Amira yang membutuhkan uang untuk operasi ibunya, terpaksa menyetujui permintaan Celine, untuk menjadi istri kedua suaminya, Dirga.
Celine memang lebih terobsesi dengan pekerjaan, dibandingkan rumah tangganya, dan ingin sepenuhnya melepas peran sebagai seorang istri demi mencapai puncak karir. Celine pun menjebak Dirga, agar mau menikahi Amira.
Seiring berjalannya waktu, Dirga dan Amira mulai timbul benih-benih cinta. Namun, di saat itu juga, Dirga mengetahui jika pernikahan tersebut hanyalah sebatas jebakan. Lantas, bagaimana kelanjutan hubungan mereka bertiga? Bisakah Amira meyakinkan Dirga jika perasaannya benar-benar tulus? Lalu, bagaimana dengan Celine? Apakah dia rela melepaskan Dirga sepenuhnya untuk Amira?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Weny Hida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Siang
Tiga hari berlalu cepat...
Pagi ini, kamar utama dipenuhi suara koper dibuka dan ditutup. Celine berdiri di depan ranjang besar yang kini terasa terlalu luas untuk satu orang. Beberapa set pakaian formal tersusun rapi. Dokumen penelitian sudah dimasukkan hati-hati ke dalam map.
Di depan meja rias, wajahnya terlihat cerah. Bukan hanya karena riasan tipis yang sempurna, tapi juga karena semangat.
Kerja sama ini adalah impiannya sejak lama. Bagi Celine, penelitian tersebut bisa membuka jalan lebih besar untuk kariernya, dan pagi ini, dia merasa semakin dekat pada semua itu.
Celine sudah tak memedulikan apapun, termasuk, tentang bagaimana perasaan Dirga. Celine tidak memikirkannya, sama sekali. Atau mungkin, memilih untuk tidak memikirkannya.
Dalam benaknya, sudah ada Amira yang mengurus, jadi dia tidak perlu repot-repot memikirkan semua hal yang berkaitan dengan Dirga.
Meskipun, beberapa hari terakhir, rumah itu dipenuhi aura canggung karena keduanya. Bahkan, mereka hanya bertemu saat sarapan, dengan percakapan seperlunya.
Dirga tidak pernah lagi tidur di kamar utama. Dia hanya masuk sebentar, mengambil jas, arloji, atau berkas yang dibutuhkan.
Tak pernah lebih dari lima menit. Tak pernah duduk. Tak pernah bertanya, dan Celine tidak menahannya. Dia bahkan tidak pernah mengunci pintu lagi.
Celine pun tidak tahu Dirga tidur di mana, di kamar tamu, atau sudah terbiasa di kamar Amira. Jarak itu sudah terbentuk dengan sendirinya.
Celine menutup koper dengan bunyi klik pelan. Dia kemudian berdiri sejenak, memandang kamar yang dulu menjadi ruang paling intim dalam hidupnya. Namun, kini terasa asing. Celine bukannya sedih, dia justru merasa nyaman.
Di luar kamar, langkah kaki terdengar samar. Mungkin Amira sedang menyiapkan sarapan. Mungkin Dirga sudah bersiap berangkat kerja. Namun, Celine tak peduli, hingga saat semuanya siap, dia akhirnya keluar dari kamar tersebut.
Celine melangkah keluar kamar dengan penampilan rapi dan elegan. Blazer warna nude membalut tubuhnya, rambutnya tersisir sempurna, wajahnya segar dan penuh percaya diri.
Di meja makan, Dirga sudah duduk dengan kemeja kerja yang licin tanpa kerut. Amira duduk di sisi lain, lebih banyak menunduk sambil menyuap sarapan perlahan.
Ketika melihat Celine muncul dengan koper di tangan, Amira refleks berdiri.
“Bu Celine mau berangkat sekarang?” tanyanya sopan.
Nada suaranya masih sama seperti dulu, hormat, lembut, penuh jarak. Celine menghentikan langkahnya sebentar dan menatap Amira.
“Iya, biar nggak kena macet. Aku nggak ikutan sarapan ya, mau sarapan di bandara aja.”
Dirga tidak langsung menoleh. Dia hanya melirik sekilas, lalu kembali meminum kopinya.
Tak ada tawaran untuk mengantar. Tak ada ucapan hati-hati yang hangat, hanya keheningan. Amira berdiri canggung beberapa detik.
“Semoga perjalanannya lancar, Bu.”
“Terima kasih,” balas Celine dengan senyum tipis.
Tatapan Celine sempat beralih pada Dirga. Beberapa detik, menunggu mungkin. Namun Dirga tetap duduk, wajahnya datar.
Akhirnya Celine yang berbicara lebih dulu.
“Aku berangkat.”
Dirga mengangguk kecil tanpa berdiri.
“Hm.”
Jawaban yang bahkan tak bisa disebut jawaban. Tak ada pelukan perpisahan. Tak ada sentuhan. Tak ada simbol bahwa mereka masih pasangan yang saling terikat oleh rasa.
