NovelToon NovelToon
Owned By The Cold CEO

Owned By The Cold CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Jee Jee

"Satu malam untuk nyawa ibuku. Itu saja."

Bagi Kalea, cinta adalah sebuah kebohongan besar yang menghancurkan keluarganya. Ia tumbuh dengan kebencian pada pria setelah melihat ibunya ditinggalkan sang ayah demi kekuasaan. Namun, saat ibunya butuh operasi darurat dengan biaya yang mustahil ia jangkau, Kalea terpaksa menjual satu-satunya hal yang tersisa: kehormatannya.
Ia menyerahkan segalanya kepada Liam Jionel, sang penguasa bisnis berdarah dingin yang memandang manusia tak lebih dari sekadar angka dan aset.

Kalea mengira ia hanya menjual satu malam, namun ternyata ia telah menyerahkan seluruh sisa hidupnya ke tangan seorang iblis berwajah malaikat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30

..

 Musim semi di Hallstatt tahun ini terasa jauh lebih hangat. Bunga-bunga lili putih yang ditanam Kalea di sepanjang jalan setapak menuju dermaga mekar dengan sempurna, menyebarkan aroma harum yang menenangkan jiwa. Tidak ada lagi kabut tebal yang menyembunyikan predator, tidak ada lagi deru mesin mobil hitam yang membawa ketakutan. Yang terdengar hanyalah simfoni alam; kicauan burung di dahan pinus dan tawa renyah seorang bocah laki-laki yang sedang mengejar angsa di tepi danau.

Kalea berdiri di balkon lantai dua rumah kayunya, menyesap teh melati hangat. Ia mengenakan gaun linen berwarna biru muda, rambutnya yang kini panjang sebahu dibiarkan tergerai ditiup angin pegunungan. Di jari manisnya, sebuah cincin perak dengan ukiran bunga lili putih melingkar cantik—cincin yang ia putuskan untuk dipakai tepat satu bulan yang lalu. Bukan karena ia menyerah pada harta Liam, tapi karena ia akhirnya memilih untuk berdamai dengan hatinya sendiri.

"Mama! Liat! Papa buatkan rumah pohon buat Leo!" seru Leo dari arah taman belakang.

Kalea menoleh dan tersenyum lebar. Di sana, di sebuah pohon ek tua yang kokoh, Liam Jionel sedang sibuk memaku papan kayu. Liam hanya mengenakan kaus oblong putih yang sudah terkena noda kayu dan celana jins belel—pemandangan yang mustahil dibayangkan jika ini adalah Jakarta empat tahun lalu. Sang CEO bertangan dingin itu kini lebih mahir memegang palu daripada memegang dokumen saham.

"Hati-hati, Liam! Jangan biarkan Leo naik terlalu tinggi dulu!" teriak Kalea dari balkon.

Liam mendongak, menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju, lalu memberikan jempol pada Kalea. "Tenang, Sayang! Fondasinya lebih kuat dari gedung Jionel Group!" balasnya sambil tertawa.

Melihat tawa Liam, Kalea merasakan kehangatan yang menjalar di dadanya. Liam benar-benar berubah. Sejak insiden Clarissa, Liam membuktikan ucapannya. Ia menutup semua kantor perwakilannya di Jakarta dan memindahkan pusat kendali bisnisnya ke Salzburg, hanya agar ia bisa pulang setiap sore ke Hallstatt. Ia menjadi pria yang paling rajin datang ke rapat orang tua di sekolah PAUD Leo, dan ia menjadi pendukung nomor satu toko bunga Kalea.

Siang harinya, mereka duduk bersama di dermaga pribadi depan rumah. Surya, ayah Kalea, datang membawa keranjang piknik berisi roti gandum dan keju lokal. Mereka makan dengan santai, menikmati riak air danau yang jernih.

"Ayah nggak nyangka, Kal," ucap Surya sambil menatap Liam yang sedang mengajari Leo cara mengikat simpul tali pancing. "Pria yang dulu Ayah kutuk sebagai iblis, sekarang malah jadi menantu yang paling rajin benerin genteng bocor."

Kalea tertawa kecil, menyandarkan kepalanya di bahu sang ayah. "Hidup itu lucu ya, Yah? Kita lari sejauh ini hanya untuk menemukan bahwa pelabuhan terakhir kita ternyata orang yang sama yang membuat kita lari."

"Bukan orang yang sama, Kal," potong Surya lembut. "Liam yang sekarang adalah pria yang sudah mati dan lahir kembali. Dia sudah membayar 'satu miliar' itu dengan ketulusannya menjaga kamu dan Leo setiap detik."

Tak lama kemudian, Liam menghampiri mereka, menggendong Leo yang mulai mengantuk di bahunya. Ia duduk di samping Kalea, merangkul pinggang wanita itu dengan protektif namun lembut.

"Aris baru saja menelepon," ucap Liam pelan. "Persidangan terakhir Clarissa di Wina sudah selesai. Dia dijatuhi hukuman seumur hidup di fasilitas mental dengan pengamanan maksimum. Dia tidak akan pernah bisa keluar lagi."

Kalea menarik napas lega. Beban terakhir di pundaknya seolah menguap terbawa angin. "Terima kasih, Liam. Untuk semuanya."

