Hati Davin hancur ketika mengetahui cintanya pada Renata juniornya, bertepuk sebelah tangan dan ternyata hanya dimanfaatkan untuk kepentingan karir.
Dia lalu memilih pergi menjadi relawan medis di daerah bencana, dan bertemu Melodi, gadis yatim piatu nan tangguh merawat adiknya yang lumpuh
Ketulusan dan ketegaran Melodi mampu membuat Davin terpikat. Namun, perbedaan status di antara mereka terlalu besar membuat Melodi ragu.
Mampukah Davin meyakinkan Melodi bahwa cinta sejati tak mengenal batas? Atau justru perbedaan akan memisahkan mereka selamanya?
Yuk, ikuti kisahnya hanya di sini;
"Melodi Cinta Untuk Davin" karya Moms TZ, bukan yang lain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Kejahilan Mami Mia
Beberapa saat sebelumnya
Di kediaman Al Ghifari, Mami Mia tampak mondar-mandir, sudah mirip setrikaan. Sebentar menengok jam di dinding, sebentar melongok ke halaman. Namun, setelah lama menunggu tak kunjung datang.
"Ke mana itu anak, lama benar gak nyampe-nyampe," gumamnya sedikit cemas.
"Kenapa, Mi?" tanya Vira baru saja turun dari lantai atas.
"Ini loh, Sayang. Adikmu kenapa nggak nyampe-nyampe juga. Bukankah seharusnya perjalanan cuma tiga sampai empat jam. Ini sudah jam berapa, coba?" kata Mami Mia, tak bisa lagi menyembunyikan kecemasannya.
"Mungkin macet kali, Mi. Atau ada gangguan kecil di jalan." Vira mencoba menenangkan.
"Atau kalau nggak, coba telepon Pak Makmur saja, Mi," imbuhnya memberi solusi.
"Ah iya, kamu benar. Saking khawatirnya mami sampai nggak kepikiran buat telepon Pak Makmur." Mami Mia memijit pelipisnya sebentar, mencari kontak Pak Makmur lalu menekan nomor tersebut.
"Ya, assalamualaikum, Bu?" ucap Pak Makmur begitu mengangkat telepon.
"Pak Makmur masih di mana? Kenapa lama sekali belum sampai juga di rumah?" tanya Mami Mia dengan nada khawatir.
"Eh, anu, Bu. Itu... Anu..." Pak terlihat ragu-ragu untuk menjawab.
"Apaan sih, Pak. Itu, anu, yang jelas kalau ngomong, dong!" ujar Mami Mia, nada suaranya sedikit meninggi.
"Begini, Bu. Mas Davin membawa Mbak Melodi ke apartemennya. Soalnya... anu, Bu." Pak Makmur tampak bingung. "Duh, gimana ini cara ngomongnya," gumamnya dalam hati.
"Anu lagi, emang anu apaan, hahhh!" Mami Mia tampak tak sabar.
"Awas ya, kalau sampai Pak Makmur kongkalikong sama Davin," sambungnya sedikit mengancam.
"Begini, Bu. Sebaiknya Ibu datang saja langsung ke sini, ke apartemen Mas Davin," cetus Pak Makmur
Mami Mia buru-buru menutup sambungan telepon. "Vira, ayo, temani mami ke apartemen si Adik," ujarnya mengajak sang menantu yaitu istri Darrel.
Begitu sampai di sana, Mami Mia langsung masuk ke dalam unit hunian Davin dan melihat seorang anak lelaki duduk di kursi roda sambil menonton tivi. Ia tersenyum, lantas menghampiri Alvian.
"Halo, namanya siapa, Sayang?" tanyanya lembut.
Alvian mengerjap matanya bingung, tetapi dia menjawab dengan sopan. "Nama saya Alvian, Bu. Adiknya Kak Mel." Bocah itu meraih tangan Mami Mia lalu menciumnya takzim.
Mami Mia tersenyum, hatinya merasa tersentuh, ia mengusap kepala Alvian penuh kasih.
"Terus Kak Mel sama Kak Davin, di mana?" tanya Mami Mia lagi.
"Tadi Kak Davin mengajak Kak Mel melihat kamarnya," jawab Alvian sambil menunjuk ke arah kamar, di mana Davin dan Melodi berada.
"Baiklah, terima kasih, ya. Lanjutkan nonton tivinya," kata Mami Mia. Alvian pun mengangguk.
Mami Mia bergegas menuju kamar dan netranya membulat seketika, kala melihat Davin dan Melodi tengah berpelukan.