Celine menarik koper melewati meja makan itu. Langkahnya mantap, tapi saat sampai di pintu, dia berhenti sejenak, lalu menoleh.
Pemandangan yang dia lihat, Dirga dan Amira duduk dalam satu meja, membuat sudut bibirnya terangkat samar.
Entah senyum kemenangan, atau mungkin merasa puas semuanya berjalan lancar.
“Jaga rumahnya,” ucapnya dengan tenang, seolah tanpa beban. Lalu dia membuka pintu dan keluar, dan pintu tertutup.
Suara taksi yang menjemput Celine perlahan menjauh dari halaman. Amira kembali duduk perlahan, tapi suasana meja makan terasa jauh lebih sunyi dibanding biasanya.
Dirga masih memandangi cangkir kopinya beberapa detik. Lalu tiba-tiba ia berkata datar, seolah keputusan itu sudah matang di kepalanya, “Nanti siang aku jemput, ya.”
Amira yang sedang merapikan piring langsung tertegun.
“Jemput? Mau ke mana, Mas?”
“Kamu persiapkan diri aja, kita makan siang di luar.”
Amira masih belum sepenuhnya memahami. Dirga melanjutkan kemudian melanjutkan, “Sekalian aku mau ajak kamu belanja.”
Sendok di tangan Amira berhenti bergerak.
“Belanja?” ulangnya pelan.
“Iya, kamu butuh beberapa hal.”
Dirga tak menjelaskan lebih jauh. Amira menunduk pelan.
“Bukannya kamu sibuk, banyak kerjaan, Mas?” tanyanya hati-hati.
Dirga berdiri dari kursinya, mengambil jasnya yang tersampir.
“Kerja bisa diatur.”
Dia berjalan melewati Amira, lalu berhenti sebentar di dekatnya.
“Jam 12.30 udah siap ya."
Lalu dia melangkah pergi. Amira berdiri di ruang makan yang kini hanya menyisakan dirinya. Perasaannya campur aduk. Namun ada juga rasa penasaran yang perlahan tumbuh.
"Makan siang di luar? Belanja? Aku butuh sesuatu? Ada apa sebenarnya?"
***
Di sisi lain ....
Di dalam mobil yang melaju menuju bandara, Celine menatap layar ponselnya yang tiba-tiba menyala. Namun, nama yang tertera membuat alisnya terangkat, Mama Dirga.
Untuk sepersekian detik dia mempertimbangkan untuk membiarkannya berdering. Namun akhirnya Celine memutuskan untuk mengangkatnya.
“Halo, Ma,” sapanya lembut dan profesional seperti biasa.
Suara di seberang terdengar hangat namun langsung pada inti.
“Celine, kamu sudah siap kan buat besok?”
Celine sedikit mengernyit. “Si-siap untuk …?”
“Pergi ke Jepang sama Dirga. Mama udah belikan tiketnya. Kalian berangkat besok pagi.”
Celine terdiam, karena Dirga tak mengatakan apapun padanya.
“Ke Jepang?” ulangnya pelan.
“Celine, Mama udah beliin tiket ke Jepang. Mumpung, lagi musim dingin, kalian bisa quality time di sana. Mama pikir kalian butuh waktu berdua. Liburan seminggu. Tinggalkan kerjaan sebentar.”
Jantung Celine berdetak sedikit lebih cepat.
"A-apa? Besok pagi?" batin Celine. Sedangkan Dirga belum mengatakan apa pun pada padanya.
Celine menatap lurus ke depan, ekspresinya tetap tenang meski pikirannya mulai bergerak cepat.
“Oh, iya, Ma,” ucapnya hati-hati.
“Dirga belum bilang?” tanya ibu Dirga heran.
Celine tersenyum tipis, meski tak terlihat.
“Dirga cuma bilang mau ngajak pergi, tapi aku nggak tau mau pergi ke mana.”
Ada jeda di ujung sana, lalu terdengar kekehan ringan dari Ibu Dirga.
“Mungkin Dirga pengen kasih kejutan sama kamu. Jangan terlalu sibuk ya. Mama pingin cepat punya cucu.”
Kalimat itu membuat sudut bibir Celine sedikit menegang. Karena apa yang mertuanya katakan terasa begitu jauh dari kenyataan rumah tangganya saat ini.
“Baik, Ma,” jawab Celine akhirnya.
Telepon ditutup setelah Ibu Dirga mengucap salam. Lalu, Celine menurunkan ponsel perlahan.
"Dirga nggak ngomong ke aku karena aku yakin, dia nggak akan pergi ke Jepang."
kalau sakit ya pergi kedokter.
atau minum obat lah.
lakik di kasih orang...
kalau lakik mu dah nyaman sama yg lain. nanti kamu yang merasa paling tersakiti..
padahal kamu sendiri yang main api.
paling nanti celine bakal nyesel....trus dia balik nyalakan mira.. yang bilang pelakor lah.
awas jangan sampek kamu masok lubang yang kau galih sendiri...
..