Min Ara wanita yang di jodohkan dengan Jeon Jason, lelaki tampan yang mempunyai kharisma kuat yang merupakan seorang putra tunggal dari keluarga Jeon.
Sebagai syarat lelaki itu mendapatkan seluruh hak warisnya, Jason harus menikah dengan Ara.
Ara mengira kehidupannya akan bahagia dengan menjadi istri Jeon Jason, tetapi semua itu hanya ada dalam angannya saja. Jason yang berstatus suaminya itu, tidak lebih dari seorang iblis yang selalu menyakiti hatinya.
Ara tidak bisa mengelak perasaannya yang mulai terjebak di dalam lingkaran yang di buat Jason, tetapi itu semua adalah sebuah kesalahan besar baginya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MTMH18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11| Kedua Matamu
Ara memasuki pekarangan rumahnya setelah langit berubah menjadi gelap, sebab ia masih berbincang dengan Marten.
Ternyata Marten adalah orang yang sangat mengasikkan dan mereka langsung terhubung ke dalam percakapan yang menarik.
Ara juga di antar oleh Marten, lelaki itu memaksa untuk mengantarnya dan akhirnya Ara menerima tawarannya saat melihat wajah memelas dari Marten yang membuat Ara tidak enak untuk menolaknya.
“Terima kasih untuk hari ini Park Marten!” ucap Ara melambaikan tangannya kelada Marten yang melihatnya di balik jendela mobilnya.
“Sama-sama Jeon Ara, sungguh hari ini sangat menyenangkan! Kapan-kapan kita ke sana lagi dan aku akan menjemputmu,” ujar Marten dengan senyum lebarnya.
“Tentu, aku sangat bahagia bisa menghabiskan waktu hari ini bersamamu,” ucap tulus Ara.
“Ya sudah kau masuk dulu sana! Aku pamit dulu ya?” pamit Marten yang dibalas lambaian tangan dan senyuman lebar yang masih belum memudar di bibir Ara.
Ara memasuki rumahnya dan ia mengetatkan jaket yang ia gunakan, Ara membulatkan matanya saat baru menyadari jaket Marten masih melekat di tubuhnya.
Ara menatap jaket yang di pakainya dan mendesah pelan, ia memukul kepala sendiri saat mengetahui kebodohannya.
“Kenapa aku bisa bodoh begini? Sampai jaket Marten aku lupakan!” seru kesal Ara.
Ia melepaskan jaket Marten yang melekat di tubuhnya, Ara kembali melangkah, namun ada yang berdiri di hadapannya, ia melihat sebuah sepatu hitam kesayangan Jason.
Ara mendongakkan kepalanya dan melihat Jason berdiri di hadapannya dengan tatapan tajamnya. Namun, Ara hanya mengendikkan bahu acuh, lalu melewatinya. Lelaki itu menahan lengannya dan menariknya dengan kasar.
Ara meronta, tapi hal itu hanya sia-sia, tenaganya tidak sebanding dengan tenaga yang dimiliki oleh Jason.
“Dari mana saja kau? Jam segini baru pulang?” tanya Jason setelah melepaskan tangan Ara dan menghempaskannya ke atas ranjang.
Ara langsung meringis pelan, karena merasakan sakit di badan dan kakinya yang terkatuk pintu tadi saat masuk ke dalam kamar.
“Bukan urusanmu!” balas Ara membuat Jason mengeraskan rahangnya, ia naik ke atas ranjang dan menahan bahu Ara.
Ara kembali meringis merasakan remasan tangan sang suami di bahunya.
“Kau cukup berani juga ya denganku!” desis Jason menatap tajam Ara yang masih enggan menatapnya.
Jason menarik paksa dagu Ara agar wanita itu menatap matanya. Ara memejamkan matanya, ia menahan air matanya yang hampir keluar dari pelupuk matanya. Jason yang terus menatapnya dengan tajam dan mulai kesal, karena Ara tidak mau menatap matanya.
“Buka matamu!” marah Jason yang di balas gelengan oleh Ara.
“Aku bisa berbuat kasar kalau kau tidak mau membuka kedua matamu!” ancam Jason yang membuat Ara perlahan membuka kedua matanya yang terpejam rapat, air matanya mulai berjatuhan dan membasahi pipi wanita itu.
Ara paling tidak suka ada orang yang melihatnya menangis seperti ini. Apalagi Jason yang selalu kasar kepadanya, ia tidak ingin menunjukkan sisi lemahnya.
“Kau!” Jason terdiam saat menatap dalam mata berair Ara, lelaki itu dapat melihat begitu banyak luka di tatapan itu dan yang membuatnya semakin tidak mengerti saat kedua mata sang seperti kehilangan kilauannya.
