Dunia fantasy dengan sistem yang digolongkan dari g hingga ssssr(tingkat tertinggi yang jarang ada). Guild SSAWF adalah salah satu aktivitas petualang tebesar di wilayah barat, sementara altar jiwa muda adalah tempat kelahiran Pattisiwiana Klobahrgeevinik sebuah lokasi yang dipercaya memiliki hubungan dengan sumber energi dunia namun belum pernah terungkap secara jelas.
Pattisiwiana (sering dipanggil Patti) adalah pemuda yang sejak kecil mendambakan menjadi petualang. Karna tidak memiliki bakat tempur atau sihir yang terlihat, ia hanya bisa bergabung ke regu scarlet Blades sebagai pembantu penghasil hasil buruan monster. Anggota regunya selalu merendahkannya, menyebutnya "bodoh dan tidak berguna" karena tidak mengerti taktik atau kesulitan mengikuti instruksi pada misi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon djase, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENJELANG MISI BARU
Beberapa hari telah berlalu sejak tes seleksi selesai, dan Patti kini telah menetap dengan baik di kompleks Guild SSAWF. Tempat tinggal yang disediakan untuk anggota baru bersih dan nyaman, dengan semua fasilitas yang dia butuhkan mulai dari ruang latihan sihir hingga perpustakaan yang penuh dengan buku tentang berbagai jenis ilmu pengetahuan dan seni petualangan.
Pada pagi yang cerah itu, Patti bangun lebih awal dari biasanya. Dia telah menerima panggilan dari Marthandelion untuk bertemu di ruang kerja pemimpin guild pagi itu sebuah undangan yang membuatnya merasa sedikit gugup namun juga penuh dengan harapan. Setelah melakukan rutinitas paginya berolahraga ringan, berlatih sihir dasar, dan sarapan dia berpakaian dengan rapi dan pergi menuju kantor pusat guild.
Kompleks guild yang terletak di jantung kota Valdris sangat luas dan indah, dengan bangunan-bangunan yang dibangun dengan gaya arsitektur magis yang indah. Setiap sudut kompleks dipenuhi dengan taman kristal, kolam air yang jernih, dan pepohonan magis yang memberikan kesan damai dan menyegarkan. Patti menyukai setiap langkah yang dia tempuh di kompleks ini setiap sudutnya tampaknya memiliki cerita sendiri dan memberikan inspirasi baru bagi dirinya.
Ketika dia tiba di depan pintu kantor Marthandelion, seorang penjaga dengan seragam guild yang rapi berdiri dengan sopan dan membukakan pintu untuknya. “Pemimpin sedang menunggu Anda, Pattiwisiana,” katanya dengan senyum ramah. “Silakan masuk saja.”
Di dalam ruang kerja yang luas dan terang benderang, Marthandelion sedang berdiri di depan jendela besar yang menghadap ke arah kota. Dia berbalik ketika Patti masuk, memberikan senyum yang hangat dan ramah. “Selamat pagi, Pattiwisiana,” ucapnya dengan suara yang penuh dengan kehangatan. “Saya senang kamu bisa datang lebih awal. Mari kita duduk dan berbincang.”
Mereka duduk di sekeliling meja besar yang terbuat dari kayu pohon tua yang indah. Di atas meja terdapat peta besar wilayah sekitar benua, beberapa buku tua, dan sebuah wadah kristal yang berisi air yang jernih dan bersinar dengan cahaya sendiri.
“Saya telah membaca laporan lengkap tentang kamu dan juga surat yang diberikan oleh Tharvonnian,” mulai Marthandelion dengan suara yang serius namun penuh dengan penghargaan. “Kampung halamanmu yang terkena penyakit misterius adalah masalah yang sangat mengkhawatirkan, dan saya sangat menghargai tekadmu untuk mencari Bunga Pembebas Jiwa untuk menyembuhkan mereka.”
