NovelToon NovelToon
I Love You, Mas Kades

I Love You, Mas Kades

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Niat hati menjalani KKN dengan tenang, Mikayla (25) malah mencatat skor buruk di hari pertama: memaki pria berjaket denim yang ternyata adalah Alvaro (30), sang Kepala Desa Asih yang dingin dan otoriter.
Bagi Mika, Alvaro adalah penghambat kelulusannya yang sangat menyebalkan. Bagi Alvaro, Mika hanyalah mahasiswi kota manja yang terlalu banyak bicara. Namun, di antara riset perairan dan debu jalanan desa, arus perasaan mulai mengalir di luar kendali. Di Desa Asih, mampukah Mika menaklukkan kerasnya hati Pak Kades, atau justru ia yang tenggelam dalam pesonanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11

Malam di Desa Asih bisa menjadi sangat sunyi, namun bagi mahasiswa kota seperti Mika, masalah terbesarnya bukanlah kesunyian, melainkan sinyal ponsel yang seolah bermain petak umpet. Di dalam posko, indikator sinyal di ponselnya hanya menunjukkan satu baris tipis yang seringkali hilang sama sekali. Padahal, ia sudah sangat merindukan suara mamanya di Jakarta.

"Aduh, Ma... suaranya putus-putus!" seru Mika sambil mengangkat ponselnya tinggi-tinggi ke udara, seolah-olah dengan begitu ia bisa menangkap frekuensi yang melayang di langit.

Mika melangkah keluar dari teras posko. Ia berjalan perlahan, matanya terpaku pada layar ponsel, kakinya melangkah mengikuti ke mana pun arah baris sinyal itu bertambah. Tanpa sadar, ia sudah melewati batas jalan utama desa yang biasanya ia lewati. Ia terus berjalan menyusuri jalanan setapak yang dihiasi lampu-lampu taman yang estetis dan pagar kayu yang rapi.

"Iya halo, Ma... iya, ini aku betah kok," ucap Mika akhirnya saat sinyalnya stabil menjadi tiga baris. Ia berhenti melangkah, berdiri di bawah sebuah lampu jalan yang temaram. "He-em, suasana di sini enak sih, seger kalau pagi. Cuman kalau siang... ampun deh, Ma, panas banget. Berasa kulit aku dipanggang."

Mika terkekeh pelan mendengar wejangan mamanya di seberang telepon. Ia bersandar pada sebuah gerbang kayu besar yang kokoh, tidak menyadari bahwa bangunan di balik gerbang itu adalah rumah paling besar dan paling asri di desa tersebut.

"Iya, Mama sama Papa gimana? Sehat kan? Jangan lupa minum vitaminnya ya. Arga sama Siti juga baik kok di sini, mereka malah asyik gosip terus," Mika terus berceloteh, sesekali memutar tubuhnya, masih memunggungi halaman rumah tersebut.

Ia tidak sadar bahwa di balik gerbang itu, ada sebuah rumah bergaya joglo modern dengan penerangan lampu kuning hangat yang mewah. Di terasnya, sebuah motor Ninja hitam terparkir rapi.

Di dalam rumah, Alvaro sedang duduk di ruang tamu bersama adik laki-lakinya yang berumur sekitar 19 tahun, bernama Rio. Rio adalah mahasiswa tingkat awal yang sedang libur semester dan pulang ke desa. Berbeda dengan Alvaro yang kaku dan dingin, Rio jauh lebih santai dan penuh rasa ingin tahu.

Rio baru saja hendak keluar untuk membeli rokok di warung depan ketika ia melihat siluet seorang gadis berdiri tepat di depan gerbang rumah mereka. Gadis itu memakai piyama biru dan memegang ponsel, tampak asyik mengobrol.

Rio mengerutkan kening, lalu kembali masuk ke dalam ruangan.

"Mas Al... itu siapa di depan gerbang? Mahasiswi KKN ya?" tanya Rio sambil menunjuk ke arah luar.

Alvaro yang sedang membaca laporan desa langsung mendongak. Ia meletakkan kacamatanya, lalu berjalan menuju jendela. Matanya menyipit. Meskipun hanya melihat punggungnya, ia sangat mengenali postur tubuh itu. Rambut yang dikuncir asal, gaya bicara yang ekspresif meski sedang menelepon, dan piyama kotak-kotak yang tempo hari ia lihat di warung nasi goreng.

"Mikayla," gumam Alvaro pelan.

"Oh, namanya Mikayla? Cantik juga ya dari belakang. Dia ngapain malem-malem di depan rumah kita? Mau apel sama Mas?" goda Rio sambil menyeringai nakal.