Ada banyak rahasia yang di rasakan Jason lewat tatapan itu dan hatinya terasa nyeri. Mata yang terlihat seperti menghapus sebuah kenangan di masa lalunya, perlahan tangan Jason beralih menarik sang istri ke dalam dekapannya.
Ara mulai menangis keras, ia tidak bisa lagi menahannya. Semakin lama ia akan merasa semakin sakit. Tangan Jason perlahan mengusap punggung bergetar Ara, ia bisa merasakan betapa pedihnya suara isak Ara.
“Menangislah!” titah Jason membuat tangis Ara semakin menjadi dan Ara memeluk erat lelaki itu.
Jason sempat menegang merasakan pelukan nyaman dari Ara. Ia tidak pernah merasakan pelukan seperti ini dari siapa pun.
Cukup lama Ara menangis dan kini Jason mendengar deru napas sang istri yang normal, ia menurunkan pandangannya dan melihat Ara sudah tertidur.
Jason tersenyum kecil dan mulai merebahkan Ara di atas ranjang. Ia membuka sepatu Ara dan padangannya terkunci dengan luka lebam di kaki kiri Ara, ia teringat tadi Ara sempat kepentok pintu saat ia menariknya. Lelaki itu beranjak keluar dari kamar Ara, ia mengambil kotak obat yang selalu di letakkan di lemari kecil dekat televisi.
Jason kembali memasuki kamar Ara dan menutup pelan pintu kamar Ara agar tidak membangunkannya, dengan hati-hati lelaki itu menaiki ranjang Ara. Ia mengambil kaki Ara yang terluka, dengan perlahan ia mulai mengobati luka Ara dan meniupnya pelan saat Ara terusik dengan pengobatan yang ia berikan.
Setelah selesai, Jason menutup kembali kotak obat dan menyimpannya di nakas dekat lampu tidur.
“Kau pasti lelah,” gumam Jason menarik selimut untuk Ara, ia menatap wajah damai istrinya yang sedang terlelap.
Perlahan tangan Jason menyingkirkan anak rambut Ara yang menutupi wajah cantik sang istri, Jason akui Ara memang sangat cantik, lembut dan tulus. Tapi, egonya menutupi semuanya dan membuatnya buta.
“Kau tahu? Kalau saja kita tidak di satukan dengan pernikahan sialan ini! Aku mungkin saja bisa jatuh hati kepadamu! Aku juga baru sadar keberadaanmu di kantor, kalau kita di pertemukan sebelum aku bersama Heori. Aku akan memilihmu,” gumam Jason membaringkan tubuhnya di sebelah Ara.
Lelaki itu terus menatap wajah cantik Ara, wajahnya mulai mendekati wajah Ara dan ia mencium lama kening sangistri. Jason sampai memejamkan matanya dan tersenyum kecil, lalu ia menjauhkan wajahnya.
“Aku baru sadar saat menatapmu tadi, di kedua matamu itu telah hilang kilauannya dan aku bisa melihatnya, kau mencoba untuk menghapus sebuah kenang di masa lalumu. Apakah itu juga yang membuatmu seperti itu? Selalu bermimpi buruk, apakah masa lalumu itu menyakitkan sampai kau mencoba untuk menghilangkannya?” tanya Jason kepada Ara yang sedang tertidur.
“Ah—aku sudah seperti orang gila saja berbicara dengan orang yang sedang tidur,” Jason menggelengkan kepalanya dan menatap langit kamar yang di tempati Ara.
“Di sini sangat nyaman sekali,” gumam Jason menaruh kedua tangannya di belakang kepala untuk menopang beban kepalanya, ia menjadikan tangannya sebagai bantal.
Jason terus terdiam sambil merenungkan segalanya, ia sangat ingin tahu tentang masa lalu Ara. Yang membuat sang istri seperti ini.
Lelaki itu melirik Ara yang mulai tidak tenang dalam tidurnya. “Apakah kau sedang bermimpi buruk?” tanyanya sambil mengusap lembut pipi Ara.
“Kau meninggalkan jejak yang sangat menyakitkan untukku,” lirih Ara di dalam tidurnya, Jason terdiam mendengarnya.
“Saat aku mencoba untuk memahami semuanya, semakin lama aku merasakan sakit yang semakin dalam. Kau tahu aku selalu tertidur dengan keheningan yang menakutkan?” lanjut Ara di susul dengan isakan kecil di bibirnya.
“Sstt! Tenanglah aku di sini!” bisik Jason sambil menarik Ara ke dalam pelukannya.
Lelaki itu sedikit bingung dengan kata-kata Ara, ia merasa sesuatu yang aneh. Tetapi Jason tidak paham betul itu apa. Yang ia tahu Ara sangat misterius dengan luka dan rahasia yang di simpan olehnya.
Bersambung...