Demi warisan ibunya, Zelia nekat menikahi tukang parkir bernama Arelion—pria asing yang pernah menyelamatkannya.
Malam sebelum pernikahan impiannya, ia memergoki tunangannya selingkuh dengan adik tirinya, dan ayahnya ternyata ikut merencanakan perebutan perusahaan.
Pernikahan kontrak ini adalah balas dendam sekaligus pelindung terakhirnya.
Tapi di balik sikap dingin dan penampilan sederhana Arelion, tersimpan rahasia besar yang akan mengubah segalanya... termasuk hati Zelia yang sudah hancur..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Sobekan Masa Lalu
Zelia keluar dari kamarnya saat jam hampir menunjuk angka dua belas. Di tangannya ada gelas kosong.
Tanpa menyalakan lampu utama, ia berjalan ke dapur, menuangkan air, lalu meminumnya perlahan. Setelah itu, ia mengisi kembali gelasnya, berniat kembali ke kamar.
Namun saat melangkah keluar sambil sedikit menunduk—
Bruk!
“Akh—!”
Prang!
Ia menabrak seseorang. Gelas di tangannya terlepas dan jatuh pecah di lantai.
Tubuhnya hampir terhuyung ke belakang, namun lengan kokoh itu lebih dulu meraih pinggangnya, mantap, seolah refleks yang sudah terlatih.
“Nona… apa kau memang selalu seceroboh ini?” suara datar Are terdengar rendah di depannya.
Perlahan, lengan itu melepaskan pinggangnya.
“Maaf,” ucap Zelia cepat.
Dalam remang lampu dinding, ia hanya bisa melihat siluet tubuh tinggi di hadapannya.
“Diam di situ,” ujar Are pelan, tapi tegas.
Langkahnya terdengar menjauh. Tak lama—
Klik.
Lampu utama menyala.
Zelia sedikit berkedip menyesuaikan cahaya yang tiba-tiba memenuhi ruangan… lalu membeku.
Are berdiri tak jauh darinya. Hanya mengenakan celana pendek tanpa atasan.
Dada bidang dan otot perut yang tersusun rapi, membuat Zelia tak mampu mengalihkan pandangan.
“Kau terluka?” tanya Are tenang sambil berjalan ke arahnya.
Namun Zelia masih bergeming, matanya tanpa sadar terpaku pada perut pria itu.
Sudut bibir Are terangkat samar.
Tuk.
Ia menyentil dahi Zelia.
“Aduh!” Zelia meringis sambil mengusap dahinya. “Sakit tahu!”
“Sudah puas lihatnya?” tanya Are, wajahnya tetap datar.
Pipi Zelia langsung memerah. “Puas apanya?” sahutnya cepat, berusaha terdengar biasa.
"Astaga… bagaimana bisa tubuh tukang parkir seperti itu?" batinnya panik.
Ia segera mengalihkan pandangan, dan tanpa sengaja matanya jatuh pada pecahan gelas di lantai.
Are menunduk lalu mulai memungut pecahan beling dengan tenang.
Zelia buru-buru mengambil sapu dan pengki. “Biar aku yang bersihkan,” ujarnya, sambil diam-diam mencuri pandang.
Bahu lebar. Dada bidang. Perut berotot. Pinggang ramping. Wajah…
“Astaga… dia lebih menawan dari model majalah pria,” serunya dalam hati.
Ia segera menggeleng cepat, mencoba menepis pikiran yang mulai tak terkendali.
Zelia buru-buru kembali fokus menyapu, namun detak jantungnya malah berdegup tak wajar.
“Kenapa aku jadi gugup begini saat dekat dengannya…” gumamnya dalam hati, kesal pada dirinya sendiri.
Zelia menunduk menyapu lebih cepat. "Rasanya wajahku panas kayak baru keluar dari sauna," gumamnya dalam hati.
"Jangan lihat. Jangan lihat," Ia berharap Are tak menatapnya. "Memalukan," rutuknya pada dirinya sendiri tanpa suara.
"Sudah selesai," ucap Zelia sambil meletakkan sapu dan pengki. "Aku balik ke kamar." Ia buru-buru kembali ke kamarnya tanpa menunggu respon dari Are.
Namun sebelum keluar dari dapur, matanya tanpa sadar kembali mencuri pandang ke arah Are.
Are menyadarinya. Tapi ia tidak berkata apa pun. Hanya senyum samar yang nyaris tak terlihat muncul di sudut bibirnya.
“Dasar ceroboh…” gumamnya pelan.
Bayangan Zelia yang canggung tapi diam-diam memerhatikan dirinya terlintas di benaknya.
“Tapi… kenapa begitu menggemaskan…”
Ia langsung menggeleng cepat, seolah menolak pikirannya sendiri.
“Tidak,” bisiknya tegas. "Tak seorang wanita pun boleh menarik perhatianku. Dan memang tidak seharusnya."
Tangannya mengepal pelan. “Hanya dia… hanya dia yang boleh.”
Dan seperti selalu, ingatannya kembali ke masa lalu.
—
Saat ia berusia dua belas tahun.
Di sebuah jalan sepi. Seorang pria tiba-tiba menangkapnya dari belakang.
Are berontak, namun mulutnya langsung dibekap. Tubuhnya diseret menuju mobil yang terparkir di pinggir jalan.
Ia mencoba menggigit, menendang, apa saja… tapi tenaga pria itu terlalu kuat.
Tiba-tiba—
Buk! Buk!
Seorang gadis kecil, sekitar tujuh tahun, memukul pria itu dengan ranting kayu.