Alvaro tidak menjawab. Ia segera menyambar jaket denimnya yang tersampir di kursi dan melangkah keluar. Rio mengikuti di belakang dengan penuh semangat, ingin melihat "drama" apa yang akan terjadi.

Mika masih asyik mengobrol. "Oh ya Ma, ada satu orang di sini yang nyebelin banget. Namanya Alvaro, dia Kepala Desanya. Masih muda sih, tapi galaknya ampun—"

"Galak kenapa, Mikayla?"

Suara rendah dan berat itu terdengar tepat di belakang telinganya. Mika tersentak hebat, ponselnya hampir saja meluncur dari tangannya kalau ia tidak segera menangkapnya dengan refleks kilat. Ia berbalik dengan jantung yang seolah mau melompat keluar dari tenggorokan.

Di depannya, Alvaro berdiri dengan tangan dimasukkan ke saku jaket, menatapnya dengan tatapan "menghakimi" yang sangat familiar. Dan di sampingnya, ada seorang remaja laki-laki yang sedang menahan tawa.

"E-eh... Ma, nanti aku telpon lagi ya. Bye!" Mika langsung mematikan sambungan teleponnya.

Ia menoleh ke sekeliling, dan matanya membelalak saat melihat papan kecil di samping gerbang yang bertuliskan: KEDIAMAN KEPALA DESA ASIH.

"Loh... ini... ini rumah Bapak?!" pekik Mika, wajahnya seketika berubah merah padam di bawah lampu jalan.

"Kamu baru sadar setelah bersandar di pagar saya selama sepuluh menit?" tanya Alvaro datar. "Dan saya dengar tadi kamu sedang membicarakan saya dengan ibumu? 'Galaknya ampun'?"

Mika tergagap, mencari-cari alasan yang masuk akal. "I-itu... itu tadi... sinyal! Iya, sinyalnya cuma ada di sini! Saya nggak tahu kalau ini rumah Bapak! Saya kira ini cuma rumah warga biasa yang pagarnya bagus!"

Rio maju selangkah, memberikan senyum lebar yang ramah. "Halo, Kak Mikayla ya? Kenalin, aku Rio, adeknya Mas Al yang 'galak' ini. Wah, ternyata aslinya lebih cantik ya daripada ceritanya Mas Al."

Alvaro langsung menyikut perut adiknya pelan, membuat Rio meringis tapi tetap cengengesan.

"Rio, masuk," perintah Alvaro tegas.

"Dih, galaknya keluar beneran kan, Kak? Aku masuk dulu ya, Kak Mikayla. Jangan kapok main ke sini, biar rumah ini ada manis-manisnya dikit!" seru Rio sambil berlari masuk ke dalam rumah.

Kini tinggal Mika dan Alvaro yang berdiri di depan gerbang. Suasana menjadi canggung. Mika meremas ponselnya, ingin sekali rasanya menghilang ditelan bumi saat itu juga.

"Maaf, Pak. Saya beneran nggak maksud ganggu. Saya cuma cari sinyal buat telpon Mama," ucap Mika pelan, kali ini tanpa nada membangkang.

Alvaro menatap Mika cukup lama. Ia melihat Mika yang kedinginan, bahunya sedikit bergidik karena angin malam yang kencang. Tanpa bicara, Alvaro membuka gerbang kayunya lebih lebar.

"Masuklah," ucap Alvaro.

"Eh? Nggak usah, Pak! Saya mau balik ke posko aja."

"Sinyal di sini memang paling kuat karena ada repeater kecil di atas bukit belakang rumah saya," jelas Alvaro. "Masuk ke teras. Di sana ada kursi. Selesaikan telponmu kalau memang masih ada yang mau dibicarakan dengan orang tuamu. Di luar sini banyak nyamuk, dan kamu cuma pakai piyama tipis begitu."

Mika ragu-ragu, tapi tawaran sinyal itu terlalu menggoda. Ia akhirnya melangkah masuk ke halaman rumah Alvaro yang sangat rapi. Ada taman kecil dengan bunga-bunga yang terawat dan kolam ikan mini yang suaranya menenangkan.

Mereka duduk di kursi kayu di teras. Alvaro duduk di kursi sebelah, jarak mereka hanya terhalang oleh sebuah meja kecil.

"Kenapa Bapak nggak pernah bilang kalau punya adek?" tanya Mika mencoba memecah keheningan.

"Kamu tidak pernah tanya. Lagipula, apa gunanya kamu tahu urusan pribadi saya?" balas Alvaro, tapi nadanya tidak sedingin biasanya. Ia menyodorkan sebuah kaleng minuman hangat yang tadi sempat ia ambil dari dalam. "Minum. Biar badanmu hangat."

