Zenna Amalia bukanlah perempuan suci. Ia memiliki masa lalu yang kelam, pernah menjadi simpanan pewaris kaya bernama Rendy Wangsa demi membiayai pengobatan ibunya yang sakit kanker.
"Di luar sana, mana ada laki-laki yang sudi bersamamu, apalagi kalau mereka tahu, kamu bukan lagi perempuan yang punya kesucian dan kehormatan?" kata Rendy keji, sebelum mencampakkan Zenna.
Setelah kehilangan segalanya, Zenna berusaha kembali ke jalan yang benar, rela menebus dosa dengan menikahi seorang lelaki arogan bernama Bram Atmaja.
Bram tahu semua masa lalu Zenna, bersedia menikahinya, demi memenuhi wasiat mendiang ayah tirinya, yang juga merupakan ayah kandung Zenna. Meski dari awal, ia juga sudah memperingatkan Zenna bahwa dirinya adalah pria kasar dan arogan, dan barangkali tak akan pernah mencintai Zenna seumur hidupnya.
Pernikahan yang berlangsung dengan itikad penebusan dosa, tanpa cinta pada awalnya, dan dikejar bayang-bayang gelap masa silam, akankah berujung bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Rumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji Pernikahan Tuan Arogan - Bab 30
"Dokter Kenan?"
Kalila tanpa ragu memanggil sesosok lelaki berparas teduh dan berambut keriting rapi yang baru saja melangkah keluar dari pintu lobi depan rumah sakit tempat Zenna dirawat.
"Ya?" Dokter Kenan menoleh, netra lembut di balik kacamata bening itu menyorot ingin tahu. "Anda siapa? Ada perlu apa?"
"Maaf mengganggu Anda... Saya Kalila, sahabat Zenna Atmaja, pasien ICU yang berada di bawah tanggung jawab Anda," jawab Kalila perlahan. "Bisakah kita bicara sebentar?"
Dokter Kenan menatap Kalila sejenak.
"Apa Anda ingin menanyakan seputar kondisi Nyonya Zenna?" tanya Dokter Kenan halus.
Kalila mengangguk, wajahnya sedikit pucat.
"Bolehkah saya tahu keadaan Zenna sekarang?"
"Anda tak perlu khawatir. Nyonya Zenna semakin stabil. Tetapi belum sepenuhnya sadar," jelas Dokter Kenan. "Meski begitu, melihat perkembangan tanda vitalnya yang menguat, besar kemungkinan ia akan sadar dalam beberapa hari ke depan. Kita tunggu saja."
Kalila menghembuskan napas panjang. "Begitu ya. Syukurlah... Oh ya, Dok, jika Zenna sudah sadar nanti, apa boleh saya menjenguknya?"
"Maaf, Nona Kalila, bukan hak saya memutuskan itu. Anda harus bicara langsung pada Tuan Rendy selaku putra pemilik rumah sakit ini," kata Dokter Kenan lembut.
Ekspresi Kalila kembali muram.
"Sepertinya tak ada harapan," gumamnya getir. "Barangkali aku baru bisa bertemu Zenna setelah ia sembuh total dan keluar dari sini... yah, apa boleh buat. Kuharap Zenna akan baik-baik saja ketika dia sadar nanti, meski tak ada siapa-siapa di sisinya... dia pasti sedih dan bertanya-tanya..."
"Tak perlu khawatir. Saya dan perawat yang bertanggung jawab akan menjaga dan merawat Nyonya Zenna sampai pulih, baik secara fisik maupun mental. Itu sudah tugas kami."
Kata-kata Dokter Kenan begitu lembut dan menenangkan. Kalila pun mengangguk dan tersenyum.
"Ya, terima kasih, Dok... saya juga sangat berterima kasih Anda sudah menyelamatkan Zenna malam itu. Di saat yang lain menyerah, Anda satu-satunya yang gigih mendetakkan jantung Zenna kembali dengan defribillator itu. Jika bukan karena Anda, mungkin Zenna sudah..."
Suara Kalila bergetar dan menghilang. Ia tak sanggup menutup kalimatnya.
"Sudah tugas saya," kata Dokter Kenan rendah hati. "Apa ada lagi yang ingin Anda tanyakan, Nona Kalila?"
Kalila menggeleng. "Tidak, terima kasih banyak. Oh ya, panggil Kalila saja. Jangan panggil Nona. Jujur aku tak biasa dipanggil formal dan sopan begitu. Risih, entah mengapa..."
Dokter Kenan tertawa. "Oke, Kalila."
Saat Dokter Kenan hendak melangkah pergj, Kalila mendadak teringat sesuatu, dan buru-buru bertanya, "Ah, maaf, Dok, saya baru ingat--malam itu, ketika jantung Zenna berhenti saat saya tinggal sebentar untuk mengurus administrasi, apakah itu terjadi akibat luka racunnya, atau karena tiba-tiba ada intervensi lain?".
