Di balik cadar itu, tersimpan surga yang tak pernah Adrian bayangkan.
Aisha tahu, mencintai seorang CEO seperti Adrian adalah mengundang badai ke dalam hidupnya yang tenang. Ia dicaci, difitnah, bahkan diuji dengan kehilangan. Namun, keteguhan hati Adrian membuatnya bertahan. Adrian bukan lagi pria sombong yang mengejar dunia; ia adalah pria yang rela menjadi kuli demi menebus dosa masa lalu.
Jalan menuju penebusan ini panjang dan berliku. Saat restu ibu menjadi dinding penghalang yang tinggi, dan masa lalu kembali menagih janji, mereka belajar bahwa satu-satunya cara untuk tetap bersama adalah dengan melibatkan Sang Pemilik Hati. Karena bagi Adrian, Aisha bukan sekadar pilihan, ia adalah takdir yang ingin ia bawa hingga ke surga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ALNA SELVIATA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
BAB 25
MENARA YANG RETAK
Lantai 47 Aratama Tower yang biasanya menjadi pusat komando paling efisien di Jakarta kini berubah menjadi penjara kaca yang menyesakkan. Adrian Aratama duduk di balik meja mahoninya yang luas, namun tumpukan dokumen yang menuntut tanda tangannya hanya berakhir menjadi gundukan kertas tak bermakna. Untuk pertama kalinya dalam sejarah kepemimpinannya, sang "Singa Properti" kehilangan taringnya.
Pikiran Adrian tidak lagi tertuju pada grafik pertumbuhan atau laporan laba-rugi. Pikirannya tersangkut pada tatapan dingin Aisha di bawah hujan beberapa hari lalu. Kata-kata Aisha, "Anda tidak bisa melindungi saya dari nama belakang Anda sendiri," terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak yang menyayat hati.
Adrian menghempaskan pulpennya ke atas meja. Ia merasa frustrasi, bukan karena proyeknya terancam, tetapi karena ia merindukan kehadiran jiwa yang dulu selalu menantang pikirannya. Aisha masih ada di gedung yang sama, masih bekerja di departemen yang sama, namun jarak emosional yang diciptakan wanita itu terasa lebih jauh daripada jarak antar galaksi.
"Pak, laporan kuartal ketiga menunjukkan penurunan efisiensi operasional sebesar lima belas persen," Sarah masuk ke ruangan dengan wajah yang sulit dibaca. Sebagai asisten setia, ia tahu alasan di balik kekacauan ini. "Beberapa investor mulai bertanya-tanya mengapa keputusan strategis untuk proyek di Surabaya tertunda selama dua minggu."
Adrian hanya menatap kosong ke arah jendela. "Biarkan saja mereka bertanya, Sarah."
"Pak Adrian," Sarah memberanikan diri mendekat. "Perusahaan ini membutuhkan pemimpinnya. Anda tidak bisa terus seperti ini. Aratama Group adalah hidup Anda."
"Bukan, Sarah," bisik Adrian dengan suara parau yang nyaris pecah. "Aku dulu berpikir begitu. Tapi sekarang aku sadar, membangun gedung-gedung ini tanpa ada seseorang yang menghargai maknanya... hanyalah membangun kuburan dari beton dan kaca. Aku merasa kosong."
Kinerja perusahaan memang sedang terjun bebas. Adrian sering melewatkan rapat-rapat penting. Ia tidak lagi memiliki ketajaman untuk menegosiasikan kontrak. Fokusnya hancur. Setiap kali ia mencoba bekerja, bayangan Aisha yang menghindarinya di koridor—menundukkan kepala dan mempercepat langkah seolah-olah Adrian adalah noda hitam dalam hidupnya—selalu muncul menghancurkan konsentrasinya.
Sore itu, Adrian tidak tahan lagi. Ia keluar dari ruangannya, mengabaikan Sarah yang mencoba menahannya, dan berjalan menuju ruang kerja tim arsitek. Ia tidak peduli jika stafnya melihatnya dalam kondisi kacau. Ia hanya ingin melihat Aisha. Satu kali saja.
Ia berhenti di ambang pintu ruangan Aisha. Wanita itu sedang duduk membelakanginya, menatap layar monitor yang menampilkan detail teknis Green Oasis. Ruangan itu sepi karena staf lain sedang berada di lapangan.
"Aisha," panggil Adrian. Suaranya rendah, penuh dengan luka yang tak lagi bisa ia sembunyikan.
Aisha tersentak. Bahunya menegang, namun ia tidak berbalik. "Ada yang bisa saya bantu terkait pekerjaan, Pak?"
"Berhentilah memanggilku dengan sebutan itu saat kita hanya berdua," Adrian melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya. Ia berdiri di tengah ruangan, tampak rapuh meski dalam balutan setelan jas ribuan dolar. "Kau menghukumku, Aisha. Kau menghukum perusahaanku, kau menghukum karyawanku, dan kau menghancurkanku."
