NovelToon NovelToon
Perjamuan Langit Kultivasi Lidah Dewa

Perjamuan Langit Kultivasi Lidah Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Action / Dan budidaya abadi
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i

​Han Shuo hanyalah seorang pelayan dapur di Sekte Awan Merah yang sering dihina karena bakat tulang yang buruk. Segalanya berubah ketika ia menemukan "Kitab Rasa Semesta", sebuah warisan kuno yang mengajarkan bahwa energi langit dan bumi paling murni tidak tersimpan dalam pil alkimia yang pahit, melainkan pada sari pati makhluk hidup yang diolah dengan api kuliner. Dengan sebilah pisau berkarat dan kuali tua, ia memulai perjalanan menantang maut demi mencicipi keabadian.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 20 gerbang neraka rasa dan identitas tuan topeng besi

Kota Awan Bawah, yang terletak tepat di kaki Pegunungan Awan Merah, sedang berpesta. Ribuan lampion merah tergantung di setiap sudut jalan, dan aroma dupa bercampur dengan bau keringat ribuan kultivator yang datang dari berbagai penjuru benua.

Hari ini adalah pembukaan Turnamen Agung Sekte Awan Merah. Ini bukan sekadar turnamen bela diri; ini adalah festival pamer kekuatan, di mana sekte memamerkan kekayaan, aliansi, dan tentu saja, kemampuan logistik mereka.

Namun, di tengah keramaian itu, ada satu kejanggalan.

Han Shuo, mengenakan jubah hitam panjang dengan tudung kepala yang menutupi sebagian wajahnya, berdiri di depan sebuah kedai besar bertuliskan "Paviliun Selamat Datang Sekte Awan Merah".

Di sampingnya, Ying menyamar sebagai pelayan pria bisu yang membawa keranjang anyaman besar di punggungnya. Keranjang itu berisi Kuali Naga Merah yang baru saja berevolusi.

"Lihat itu," bisik Han Shuo, matanya yang kini memiliki pupil ganda (efek Mata Wawasan) menatap ke arah antrean panjang tamu yang sedang meminum teh gratis yang disediakan sekte.

Di mata orang biasa, teh itu berwarna hijau jernih dan menyegarkan. Tapi di mata Han Shuo, teh itu memancarkan uap abu-abu tipis.

"Mereka mencampurkan Bubuk Akar Penurut," kata Han Shuo dingin. "Dosis kecil. Tidak mematikan, tapi cukup membuat siapa pun yang meminumnya merasa 'kagum' dan 'tunduk' secara bawah sadar pada otoritas Sekte Awan Merah. Ini manipulasi massal."

"Kita hancurkan tempat ini?" tanya Ying, tangannya meraba gagang belati di balik bajunya.

"Tidak," Han Shuo tersenyum di balik tudungnya. "Kita tidak menghancurkan pesta orang lain dengan kekerasan. Kita menghancurkannya dengan membuat pesta tandingan yang lebih meriah."

Han Shuo mengeluarkan sebuah topeng besi polos yang hanya memiliki lubang mata. Ia memakainya.

"Mulai sekarang, panggil aku Tuan Kompor Besi."

Bagian 1: Tantangan di Gerbang

Han Shuo berjalan menuju meja pendaftaran peserta kategori "Logistik & Kuliner". Ya, turnamen ini memiliki divisi khusus untuk alkemis dan koki, karena mereka adalah tulang punggung sumber daya sekte.

Seorang murid senior yang menjaga meja pendaftaran menatap Han Shuo dengan malas. "Nama? Asal Sekte?"

"Tuan Kompor Besi. Koki Pengelana," jawab Han Shuo dengan suara yang ia beratkan menggunakan Qi.

"Biaya pendaftaran 50 Koin Emas. Atau kau bisa menyajikan satu hidangan yang membuatku terkesan," kata murid itu sambil menunjuk tumpukan koin di mejanya.

Han Shuo tidak mengeluarkan uang. Ia mengeluarkan sebuah Lobak Putih dari sakunya.

"Hanya lobak?" murid itu tertawa mengejek. "Kau mau melawak?"

Han Shuo melemparkan lobak itu ke udara.

Sring!

Pisau Bulan Sabit di tangannya bergerak begitu cepat hingga tidak terlihat oleh mata telanjang. Dalam sepersekian detik, lobak itu mendarat kembali di meja pendaftaran.

Tampak utuh.

"Kau gagal. Lobaknya tidak berubah," cibir murid itu. Ia menyentuh lobak itu dengan jarinya.

