NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Musuh!!

Menikah Dengan Musuh!!

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: NaNa/ji-eun

not allowed to copy , cerita ini 100% hasil dari pikiran ku sendiri, jadi jangan copy cerita ini,

cerita ini berjudul *menikah dengan musuh!! *
pemeran perempuan dalam cerita ini sangat membenci seorang lelaki yang sangat nakal dan sering bolos waktu sma, dan nama nya adalah ALRESCHA dan kerap di panggil al/reska

ayana/ pemeran utama dari cerita ini sangat membenci al,namun al menyukai nya dari zaman sma hingga kuliah, namun al sama sekali tidak pernah mengungkapkan cinta nya kepada ayana, dan sekarang dia di pertemukan lagi, dan di paksa oleh kedua orang tua mereka untuk menikah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NaNa/ji-eun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 14

Ayana mendongak, menatap mata Al dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kesedihan, namun juga ada tekad yang kuat di sana. "Al... apa yang dibilang Bang Rezky tadi ada benarnya. Bukan soal kita harus 'mengganti' Reva, tapi soal status kita."

Ayana menarik napas panjang. "Aku sayang banget sama Reva, dan aku nggak mau kehilangan dia. Tapi aku juga sadar, kita berdua butuh pengikat yang lebih kuat agar posisi kita sebagai orang tua di rumah ini nggak terus-terusan digoyahkan oleh mereka."

Al tertegun, ia menatap Ayana lekat-lekat. "Maksud kamu?"

"Al, ayo kita coba... ayo kita bangun keluarga kita yang sebenarnya. Aku mau kita punya anak, Al. Aku mau kita benar-benar jadi orang tua seutuhnya, bukan cuma untuk Reva, tapi untuk masa depan kita juga," ucap Ayana dengan suara yang mantap meski bergetar.

Mendengar permintaan jujur dari Ayana, jantung Al berdegup kencang. Selama ini ia memendam perasaannya, menjaga jarak agar Ayana merasa nyaman. Namun malam ini, di tengah badai masalah yang dibawa Alya dan Rezky, Ayana justru memberikan hatinya sepenuhnya pada Al.

Di dalam kamar yang remang-remang, Ayana menatap Reva yang tertidur pulas di tengah-tengah mereka. Wajah balita itu tampak begitu damai meskipun sisa-sisa air mata masih membekas di pipinya. Ayana beralih menatap Al, lalu berbisik pelan.

"Al... pindahin Reva dulu ke sofa panjang di pojok kamar ya? Kasihan kalau dia kebangun atau kegencet nanti," ucap Ayana dengan suara yang sangat rendah, hampir menyerupai desiran angin. Pipi Ayana mendadak terasa panas saat mengatakannya.

Al mengangguk mengerti. Ia segera turun dari ranjang dan menyiapkan bantal serta selimut lembut di sofa panjang yang terletak di sudut kamar mereka—tempat yang biasanya digunakan untuk bersantai. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah membawa barang pecah belah yang paling berharga, Al mengangkat tubuh mungil Reva ke dalam dekapannya.

Al membaringkan Reva di sofa tersebut, memastikan posisi tidurnya nyaman, lalu menyelimutinya hingga sebatas dada. Ia sempat mengelus kening Reva sejenak sebelum akhirnya kembali ke arah Ayana.

Kini, tidak ada lagi pembatas di antara mereka di atas kasur itu. Ayana tampak duduk menunggu dengan perasaan yang campur aduk antara gugup dan mantap. Al duduk di hadapannya, meraih kedua tangan Ayana dan menggenggamnya hangat.

"Terima kasih sudah percaya sama saya, Na," bisik Al dengan tatapan yang sangat dalam, jauh lebih hangat dari biasanya.

Ayana mengangguk pelan, ia memberanikan diri menatap mata Al. "Aku melakukannya karena aku sayang sama kamu, Al. Bukan karena terpaksa oleh ucapan mereka."

Malam itu, di dalam kamar yang terkunci rapat, mereka berdua akhirnya memutuskan untuk melangkah lebih jauh.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Pagi itu, sinar matahari masuk menembus celah gorden, menciptakan suasana yang jauh lebih hangat dan tenang di dalam kamar.

 Ayana terbangun lebih dulu, ia merasakan tangan Al masih melingkar protektif di pinggangnya. Ingatan tentang malam tadi seketika membuat pipi Ayana merona merah, ia menyembunyikan wajahnya di dada Al sejenak sebelum akhirnya memberanikan diri untuk bangun.