Mika menerima minuman itu. "Makasih, Pak. Bapak... ternyata perhatian juga ya sama adek Bapak. Tadi cara Bapak nyuruh dia masuk itu... kayak bapak-bapak banget."

Alvaro terkekeh tipis. "Rio itu satu-satunya keluarga yang saya punya sekarang. Dia sedikit bandel, tapi dia pintar. Dia bilang kamu cantik, itu artinya dia punya selera yang bagus."

Mika tersedak minumannya sendiri. "Bapak... barusan muji saya?"

Alvaro memalingkan wajahnya ke arah kolam, mencoba menyembunyikan senyumnya. "Saya cuma mengulang omongan Rio. Jangan terlalu percaya diri."

Malam itu, di teras rumah yang sunyi, Mika dan Alvaro berbicara banyak hal yang tidak pernah mereka bicarakan di balai desa atau di dermaga. Alvaro bercerita tentang ibunya yang tinggal di kota bersama Rio, dan bagaimana ia memilih tinggal di desa untuk menjaga tanah kelahiran mereka.

Mika juga bercerita tentang ketakutannya tidak bisa menyelesaikan skripsi tepat waktu, dan betapa ia sebenarnya sangat menyukai suasana Desa Asih meskipun ia sering mengeluh panas.

"Bapak tahu nggak, sebenernya saya kagum sama Bapak," ucap Mika tiba-tiba.

Alvaro menoleh, menaikkan alisnya. "Kagum? Setelah semua makian 'Dajjal' yang kamu berikan?"

Mika tertawa kecil. "Iya. Bapak muda, berwibawa, dan warga di sini beneran hormat sama Bapak. Bapak bisa aja hidup enak di Jakarta, tapi Bapak milih di sini. Itu... keren."

Alvaro terdiam. Ia menatap Mika dengan pandangan yang sangat dalam, seolah sedang mencari kejujuran di mata gadis itu. Di bawah cahaya lampu teras yang kuning, wajah Mika terlihat sangat lembut dan tulus.

"Mikayla," panggil Alvaro pelan.

"Ya, Pak?"

"Lain kali, kalau mau cari sinyal... jangan sendirian malam-malam begini. Bahaya. Kamu bisa langsung ketuk gerbang saya saja. Saya tidak akan menggigit."

Mika tersenyum lebar, sebuah senyuman yang membuat jantung Alvaro berdegup tak beraturan. "Siap, Pak Kades! Tapi jangan galak-galak ya kalau saya ketuk gerbangnya."

Saat Mika hendak pamit pulang, Rio kembali muncul dari balik pintu dengan membawa sebuah kantong plastik. "Kak Mika! Ini ada kue buatan bibi di dapur, dibawa aja buat temen-temen di posko. Dan Mas Al... jangan lupa, besok pagi kan ada acara senam warga, Mas Al harus jemput Kak Mika ya!"

"Rio!" bentak Alvaro malu.

Mika tertawa kencang, ia melambaikan tangan pada Rio dan Alvaro sambil berjalan keluar gerbang. "Makasih kuenya, Rio! Makasih sinyalnya, Pak Kades!"

Mika berjalan pulang menuju posko dengan perasaan yang sangat ringan. Piyama biru dan sandal jepitnya seolah menari di atas aspal desa. Ia tidak menyadari bahwa di balik gerbang rumah itu, Alvaro masih berdiri menatap punggungnya sampai benar-benar menghilang di tikungan jalan.

"Mas... Mas Al beneran suka ya sama dia?" tanya Rio sambil menyenggol bahu kakaknya.

Alvaro tidak menjawab, ia hanya memutar kunci gerbangnya dengan senyuman tipis yang sangat lama tak pernah terlihat. "Masuk, Rio. Sudah malam."

Malam itu, sinyal ponsel mungkin membawa Mika ke rumah Alvaro, tapi sinyal hati yang terpancar di antara mereka jauh lebih kuat dari apa pun yang bisa ditangkap oleh frekuensi ponsel.

1
Chusnul Chotimah
itulah klo lagi kasmaran,dunia terasa hampa tanpa hadirnya...cuit..cuittt.alvaro sama Mika mau melepas rindu,,reader boleh tutup telinga tapi tak boleh tutup mata
yulia annisa
lanjut kaaaanbthooor
Lola Maulia
🥰🥰🥰🥰
Chusnul Chotimah
lanjut Thor,,semangat ya💪.
Chusnul Chotimah
mulai sedikit tersepona ya Mik sama mas kades🥰😄
Chusnul Chotimah
semangat Mik,tunjukin kamu bisa.taklukkan hati penguasa desa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!