Liam mencium pelipis Kalea. "Aku yang berterima kasih. Karena kau memberiku kesempatan untuk melihat Leo tumbuh. Karena kau tidak menyerah padaku saat aku berada di titik terendahku di penjara."

Malam harinya, setelah Leo terlelap di kamar barunya yang penuh dengan buku-buku antariksa, Liam dan Kalea berdiri di dermaga bawah sinar bulan purnama. Permukaan danau tampak seperti cermin raksasa yang memantulkan keindahan langit Austria.

Liam berlutut di depan Kalea, mengambil tangan wanita itu dan mencium bekas luka kecil di jari manisnya—bekas luka yang dulu menjadi saksi bisu kebencian Kalea.

"Kalea..." panggil Liam dengan suara yang sangat rendah dan penuh cinta. "Empat tahun lalu, aku membelimu dengan uang. Aku menganggapmu properti. Aku menganggap kehormatanmu bisa ditukar dengan kertas."

Liam mendongak, matanya berkaca-kaca. "Tapi malam ini, di depan danau ini, aku ingin meminta satu hal yang tidak bisa kubeli dengan triliunan rupiah sekalipun. Aku ingin kau menjadi istriku yang sah. Bukan karena kontrak, bukan karena Leo, tapi karena aku tidak bisa membayangkan satu hari pun bernapas tanpa melihat senyummu di pagi hari."

Kalea terdiam, air matanya jatuh—kali ini air mata kebahagiaan. Ia menarik Liam agar berdiri, lalu memeluk leher pria itu erat. "Aku sudah memakai cincinmu, Liam. Bukankah itu sudah jadi jawabannya?"

Liam tertawa bahagia, ia mengangkat tubuh Kalea dan memutarnya di udara. "Aku mencintaimu, Kalea. Lebih dari nyawaku sendiri."

"Aku juga mencintaimu, Liam. Si Naga galak yang ternyata cuma mau jadi tukang kayu di Hallstatt," canda Kalea di tengah isaknya.

Keesokan paginya, sebuah upacara pernikahan kecil diadakan di gereja tua pinggir danau. Hanya dihadiri oleh Surya, Aruna, Ghea, Ziva (yang terbang jauh dari Jakarta), Kenzo, dan tentu saja si kecil Leo sebagai pembawa cincin.

Kalea tampil sangat cantik dengan gaun pengantin sederhana berbahan renda putih, memegang buket bunga lili dari kebunnya sendiri. Saat ia melangkah di altar dan menatap Liam yang menunggunya dengan mata berkaca-kaca, Kalea tahu bahwa perjalanan panjangnya telah berakhir.

"Saya, Liam Jionel, berjanji untuk menjagamu dalam suka dan duka, dalam kekayaan maupun kesederhanaan, sampai maut memisahkan kita," ucap Liam dengan suara tegas yang bergema di seluruh gereja.

Saat mereka bertukar janji, Leo berteriak dari bangku depan, "Papa! Mama! Ayo cium!"

Seluruh tamu tertawa, memecah suasana haru menjadi penuh keceriaan. Liam menarik Kalea ke dalam ciuman yang lembut namun penuh komitmen—sebuah ciuman yang menandai berakhirnya kontrak satu miliar dan dimulainya kontrak selamanya.

Sore hari, setelah acara selesai, Kalea dan Liam duduk di bangku taman belakang rumah mereka, melihat matahari tenggelam di balik pegunungan Alpen. Leo sedang asyik bermain dengan anjing Golden Retriever baru pemberian Kenzo.

"Jadi, apa rencana kita selanjutnya, Nyonya Jionel?" tanya Liam sambil menyesap kopinya.

Kalea menyandarkan kepalanya di bahu Liam, menatap jari mereka yang kini bertautan. "Rencananya? Menanam lebih banyak bunga lili, melihat Leo masuk sekolah dasar, dan mungkin... memberikan Leo seorang adik perempuan agar rumah pohonmu tidak terlalu sepi?"

Liam menoleh dengan mata berbinar. "Seorang adik? Kau serius?"

Kalea mengangguk sambil tersenyum misterius. "Mungkin satu tahun lagi?"

Liam tertawa, ia memeluk Kalea sangat erat. Di bawah langit Hallstatt yang berubah warna menjadi keunguan, sang merpati dan sang singa akhirnya benar-benar menyatu. Mereka telah melewati api, mereka telah melewati badai, dan mereka telah melewati kegelapan obsesi.

Kehormatan yang dulu sempat dianggap "hilang", kini telah kembali dalam bentuk yang paling mulia: sebuah keluarga. Kontrak satu miliar itu mungkin adalah awal yang buruk, namun cinta yang tumbuh di atas puing-puingnya adalah hadiah yang tak ternilai harganya.

Di tepi danau itu, cinta mereka akan terus mekar, seindah bunga lili di musim semi, dan sekuat pegunungan Alpen yang menjulang tinggi.

1
lia juliati
semoga hatinya selalu hangat oleh kalea
arilias
thor kpn cerita nya di lanjut?
arilias
masyaalloh cerita nya bagus bgt. awal awal bikin aku gregetan. dan sekarang cerita nya bikin aku penasaran sama bab selanjutnya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!