"Jangan dekat-dekat cowok lain, Cebol. Kau itu tanggung jawabku!"
Bagi Anvaya Dinakara, Narev Elvaro adalah tetangga raksasa setinggi 192 cm yang paling menyebalkan. Narev selalu mengawasi Vaya, melarangnya berteman dengan pria lain dengan alasan "menjaga titipan orang tua".
Namun, satu insiden di malam kelulusan melempar mereka sepuluh tahun ke masa depan. Vaya terbangun bukan di kamarnya, melainkan di pelukan Narev dewasa yang sangat memujanya. Lebih gila lagi, ada seorang bayi cantik bernama Miciella Aracelli yang memanggil mereka "Mama" dan "Papa".
Terjebak dalam pernikahan masa depan yang manis, mampukah mereka kembali ke masa lalu saat status mereka masih "musuh bebuyutan"? Atau justru Narev akan melakukan segala cara agar masa depan itu menjadi nyata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Menyerah pada Cinta
[POV: Narev]
Malam ini, apartemen yang luas ini terasa seperti makam yang sunyi. Aku duduk di sofa ruang tengah, menatap kegelapan tanpa menyalakan lampu satu pun. Suara tangis Mici dan teriakan ketakutan Vaya tadi sore masih berdengung di telingaku, lebih menyakitkan daripada luka fisik apa pun yang pernah kuterima.
Aku menatap tanganku sendiri. Tangan yang selama sepuluh tahun ini kugunakan untuk menggenggam Vaya begitu erat hingga dia membiru. Tangan yang kugunakan untuk memanipulasi dunia agar dia tetap berada di sisiku.
Aku adalah monster itu, bisikku dalam hati. Aku yang membuatnya ketakutan. Aku yang merenggut senyumnya.
Kesadaran itu menghantamku seperti godam. Aku lelah. Aku sangat lelah berperang melawan bayang-bayang Rian, melawan kebencian Vaya, dan melawan egoku sendiri. Jika mencintainya berarti membuatnya hidup dalam penjara ketakutan, maka cintaku adalah racun.
Aku meraih ponsel, menekan nomor asisten pribadiku.
"Hendra," suaraku terdengar parau, seperti orang yang sudah tidak tidur berhari-hari.
"Ya, Tuan? Ada perintah?"
"Siapkan semua dokumen pengalihan aset. Besok pagi, aku ingin semua saham di Elvaro Group, apartemen ini, dan seluruh properti atas namaku dialihkan sepenuhnya atas nama Anvaya. Semuanya, Hendra. Jangan sisakan satu sen pun atas namaku."
Hening sejenak di seberang sana. "Tuan... Anda yakin? Itu berarti Anda kehilangan segalanya."
"Aku sudah kehilangan segalanya sejak dia menatapku dengan tatapan ngeri tadi sore, Hendra. Lakukan saja. Dan satu lagi... siapkan surat cerai yang baru. Kali ini, jangan ada tuntutan apa pun. Berikan hak asuh penuh Mici padanya, tapi biarkan aku tetap bisa membiayai sekolahnya dari jauh."
"Tuan... Anda benar-benar menyerah?"
"Aku tidak menyerah, Hendra. Aku hanya sedang belajar mencintai manusia, bukan memiliki barang. Segera kirim drafnya ke emailku."
...****************...
[POV: Vaya]
Aku keluar dari kamar Mici saat jam menunjukkan pukul dua pagi. Mici sudah tertidur pulas, meski napasnya masih sesekali tersedu. Aku terkejut melihat lampu ruang tengah masih padam, namun ada siluet seseorang yang duduk di meja makan dengan satu lampu belajar kecil yang menyala.
Itu Narev. Di depannya ada tumpukan map dan selembar kertas yang sangat kukenal. Surat cerai.
Jantungku berdegup kencang. Apakah dia akan merobeknya lagi? Apakah dia akan mengamuk lagi?
"Narev?" panggilku lirih.
Narev menoleh. Wajahnya tampak sangat kuyu. Tidak ada lagi kilat posesif atau amarah di matanya. Yang tersisa hanyalah kekosongan yang dalam.
"Kemarilah, Vaya," ucapnya lembut. "Duduklah."
Aku mendekat dengan ragu, duduk di hadapannya. Narev menggeser kertas-kertas itu ke arahku.
"Ini surat pengalihan aset. Pabrik ayahmu, butik ini, apartemen ini... semuanya sudah atas namamu. Kamu tidak akan pernah kekurangan apa pun lagi," Narev berbicara dengan nada datar, seolah sedang membacakan laporan cuaca.
Lalu dia menyodorkan selembar kertas terakhir. "Dan ini... surat cerai yang kamu inginkan. Kali ini, aku sudah menandatanganinya. Aku tidak akan merobeknya lagi."
Aku terpaku. Tanganku bergetar saat menyentuh kertas itu. "Narev... kenapa tiba-tiba?"
Narev menarik napas panjang, menatapku dengan tatapan yang membuat dadaku sesak. "Tadi sore, saat aku melihatmu meronta... aku menyadari sesuatu. Aku ingin kamu bahagia, Vaya. Dan sepertinya, kebahagiaanmu adalah saat tidak ada aku di sekitarmu."
"Narev—"
"Jangan memotongku dulu," dia tersenyum getir. "Aku lelah menjadi monster. Aku lelah melihat Mici ketakutan setiap kali aku meninggikan suara. Dia pantas tumbuh di lingkungan yang tenang, tanpa pertengkaran orang tuanya. Aku akan pergi malam ini."
"Malam ini? Ke mana?"
"Rumah lama orang tuaku di pinggiran kota. Rumah itu sepi, cocok untukku," Narev berdiri, dia mengambil tas kecil yang ternyata sudah dia siapkan di dekat pintu. "Hendra akan mengurus sisanya. Kamu bisa tetap tinggal di sini bersama Mici. Aku akan mengirimkan uang bulanan untuknya, tapi aku tidak akan muncul di depanmu jika kamu tidak mengizinkannya."
Narev berjalan mendekat. Aku refleks menegang, namun dia hanya berhenti tepat di depanku. Dia tidak memelukku. Dia hanya mengulurkan tangan, ragu sejenak, lalu mengelus puncak kepalaku dengan sangat, sangat pelan.
"Maafkan aku untuk sepuluh tahun yang kucuri darimu, Cebol," bisiknya parau. "Sekarang... kamu bebas."
Tiba-tiba, suara hati Mici yang sedang tidur di kamar merambat masuk ke jiwaku. Kali ini suaranya sangat lirih, seperti tangisan di tengah padang pasir.
“Hati Papa... warnanya putih bersih, tapi hancur berkeping-keping. Papa pergi karena sayang... Papa nggak mau jadi monster lagi. Mama... kenapa Mici merasa sedih melihat Papa pergi?”
Air mataku jatuh tanpa izin. Saat Narev berbalik dan melangkah menuju pintu keluar, apartemen ini terasa sangat luas dan hampa. Suara pintu yang tertutup di belakangnya terdengar seperti dentuman akhir dari sebuah era.
Narev benar-benar pergi. Dia meninggalkan hartanya, kekuasaannya, dan obsesinya. Dia pergi dengan tangan hampa, meninggalkan aku yang kini memegang "kebebasan" yang selama ini kuminta, namun entah kenapa... hatiku justru terasa lebih sakit daripada saat dia mengurungku.
...****************...
G konsisten sma omongannya si vaya
ko pendek kali babnya panjangin dikit dong kaaaa