Lima sahabat mendaki Gunung Ciremai untuk merayakan kelulusan, namun terjebak di tengah wabah mayat hidup yang muncul dari balik kabut. Di jalur Linggarjati yang ekstrem, perjalanan perpisahan ini berubah menjadi ujian survival yang brutal. Mereka harus memeras logika, naluri, dan kesetiaan demi bertahan hidup dari kepungan monster sekaligus tipisnya oksigen di puncak tertinggi Jawa Barat.
Mereka bergabung bersama Satria seorang tentara, dan Shakira seorang dokter untuk Bertahan Hidup dari serangan Mayat Hidup.
Jika kalian diposisi mereka apa yang akan kalian lakukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30
Yazid yang berdiri paling dekat dengan Satria menangkap perubahan itu.
Pandangannya beralih dari Satria ke leher Zidan, lalu kembali ke wajah Satria.
Dia tidak mengatakan apapun.
Tapi sesuatu di dadanya yang tadi sempat longgar, kini mengencang lagi.
"Kita gerak." Satria memecah keheningan. "Arah barat. Pelan dan teratur. Kalau ada suara yang bukan dari kelompok ini berhenti dan tunggu instruksi Saya. Tidak ada yang bertindak sendiri."
Matanya beralih ke Yazid.
Yazid yang masih menggenggam batu kecil sedari tadi, membalas tatapan itu. Perlahan, ia menjatuhkan batunya.
Mereka mulai bergerak ke barat.
Pelan. Teratur. Dengan cara yang tidak menghasilkan suara lebih dari yang diperlukan karena di hutan, suara bekerja dua arah. Siapa pun yang mendengarkan keberadaan mereka akan mendapatkan informasi yang sama jelasnya.
Pohon-pohon di sekitar tidak berubah.
Tidak ada penanda. Tidak ada jalur. Tidak ada cara untuk membedakan seratus meter pertama dari seratus meter berikutnya, kecuali kompas di tangan Satria dan sudut cahaya yang bergerak pelan di antara celah kanopi.
Dua ratus meter.
Dua ratus lima puluh.
"Jalurnya harusnya"
Satria berhenti.
Mengangkat tangan.
Semua berhenti.
Mendengarkan.
Di antara suara napas mereka yang berat dan desau angin di antara dedaunan
Langkah.
Satu set langkah yang bergerak di antara pepohonan dengan ritme yang terlalu konsisten. Tidak ada variasi tidak ada perubahan kecepatan saat melewati akar, tidak ada jeda untuk mengecek arah. Hanya bergerak. Terus bergerak. Dengan kesabaran yang tidak dimiliki sesuatu yang punya batas waktu biologis.
Dari arah timur.
Dari arah yang baru saja mereka tinggalkan.
Satria tidak bergerak. Matanya menyapu area di antara pepohonan mencari sumber suara, mengidentifikasi jarak, menghitung apakah satu set atau lebih.
Hanya satu.
Tapi hutan setebal ini bisa menyerap suara langkah-langkah lain, membuat hanya satu yang terdengar.
"Gerak." Satu kata dari Satria. Pelan, tapi ada sesuatu di nadanya yang membuat semua kaki langsung bergerak tanpa perlu diulang.
Mereka bergerak lebih cepat dari sebelumnya.
Tiga ratus meter.
"Jalurnya." Satria berbisik pelan.
Tanah yang lebih padat. Vegetasi yang berbeda. Permukaan yang telah diinjak ribuan kaki sebelum mereka.
Jalur Linggarjati.
Mereka keluar dari hutan ke jalur utama.
Satria langsung menilai kondisi jalur atas dan bawah. "Turun. Sekarang."
Mereka mulai turun.
Di jalur yang kini terasa berbeda dari semalam. Jalur yang sama, pohon-pohon yang sama, batuan yang sama. Tapi ada sesuatu yang berubah dari cara mereka berjalan di atasnya. Lebih cepat. Lebih waspada. Dengan telinga yang tidak bisa berhenti mendengar.
Dan dari sisi hutan di timur jalur dari antara pepohonan yang kini berada di kanan mereka langkah itu masih ada.
Tidak masuk ke jalur.
Tidak mendekat.
Hanya ada.
Bergerak sejajar dengan mereka di antara pepohonan yang tidak bisa ditembus pandangan dari jalur ini. Di kedalaman hutan yang cukup untuk menyembunyikan sesuatu yang tidak mau dilihat, tapi tidak cukup untuk menyembunyikan suaranya.
Suara yang terus ada.
Yang tidak berhenti.
Yang terdengar semakin jelas seiring matahari mulai naik di antara kanopi bukan karena semakin dekat, tapi karena telinga yang sudah dikondisikan untuk mendengar sesuatu yang spesifik akan selalu menemukan apa yang dicarinya.
Di baris paling belakang di posisi yang dia pilih sendiri sejak awal Yazid berjalan dengan cara yang tidak berubah.
Terukur. Matanya lebih sering menoleh ke belakang daripada ke depan.
Dan setiap kali suara langkah itu terdengar sedikit lebih jelas dari sebelumnya setiap kali jarak yang tidak bisa dikonfirmasi itu terasa sedikit lebih dekat dari estimasi sebelumnya tangannya mengencang di tali carrier.
Bukan karena takut.
Tapi karena berada di posisi paling belakang berarti dia yang pertama harus tahu kalau sesuatu berubah.
sabar, yakin pasti byk yg mampir
💪💪💪
ambil yg bisa kau bawa, ingat temen"mu😂lari butuh tenaga💪
melirik, melihat dll, klu hrs ditambah awalan/akhiran tambahkan thor, spy bahasa'a enak dibaca
lanjuuuut👉👉👉
wlu cm baca, tp deg"an jg 💪
lanjut lagii
mrk blm saling kenal mosok manggil'a lu gue, yg pasti satria jg lbh tua✌
saran ajaa spy karyamu lbh sempurna💪