NovelToon NovelToon
Lepaskan Aku Mas, Aku Menyerah

Lepaskan Aku Mas, Aku Menyerah

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / CEO / Penyesalan Suami / Romantis / Romansa / Cintapertama
Popularitas:9k
Nilai: 5
Nama Author: Itz_zara

Lima tahun menikah, Samira tak pernah dicintai.

Pernikahannya lahir dari kesalahan satu malam bukan dari cinta, melainkan kehamilan yang memaksa Samudra menikahinya.
Ia mencintai sendirian. Bertahan sendirian.

Hingga suatu hari, lelah itu tak bisa lagi ditahan.

“Lepaskan aku, Mas… aku menyerah.”

Karena pernikahan tanpa cinta hanya akan mengajarkan satu hal: kapan seseorang harus berhenti bertahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itz_zara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24. Cemburu Sama Mantan

Sudah lebih dari dua bulan sejak hubungan Samudra dan Samira berubah menjadi jauh lebih baik dari sebelumnya.

Jika dulu Samudra sering pulang larut malam, sekarang pria itu hampir selalu pulang tepat waktu. Ia ikut makan malam bersama, menemani Binar bermain, bahkan membantu putrinya belajar.

Perubahan lain yang paling terasa adalah… kini tidak ada lagi jarak di antara mereka saat tidur.

Dulu selalu ada bantal atau selimut yang menjadi penghalang di antara mereka.

Sekarang tidak lagi.

Samudra bahkan sering tanpa sadar menarik Samira ke dalam pelukannya saat tidur.

Malam itu mereka sedang berada di ruang keluarga.

Samudra duduk di sofa menemani Binar belajar menulis, sementara Samira sedang melipat beberapa pakaian di meja kecil dekat mereka.

Suasana rumah terasa hangat dan tenang.

Tiba-tiba Samira teringat sesuatu.

“Mas…” panggilnya pelan.

Samudra yang sedang memperhatikan tulisan Binar langsung menoleh.

“Iya?”

“Minggu depan aku diundang ke acara ulang tahun teman SMA. Boleh datang nggak?”

Beberapa hari yang lalu Samira memang menerima undangan dari seorang teman SMA-nya. Acara ulang tahun itu akan diadakan cukup besar di salah satu hotel berbintang di kota.

Mendengar pertanyaan itu, Samudra langsung menatap Samira.

Tatapan pria itu berubah sedikit serius. Beberapa detik ia tidak menjawab apa-apa.

Sementara Samira hanya menunggu jawaban suaminya dengan sabar.

“Kalau Mas bilang nggak boleh, gimana?” ujar Samudra akhirnya.

Samira berhenti melipat pakaian. Ia menatap Samudra dengan ekspresi tenang.

“Sebenarnya nggak apa-apa, Mas,” jawabnya pelan.

“Lagi pula aku juga nggak terlalu dekat sama teman yang ngundang ini. Cuma kalau memang nggak boleh, aku pengen tahu alasannya supaya aku bisa nolak dengan jelas ke temanku.”

Memang sejak awal Samira tidak terlalu mempermasalahkan kalau Samudra tidak mengizinkannya datang.

Ia tidak terlalu dekat dengan teman yang mengundangnya.

Kalaupun Samudra mengizinkan, ia mungkin akan datang sebentar.

Tapi kalau tidak diizinkan pun… tidak masalah. Yang penting ia sudah meminta izin kepada suaminya.

Samudra menatap Samira beberapa detik.

“Gini deh,” katanya kemudian.

“Kalau kamu datang ke sana… kamu datang sama siapa?”

Samira berpikir sebentar.

“Sebenarnya sih aku mau ngajak kamu,” jawabnya jujur.

“Tapi kalau kamu nggak bisa ikut… mungkin aku datang sama teman-teman yang lain.”

Di dalam hati, sebenarnya Samudra merasa senang. Samira ingin datang bersama dirinya.

Namun masalahnya…

“Minggu depan Mas ada acara di luar kota,” kata Samudra akhirnya.

“Ke luar Jawa.”

Samira mengangguk pelan.

“Oh… gitu ya.”

“Jadi keputusan kamu gimana?” tanya Samira lagi.

Samudra terdiam sebentar sebelum akhirnya berkata,

“Mas nggak izinin kamu datang ke acara itu.”

Samira tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Samudra beberapa detik.

“Nanti kamu tinggal kirim hadiah aja ke temanmu itu,” lanjut Samudra.

Beberapa saat kemudian Samira mengangguk pelan. Senyum tipis muncul di bibirnya.

“Oke deh, kalau gitu.”

Samudra sedikit terkejut melihat reaksi itu.

“Beneran kamu nggak apa-apa?” tanyanya.

Samira menggeleng kecil.

“Ya nggak apa-apa, Mas.”

“Cuma acara ulang tahun juga kok. Lagi pula aku nggak terlalu dekat sama dia.”

Samira kemudian menambahkan dengan santai,

“Paling yang aku kenal di sana cuma Arsen. Teman yang pernah kita temui waktu itu.”