“Terima kasih banyak atas perhatian Anda, Pemimpin,” jawab Patti dengan hormat. “Saya berjanji bahwa saya akan melakukan segala yang saya bisa untuk menemukan bunga tersebut dan menyembuhkan orang-orang yang saya cintai.”
“Saya tidak memiliki keraguan tentang itu,” sahut Marthandelion dengan mengangguk. “Dan itulah mengapa saya ingin membicarakan tentang persiapan untuk misimu tersebut. Mencari Bunga Pembebas Jiwa tidak akan mudah ia tumbuh di tempat yang sangat terpencil dan berbahaya di dalam Hutan Gelap Morghast, jauh di luar wilayah yang dikendalikan oleh guild.”
Dia kemudian membuka peta besar di atas meja dan menunjukkan lokasi tertentu dengan jarinya yang panjang. “Berdasarkan catatan kuno yang ada di perpustakaan guild, Bunga Pembebas Jiwa dipercaya tumbuh di sekitar Danau Ilusi yang terletak di jantung hutan. Area tersebut sangat berbahaya, tidak hanya karena makhluk buas yang hidup di sana, tapi juga karena ilusi magis alami yang bisa membingungkan bahkan petualang yang paling berpengalaman.”
“Namun sebelum kamu pergi untuk mencari bunga tersebut,” lanjut Marthandelion dengan suara yang lebih lembut, “kita perlu memastikan bahwa kamu memiliki persiapan yang cukup dan dukungan yang tepat. Guild akan memberikan semua yang kamu butuhkan mulai dari perlengkapan petualangan hingga pelatihan khusus yang akan membantu kamu menghadapi tantangan di dalam hutan.”
Patti merasa hati nya menjadi hangat mendengar kata-kata pemimpin guild. “Terima kasih banyak atas dukungan ini, Pemimpin,” ucapnya dengan suara yang penuh dengan rasa syukur. “Saya tidak bisa melakukan ini tanpa bantuan guild.”
“Kamu adalah bagian dari keluarga guild sekarang, Pattiwisiana,” jawab Marthandelion dengan senyum hangat. “Dan keluarga selalu saling membantu satu sama lain. Selain itu, saya telah memilih beberapa anggota guild berpengalaman untuk membantu kamu dalam misi ini – mereka akan memberikan dukungan dan keahlian yang kamu butuhkan.”
Dia kemudian memberi tahu Patti bahwa Luminarianna, Corviniann, dan Borthworgiann juga telah menyatakan kesediaan untuk bergabung dalam misi mencari Bunga Pembebas Jiwa. “Mereka telah membuktikan selama tes seleksi bahwa mereka adalah teman yang bisa dipercaya dan rekan kerja yang handal,” ucap Marthandelion dengan senyum bangga. “Bersama-sama, kalian akan membentuk tim yang sangat kuat dan mampu menghadapi segala tantangan.”
Setelah pembicaraan selesai, Marthandelion memberikan Patti sebuah amplop kecil yang berisi surat izin dari guild dan beberapa informasi penting tentang Hutan Gelap Morghast. “Kamu memiliki waktu sekitar dua minggu untuk bersiap secara maksimal,” katanya dengan suara yang jelas. “Selama waktu itu, kamu akan menjalani pelatihan khusus dari beberapa ahli guild mulai dari pelatihan bertarung dasar hingga teknik bertahan hidup di lingkungan yang ekstrem.”
Patti menerima amplop dengan hati yang penuh dengan tekad. “Saya akan menggunakan setiap detik waktu ini untuk bersiap dengan sebaik-baiknya,” janjinya dengan suara yang tegas. “Saya tidak akan mengecewakan guild atau orang-orang yang menunggu saya di kampung halaman.”
Setelah meninggalkan kantor Marthandelion, Patti langsung pergi menemui teman-temannya yang telah menjadi bagian dari tim misinya. Mereka berkumpul di taman kristal kecil yang terletak di belakang kompleks perumahan anggota guild, sebuah tempat yang tenang dan nyaman untuk berdiskusi.
