Kalandra Wiranata adalah seorang Petugas Pemadam Kebakaran yang bertugas di sebuah Kota kecil.
Kota tempat tinggalnya itu terletak cukup strategis karena tepat berada di tengah - tengah dari lima Kabupaten di Provinsi itu.
Karena tempatnya yang strategis, Timnya kerap kali di perbantukan di luar dari Kotanya.
Timnya, bukan hanya sekedar rekan kerja. Mereka sudah seperti keluarga kedua yang di miliki oleh Kalandra.
Karna sebuah kejadian, Kalandra pun di pertemukan dengan seorang wanita yang ternyata merupakan jodohnya.
Selain perjalanan karir dan cinta, ada sebuah rahasia yang akhirnya terungkap setelah selama ini selalu membuatnya penasaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Lautan Awan
"Na... Bangun..." Kalandra membagunkan Naina yang masih bergelung dengan sleeping bagnya.
Ia tersenyum kala melihat wajah Naina yang tetap cantik bahkan saat sedang tidur seperti ini.
"Na, Sayang... Ayo bangun, kita siap - siap summit." Kalandra kembali membangunkan Naina sambil memainkan pipi dan hidung Naina.
"Iya, Bang. Ini jam berapa?" Tanya Naina dengan suara serak khas orang bangun tidur.
"Jam dua." Jawab Kalandra.
Perlahan, Naina pun mengerjapkan matanya. Berusaha mengumpulkan kesadaran yang masih berserakan di mana - mana.
"Abang gak tidur?" Tanya Naina yang masih setengah sadar.
"Tidur."
"Kapan?"
"Tadi."
"Bohong!"
"Enggak, Sayang. Abang tidur jam sebelas, semalam." Jawab Kalandra yang membuat Naina berhenti mendebatnya.
Naina pun kemudian beranjak setelah membereskan sleepingbagnya. Sementara Kalandra masih membereskan daypack yang akan ia bawa ke puncak nanti.
Wuusshh!
Angin yang sangat dingin, terasa menusuk tulang ketika Naina membuka pintu tenda.
"Allahhu Akbar!" Kata Naina.
"Kenapa, Na?" Tanya Kalandra.
"Dingin banget di luar, Bang." Jawab Naina yang membuat Kalandra terkekeh.
Meski begitu, gadis itu tetap keluar dan menghidupkan kompor portabel untuk merebus air. Naina berjongkok di depan kompor yang airnya mulai memunculkan uap.
"Abang mau sarapan?" Tanya Naina yang selalu menjadi Chef Gunung.
"Boleh, Na. Tapi jangan nasi atau mie, ya." Jawab Kalandra.
"Haish! Ada - ada aja Abang ini. Kita lagi di gunung, lah, bukan di Kota." Gerutu Naina sambil geleng - geleng kepala.
Ia pun mulai melihat stok perbekalan yang masih cukup banyak itu. Naina mengambil sisa roti tawar, keju, dan kornet. Dengan cepat, ia membuat sandwich untuk sarapan mereka.
"Masih banyak aja logistik kita, Na." Kata Kalandra saat melihat stok logistik mereka.
"Alhamdulillah, banyak barter sama pendaki lain, Bang." Jawab Naina.
"Sebelum turun nanti di bagikan aja ke pendaki yang mau. Biar gak terlalu berat. Itu stok beras sama mie juga masih ada." Kata Kalandra.
"Lagian cuma berdua, tapi bawa logistik kayak berempat." Ujar Naina.
"Siapa coba yang bawa?" Tanya Kalandra. Naina pun mengangkat tangannya sendiri sambil terkekeh.
"Lihat tuh, keripik sama makanan siap makan aja masih banyak." Kata Kalandra.
"Aku kira Abang suka nyemil, taunya enggak." Sahut Naina.
Tak lama, ia pun selesai dengan sarapan ringan juga dua gelas kopi panas. Ia pun memanggil Kalandra yang masih sibuk di dalam tenda untuk menyantap sarapan mereka.
"Biar gak kedinginan." Kata Kalandra yang menyampirkan selimut tipis di punggung Naina.
"Makasih, Bang." Ucap Naina.
"Kamu gak sarapan?" Tanya Kalandra sambil mengangkat sandwich di tangannya.
"Enggak ah, nanti aja. Aku belum laper." Jawab Naina.
"Makan, nih." Kata Kalandra sambil menyodorkan sandwich di tangannya tepat di depan mulut Naina.
"Gak mau." Tolak Naina.
"Jalan kita ke puncak gak mudah. Cuaca juga dingin banget kayak gini. Diisi perutnya walaupun cuma sedikit, Sayang." Bujuk Kalandra.
Meskipun nampak enggan, akhirnya Naina menggigit juga sandwich yang di suapkan Kalandra.
Tepat pukul tiga pagi, mereka berdua sudah siap berangkat. Tak lupa, mereka berdua berdoa terlebih dahulu sebelum mendaki.
Kalandra pun memeriksa jaket, topi, syal, juga headlamp yang di kenakan oleh Naina. Ia memastikan jika tubuh Naina terbalut dengan benar agar tak kedinginan.
"Abang kayak lagi meriksa anak kecil yang baru belajar pake baju." Protes Naina.