.
.
.
"Sakit, Mi. Please lepasin dong, Mi," rengek Davin pada sang mami.
Namun, Mami Mia tak menggubris, ia masih terus menjewer telinga putra bontotnya itu.
Melodi yang melihat adegan tersebut merasa bersalah, sebab Davin hanya menurutinya. Tiba-tiba ia menjatuhkan dirinya dan bersimpuh.
"Maafkan saya, Bu. Mas Davin tidak bersalah apa-apa. Sayalah yang bersalah. Tolong, maafkan saya," mohonnya dengan tulus.
"Saya...saya takut dan merasa tidak percaya diri untuk bertemu keluarganya Mas Davin, jadi dia berinisiatif membawa saya kemari," ucap Melodi, suaranya terdengar bergetar.
Melihat apa yang dilakukan Melodi, Davin menggelengkan kepala. Begitu pula dengan Mami Mia. Bahkan Vira yang berada di ruang tamu pun ikut masuk dan ia terkejut dengan aksi Melodi.
Namun, bukan Mami Mia namanya jika tidak bersikap jahil. Ia seperti mendapatkan ide untuk bermain-main. Sambil melipat kedua tangannya wanita paruh baya yang masih cantik itu, menatap Melodi dengan pandangan yang sulit ditebak.
"Lalu, apa yang membuatmu merasa takut? Apa kamu pikir kami ini akan memakan manusia? Iiih...kamu mah, nyamain kami dengan kanibal?" Wanita paruh baya itu melengos dengan dagu terangkat.
"Oh, bukan begitu maksud saya, Bu." Melodi menggeleng ribut.
"Terus apa maksudmu? Apa kamu mau mangkir dari janjimu?"
"J-janji...?" Melodi tampak bingung.
"Mi, please. Jangan jahilin Melodi dong, Mi. Kasihan dia." Davin menimpali.
"Diam deh, Dik! Kamu nggak usah ikut campur urusan perempuan!" sentak sang mami.
Kemudian ia kembali menatap tajam ke arah Melodi.
"Bukankah kamu bilang bersedia menjadi kekasih Davin, bahkan jika harus menikah saat ini juga kamu siap, kan?" cibirnya seraya menyebikkan bibirnya.
Glek
Melodi berusaha menelan ludahnya dengan susah payah. Saat itu ia terpancing emosi sehingga tanpa pikir panjang langsung berucap begitu, agar tidak terintimidasi oleh Dahlia dan ibunya. Dan sekarang apakah dia benar-benar telah siap jika ditagih ucapannya? Jawabannya ia sendiri pun tak tahu.
"Saya..." Melodi menatap Davin sambil mengerjapkan mata seolah meminta bantuan.
"Ayo, jawab! Apa kamu sudah siap menjadi istri Davin?" desak Mami Mia.
"Emmm...begini, Bu. Saya hanyalah gadis miskin dan tidak tamat SMA, saya juga memiliki adik yang lumpuh. Jika menikah dengan Mas Davin, apakah kami tidak akan menjadi beban?"
"Saya tidak ingin Mas Davin menyesal di kemudian hari. Sementara di luaran sana pasti banyak yang berlomba untuk meraih hatinya," papar Melodi panjang lebar.
Mami Mia terhenyak, sorot matanya melembut. "Astaga...benar-benar gadis yang polos apa bodoh? Dia sudah tahu Davin mecintainya tapi masih saja meragukannya."
"Sebenarnya kamu itu cinta sama anak saya, nggak?" tanya Mami gemas.
Melodi tersenyum tipis lalu mengangguk mantap.
"Jawab yang benar, bilang kamu cinta sama Davin, anak saya!" tekan Mami Mia.
"Saya mencintai Mas Davin, Bu. Mau dia kaya atau miskin, saya tetap cinta sama dia, karena harta bisa dicari sama-sama," ucap Melodi tanpa keraguan.
Davin yang mendengar pengakuan Melodi, secara reflek bergegas memeluk gadis tambatan hatinya itu, tetapi belum juga terlaksana niatnya, Mami Mia sudah terlebih dahulu menarik kerah kemejanya dari belakang.
"Eh, eh, eh...mau ngapain kamu? Enak aja main peluk peluk anak orang!" gertak sang mami.
"Kalian harus nikah dulu, setelah itu bebas mau ngapain aja," tegas Mami Mia.
"Menikah...?"
"Siapa takut?"
.
.
.
Entahlah moms ini nulis apa, semoga kalian terhibur.
Menunggu kehancuran Renata