Kalimat itu membuat Samudra langsung terdiam.

Arsen.

Nama itu langsung mengingatkan Samudra pada sesuatu.

Ia masih ingat jelas pria itu. Mantan kekasih Samira. Samudra tidak pernah mengatakan apa-apa, tapi ia tahu.

Cara Arsen memandang Samira waktu itu…

Masih sama seperti masih ada sesuatu. Penuh rasa cinta yang belum selesai.

Sebagai sesama laki-laki, Samudra bisa melihat itu dengan jelas.

Dan itulah alasan sebenarnya kenapa ia tidak ingin Samira datang ke acara itu sendirian.

Bukan karena ia tidak percaya pada Samira. Samudra sangat percaya pada istrinya. Tapi ia tidak percaya pada Arsen.

Samudra tidak ingin memberi kesempatan pada pria itu untuk kembali mendekati Samira.

Ia tidak ingin Arsen bernostalgia tentang masa lalu mereka.

Karena bagi Samudra…

Itu bisa menjadi ancaman bagi rumah tangganya.

Samudra menghela napas pelan.

@@@

Malam itu suasana rumah kembali tenang setelah Binar selesai belajar. Gadis kecil itu akhirnya berlari ke kamarnya karena ingin mengambil mainan barunya.

Tinggallah Samudra dan Samira di ruang keluarga.

Samudra masih duduk di sofa, sementara Samira hendak kembali melipat pakaian yang tadi sempat ia tinggalkan. Namun baru saja ia berdiri, suara Samudra menghentikannya.

“Mir.”

Samira menoleh.

“Iya, Mas?”

Samudra terlihat ragu sejenak, seolah sedang memikirkan sesuatu.

“Kamu… dulu sama Arsen itu gimana?”

Pertanyaan itu membuat Samira sedikit terkejut.

Ia tidak menyangka Samudra akan menanyakan hal seperti ini.

Beberapa detik Samira hanya menatap wajah suaminya, mencoba memastikan apakah Samudra serius atau hanya sekadar bertanya biasa.

“Kok tiba-tiba nanya gitu?” tanya Samira pelan.

Samudra menghela napas pendek.

“Cuma pengen tahu aja.”

Samira akhirnya kembali duduk di sofa, kali ini tepat di sebelah Samudra.

“Ya… dulu kami pacaran waktu SMA,” jawabnya jujur.

“Lumayan lama juga.”

Samudra menatap lurus ke depan, tapi sebenarnya ia mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut istrinya.

“Berapa lama?” tanya Samudra lagi.

Samira berpikir sebentar.

“Satu tahun.”

Alis Samudra langsung terangkat.

“Satu tahun?”

Samira mengangguk kecil.

“Dulu kami satu kelas. Kami dekat sebagai sahabat. Jadi ya… sering bareng.”

Samudra tiba-tiba merasa dadanya sedikit tidak nyaman mendengar itu.

“Satu tahun itu lama, Mir,” ucapnya pelan.

Samira tersenyum tipis.

“Iya… lumayan lama.”

“Terus kenapa putus?” tanya Samudra lagi.

Pertanyaan itu terdengar seperti interogasi kecil.

Samira tentu menyadarinya.

Ia menatap wajah Samudra yang sekarang terlihat jauh lebih serius dibanding tadi.

“Kami putus waktu mau lulus SMA,” jawab Samira.

“Arsen keterima kuliah di luar kota, sedangkan aku tetap di sini. Lama-lama ya… hubungan kami selesai begitu saja.”

Samudra menatap Samira sekarang.

“Begitu saja?”

“Iya.”

“Tanpa drama?” tanya Samudra lagi.

Samira tertawa kecil.

“Mas berharap ada drama?”

Samudra menggeleng.

“Cuma heran aja.”

“Kenapa?”

Samudra menatap mata Samira beberapa detik sebelum berkata,

“Cara dia lihat kamu waktu itu… nggak kelihatan seperti orang yang sudah selesai.”

Samira sedikit terdiam mendengar itu.

Ia tidak menyangka Samudra memperhatikan hal sekecil itu.

Samudra kembali bersandar di sofa.

“Aku laki-laki, Mir,” katanya pelan.

“Aku tahu cara laki-laki lihat perempuan yang dia masih cinta.”

Samira menatap suaminya.

“Mas cemburu?”

Samudra langsung menoleh cepat.

“Siapa yang cemburu?”

Nada suaranya terdengar defensif.

Samira justru tersenyum.

“Mas.”

Samudra mendengus pelan.

“Cuma nggak suka aja.”

“Nggak suka apa?”

“Nggak suka ada laki-laki lain yang masih lihat kamu seperti itu.”

Samira benar-benar tidak bisa menahan senyumnya sekarang.

“Mas ini lagi cemburu.”

Samudra langsung menatap tajam.

“Mir.”

“Iya?”

"Aku serius.”

Samira akhirnya berhenti tersenyum.