“Kita akan melakukan ini bersama!” ucap Luminarianna dengan penuh semangat saat Patti memberitahu mereka tentang rencana misi dan dukungan dari guild. “Seperti yang kita janjikan sebelumnya, kita akan selalu saling membantu satu sama lain.”
“Saya sudah mulai mengumpulkan informasi tentang Hutan Gelap Morghast dari perpustakaan guild,” tambah Corviniann dengan mata yang bersinar dengan semangat. “Ada banyak catatan kuno tentang ilusi magis di sana dan cara untuk melewatinya. Saya akan berbagi semua informasi itu dengan kalian semua selama pelatihan kita.”
“Dan saya akan mulai membuat perlengkapan khusus yang mungkin kita butuhkan,” ucap Borthworgiann dengan suara yang penuh dengan antusiasme. “Saya bisa membuat baju pelindung yang ringan namun kuat, serta beberapa alat khusus yang akan membantu kita dalam perjalanan kita.”
Mereka kemudian mulai merencanakan jadwal persiapan mereka selama dua minggu ke depan. Mereka akan menghadiri pelatihan bersama setiap pagi, kemudian menghabiskan sore hari untuk berlatih kemampuan masing-masing atau mengumpulkan informasi yang dibutuhkan. Mereka juga sepakat untuk bertemu setiap malam untuk membahas kemajuan mereka dan menyelesaikan segala kekhawatiran atau masalah yang muncul.
Selama minggu-minggu berikutnya, Patti dan teman-temannya menjalani pelatihan yang intens namun sangat bermanfaat. Mereka belajar teknik bertahan hidup dari seorang petualang berpengalaman bernama Garrick Ironfist, yang telah menjelajahi sebagian besar wilayah berbahaya di benua ini. Dia mengajari mereka cara mencari makanan dan air yang aman di alam liar, cara membangun tempat berteduh yang kokoh, dan cara mengidentifikasi tanaman obat serta tanaman beracun.
Mereka juga belajar teknik bertarung dasar dari seorang ahli pertempuran bernama Sofia Moonblade, yang mengajari mereka cara melindungi diri dari serangan makhluk buas dan cara bekerja sama dalam pertempuran kelompok. Patti menemukan bahwa kemampuannya dalam sihir konstruksi bisa digunakan untuk membuat perisai sementara atau bahkan senjata darurat yang efektif dalam keadaan darurat.
Di samping pelatihan fisik dan taktis, mereka juga belajar tentang sejarah dan budaya daerah sekitar Hutan Gelap Morghast dari seorang ahli sejarah bernama Professor Aldric Silverleaf. Dia menjelaskan bahwa daerah tersebut dulunya adalah rumah bagi suku magis yang hidup damai dengan alam, namun setelah bencana besar terjadi berabad-abad yang lalu, wilayah itu menjadi tempat yang berbahaya dan ditinggalkan.
“Suku tersebut memiliki hubungan yang sangat erat dengan alam dan makhluk magis yang hidup di sana,” jelas profesor dengan suara yang penuh dengan semangat. “Mereka memiliki teknik khusus untuk berkomunikasi dengan makhluk-makhluk tersebut dan untuk bergerak secara tidak terdeteksi di dalam hutan. Beberapa teknik tersebut masih bisa kita pelajari dari catatan kuno yang tersisa.”
Patti merasa sangat tertarik dengan pelajaran tersebut. Dia mulai mempelajari bahasa kuno yang digunakan oleh suku tersebut dan teknik khusus untuk berkomunikasi dengan makhluk magis. Dia menemukan bahwa kemampuannya dalam sihir penyembuhan membuatnya memiliki hubungan yang alami dengan makhluk hidup, dan dia bisa dengan cepat mempelajari cara untuk menghormati dan berinteraksi dengan mereka dengan benar.