POOF!

Lobak itu tiba-tiba mekar seperti bunga teratai yang memiliki seribu kelopak. Setiap kelopaknya setipis kertas, transparan, dan memancarkan cahaya putih redup. Yang lebih gila lagi, di setiap kelopak itu terukir huruf kuno "Lulus".

Murid itu ternganga. "Teknik Pisau... Seribu Bayangan Bulan?! Ini teknik tingkat Master!"

"Cukup untuk mendaftar?" tanya Han Shuo.

"S-silakan! Nomor peserta 108!" Murid itu buru-buru memberikan lencana kayu. Tangannya gemetar.

Bagian 2: Arena Kuliner - Babak Penyisihan

Arena Kuliner terletak di alun-alun timur. Ada lima puluh tungku masak yang disiapkan. Penonton bersorak-sorai melihat koki-koki dari berbagai daerah memamerkan api warna-warni mereka.

Namun, bintang utama hari ini adalah Tetua Pang, Kepala Dapur Sekte Awan Merah yang baru. Dia adalah pria gemuk dengan kulit berminyak yang mengenakan celemek sutra emas. Dia berdiri di panggung utama, sedang memasak seekor Babi Hutan Petir.

"Lihatlah!" seru komentator. "Tetua Pang menggunakan Teknik Panggangan Halilintar! Dia menggunakan listrik dari daging itu sendiri untuk mematangkannya!"

Bau daging panggang yang hangus dan sedikit ozon memenuhi udara. Penonton bersorak lapar.

Han Shuo berjalan ke tungku nomor 108 yang terletak di pojok, jauh dari sorotan. Tungku itu kotor dan apinya kecil.

Ying menurunkan keranjang. Han Shuo mengeluarkan Kuali Naga Merah.

Begitu kuali itu menyentuh tanah, tanah di sekitarnya mendesis. Rumput liar di dekat kaki meja langsung layu dan terbakar.

"Apa yang akan Tuan masak?" tanya Ying, berpura-pura menjadi asisten yang patuh.

Han Shuo melihat bahan-bahan yang disediakan panitia: Ayam Hutan biasa, sedikit rempah standar, dan air sungai. Bahan kelas rendah untuk peserta biasa, sementara Tetua Pang mendapat bahan premium.

"Kita akan memasak Ayam Pengemis Teratai Api," kata Han Shuo. "Tapi bukan ayam pengemis biasa. Kita akan menggunakan lumpur dari Lembah Keputusasaan yang masih menempel di sepatumu."

Ying melotot. "Lumpur itu beracun!"

"Lumpur itu kaya akan Yin ekstrem. Dan apiku adalah Yang ekstrem. Jika digabungkan, mereka akan menciptakan Oven Alami yang sempurna."

Han Shuo mulai bekerja. Ia tidak mencabut bulu ayam itu. Ia justru melapisinya dengan daun teratai yang ia ambil dari tas penyimpanannya (daun yang tumbuh di kolam darah monster). Lalu, ia membungkusnya dengan lumpur hitam berbau busuk dari lembah.

Bentuknya jelek. Seperti gumpalan kotoran besar.

Penonton di dekatnya menutup hidung.

"Hei, lihat orang itu! Dia memasak batu busuk!"

"Menjijikkan! Usir dia!"

Tetua Pang di panggung utama melirik ke arah Han Shuo dan tertawa. "Biarkan saja. Badut selalu dibutuhkan dalam sirkus."

Bagian 3: Ledakan Rasa

Satu jam berlalu.

Hidangan Tetua Pang selesai. Babi Hutan Petir Krispi. Kulitnya keemasan, memercikkan listrik statis. Juri—tiga tetua sekte—mencicipinya dan langsung memuji setinggi langit.

"Teksturnya meledak di mulut! Rasa listriknya memberikan sensasi kesemutan yang nikmat! Nilai: 9/10!"

Sekarang giliran peserta lain. Kebanyakan mendapat nilai 5 atau 6.

Akhirnya, juri sampai di meja Han Shuo. Di sana hanya ada gumpalan lumpur hitam yang sudah mengeras seperti batu karang.

"Apa ini?" tanya Ketua Juri, Tetua Li (yang dulu pernah membela Han Shuo tapi sekarang tampak lelah dan tua).

"Ayam Pengemis," jawab Han Shuo singkat.

"Ayam Pengemis?" Juri kedua, seorang wanita cantik dari sekte tetangga, menutup hidungnya. "Baunya seperti tanah kuburan. Kau menghina kami?"