Dokter Kenan sejenak terdiam. Ekspresi wajahnya berubah.
"Anda curiga ada yang berusaha membunuh Nyonya Zenna lagi malam itu, setelah upaya meracuninya di pesta gagal?" tukas Dokter Kenan dengan suara rendah.
"Katakan yang sebenarnya--Anda pasti mengetahuinya, kan?" desak Kalila.
Dokter Kenan memandang lurus Kalila.
"Ya, saya tahu."
"Jadi?"
"Terkaan Anda benar. Ada yang mencoba membunuh Nyonya Zenna lagi malam itu."
Kalila menekap mulutnya. Lututnya sejenak goyah. Ekspresinya ngeri.
"Tapi--bagaimana?"
"Ada yang menyuntikkan sesuatu ke lengan Nyonya Zenna untuk menyebabkan syok anafilaktik dan bisa berujung kematian," jelas Dokter Kenan pelan. "Jejak dan gejala itu tak luput dari pengamatan dokter ahli sepertiku. Hasil tes darah yang diambil malam itu juga menunjukkan hal yang sama. Perawat yang melakukannya sudah ditangkap. Polisi sedang bekerja keras mengusut kasus ini."
Napas Kalila memendek. Guncang dan amarah menggumpalkan air mata di sudut pelupuknya.
"Kenapa orang itu tega menyakiti Zenna sampai seperti ini...? Keji sekali!"
Dokter Kenan menghela napas berat.
"Karena itulah, Tuan Rendy bersikap sekeras dan seprotektif ini untuk melindungi Nyonya Zenna. Keselamatan pasien di rumah sakit ini adalah tanggung jawabnya. Anda mungkin tidak sepakat atau keberatan, tapi inilah yang terbaik."
Kalila menarik napas dalam berkali untuk menenangkan diri dari pergulatan emosinya sendiri. Meski Rendy sinting, tapi seseorang seperti Dokter Kenan bahkan bisa menilai tindakan atasannya itu tepat.
Jelas dia masih sangat mencintai Zenna... si gila itu mungkin saja ingin mendapatkan Zenna kembali... tapi apa yang akan dilakukan Rendy setelah Zenna sadar dan pulih?
Entah mengapa, firasat buruk mulai menghinggapi batin Kalila.
"Dok, maaf, apa saya boleh minta tolong sesuatu...?" pinta Kalila perlahan.
"Minta tolong apa?"
Kalila memandang lurus dan lekat Dokter Kenan.
"Tolong hubungi saya jika sesuatu terjadi pada Zenna--apapun itu," kata Kalila, ekspresinya penuh permohonan dengan mata berkaca-kaca. "Saya tahu saya tak sepantasnya merepotkan Dokter, tapi saya tak tahu siapa lagi yang bisa saya mintai tolong... Zenna sudah seperti saudari saya sendiri... keluarga saya di rumah pun sangat mencemaskannya, dan kami semua tak berhenti mendoakan keselamatannya... karena itu..."
Air muka Dokter Kenan melembut.
"Saya mengerti. Baiklah. Saya akan mengabari Anda jika terjadi sesuatu pada Nyonya Zenna... meski tentu kita berharap tak ada lagi hal buruk terjadi. Saya sendiri yang akan menjaga dan merawatnya sampai pulih... saya janji."
Kalila bisa merasakan ketulusan dan keteguhan Dokter Kenan, dan itu sangat melegakan.
Mereka pun saling bertukar nomor ponsel.
"Terima kasih, Dokter Kenan... semoga Allah membalas kebaikanmu dengan keberkahan dan pahala berlipat," ucap Kalila tulus.
Dokter Kenan tersenyum. Wajahnya kian menawan dan teduh, seketika menggetarkan hati Kalila.
"Aamiin. Kembali kasih, Kalila."
Dokter Kenan mengangguk sopan sebagai isyarat perpisahan. Dengan langkah tegak dan tenang, ia menembus terang matahari yang perlahan menggelincir ke barat.
Ketika ia hampir mencapai mobil yang diparkirnya di area khusus karyawan rumah sakit, ponselnya bergetar dan berbunyi, menandakan ada panggilan masuk yang menuntut segera diberi reaksi.
Dengan lekas, Dokter Kenan menerima panggilan itu--apalagi setelah membaca nama yang tertera di layar yang menyala.
Tak banyak kata terlontar. Raut wajah Dokter Kenan seakan ia terombang-ambing di antara kata-kata lawan bicaranya dan pikirannya sendiri.
Ia pun merespon dengan suara sangat rendah.
"Ya. Akan saya lakukan. Semua akan berjalan sesuai keinginan Anda. Tak perlu khawatir. Saya bisa janjikan itu."
***
bram pantai aja dari jauh
Semangat nulisnya thor... makin ke sini makin seru ceritanya, narasinya juga bagus, layak dimarathon dan ditunggu updatenya /Good/