seorang yang miskin dan berubah rekrut menjadi mafia dan dipercaya menjadi CEO perusahaan besar
perebutan takhta dan warisan.
Aryo adalah karakter underdog yang kuat—seorang anak yatim piatu yang bukan sekadar beruntung, tapi memang memiliki kualitas "Dewa" yang diakui oleh sang kakek. Ini menciptakan dinamika yang berbahaya dengan Paman Budiono yang merasa memiliki "hak lahir" sebagai anak tertua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 25
Kemenangan di orbit membawa kesunyian yang asing di Astra Mawar. Namun, di bawah sana, di daratan yang kini menghijau, kesunyian itu segera pecah oleh suara-suara lama yang kembali muncul: ambisi dan ketakutan.
"Lar, kau harus melihat laporan dari Sektor Kalimantan dan Australia," Aan memecah keheningan di ruang kendali, wajahnya tampak lebih tegang daripada saat menghadapi armada The Hegemony. "Integrasi frekuensi ini memberikan dampak yang tidak merata. Di beberapa wilayah, warga mulai memuja modul Arca sebagai benda keramat. Tapi di wilayah lain... ada penolakan keras."
Laras mengernyitkan dahi. "Penolakan? Udara mereka sudah bersih, air mereka sudah jernih. Apa lagi yang mereka keluhkan?"
"Keterikatan," jawab Aan pendek. "Beberapa kelompok politik lama yang tersisa merasa bahwa 'Menyatu' dengan planet adalah bentuk kontrol total. Mereka menyebutnya 'Kediktatoran Bio-Arca'. Mereka tidak ingin pikiran atau kesehatan mereka bergantung pada frekuensi yang dikendalikan oleh Astra Mawar."
Dio, yang sedang mengelap sisa jelaga di wajahnya, mendengus. "Manusia memang aneh. Diberi racun Konsorsium selama puluhan tahun mereka diam saja, tapi diberi kesembuhan gratis mereka malah curiga. Mereka ingin kembali ke cara lama, Lar. Cara di mana mereka bisa saling menjatuhkan tanpa merasa sakit yang sama."
Laras terdiam, menatap layar yang menunjukkan kericuhan kecil di sebuah pemukiman di pinggiran Jakarta. Di sana, sekelompok orang mencoba membongkar instalasi akar mawar yang baru saja dipasang Pandu.
"Aku harus turun," kata Laras tiba-tiba.
"Jangan," sela Sinta yang baru saja masuk dengan nampan berisi ransum. "Jika kau turun sekarang dengan otoritas Astra Mawar, kau hanya akan memperkuat narasi mereka bahwa kau adalah penguasa baru. Kau butuh seseorang yang masih memiliki debu jalanan di sepatunya."
"Pandu," bisik Laras.
"Dia sudah di sana," Aan membuka transmisi visual.
Di layar, Pandu berdiri di depan kerumunan massa yang membawa linggis dan alat gali manual. Ia tidak membawa senjata, tidak juga menggunakan modul Arca-nya untuk mengintimidasi. Ia hanya mengenakan rompi mekanik lamanya yang sudah pudar.
"Kalian mau membongkar ini?" suara Pandu terdengar tenang namun berat melalui speaker jalanan. "Silakan. Bongkar saja. Tapi ingat satu hal: akar ini tidak hanya memberi cahaya pada lampu jalan kalian. Akar ini menghubungkan sistem pemurni air di bawah tanah dengan paru-paru anak-anak kalian. Jika kalian memutuskan satu helai serat di sini, bukan Astra Mawar yang akan menghukum kalian. Tubuh kalian sendiri yang akan merasakan sesaknya kembali ke udara lama."
Seorang pria maju, berteriak, "Kami tidak mau menjadi bagian dari mesin kalian! Kami ingin hidup sebagai manusia bebas!"
Pandu menatap pria itu dengan tatapan yang dalam. "Bebas dari apa? Bebas untuk mati karena polusi? Bebas untuk lapar karena tanah ini sudah tidak bisa menumbuhkan apa pun tanpa bantuan Arca? Dengar, aku bukan utusan dewa. Aku ini mekanik. Tugasku cuma memastikan mesin ini jalan agar kita tidak punah. Laras di atas sana tidak memegang remot kontrol untuk otak kalian. Dia cuma menjaga agar jantung planet ini tidak berhenti berdetak."
Kericuhan itu mereda sejenak, namun ketegangan masih menggantung di udara. Di Astra Mawar, Laras melihat betapa rapuhnya kedamaian yang baru saja ia bangun.
"Arsitek benar," gumam Laras. "Harapan adalah suar yang terang, tapi ia juga melemparkan bayangan yang sangat panjang. Kita tidak bisa memaksa mereka untuk merasa terhubung."
"Lalu apa rencanamu?" tanya Dio.
Laras mengambil kunci pas yang tadi diletakkan Dio di meja. "Kita tidak akan memaksakan integrasi total. Paman Aan, buat protokol 'Frekuensi Terbuka'. Biarkan wilayah yang menolak integrasi tetap mendapatkan akses dasar tanpa sinkronisasi saraf. Tapi mereka harus mengelola limbah dan energi mereka sendiri tanpa bantuan jaringan utama."
"Itu berisiko, Lar," Aan memperingatkan. "Mereka akan tertinggal jauh dalam hal teknologi dan kesehatan."
"Itu adalah harga dari kebebasan yang mereka inginkan," jawab Laras. "Kita tidak sedang membangun kerajaan. Kita sedang membangun ekosistem. Dalam ekosistem, selalu ada ruang untuk variasi, bahkan untuk mereka yang ingin berdiri di luar lingkaran."