"Jangan menilai buku dari sampulnya, Nyonya," kata Han Shuo. Ia mengangkat tangannya. Di telapak tangannya, muncul api biru kecil—Jantung Api Perut Bumi.

Ia menepuk gumpalan lumpur itu dengan lembut.

Krak... Krak...

Retakan muncul di permukaan lumpur yang keras. Cahaya emas menyilaukan memancar dari celah-celah retakan itu.

BOOM!

Lumpur itu meledak, tapi tidak berantakan. Pecahannya melayang di udara, didorong oleh tekanan uap yang luar biasa dari dalam.

Seketika, aroma yang mustahil menyebar.

Bukan aroma ayam biasa. Ini adalah aroma yang memicu memori. Aroma yang membuat air liur menetes tanpa bisa dikendalikan. Aroma itu begitu kuat hingga menembus Qi Pelindung para penonton.

Tetua Pang yang sedang sombong di panggung tiba-tiba merasa lututnya lemas. "Bau apa ini... Kenapa Qi-ku bergetar?"

Han Shuo mengambil ayam yang kini terbungkus daun teratai yang sudah layu. Ia membuka daunnya.

Ayam di dalamnya tidak hangus. Kulitnya berwarna merah tembaga mengkilap, minyaknya menetes jernih seperti madu. Dagingnya begitu lembut hingga tulangnya lepas sendiri saat disentuh angin.

"Silakan," kata Han Shuo.

Tetua Li mengambil sepotong kulit ayam dengan sumpit gemetar. Ia memasukkannya ke mulut.

Kriuk.

Suara renyah itu terdengar jelas di keheningan arena.

Mata Tetua Li melebar. Air mata mengalir deras dari sudut matanya.

"Ini... ini rasa saat ibuku memasak bubur ayam ketika aku sakit lima puluh tahun lalu..." gumam Tetua Li. "Energi Yin dari lumpur menarik keluar semua kotoran daging, dan Energi Yang dari api memasaknya hingga ke tingkat sel... Ini bukan makanan... Ini Obat Jiwa!"

Dua juri lainnya juga mencicipi. Reaksi mereka lebih parah. Juri wanita itu mendesah pelan, wajahnya memerah padam seolah sedang mengalami ekstase spiritual. Juri ketiga langsung duduk bersila, Qi di tubuhnya meledak naik satu tingkat.

"LULUS! MUTLAK LULUS! NILAI 11/10!" teriak Tetua Li histeris.

Bagian 4: Identitas Terungkap

Tetua Pang tidak terima. Ia melompat turun dari panggung, wajahnya merah padam karena marah dan iri.

"Curang! Dia pasti menggunakan bubuk ilusi! Mana mungkin ayam hutan biasa bisa mengalahkan Babi Petir Tingkat 3 milikku?!"

Pang mengarahkan pisau daging besarnya ke leher Han Shuo. "Buka topengmu, penipu! Siapa kau sebenarnya?!"

Han Shuo berdiri tegak. "Kau ingin tahu siapa aku?"

Han Shuo melepaskan ikatan topeng besinya. Topeng itu jatuh ke tanah dengan denting yang berat.

Wajah tampan namun dingin Han Shuo terpampang jelas di bawah sinar matahari sore. Bekas luka bakar yang dulu ada di tangannya sudah hilang, digantikan oleh kulit yang sehalus giok namun sekuat baja.

"Aku adalah orang yang kau suruh mencuci piring selama sepuluh tahun, Pang," kata Han Shuo. "Aku adalah orang yang makan sisa tulang babi kalian."

Suasana hening total. Semua murid Sekte Awan Merah mengenali wajah itu.

"Han Shuo?!"

"Si Sampah Dapur?!"

"Bagaimana dia bisa punya aura sekuat itu?!"

Tetua Pang mundur selangkah, wajahnya pucat. "Kau... kau seharusnya sudah mati di penjara es atau dibunuh Keluarga Wang!"

"Aku kembali untuk mengambil apa yang menjadi hakku," Han Shuo melangkah maju. "Dan untuk mengajarkan kalian satu hal: Kalian tidak pantas memegang pisau dapur."

Pang meraung dan menyerang. "Mati kau!"

Ia mengayunkan pisau dagingnya yang dialiri Qi Listrik.

Han Shuo tidak menghindar. Ia hanya mengangkat Kuali Naga Merah-nya dengan satu tangan seolah itu kapas.

DONG!

Han Shuo menghantamkan pantat kualinya ke wajah Pang.