Ia tahu Samudra memang benar-benar sedang berbicara serius sekarang.

“Aku nggak peduli masa lalu kamu,” lanjut Samudra.

“Tapi aku juga nggak suka kalau masa lalu itu tiba-tiba muncul lagi.”

Samira menatap wajah suaminya dengan lembut.

“Mas takut aku balik ke dia?”

Samudra langsung menjawab cepat.

“Enggak.”

Namun beberapa detik kemudian ia menambahkan dengan suara lebih pelan,

“Aku cuma… nggak suka kemungkinan itu ada.”

Kalimat itu membuat hati Samira menghangat.

Ia tidak pernah menyangka suatu hari Samudra akan cemburu seperti ini.

Dengan pelan Samira memegang tangan suaminya.

“Mas.”

Samudra menoleh.

“Aku nikah sama kamu.”

“Iya.”

“Aku juga hidup sama kamu.”

Samudra tidak menjawab.

Samira kemudian menambahkan dengan suara lebih lembut,

“Kalau aku masih mau sama Arsen… aku nggak akan bertahan lima tahun di pernikahan ini.”

Samudra terdiam.

Kalimat itu terasa sangat jujur.

Beberapa saat mereka hanya saling menatap tanpa bicara.

Lalu tiba-tiba Samudra menarik Samira mendekat hingga wanita itu hampir jatuh ke pelukannya.

Samira kaget.

“Mas!”

Samudra menatap wajahnya dari jarak sangat dekat.

“Aku nggak suka nama itu disebut-sebut lagi.”

“Nama siapa?”

“Arsen.”

Samira hampir tertawa melihat ekspresi cemburu suaminya.

“Baiklah, Mas.”

“Mulai sekarang aku nggak akan cerita lagi.”

Samudra menyipitkan matanya.

“Bukan begitu maksud aku.”

“Terus?”

“Kalau dia berani ganggu kamu…”

Samudra tidak melanjutkan kalimatnya.

Namun cara rahangnya mengeras sudah cukup menjelaskan semuanya.

Samira menatap wajah suaminya dengan geli.

“Mas ini cemburu banget ya ternyata.”

Samudra langsung memelototinya.

Sementara dari arah kamar tiba-tiba terdengar suara Binar.

“Mama! Papa!”

Keduanya langsung menoleh.

Binar berlari ke arah mereka sambil membawa boneka kesayangannya.

“Binar mau tidur sama Mama Papa!”

Samudra langsung menghela napas panjang.

Samira tertawa kecil.

Sepertinya… malam romantis mereka harus berakhir lebih cepat.

Namun di dalam hati Samudra ia mengakui satu hal.

Ia memang cemburu.

Dan perasaan itu muncul karena sekarang…

Samira benar-benar sudah menjadi miliknya.

@@@

Hai Semuanya!

Selamat Datang Di Cerita Baru Aku!!!

Mohon maaf kalau alurnya terasa lambat. Aku memang sengaja membuatnya bergaya slow burn supaya setiap detail dan emosi dalam cerita nya bisa lebih terasa.

Jangan lupa like, comment, follow, dan share cerita ini ya!!!

Terima Kasih!

1
Favmatcha_girl
akhirnya ya🥺
Favmatcha_girl
Betul itu😍
Favmatcha_girl
Biarin😝
Favmatcha_girl
Gak jadi kayaknya mah, anaknya lagi kecintaan🤭
Favmatcha_girl
Tumben amat🤭
Favmatcha_girl
Gampang ya nyuruh² orang😅
Favmatcha_girl
Huhuhu🥺 kasihan nya
Favmatcha_girl
Lagi bahagia sayang🥺
Favmatcha_girl
Lagi kasmaran mungkin😅
Favmatcha_girl
Masakin batu dan kayu aja🤭
Favmatcha_girl
Baik dong kan ajaran ibu yang baik😍
Favmatcha_girl
Anak lagi masa pertumbuhan🥺
Itz_zara: Iya nih makannya makan banyak
total 1 replies
Favmatcha_girl
Tumben ngomong maaf🤭
Itz_zara: Jarang ya😆
total 1 replies
Favmatcha_girl
Gengsi aja digedhein😑
Itz_zara: 🥰🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
Favmatcha_girl
Emang cantik, baru tau ya, lo🤭
Itz_zara: Selama ini dia tutup mata🤭
total 1 replies
Favmatcha_girl
Gas lah ma jodohin aja Samira sama duda kaya raya🤭
Itz_zara: Hahaha Duren kan ya🤭
total 1 replies
Favmatcha_girl
Rasain deh🤭 gak diinget anak
Itz_zara: Rasakan😆
total 1 replies
Favmatcha_girl
Gemes banget si kamu😍
Itz_zara: Maacih🥰
total 1 replies
Favmatcha_girl
Santai Pak jawabnya 😡
Itz_zara: Gak bisa😆
total 1 replies
Favmatcha_girl
Kasihan pasti dah anggap mantu kaya anak sendiri 🥺
Itz_zara: Udah sayang level tinggi kak🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!