Dilarang memplagiat karya!
"Dia memilih kakakku..." --Hawa--
"Dan aku memilihmu. Bukan karena tidak ada pilihan lain, Hawa. Tapi karena memang hanya kamu yang aku mau." --Ramadan--
Hawa terpaksa menelan kenyataan pahit saat Damar--sahabat sekaligus laki-laki yang dicintainya, justru melamar Hanum--kakak kandungnya.
Di tengah luka yang menganga, hadir Ramadan sebagai penyejuk jiwa. Tak sekadar menawarkan cinta, Ramadan juga menjadi kompas yang menuntun Hawa keluar dari gelapnya kecewa menuju cahaya ketulusan yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayuwidia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 17 Wujud Surga
Happy reading
Di saat jamaah lain beranjak pergi, Hawa masih bergeming di atas sajadah. Ia menanti sosok yang ia yakini sebagai Rama keluar dari ruang utama.
Lima belas menit berlalu. Namun, sosok itu tak kunjung muncul. Justru, alunan kalam cinta terdengar melantun dari dalam, mengusir sunyi yang sejenak mendekap seisi ruang.
Hawa tercenung. Dadanya berdesir. Suara itu mengalun merdu, menggetarkan hatinya hingga air mata yang sedari tadi menganak di kelopak mata tak lagi kuasa ia tahan.
"Allah..." bisiknya lirih sembari menekan dada. Ia memejamkan mata, meresapi setiap bait dari Surah Ar-Rahman.
"Fabiayyiala irabbikuma tukazziban."
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
Hawa masih setia dalam diam. Ia menyimak dengan seluruh jiwanya hingga sang pemilik suara mengakhiri bacaan.
"Shadaqallahul 'adzhim..."
Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya.
Tak berselang lama, seorang pemuda keluar dari ruang utama sambil melafazkan zikir dan selawat. Pandangannya lurus ke depan, seolah dunianya hanya terisi oleh asma Illahi dan Rasul-nya, hingga ia tak menyadari keberadaan Hawa yang duduk bersimpuh di pojok ruang.
"Rama!" panggil Hawa lirih. Suaranya bergetar, namun cukup tajam untuk tertangkap oleh indra pendengaran pemuda itu.
Tak salah lagi, dia... Dzaki Ramadan Bagaskara.
Seketika Rama menoleh. Langkahnya terhenti saat matanya menangkap sosok gadis yang ia cintai.
"Hawa..." gumamnya pelan, diiringi lengkung senyum tulus.
Sekilas, tatapan mereka saling beradu--mengunci rindu yang sempat tertahan. Namun, Rama segera menarik pandangannya, lantas sedikit menunduk.
Hening.
Sunyi bertahta.
Hanya terdengar degup jantung yang bertalu merdu--berpadu dengan helaan napas pelan.
"Ayo kita keluar, Hawa!" ucap Rama memecah bisu yang sesaat menyergap.
Hawa menyeka wajahnya, lalu mengangguk. Melepas mukena yang dikenakan, melipatnya dengan rapi, menyimpannya kembali ke dalam lemari gantung. Kemudian membawa tubuhnya bangkit, berjalan mengikuti ayunan langkah kaki Rama yang tenang.
"Kita ngobrol di warung bakso Pak Asep, ya?" Rama kembali bersuara saat mereka hampir sampai di gerbang masjid.
"Iya, Ram." Sekali lagi Hawa mengangguk, mengikuti langkah Rama tanpa membantah.
Kebetulan warung bakso Pak Asep tak begitu ramai. Suasana di sana seolah memberi ruang bagi mereka untuk berbicara lebih leluasa.
"Gimana kabarmu, Wa? Udah satu minggu, ya, kita nggak bertemu," Rama membuka obrolan. Jemarinya sibuk mengaduk es teh manis yang baru saja disuguhkan oleh Pak Asep, membiarkan denting sendok yang beradu dengan gelas mengisi celah di antara mereka.
Hawa menarik napas panjang. Menatap Rama yang tengah menyesap es teh manisnya.
"Nggak begitu baik. Berasa digantung," jawabnya, mencoba menyisipkan canda untuk mengusir rasa canggung.
Rama mengulas senyum. "Nggak menggantung, Wa. Cuma sedang menjaga kemuliaan calon istri." Ia menjeda ucapannya sejenak, lalu menatap ke arah lain. "Kalau kita terlalu sering bertemu, aku khawatir nggak akan sabar untuk segera menemui walimu."
Seketika Hawa menunduk dalam. Ada debar tak biasa hadir, bersamaan dengan semburat merah yang diam-diam terlukis di wajahnya.
Namun, di balik debar di dalam dada, sebuah tanya masih menyelinap: apakah ini benar-benar cinta, atau sekadar kekaguman pada sosok yang begitu terjaga dan berperan sebagai penunjuk jalan cahaya?
"Sabar, ya. Sebentar lagi kita lulus," Rama melontarkan candaan, diiringi tawa khasnya. Tidak terbahak, tidak pula berlebihan. Kesahajaan itulah yang menjadi salah satu pesonanya.
Hawa mencebik. Ia perlahan mengangkat wajahnya, memberanikan diri menatap Rama.
"Kepedean banget! Memangnya aku udah menerima kamu sebagai calon suamiku?" ujarnya sembari melebarkan senyum, mencoba menantang keyakinan lelaki bermata teduh yang duduk di depannya.
"Diammu waktu itu udah mewakili jawaban, Wa. Bahkan, tatap rindu tadi nggak bisa kamu sembunyikan dan menegaskan."
Hawa kembali menunduk. Ia bergegas menyesap es teh manisnya, mencoba menutupi rona yang lagi-lagi menghiasi pipi. Rama berhasil membuatnya salah tingkah.