Suaranya seperti lonceng kuil yang dipukul palu raksasa. Pang terpental sepuluh meter, wajahnya rata, giginya rontok semua. Ia pingsan seketika, tertanam di dinding arena.

"Siapa lagi yang keberatan dengan masakanku?" tanya Han Shuo ke arah tribun tetua.

Tidak ada yang menjawab. Kekuatan fisik Han Shuo yang mengerikan (hasil tempaan di Dimensi Dewa dan Hutan Bambu) membuat mereka sadar: Koki ini bisa membunuh mereka semudah memotong tahu.

Bagian 5: Undangan Sang Iblis

Dari menara tertinggi, sebuah tepuk tangan pelan terdengar.

Semua orang mendongak. Di balkon menara, Penatua Agung Mu Chen berdiri. Matanya hitam pekat, tidak ada bagian putihnya. Senyumnya lebar hingga ke telinga.

"Luar biasa..." suara Mu Chen bergema di seluruh lembah, diperkuat sihir hitam. "Selamat datang kembali, Muridku. Kau telah tumbuh dengan... lezat."

Mu Chen menjentikkan jarinya. Sebuah tangga yang terbuat dari tulang-belulang bercahaya turun dari menara menuju arena.

"Kau lolos babak penyisihan. Tapi ujian sebenarnya ada di atas sini. Datanglah ke Perjamuan Bulan Darah malam ini. Aku, kau, dan Kotak Bumbu Raja. Kita selesaikan urusan lama."

Han Shuo menatap tangga tulang itu. Ia merasakan energi jahat yang sangat pekat.

"Ying, jaga gerobak," perintah Han Shuo. "Aku akan naik."

"Bos, itu jebakan. Jelas-jelas itu jebakan," kata Ying cemas.

"Aku tahu," Han Shuo menyeringai, matanya menyala dengan api biru. "Tapi dia lupa satu hal. Kau tidak mengundang harimau ke pesta makan malam kecuali kau siap menjadi menunya."

Han Shuo melangkah naik ke tangga tulang itu, setiap langkahnya meninggalkan jejak kaki terbakar yang tidak bisa dipadamkan.

Perkembangan Plot:

* Han Shuo berhasil menyusup kembali ke Sekte Awan Merah dengan cara yang paling mencolok: Mempermalukan Kepala Dapur mereka di depan umum.

* Identitasnya terungkap, mengubah statusnya dari "Buronan" menjadi "Penantang Resmi" yang tidak bisa dibunuh sembarangan di depan tamu agung sekte lain.

* Pertemuan dengan Mu Chen (Boss Arc 2) sudah di depan mata.

Teknik Memasak Baru:

* Oven Yin-Yang: Menggabungkan lumpur dingin (Yin) dan api panas (Yang) untuk menciptakan tekanan uap internal yang memurnikan bahan makanan.

* Seribu Bayangan Bulan (Thousand Moon Shadows): Teknik pisau kecepatan tinggi untuk memotong tanpa mengubah bentuk fisik luar bahan.

Item Penting:

* Kuali Naga Merah: Terbukti bisa digunakan sebagai senjata tumpul (Blunt Weapon) yang sangat efektif selain alat masak.

* Lobak Lulus: Simbol penghinaan terhadap birokrasi sekte.

Statistik Han Shuo:

* Reputasi: Koki Iblis / Tuan Kompor Besi.

* Level Ancaman: Diakui oleh Sekte sebagai ancaman tingkat tinggi.

1
Nanik S
Lanjut terus Tor
Nanik S
Tetua Agung ..kenapa pakai Kuali Tulang
Nanik S
Apa Han Suo mau dipanggang
Nanik S
Huo . masak seja sekalian Panatua Mu Chen
Nanik S
Menu yang tida akan dia Lupakan.. menu apa Jan Shuo
Nanik S
Besok memasak Wang Lin
Nanik S
Masak Mie pemutus jiwa
Nanik S
Punya Asisten baru
Nanik S
Keren...jadi Koki Dewa
Nanik S
Han Shuo.. kasih makan dan nanti bawa saja kirin ke depan Tetua Tie
Nanik S
Han Shuo .. apa yang akan terjadi dipuncak
Nanik S
Lanjutkan Tor
Nanik S
Han Shuo.. cerdas sekali
Nanik S
NEXT
Nanik S
Perjamuan dengan Harimau
Nanik S
Keren bener
Nanik S
Lanjutkan
Nanik S
Hadir ...awal yang beda dari lainya
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!