Di malam hari, setelah hari yang panjang penuh dengan pelatihan dan pembelajaran, Patti sering menghabiskan waktunya di perpustakaan guild. Dia membaca buku-buku tentang Bunga Pembebas Jiwa dan sifat penyembuhannya, mencoba memahami dengan lebih baik apa yang dia cari dan bagaimana cara mengumpulkannya dengan benar agar tidak merusak khasiat penyembuhannya.
Suatu malam, saat dia sedang membaca buku tua tentang tanaman magis, Tharvonnian mendekatinya dengan senyum ramah. “Saya melihat bahwa kamu sedang bersiap dengan sungguh-sungguh,” ucapnya dengan suara yang penuh dengan kebanggaan. “Itu adalah tanda seorang petualang yang baik selalu bersiap dan selalu ingin belajar lebih banyak.”
“Saya hanya ingin memastikan bahwa saya siap untuk menghadapi apa pun yang akan saya temui di sana,” jawab Patti dengan rendah hati. “Ada banyak orang yang bergantung pada saya.”
Tharvonnian mengangguk dengan setuju dan kemudian memberikan Patti sebuah kotak kayu kecil yang indah. “Ini adalah hadiah dari saya untuk kamu sebelum kamu pergi,” katanya dengan suara yang lembut. “Ini adalah kompas magis yang pernah saya gunakan dalam misi pertama saya sebagai anggota guild. Ia tidak hanya akan menunjukkan arah yang benar, tapi juga akan memberikan peringatan jika ada bahaya yang dekat atau jika kamu berada di jalur yang salah.”
Patti menerima kotak dengan rasa syukur yang mendalam. “Terima kasih banyak, Tuan Tharvonnian,” ucapnya dengan suara yang penuh dengan emosi. “Ini akan sangat berarti bagi saya.”
“Kamu sudah siap untuk ini, Pattiwisiana,” lanjut Tharvonnian dengan tap lembut di bahu Patti. “Kamu telah datang jauh dari seorang yang merasa tidak berharga hingga menjadi seorang petualang yang siap untuk menghadapi segala tantangan. Saya tahu bahwa kamu akan berhasil dan akan membawa harapan baru bagi banyak orang.”
Saat hari keberangkatan semakin dekat, Patti merasa campuran antara kegembiraan dan kekhawatiran. Dia tahu bahwa misinya tidak akan mudah dan bahwa dia akan menghadapi banyak tantangan di jalan. Namun dengan dukungan dari guild, persiapan yang matang, dan teman-teman yang setia di sisinya, dia merasa siap untuk menghadapi apa pun yang akan datang.
Dia tahu bahwa dia sedang memasuki bab baru dalam hidupnya bab yang akan menguji batasan kemampuannya dan karakternya sebagai seorang petualang dan seorang manusia. Tapi dia juga tahu bahwa ini adalah jalan yang dia pilih dengan sukarela, jalan yang akan membawanya untuk memenuhi janjinya dan membantu orang-orang yang membutuhkan.
Di malam sebelum hari keberangkatan, Patti berdiri di tepi jendela kamarnya, melihat ke arah langit yang penuh dengan bintang-bintang. Dia menyentuh medali di dadanya, cincin di tangannya, dan kompas magis yang baru saja dia terima. Dia berpikir tentang kampung halamannya, tentang teman-temannya di guild, dan tentang semua orang yang telah membantu dia dalam perjalanan ini.
Dengan hati yang penuh dengan tekad dan keyakinan yang kuat, dia berjanji untuk diri sendiri bahwa dia akan melakukan segala yang dia bisa untuk menemukan Bunga Pembebas Jiwa dan menyembuhkan penyakit yang telah menghantui kampungnya. Dan dengan dukungan dari semua orang yang dia cintai dan percayai, dia yakin bahwa dia akan berhasil.