi seorang suami.

Dan entah bagaimana…

aku adalah orang pertama yang harus ia pelajari.

Kadang aku merasa seperti guru.

Kadang seperti teman.

Kadang seperti seseorang yang sama bingungnya.

“Ashar,” panggilku pelan.

“Iya?”

“Apa kamu pulang cepat hari ini?”

Ia terlihat sedikit berpikir.

“Harusnya bisa.”

Aku tersenyum kecil.

“Bagus.”

“Kenapa?”

Aku mengangkat bahu pura-pura santai.

“Tidak apa-apa.”

Padahal dalam kepalaku, ada satu rencana kecil yang mulai terbentuk.

Malam itu rumah terasa lebih tenang dari biasanya.

Ashar benar-benar pulang lebih cepat.

Aku sudah menyiapkan makan malam sederhana.

Sup ayam, tumis sayur, dan ikan bakar.

Ashar menatap meja makan dengan ekspresi yang selalu sama setiap kali aku memasak.

Seperti seseorang yang masih tidak percaya ada orang yang menunggunya pulang.

“Kamu tidak perlu repot seperti ini,” katanya.

“Aku suka memasak.”

“Kamu masih dalam masa pemulihan.”

Aku tersenyum.

“Aku tidak selemah itu.”

Kami makan bersama.

Percakapan kami ringan.

Tentang pekerjaan Ashar.

Tentang tetangga baru di ujung jalan.

Tentang hal-hal kecil yang sebenarnya tidak penting tetapi terasa hangat.

Namun di sela percakapan itu, ada sesuatu yang terus berputar di kepalaku.

Malam ini.

Aku ingin mencoba lagi.

Bukan karena tekanan.

Bukan karena kewajiban.

Tetapi karena aku ingin kami berhenti takut satu sama lain.

Setelah makan malam selesai, kami membereskan meja bersama.

Hal sederhana yang terasa seperti kehidupan rumah tangga sungguhan.

Ketika semuanya selesai, Ashar menuju kamar lebih dulu.

Aku menyusul beberapa menit kemudian.

Lampu kamar redup.

Ashar duduk di tepi ranjang sambil membaca sesuatu di ponselnya.

Ketika aku masuk, ia langsung meletakkan ponselnya.

“Kamu sudah selesai?”

Aku mengangguk.

Aku duduk di sampingnya.

Jarak kami hanya beberapa sentimeter.

Jantungku mulai berdetak lebih cepat.

“Ashar,” kataku pelan.

“Hm?”

“Kita sudah menikah hampir dua bulan.”

Ia tidak menjawab.

Tetapi aku tahu ia mengerti arah pembicaraan ini.

Aku menarik napas kecil.

“Apa kamu masih takut?”

Ashar menatap tangannya sendiri.

“Aku tidak tahu.”

Jawaban yang jujur.

Dan entah kenapa itu membuatku semakin yakin.

Aku memegang tangannya.

“Aku tidak akan terluka hanya karena kamu mencoba.”

Ia menatapku lama.

Seperti sedang membaca sesuatu di wajahku.

“Kamu yakin?”

Aku mengangguk.

Sangat pelan.

Beberapa detik berlalu dalam diam.

Lalu Ashar menghela napas.

“Oke.”

Hanya satu kata.

Tetapi rasanya seperti pintu besar yang akhirnya terbuka sedikit.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!