Tiba-tiba, sebuah sinyal baru muncul di layar radar, namun kali ini bukan dari ruang angkasa. Sinyal itu berasal dari dalam Bumi, dari koordinat yang belum pernah terpetakan di pedalaman Amazon. Sinyalnya identik dengan frekuensi "Jantung Arca", namun dengan nada yang lebih agresif.
"Lar, ada satu Jantung lagi yang aktif," seru Aan. "Tapi yang ini tidak sinkron dengan kodenya Ayah. Ini seperti... versi pemberontak."
Laras menegang. "Ayah bilang dia hanya menemukan satu Jantung."
"Mungkin dia tidak menemukan yang lainnya," suara Sang Arsitek terdengar samar di sudut ruangan, meski wujudnya tidak terlihat. "Atau mungkin, ada orang lain yang sudah lebih dulu berada di sana sebelum kalian."
Laras menatap layar monitor yang berkedip merah, menunjukkan anomali frekuensi di koordinat Amazon. Sinyal itu tidak berdenyut seperti detak jantung yang tenang; ia berteriak. Frekuensi itu tajam, penuh distorsi, dan memancar dengan ritme yang seolah-olah sedang memaksa alam di sekitarnya untuk tunduk, bukan menyatu.
"Ini bukan sinkronisasi," bisik Laras, matanya menyipit melihat grafik gelombang yang pecah-pecah. "Ini adalah ekstraksi paksa."
"Lihat visualisasinya, Lar," Aan memperbesar citra satelit. "Hutan di sekitar titik itu tidak menghijau seperti Jakarta. Mereka... memutih. Seolah-olah seluruh klorofil dan energi vitalnya dihisap habis menuju satu titik pusat."
Dio membanting lap olinya ke meja. "Seseorang punya teknologi kita, tapi mereka membaliknya. Mereka tidak menggunakan Arca sebagai imun, mereka menggunakannya sebagai pompa vakum. Siapa yang bisa melakukan itu di bawah radar kita, Paman Aan?"
Aan menggeleng perlahan. "Data Konsorsium yang kita sita dulu menyebutkan adanya 'Proyek Sampingan' di wilayah terpencil, tapi Ayahmu selalu bilang itu hanya gertakan politik. Ternyata, ada faksi elit Konsorsium yang tidak ikut runtuh. Mereka melarikan diri ke bawah tanah dengan prototipe Jantung buatan."
Tiba-tiba, suara Pandu memotong lewat jalur prioritas. Suaranya tidak lagi tenang; ada suara tembakan dan dentuman logam di latar belakangnya.
"Laras! Sabotase di Jakarta bukan cuma protes warga!" teriak Pandu. "Ada tentara bayaran! Mereka menggunakan seragam tanpa lencana, tapi senjata mereka... mereka punya pemutus frekuensi portabel. Mereka tahu titik lemah jaringan kita!"
Laras merasakan kepalanya berdenyut. Serangan ganda. Satu di jantung ekosistem baru di Amazon, satu lagi di jantung administratif mereka di Jakarta. Ini bukan kebetulan; ini adalah upaya sistematis untuk merobek perisai yang baru saja ia bangun.
"Dio, ambil 'Mawar Hitam'. Kau dan tim mekanik tempur harus turun ke Jakarta. Bantu Pandu. Jangan biarkan mereka menyentuh modul pusat," perintah Laras dengan nada yang tidak menerima bantahan.
"Lalu kau?" tanya Dio, tangannya sudah menyambar helm penerbangnya.
"Aku akan membawa kapsul penyelam ke Amazon," jawab Laras. "Jika Jantung di sana terus menghisap energi, resonansi global yang kita bangun akan runtuh. Seluruh Bumi akan merasakan 'sakit' yang sama. Aku harus mematikan mesin itu dari dalam."
"Laras, itu bunuh diri," sela Sinta, wajahnya pucat. "Kita tidak tahu apa yang ada di bawah sana. Itu bisa saja jebakan."
Laras menoleh ke arah ibunya, lalu ke arah piston tua yang menggantung di lehernya. "Ayah selalu bilang, mesin yang paling berbahaya adalah mesin yang bekerja tanpa empati. Aku adalah satu-satunya yang tahu cara bicara dengan frekuensi itu. Jika aku tidak pergi, semua yang dilakukan Pandu di bawah sana akan sia-sia."
Tanpa menunggu jawaban, Laras berlari menuju dermaga peluncuran. Saat ia memasuki kokpit kapsul, Sang Arsitek Andromeda muncul di kursi penumpang, wujudnya kini transparan seperti kaca.
"Kau akan menghadapi cermin gelap dari peradabanmu sendiri, Laras," ucap Sang Arsitek. "Mereka yang menginginkan kekuatan tanpa tanggung jawab. Apakah kau siap melihat apa yang terjadi jika manusia memegang kendali penuh tanpa 'rasa'?"
Laras menarik tuas peluncuran, merasakan tekanan gravitasi yang menghantam dadanya saat kapsul itu meluncur jatuh dari orbit menuju kegelapan hijau Amazon yang kini sedang sekarat.
"Aku tidak datang untuk melihat, Arsitek," gumam Laras di tengah gemuruh angin atmosfer. "Aku datang untuk memperbaiki."
Di bawah sana, di antara pepohonan raksasa yang meranggas, sebuah menara logam hitam yang memancarkan cahaya ungu dingin mulai terlihat. Di puncaknya, sebuah mesin raksasa berputar, menelan cahaya matahari dan kehidupan, menciptakan lubang hitam energi yang siap menelan harapan baru Bumi.