"Biasanya kamu gak bener pake jaketnya." Jawab Kalandra.
Pria itu kemudian berjongkok dan membenarkan ikatan tali sepatu Naina.
"Udah kenceng kok, Bang." Kata Naina yang ikut berjongkok saat Kalandra berjongkok.
"Good! Abang cuma mastiin biar kamu aman." Kata Kalandra sambil mengusap puncak kepala Naina.
Mereka pun memulai perjalanan mereka dini hari itu. Beberapa pendaki juga akan summit pun juga berjalan hampir bersamaan dengan mereka.
"Awas akar di sebelah kiri, Na." Kata Kalandra yang berjalan di belakang Naina.
"Pijak yang sebelah kanan, Na..."
"Awas yang sebelah kanan licin."
"Na, hati - hati. Itu jalanannya berlumut." Cicit Kalandra yang selalu memperingatkan Naina.
Naina pun menghentikan langkah dan memutar tubuhnya hingga kini berada tepat di hadapan Kalandra.
"Abang ih, berisik. Aku juga lihat, kan aku pakai headlamp." Omel Naina sambil mencapit bibir Kalandra.
Kalandra sendiri hanya bisa terkekeh, terlebih melihat wajah kesal Naina karena ia yang terus berisik.
"Iya, iya. Ayo kita lanjut lagi." Kekeh Kalandra sambil memutar tubuh kekasihnya.
"Abang, istirahat dulu sebentar, ya." Pinta Naina ketika mereka sampai di batas vegetasi. Jalanan yang terus menanjak, tentu sangat menguras tenaga.
"Capek?" Tanya Kalandra.
"Enggak, engap." Jawab Naina yang membuat Kalandra tersenyum sambil memandangi gadis cantik yang terengah - engah itu.
"Mau Abang gendong?" Tawar Kalandra.
"Enggak, Bang. Aku masih kuat kok. Cuma perlu ambil nafas aja sebentar." Jawab Naina.
"Emang dari tadi nahan nafas?" Ledek Kalandra.
"Astaghfirullah. Abang ini nguji kesabaran banget." Cicit Naina yang membuat Kalandra tertawa.
"Nih, biar semangat." Kalandra menyuapkan sepotong coklat pada Naina.
"Abang punya coklat?" Tanya Naina yang di jawab anggukan oleh Kalandra.
"Sengaja Abang simpen. Biar kamu gak makan terlalu banyak, nanti sakit gigi." Kata Kalandra sebelum mendengar protes dari Naina.
"Gigi aku sehat tau, Bang. Mau makan coklat satu karung juga gak apa - apa." Jawab Naina.
"Yaudah, nanti kalau udah pulang, Abang belikan coklat satu karung." Kata Kalandra yang membuat Naina tertawa.
"Ayo, jalan lagi." Ajak Kalandra sambil menggandeng Naina.
Setelah menempuh pendakian yang cukup sulit, mereka pun akhirnya sampai di Puncak Gunung.
Kondisi masih gelap ketika mereka sampai di puncak. Meski begitu, kondisi di sana sudah cukup ramai oleh Pendaki yang sudah sampai lebih dulu.
"Wuuaah!" Naina tampak sangat bahagia karena bisa menjejakkan kaki di Puncak Gunung itu.
Gadis cantik itu menghirup dalam - dalam oksigen yang ada di sana sambil memejamkan mata dan merentangkan tangan.
Kalandra hanya bisa tersenyum sembari mengambil gambar Naina yang sedang menikmati udara segar dan dingin di Puncak Gunung.
"Ayo ke sebelah sini." Ajak Kalandra sambil menggandeng tangan Naina.
Keduanya kemudian duduk di atas sebuah batu besar sambil menikmati coklat panas juga perbekalan lain yang mereka bawa.
"Awas panas." Kata Kalandra saat memberikan coklat panas pada Naina.
"Makasih ya, Bang." Ucap Naina yang di jawab senyuman oleh Kalandra.
Pria tampan itu, seolah tak bisa mengalihkan pandangannya dari Naina. Gadis cantik di depannya yang sedang menikmati suasana di Puncak Gunung.
"Wuaah! Wuaaaah! Abang, lihat" Seru Naina kala matahari mulai menampakkan wujudnya.
Lautan awan perlahan mulai nampak di hadapannya. Pemandangan yang tentu sangat memukau mata.
Naina berdiri sambil menikmati pemandangan yang ingin sekali ia lihat langsung. Ia pun mengabadikan pemandangan indah itu dengan kamera poselnya.
"Dingin banget, ya?" Tanya Kalandra sembari memeluk tubuh Naina dengan long coat yang ia kenakan.
"Tapi ini terlalu indah." Kata Naina yang tersenyum sambil melihat Kalandra yang memeluknya dari belakang.
Naina pun mengarahkan kamera ponsel ke arah mereka berdua. Mengambil foto bersama dengan lautan awan sebagai latarnya.
"Makasih ya, Bang. Udah bawa aku sampai di sini dan bikin momen indah di hidupku." Ucap Naina yang merasa nyaman dalam dekapan hangat Kalandra.
"Sama - sama, Sayang. Next time, Abang ajak menikmati keindahan Gunung lain." Kata Kalandra.
yg crita stunya ko serem sih thor..
doble up donk