Ayana segera bangkit dan menghampiri sofa di sudut kamar. Beruntung, Reva masih terlelap pulas dengan posisi yang sangat nyaman. Ayana mengelus pipi gempal Reva, merasa lega karena balita itu tidak terbangun sedikit pun.

Tak lama kemudian, Al pun terbangun. Ia mengucek matanya sebentar, lalu tatapannya langsung terkunci pada Ayana yang berdiri di dekat sofa. Al tersenyum tipis—sebuah senyum yang terasa sangat berbeda dari biasanya, jauh lebih hangat dan penuh arti.

"Pagi," sapa Al dengan suara seraknya.

"Pagi, Al..." jawab Ayana malu-malu, ia segera membuang muka dan pura-pura sibuk merapikan selimut Reva.

Al bangkit dan menghampiri Ayana, berdiri tepat di belakangnya. Ia menaruh dagunya di bahu Ayana sejenak, membuat jantung Ayana berdegup kencang lagi. "Terima kasih buat semalam ya, Na."

"Ih, Al! Nanti Reva bangun!" bisik Ayana sambil menyenggol lengan Al, meskipun sebenarnya ia merasa sangat senang dengan perlakuan manis itu.

Mereka pun segera bersiap. Al mengangkat Reva kembali ke atas kasur agar balita itu bangun dengan rasa nyaman, sementara Ayana bergegas ke dapur untuk membantu Mama Al menyiapkan sarapan.

Di meja makan, suasana terasa sangat berbeda. Mama Al yang peka langsung menyadari ada perubahan pada ekspresi wajah anak dan menantunya itu. Ayana tampak lebih banyak menunduk sambil menyuapi Reva, sementara Al terlihat lebih santai dan sesekali mencuri pandang ke arah Ayana.

"Kalian berdua kok pagi ini kelihatannya cerah banget? Kayak habis dapet rejeki nomplok aja," goda Mama Al sambil meletakkan piring nasi goreng di tengah meja.

Ayana hampir saja tersedak air minumnya. "Eh, nggak kok Ma. Kan hari ini udaranya lagi enak aja."

Al hanya terkekeh pelan, ia meraih tangan Ayana di bawah meja dan meremasnya lembut tanpa diketahui oleh Mama Al. "Iya Ma, kita cuma merasa lebih tenang aja hari ini. Masalah Rezky kemarin anggap saja angin lalu."

Papa Al yang baru bergabung di meja makan pun mengangguk setuju. "Bagus kalau begitu. Yang penting kalian kompak jaga Reva. Papa nggak akan biarkan siapa pun bawa Reva kalau Reva sendiri nggak mau."

Mendengar dukungan dari keluarganya, Ayana merasa sangat bersyukur. Di tengah ancaman Alya dan Rezky, ia justru menemukan kekuatan baru dalam pernikahannya dengan Al. Pagi itu, sarapan mereka terasa jauh lebih nikmat, diselingi tawa kecil Reva yang sudah kembali ceria seolah tidak terjadi apa-apa semalam.

...****************...

Baru saja sarapan selesai dan suasana rumah mulai mencair, ketenangan itu seketika hancur saat suara klakson mobil yang kasar terdengar dari depan pagar. Tak lama kemudian, teriakan Rezky menggema, memanggil nama Al dengan nada menantang.

Al meletakkan sendoknya dengan perlahan, rahangnya mengeras. Ia melirik Ayana yang langsung memeluk Reva erat-erat. "Kamu di sini saja sama Mama dan Papa. Biar saya yang urus," ucap Al dengan suara rendah namun dingin.

Al melangkah ke teras, diikuti oleh Papa Al yang juga tampak geram. Di depan sana, Rezky berdiri dengan angkuh, kali ini ia tidak datang bersama Alya, melainkan bersama seorang pria berpakaian rapi yang membawa tas kerja—seorang pengacara.

"Mau apa lagi kamu ke sini?" tanya Papa Al dengan nada menggelegar.

Rezky menyeringai tipis. "Saya datang untuk mengambil hak saya. Ini pengacara saya. Kami punya dokumen resmi bahwa saya adalah ayah kandung Reva. Kalau kalian tidak menyerahkan Reva secara baik-baik sekarang, kami akan melaporkan ini sebagai penculikan anak."

Al tertawa sinis, langkahnya maju satu tindak mendekati Rezky. "Penculikan? Kamu yang menelantarkan anak ini selama setahun lebih tanpa kabar. Di mana kamu saat dia sakit? Di mana kamu saat dia butuh susu? Kamu pikir selembar kertas bisa menghapus trauma yang kamu buat kemarin?"

