Brakkk..!
"Apa yang kakak lakukan?" teriak Laura terkejut,pasalnya kakak iparnya,Lexi menerobos kamarnya lalu mengunci pintu dari dalam.
"Apa yang kulakukan? tentu saja menemui wanita yang berhasil membuatku berhasrat!" kekehnya tidak tahu malu.
"keluar kak!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Las Manalu Rumaijuk Lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11
Setelah Alex pergi ke home office-nya untuk melakukan panggilan konferensi singkat sebelum ke dokter, Laura bergerak. Ia tahu tempat persembunyian Lexi: ruang baca pribadi di lantai atas, yang biasanya dikunci.
Saat Laura mendekat, ia mendengar suara Lexi, berbicara santai di telepon. Laura tanpa ragu memutar gagang pintu. Ajaibnya, pintu itu tidak terkunci. Sebuah godaan yang sengaja dilemparkan.
Lexi duduk di kursi kulit mahalnya, membaca dokumen sambil berbicara di headset. Ia melirik Laura saat wanita itu masuk, matanya menunjukkan ketenangan yang mengganggu.
Lexi meletakkan headset dan menekan tombol mute. “Ada apa mencariku?"
Laura tidak menjawab dengan kata-kata. Ia berjalan cepat, meluapkan seluruh emosi yang terkumpul: ketakutan, rasa jijik, kemarahan karena dimanipulasi, dan kebencian karena menjadi budak.
PLAK!
Laura memukul dada Lexi, sekali, dua kali, memukulinya dengan kepalan tangan sekuat tenaga.
“Kamu bajingan! Kamu sudah merencanakan ini!” teriak Laura, suaranya parau. Air matanya mengalir deras, murni karena kemarahan. “Kamu membuatku kotor! Kamu membuatku menghianati suamiku, dan sekarang—ini berhasil!”
Lexi membiarkan pukulan itu. Dia menangkap pergelangan tangan Laura, tetapi tidak dengan kekerasan, melainkan dengan cengkeraman baja yang tak bisa dilepaskan.
“Lepaskan aku! Aku membencimu, Lexi! Aku akan meng9ugurkannya! Kamu dengar? Aku akan mengakhiri 'proyek' menjijikkanmu ini! Aku tidak mau melahirkan benihmu!” raung Laura.
Cengkeraman Lexi mengencang. Wajahnya yang tadinya tenang kini berubah kelam, matanya memancarkan amarah yang jauh lebih mengerikan dari amukan Laura.
“Ulangi kalimat itu,” desis Lexi, suaranya rendah dan penuh ancaman, hampir tidak terdengar, tetapi kekuatan di dalamnya membuat Laura merinding.
Laura terengah-engah, tetapi ia mengulangi, “Aku akan menggugurkannya!”
Lexi tiba-tiba berdiri. Ia mendorong Laura ke belakang, tetapi tidak sampai terjatuh, hanya membantingnya dengan kasar ke dinding buku.
Wajah Lexi hanya berjarak beberapa inci dari wajah Laura, panas dan berbahaya.
“Dengar baik-baik, Nyonya Alex,” Lexi berbisik, setiap kata adalah ujung pisau. Ia mencengkeram dagu Laura, memaksanya menatap matanya.
“Kamu pikir ini lelucon? Kamu pikir janin di perutmu itu hanya gumpalan darah yang bisa kamu buang semaumu?” Lexi tertawa, tawa yang kejam dan tak menyenangkan. “Kamu harus ingat. Jika kamu mengakhiri janin itu, kamu akan kehilangan semuanya.”
"Aku tidak perduli brengsek!" teriak Laura.
Lexi melepaskan dagu Laura dan beralih ke kalung kunci perak yang berkilau di lehernya. Ia mencengkeram kunci itu.
“Kamu akan kehilangan statusmu di rumah ini, Laura. Aku akan membongkar semua perselingkuhan kita di depan Alex. Dia akan menceraikanmu, meninggalkanmu tanpa uang sepeser pun, dan kamu akan menjadi aib yang terbuang. Aku akan pastikan kamu tidak pernah bisa bekerja di mana pun.”