Brutal. Sangat brutal.
Pria itu mengerang dan refleks melepaskan Are, tapi matanya langsung menyala penuh amarah.
“Bocah sialan!” geramnya, mencoba meraih gadis itu.
“Lari!” seru gadis kecil itu sambil menarik tangan Are.
Mereka berlari sekuat tenaga tanpa arah.
“Berhenti!” teriak pria itu mengejar.
Langkah kaki mereka menapaki jalan kosong. Tiba-tiba—
Krak!
“Akh!” pekik gadis itu.
Pria itu mencoba meraih pundaknya, namun yang tertangkap hanya kain bajunya. Tarikan kasar itu membuat bagian bahunya sobek, tapi ia tak menyerah.
Are menariknya lagi.
“Mau kabur? Jangan harap!” teriak pria itu semakin dekat.
Gadis kecil itu tiba-tiba berjongkok, meraih segenggam tanah, lalu melemparkannya ke wajah pria itu.
“Akh!” pria itu berteriak kesakitan.
“Lari!” seru gadis kecil itu lagi.
Pria itu menggosok matanya yang kemasukan tanah sambil mengumpat.
Mereka terus berlari sampai napas keduanya hampir habis.
“Berhenti… aku capek…” gadis itu terengah.
Are berhenti, masih menggenggam pergelangan tangannya.
“Dia mengejar lagi,” kata Are panik.
“Kita pisah arah,” ujar gadis itu cepat.
“Gak mau,” tolak Are. Tanpa sengaja pandangannya jatuh pada tanda lahir berwarna merah di dada kiri gadis itu, terlihat jelas dari sobekan bajunya yang robek saat ditarik pria tadi.
“Larimu pelan. Nanti kamu tertangkap.”
“Dia ngejar kamu, bukan aku,” balas gadis itu cepat.
Tanpa menunggu jawaban, ia mendorong Are pelan.
“Cepat!”
Mereka akhirnya berpencar, berlari ke arah kerumunan. Dan di sanalah… mereka terpisah.
Kembali ke masa kini.
Are menghela napas panjang. Tatapannya kosong beberapa detik, seolah masih terjebak di kenangan itu.
“Di mana kau sekarang…” gumamnya pelan. “Bagaimana wajahmu…”
Sejak hari itu, ia tak pernah melupakan tangan kecil yang menggenggamnya… dan menariknya keluar dari bahaya.
***
Pagi datang menyapa. Are dan Zelia duduk berhadap-hadapan di meja makan kecil, sarapan dengan menu yang dipesan Zelia.
Cahaya matahari menyusup lewat jendela, membuat suasana terasa hangat dan tenang. Kontras dengan kekacauan semalam.
“Hari ini aku ke kantor,” kata Zelia sambil menyesap jusnya. “Kamu mau ke rumah sakit?”
Matanya tanpa sadar mencuri pandang ke pria di depannya.
Kemeja yang ia belikan melekat sempurna di tubuh Are. Posturnya atletis, rahangnya tegas, hidung mancung, dan alis tebal itu membuatnya tampak terlalu mencolok untuk disebut pria biasa.
Zelia benar-benar sulit mengalihkan pandangan.
“Hm,” jawab Are singkat.
Zelia mengulurkan sebuah kartu ATM dan secarik kertas berisi angka.
“Kamu bisa pakai ini buat kebutuhan pribadi atau biaya rumah sakit ibumu.”
Are menatap kartu itu beberapa detik, lalu meraihnya. “Terima kasih,” ucapnya singkat.
“Oh ya,” lanjut Zelia santai, “kamu gak usah jadi tukang parkir lagi. Kamu bisa cari kerja lain… atau mungkin buka usaha. Aku bisa kasih modal kalau kamu mau.”
Are menatapnya datar. “Kenapa? Kamu malu punya suami tukang parkir?”
Zelia langsung menggeleng.
“Asal profesinya halal, aku gak peduli,” katanya jujur. “Tapi… gak mungkin 'kan, aku yang bentar lagi jadi CEO, suamiku masih kerja jadi tukang parkir? Orang bakal bilang aku pelit.”
Ia tersenyum kecil.
“Tapi bukan itu poinnya. Aku cuma mau hidupmu lebih baik dari sebelumnya. Karena kamu sudah bantu aku.”
Are menatapnya beberapa saat. Sorot mata dan nada suara Zelia tulus tanpa dibuat-buat.
“Aku hargai ketulusanmu,” katanya pelan.
Zelia tersenyum tipis. “Jadi?”
Ia menyandarkan dagu di tangan, menatapnya penuh rasa ingin tahu.
“Kamu mau kerja… atau buka usaha? Apa skill yang kamu punya?”
...✨“Beberapa pertemuan terasa biasa… sampai jantung kita mulai berkhianat.”...
...“Tatapan bisa lebih berbahaya dari sentuhan.”...
...“Kadang yang membuat kita gugup bukan orang asing, tapi perasaan yang tiba-tiba datang.”...
...“Ada orang yang hanya muncul sekali dalam hidup… tapi tak pernah benar-benar pergi.”...
...“Kenangan terkuat bukan yang paling indah, tapi yang pernah menyelamatkan kita.”...
...“Waktu boleh berlalu, tapi rasa berutang pada masa lalu tidak pernah hilang.”...
...“Tak semua janji diucapkan dengan kata. Ada yang tertulis di ingatan.”✨...
.
To be continued
Percaya diri seperti kalian yang mudah di jatuhkan
Dan....
apa ya kira²?
author yang tahu