Sang pengacara mencoba menengahi, "Mohon maaf Pak Al, secara hukum perdata, klien saya memiliki hak asuh penuh karena statusnya sebagai orang tua kandung. Kami bisa membawa masalah ini ke jalur kepolisian jika pihak Anda menghalangi."

Ayana, yang tidak tahan hanya diam di dalam, akhirnya keluar sambil menggendong Reva yang mulai menangis lagi karena melihat wajah Rezky. Ayana berdiri di samping Al, menatap Rezky dengan berani.

"Bang Rezky, kalau Abang pikir uang dan pengacara bisa beli hati Reva, Abang salah besar," ucap Ayana dengan suara gemetar namun tegas. "Lihat anak ini! Dia ketakutan! Apa Abang mau bawa dia dalam keadaan dia menganggap Abang itu orang jahat?"

Rezky tidak peduli. Ia justru menunjuk Reva. "Serahkan dia sekarang, atau saya panggil polisi ke rumah ini!"

Papa Al pun maju, suaranya sangat tenang namun mematikan. "Panggil saja polisi, Rezky. Kita lihat, siapa yang akan menang di pengadilan saat hakim tahu kalian menelantarkan anak ini selama setahun lebih demi pekerjaan. Saya juga punya pengacara, dan saya tidak akan membiarkan cucu saya jatuh ke tangan orang yang tidak punya hati seperti kamu."

Suasana di halaman rumah itu menjadi sangat mencekam. Rezky tampak tersentak mendengar ancaman Papa Al yang serius, sementara Reva terus menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Ayana, menjerit kecil setiap kali Rezky mencoba mendekat.

Melihat Rezky yang terus mengancam menggunakan nama hukum, Al melangkah maju hingga jaraknya hanya sejengkal dari Rezky. Sorot mata Al begitu tajam, membuat nyali pengacara di sebelah Rezky sedikit menciut.

"Oke, kamu mau main hukum? Silakan," ucap Al dengan suara rendah yang sangat menekan. "Tapi sebelum polisi datang, saya tantang kamu, Bang. Kamu bilang kamu ayahnya, kan?"

Al menunjuk ke arah Reva yang sedang menangis sesenggukan di pelukan Ayana.

 "Coba kamu sebutkan, apa makanan kesukaan Reva? Kapan terakhir kali dia imunisasi? Dan apa kata pertama yang dia ucapkan waktu dia mulai bisa bicara?"

Rezky terdiam. Mulutnya terbuka namun tidak ada satu kata pun yang keluar. Ia melirik ke arah pengacaranya, namun sang pengacara hanya menunduk karena tidak tahu apa-apa soal keseharian balita itu.

"Nggak tahu, kan?" Al tertawa sinis, tawa yang penuh dengan penghinaan. "Setahun lebih kamu telantarkan dia demi uang. Kamu bahkan nggak tahu kalau Reva trauma setiap kali dengar suara klakson mobil yang keras kayak yang kamu lakukan tadi!"

Al kemudian menoleh ke arah pengacara Rezky. "Pak Pengacara, silakan bawa kasus ini ke pengadilan. Saya punya catatan medis lengkap atas nama saya dan Ayana yang membiayai Reva selama ini. Saya punya saksi tetangga dan keluarga yang tahu siapa yang bangun tiap malam saat Reva sakit. Kita lihat, hakim mana yang tega memberikan anak sekecil ini kepada orang asing yang bahkan nggak tahu makanan kesukaan anaknya sendiri."

Ucapan Al membuat Rezky naik pitam. "Itu semua bisa dipelajari! Yang penting darah daging saya ada di dia!"

"Darah daging nggak menjamin kamu punya hati," potong Ayana yang tiba-tiba ikut melangkah maju sambil tetap mendekap Reva. "Bang Rezky, kalau Abang beneran sayang sama Reva, Abang nggak akan bawa pengacara ke sini cuma buat nakut-nakutin dia. Abang lihat nggak? Dia gemetar! Dia ketakutan!"

Reva yang mendengar keributan itu semakin kencang menangis, "Mama... usil om itu... Leva takut... Mama..."

"Dengar? Dia panggil kamu 'Om', bukan Papa," ucap Al telak. "Sekarang silakan pergi. Panggil polisi kalau kamu berani. Kami tunggu di sini. Tapi ingat, setiap detik yang kamu habiskan untuk memaksa, semakin dalam kebencian Reva ke kamu."

Rezky mengepalkan tangannya kuat-kuat, wajahnya merah padam karena dipermalukan di depan pengacaranya sendiri. Ia sadar, secara mental dan kedekatan, ia sudah kalah telak dari Al dan Ayana.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!