Aisha akhirnya berbalik. Ia masih mengenakan cadarnya, namun matanya—mata yang dulu sering memancarkan ketenangan—kini tampak lelah dan penuh dengan duka yang sama besarnya. "Saya tidak menghukum siapa pun, Adrian. Saya hanya mencoba bernapas tanpa rasa bersalah kepada ayah saya."
"Aku sudah menandatangani pengalihan aset itu," ucap Adrian dengan nada memohon. "Segalanya akan kembali pada keluargamu. Aku akan mengosongkan rekening pribadiku jika perlu, asalkan kau tidak menatapku seolah-olah aku adalah monster."
"Itulah masalahnya!" suara Aisha naik satu oktaf, bergetar karena emosi yang tertahan. "Anda pikir cinta dan martabat bisa dibeli dengan pengalihan aset? Setiap kali saya melihat wajah Anda, saya melihat ayah saya yang terbaring lemah. Setiap kali saya mengagumi kecerdasan Anda, saya merasa seperti pengkhianat. Rasa sakit ini... tidak ada label harganya, Adrian."
Adrian melangkah maju satu langkah, namun segera berhenti saat melihat Aisha secara refleks menarik kursi di antara mereka sebagai pembatas. Hati Adrian remuk melihat ketakutan dan penolakan itu.
"Aku mencintaimu, Aisha," bisik Adrian. "Itu adalah satu-satunya kebenaran yang kumiliki saat ini. Logikaku sudah mati. Perusahaanku mungkin sedang hancur, tapi itu tidak seberapa dibandingkan rasa sakit kehilangan kepercayaanmu."
Aisha memalingkan wajahnya ke arah jendela, air mata mulai menggenang di pelupis matanya. "Cinta tidak cukup untuk menghapus sejarah, Adrian. Kita berdiri di atas puing-puing pengkhianatan. Bagaimana mungkin bunga bisa tumbuh di atas tanah yang beracun?"
"Maka kita akan mengganti tanahnya!" Adrian berseru dengan putus asa. "Aku akan melepaskan nama Aratama jika itu yang kau mau. Aku akan meninggalkan semua ini. Kita mulai dari nol di tempat di mana tidak ada orang yang mengenal siapa ayahku atau siapa ayahmu."
Aisha menatap Adrian dengan rasa kasihan yang mendalam. "Anda tidak bisa lari dari diri Anda sendiri. Dan saya tidak bisa lari dari bakti saya."
Adrian kembali ke ruangannya dengan langkah gontai. Ia mematikan semua lampu, membiarkan kegelapan malam Jakarta menyelimutinya. Ia duduk di lantai, bersandar pada dinding kaca, menatap lampu-lampu kota yang buram karena air mata yang akhirnya jatuh.
Seorang pria yang memiliki segalanya, kini merasa tidak memiliki apa-apa.
Ia mengambil ponselnya, membuka galeri foto rahasia yang hanya berisi satu gambar: Aisha yang sedang berdiri di lokasi proyek, menunjuk ke arah langit dengan semangat. Foto itu diambil secara diam-diam dari kejauhan. Adrian mengusap layar ponselnya, seolah-olah ia bisa menyentuh kehadiran Aisha di sana.
"Kenapa mencintaimu harus sesakit ini?" gumamnya pada kesunyian.
Penurunan saham Aratama Group menjadi berita utama di portal bisnis keesokan harinya. Para analis menyebutnya sebagai "Krisis Kepemimpinan". Namun, bagi Adrian, ini adalah "Krisis Jiwa". Ia menyadari bahwa ia tidak lagi memiliki alasan untuk menjadi kuat jika alasan terbesarnya untuk menjadi pria yang baik telah memalingkan muka darinya.
Cinta yang ia temukan pada Aisha telah mengubahnya secara permanen. Ia bukan lagi predator bisnis yang dingin; ia adalah seorang pria yang terluka, yang baru menyadari bahwa kekuasaan tertinggi di dunia ini bukanlah uang, melainkan pengampunan dari orang yang dicintai.
Di sisi lain, Aisha di mejanya juga tidak jauh berbeda. Ia menatap catatan kecil dari Adrian yang berisi permohonan maaf. Ia meremas kertas itu di dadanya. Ia mencintai Adrian—ia tahu itu sekarang—namun cinta itu terasa seperti api yang membakar agamanya, baktinya, dan harga diri keluarganya.
Malam itu, menara Aratama tetap berdiri megah, namun di dalamnya, dua jiwa sedang menangisi sebuah takdir yang tampaknya sengaja mempertemukan mereka hanya untuk menunjukkan betapa mustahilnya mereka bersatu.
"Jika Kau memang ada," bisik Adrian, menatap langit malam dengan keputusasaan yang murni, "jangan hukum dia atas dosaku. Biarkan dia bahagia, meskipun itu berarti tanpa aku. Tapi tolong... beri aku kekuatan untuk tidak hancur sepenuhnya."