Beruntung, Hawa segera terselamatkan dari keadaan yang membuat jantungnya tak aman--Pak Asep berjalan menghampiri dengan membawa nampan berisi dua mangkuk bakso pesanan mereka.
"Monggo, disekecake (silakan dinikmati)," tutur Pak Asep ramah sembari menyajikan mangkuk-mangkuk itu di atas meja.
Hening kembali turun, memberikan ruang bagi mereka untuk menikmati kelezatan bakso khas Jawa. Menjeda sejenak obrolan yang tadi sempat diselipi keseriusan Rama.
Rama makan dengan sangat tenang, menunjukkan pembawaannya yang dewasa. Sementara itu, Hawa justru tampak kepayahan. Karena gagal fokus, ia tak sengaja memasukkan terlalu banyak sambal ke dalam mangkuknya. Wajahnya yang tadi merona karena malu, kini berubah merah padam karena kepedasan.
Rama yang menyadari Hawa sedang kepedasan segera bangkit mengambilkan segelas air es.
"Minum dulu, Wa!" ujarnya sembari menyodorkan gelas itu, lalu kembali duduk di hadapan Hawa.
"Makasih," jawab Hawa singkat. Ia menyambar gelas yang disodorkan Rama, meneguk airnya hingga tandas.
"Aku pesankan bakso lagi, ya? Yang pedas nggak usah dimakan," tawar Rama kembali menunjukkan perhatian.
Hawa buru-buru menggeleng. "Enggak usah," jawabnya cepat. "Aku udah kenyang, Ram."
Ia menyeka bibirnya yang memerah dengan tisu, lalu meraup udara dalam-dalam untuk mengusir sisa rasa pedas.
"Setelah ini, kita mampir ke Toko Annisa. Ada yang mau aku beli."
"Mau beli apa?" tanya Hawa penasaran.
"Ada," Rama menjawab singkat sembari mengulum senyum.
Tak ada lagi tanya. Hawa hanya mengangguk, menyetujui ajakan lelaki itu.
.
.
Aroma parfum ruangan yang lembut serta menyejukkan menyambut kedatangan Rama dan Hawa. Seorang pramuniaga segera menghampiri dengan senyum ramah yang profesional.
"Ada yang bisa kami bantu, Tuan, Nona?"
Rama tersenyum tipis, lalu mengangguk pelan. "Tolong pilihkan pasmina dan gamis yang paling cocok untuk calon teman hidup saya," jawabnya tenang, sembari melirik sekilas ke arah Hawa.
Jawaban itu seketika membuat dada Hawa kembali berdesir. Ada rasa hangat yang menjalar atas pengakuan Rama yang begitu konsisten. Hawa menyadari satu hal; Rama memiliki kesungguhan yang tak menyisakan celah sedikit pun untuk ia ragukan.
Tak butuh waktu lama, pramuniaga dengan papan nama Jingga itu kembali. Ia membawa selembar pasmina dan gamis berwarna senada--biru Wardah. Warna yang manis, lembut, sangat cocok jika dikenakan oleh Hawa.
"Mari, saya antar ke ruang ganti, Nona," ucap Jingga, tetap dengan keramahan yang terjaga.
Hawa tak langsung beranjak. Ia menatap Rama sejenak, seolah meminta persetujuan lewat binar matanya. Rama membalas dengan anggukan dan senyum tipis, mempersilakan Hawa untuk mengikuti langkah Jingga.
Selama Hawa berada di ruang ganti, Rama menunggu dengan sabar. Sembari menanti, jemarinya memilah beberapa koleksi pasmina, memilih warna-warna yang menurutnya akan tampak anggun jika dikenakan Hawa.
"Rama..." Suara Hawa memecah kaca lamun, seketika menarik seluruh atensi lelaki bermata teduh itu.
Rama menoleh, dunianya seolah berhenti sejenak.
Masya Allah, pujinya dalam senyap. Ia mengagumi mahakarya Tuhan di depannya yang tampak mendekati kata sempurna.
"Kamu terlihat lebih cantik... dan terjaga, Wa," ucapnya tulus, menatap Hawa dengan binar cinta yang tak bisa ia sembunyikan.
"Baiklah, aku ambil yang ini," ujar Hawa. "Tapi, biar aku bayar sendiri, ya?"
Rama menggeleng. "Aku yang bayar," suaranya rendah namun terdengar tegas, seolah tidak menerima bantahan apa pun.
"Tapi, Ram..."
"Jangan khawatir, Wa. Aku baru saja mendapat rezeki. Lebih dari cukup untuk membelikanmu beberapa setel gamis sekaligus." Rama mengembangkan senyum, meyakinkan Hawa dengan sebuah kedipan mata yang menenangkan.
Hawa dibuat ternganga saat mereka berdiri di depan kasir. Rupanya, Rama bukan hanya membelikannya selembar pasmina dan gamis, melainkan lima pasmina sekaligus dengan warna yang berbeda-beda.
"Rama, ini... harganya terlalu mahal," bisik Hawa sambil melirik angka yang tertera di layar monitor.
Rama justru terkekeh pelan. "Harganya nggak sebanding dengan keindahan yang terjaga, juga surga yang dijanjikan," tuturnya sembari menyodorkan kartu debit.
Hawa bergeming. Bibirnya terkatup rapat, tak kuasa membalas perkataan Rama yang begitu sarat akan makna.
Di dalam dadanya, keyakinan itu mulai tumbuh; Rama bukan sekadar sosok Adam yang singgah, melainkan wujud surga yang ia pinta dalam doa.
🍁🍁🍁
Bersambung
yg dikira perintis ternyata pewaris 😂😂
boleh lah kasih thr kami para pembacamu ini
upps..belum apa² dah komen