NovelToon NovelToon
Clean Off

Clean Off

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Nomella Kamiyama, mahasiswi pindahan dari New York, tiba di California dengan satu misi: mempertahankan kesempurnaan hidupnya—mulai dari penampilan, kecerdasan, hingga kontrol diri yang absolut.
Namun, panggung sempurnanya terusik oleh kehadiran Zeus Sterling, pria paling populer di kampus yang dikenal sangat hangat, narsis, dan gemar menebar pesona.
Di mata Nomella, Zeus hanyalah gangguan visual yang "sok ganteng," sementara bagi Zeus, Nomella adalah tantangan bagi egonya yang setinggi langit.
Namun, di balik senyum menawan dan keramahan yang luar biasa, Zeus menyimpan rahasia kelam. Ia adalah pria yang aslinya dingin dan hancur, yang kini hidup dalam "identitas" kakaknya, Zayn, yang tewas dalam kecelakaan balap tragis. Zeus menolak semua wanita dan hanya ingin langsung menikah, sebuah bentuk duka ekstrem yang ia jalani demi memenuhi ekspektasi orang tuanya dan dunia.
Ketegangan memuncak saat Nomella mulai membongkar topeng Zeus, memicu sisi gelap sang pria yang berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayang-bayang Dibalik Kemudi

Malam di Santa Monica merayap dingin, namun di dalam kamar utama penthouse Sterling, suasana terasa begitu berat oleh beban masa lalu.

Zeus tertidur di samping Nomella, napasnya tidak teratur. Peluh dingin membasahi keningnya saat alam bawah sadarnya menyeretnya kembali ke malam terkutuk tiga tahun lalu—malam yang selama ini terkunci rapat di balik jeruji delusi dan obat-obatan penenang.

Dalam mimpinya, langit tidak berbintang. Hanya ada lampu-lampu arena balap yang menyilaukan dan deru mesin yang memekakkan telinga. Namun, di balik keriuhan itu, ada sebuah percakapan di dalam paddock yang tidak pernah diketahui dunia.

Zeus melihat sosok Zayn—kakaknya, sang pangeran Sterling yang sempurna sedang duduk tertunduk dengan tangan gemetar. Tidak ada senyum menawan yang biasa dipuja publik. Yang ada hanyalah wajah seorang pria yang jiwanya telah kering kerontang.

"Aku lelah, Zeus," bisik Zayn, suaranya parau, nyaris pecah. "Semua orang menatapku seolah aku adalah tuhan yang tidak boleh berdarah. Papa, Mama, para pemegang saham... bahkan tunanganku. Dia menuntutku menjadi mesin, bukan manusia. Aku harus ini, aku harus itu. Aku benci setiap detik kepura-puraan ini."

Zayn mendongak, menatap Zeus dengan mata yang merah karena tangis yang ditahan selama bertahun-tahun. "Aku iri padamu, Zeus. Kau bisa berteriak saat marah, kau bisa tertawa saat bahagia tanpa peduli apa kata dunia. Kau bebas. Sedangkan aku? Aku hanyalah budak dari nama besar Sterling."

Zeus muda dalam mimpi itu memegang bahu kakaknya, mencoba memberikan kekuatan yang ia sendiri tidak miliki. "Kak, jangan bicara seperti itu. Kau adalah kebanggaan kami."

"Aku ingin berada di tempatmu, Zeus," Zayn mencengkeram lengan baju adiknya dengan putus asa. "Bisakah kau berada di tempatku sekali saja? Menjadi Zayn yang penuh topeng ini? Aku ingin bebas berekspresi, tanpa beban, tanpa tuntutan. Aku ingin sekali saja merasakan bagaimana rasanya menjadi dirimu yang apa adanya."

Zayn terisak, sebuah pemandangan yang menghancurkan hati Zeus. "Aku benci sebuah hubungan yang penuh transaksi. Kenapa kita tidak bisa langsung menikah saja dengan orang yang kita cintai? Membangun keluarga kecil, hidup bahagia tanpa bayang-bayang warisan... aku hanya ingin kedamaian, Zeus."

Hati Zeus luluh. Melihat pahlawannya hancur adalah siksaan yang lebih berat daripada kematian. Dengan suara bergetar, Zeus memeluk kakaknya erat. "Aku akan melakukannya, Kak. Aku akan menjadi dirimu jika itu bisa meringankan bebanmu. Kumohon jangan menangis lagi. Aku menyayangimu, Zayn. Aku akan menjaga segalanya untukmu."

Itulah janji maut itu. Sebuah janji untuk bertukar peran, sebuah kesepakatan untuk melindungi kerapuhan sang kakak di balik topeng kesempurnaan.