Lexi mendekat lagi, tatapannya membakar.
“Tapi yang terpenting,” Lexi menarik napas, “jika kamu menggugurkan anakku, aku akan menghancurkan Alex.”
Laura membeku. “Apa?”
“Jangan bodoh, Laura. Kamu pikir Alex bisa jadi CEO hanya karena kerja keras? Aku yang memberikan satu perusahaan ku untuk dikelolanya , Jika kamu menggugurkan pewarisku, aku akan memastikan Alex kehilangan segalanya."
"Alex adalah adikmu Lexi! kamu tidak akan melakukan itu!"
"Kamu pikir aku perduli meskipun dia adalah adikku? asal kamu tahu Laura, aku tidak perduli soal status,,"
Laura menatapnya, napasnya tercekat. Ancaman itu nyata. Lexi tidak hanya mengancam hidupnya, tetapi juga kehidupan yang paling ia pedulikan (walaupun pernikahannya palsu), yaitu kehancuran suaminya.
“Sekarang, mari kita bicara sebagai orang dewasa,” ujar Lexi, nadanya kembali tenang, seolah badai tadi hanyalah peringatan kecil. Ia melonggarkan cengkeramannya pada kunci, tetapi tidak melepaskannya.
“Pergi ke dokter. Lakukan sandiwara yang indah di depan Alex. Konfirmasi kehamilan itu. Kamu tidak akan mengakui semuanya pada Alex. Konfirmasi kehamilan itu. Kamu tidak akan menggugurkan anakku. Kamu akan melahirkannya, dan kamu akan aman. Kamu akan menjadi ratu di ‘kandang emas’ ini. Aku akan memberimu semua yang kamu inginkan. Uang, kebebasan, dan yang paling penting... aku tidak akan pernah menyentuhmu lagi, setelah anakku lahir.”
"Persetan dengan uangmu Lexi!"
"Nyatanya semua orang membutuhkannya Laura,,bahkan kamu sendiri sangat membutuhkan itu,"
Lexi melepaskan kunci itu. “Pikirkanlah, Laura. Kehamilan ini adalah satu-satunya tamengmu, dan sekarang, itu adalah satu-satunya kunci kebebasanmu.”
Laura terdiam, lututnya lemas. Ia menyentuh perutnya, di mana janin itu—benih kebencian dan penghancuran—kini menjadi jangkar keselamatannya.
Lexi telah membalikkan keadaan. Ancaman aborsi yang ia pikir adalah senjata terkuatnya, kini menjadi bom yang akan menghancurkan suaminya sendiri.
“Aku harus pergi sekarang,” kata Lexi, menekan tombol unmute di headset-nya. “Alex sudah menunggu. Ingat tugasmu.”
"Aku tidak bisa! Alex sudah lama tidak menyentuh ku,dia akan curiga kalau aku tiba tiba hamil."
LExi berhenti lalu menatap Laura intens.
"Jangan khawatir,aku sudah mengatur semuanya,pergi lah ke dokter langganan keluarga kita,usia kehamilan mu akan di manipulasi dokter, kapan Alex terakhir menyentuh mu hmm?"
"Sebulan setengah yang lalu,"
"Bagus,usia kahamilan mu akan ditambah dari sebulan menjadi dua bulan,dengan begitu Alex tidak akan curiga,"
Laura tergugu.
"Kamu benar benar sudah merencanakan semuanya brengsek!" lagi lagi Laura mengumpat.
"Maki aku sepuasmu sayang,,asalkan kamu merawat bayi kita,sudah lebih dari cukup untukku,," kekeh Lexi sembari berlalu.
Laura berjalan kembali ke kamarnya, jatuh terduduk di tepi ranjang. Ia melihat pantulannya di cermin. Seorang wanita hamil, matanya penuh air mata, dan kunci perak itu berkilauan, bukan sebagai lambang kepemilikan, tetapi sebagai simbol dari janji mengerikan: melahirkan bayi ini adalah harga yang harus dibayar untuk menyelamatkan Alex dari kehancuran total.
"Jika bukan karena memikirkan Alex,aku tidak akan sudi mengandung darah daging mu!" desisnya marah.
Bersambung..