Namun, takdir memiliki selera humor yang kejam.

Zayn, yang merasa memiliki "izin" untuk menjadi liar dan bebas seperti Zeus untuk terakhir kalinya, melompat ke dalam mobil balapnya. Ia ingin membuang semua rasa frustrasinya ke dalam kecepatan. Ia memacu mesin hingga batas maksimal, melesat di lintasan seperti anak panah yang lepas dari busurnya.

Kecepatan penuh, tanpa beban, tanpa takut.

Lalu, dalam sekejap mata, semuanya menjadi mimpi buruk.

Zeus melihat dari kejauhan. Mobil kakaknya kehilangan kendali, menghantam pembatas beton dengan dentuman yang membelah malam, dan dalam hitungan detik, api melahap kerangka besi itu.

"ZAYN!!!"

Zeus berlari seperti orang gila. Kakinya terasa berat, paru-parunya terbakar, namun ia terus berlari menuju kobaran api yang membubung tinggi. Di belakangnya, kru medis dan penonton di arena balap ikut berhamburan dengan kecepatan penuh ke arah mobil yang terbakar.

Saat mendekati mobil yang hangus itu, di tengah panas yang menyengat, Zeus teringat janjinya: Aku akan menjadi dirimu, Zayn.

Kejadian itu begitu cepat. Dunia menganggap Zeus adalah penyebab kecelakaan itu karena mereka berada di lintasan yang sama. Dan Zeus, dalam kondisi syok dan hancur, membiarkan dunia percaya pada kebohongan itu. Ia membiarkan dirinya disalahkan, membiarkan citranya hancur, demi menjaga nama baik Zayn tetap bersih. Ia mengambil identitas Zayn, sang pria sempurna—ke dalam jiwanya yang sakit sebagai bentuk pemenuhan janji terakhirnya.

"Zayn... maafkan aku..."

Zeus terbangun dengan sentakan hebat. Napasnya memburu, jantungnya berdegup seolah ingin melompat keluar dari rusuknya. Ia menatap langit-langit kamar yang gelap, menyadari bahwa ia baru saja melihat kebenaran yang selama ini ia tekan dalam-dalam.

Di sampingnya, Nomella terbangun karena pergerakan Zeus yang kasar. Ia melihat wajah suaminya yang pucat pasi di bawah cahaya lampu tidur yang remang.

"Zeus? Ada apa? Kau mimpi buruk?" Nomella menyentuh bahu Zeus, tangannya terasa hangat di kulit Zeus yang dingin.

Zeus menoleh, menatap Nomella dengan pandangan yang kosong namun penuh luka. Ingatan tentang janji pada Zayn dan keinginan kakaknya untuk memiliki "keluarga kecil yang bahagia" kini berbenturan dengan delusi kehamilan yang ia ciptakan sendiri.

Tiba-tiba, Zeus meraih tangan Nomella dan meletakkannya di dadanya. "Mella... aku hanya ingin dia bahagia. Aku hanya ingin anak kita tidak perlu menjadi Zayn. Aku tidak ingin dia menjadi pangeran Sterling yang terkunci di dalam penjara emas."

Nomella terdiam. Ia bisa merasakan detak jantung Zeus yang liar. Rasa benci yang selama ini ia pelihara seolah menguap melihat kerapuhan pria di depannya. Ia tidak tahu apa yang Zeus impikan, tapi ia tahu bahwa suaminya sedang bertarung dengan iblis di dalam kepalanya.

"Tidurlah, Zeus," bisik Nomella, suaranya melembut tanpa ia sadari. Ia menarik Zeus ke dalam pelukannya, membiarkan kepala suaminya bersandar di dadanya. "Semuanya akan baik-baik saja. Tidak akan ada yang menjadi Zayn di sini."

Zeus memejamkan mata, menghirup aroma Nomella yang menenangkan.

Di dalam kegelapan malam itu, ia mulai menyadari bahwa delusi tentang anak ini bukan sekadar penyakit mental, melainkan bentuk penebusan atas janji yang ia buat pada kakaknya. Dan bagi Nomella, melihat Zeus yang tertidur kembali dalam pelukannya, ia mulai bertanya-tanya: Jika kebenaran tentang Zayn begitu menyakitkan, mampukah aku menjadi tempat berlindung baginya saat dunia ini runtuh?

Nomella mengusap rambut Zeus, menatap perutnya sendiri yang masih rata. Ia hanya merasa takut—takut akan hari di mana kebenaran terungkap tentang kehamilan nya dan menghancurkan pria yang kini sedang mencari kedamaian di dalam dekapannya.

🌷🌷🌷🌷

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!