Di dunia yang dipenuhi para ahli bela diri dan kultivator kuat, Goo Yoon hanyalah seorang pemuda biasa yang bahkan tidak mampu mengalahkan murid terlemah di sekte.
Namun Goo Yoon memiliki satu hal yang tidak dimiliki orang lain—tekad yang tidak pernah patah.
Setelah terus dipermalukan dan diremehkan, suatu hari ia menemukan sebuah seni bela diri kuno yang telah lama hilang. Seni tersebut dikenal sebagai Teknik Pedang Dewa Gila, sebuah kekuatan yang bahkan para master legendaris tak mampu kuasai.
Dengan latihan yang penuh darah, rasa sakit, dan kegagalan, Goo Yoon perlahan berubah.
Dari seorang pemuda lemah…
Menjadi legenda yang ditakuti seluruh dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jenih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Gua Rahasia di Gunung Hitam
Langit mulai berubah warna ketika matahari perlahan tenggelam di balik pegunungan.
Halaman latihan Sekolah Bela Diri Gunung Hitam kini sudah sepi. Para murid telah kembali ke asrama mereka untuk beristirahat setelah latihan panjang seharian.
Namun Goo Yoon masih berada di sana.
Tubuhnya duduk lemas di tanah, napasnya masih berat setelah latihan yang melelahkan. Tangannya terasa mati rasa karena mengayunkan pedang ratusan kali tanpa henti.
Angin malam mulai terasa dingin.
Goo Yoon menatap pedang kayu di tangannya.
Pedang itu sudah penuh goresan.
"Sampai kapan aku akan tetap seperti ini…"
Ia menghela napas panjang.
Sudah tiga tahun ia berada di Sekolah Gunung Hitam. Tiga tahun penuh latihan, rasa sakit, dan ejekan dari murid lain.
Namun kekuatannya hampir tidak berkembang.
Beberapa murid baru bahkan sudah melampauinya.
Namun Goo Yoon tidak pernah menyerah.
Ia perlahan berdiri.
Tubuhnya masih terasa berat, tetapi kakinya tetap melangkah menuju lereng Gunung Hitam.
Biasanya, Goo Yoon sering pergi ke sana untuk berlatih sendirian di malam hari.
Tempat itu jauh dari para murid lain.
Tidak ada yang menertawakannya.
Tidak ada yang mengganggunya.
Hanya suara angin dan pepohonan.
Langkah Goo Yoon menembus hutan yang gelap.
Daun-daun bergesekan tertiup angin.
Sesekali terdengar suara hewan malam dari kejauhan.
Namun Goo Yoon tidak takut.
Ia sudah sering berjalan di jalur ini.
Setelah beberapa saat berjalan, ia tiba di sebuah tebing kecil yang menghadap ke lembah.
Biasanya ia berlatih di tempat ini.
Namun malam ini, sesuatu terasa berbeda.
Angin yang berhembus dari arah tebing terasa lebih kuat dari biasanya.
Seolah-olah ada sesuatu di balik bebatuan itu.
Goo Yoon menyipitkan matanya.
"Apa itu…?"
Ia mendekat perlahan.
Di balik semak-semak dan batu besar, Goo Yoon melihat sebuah celah sempit di dinding tebing.
Celah itu terlihat seperti pintu masuk gua kecil.
"Sejak kapan ada ini…?"
Selama tiga tahun berlatih di gunung ini, Goo Yoon tidak pernah melihat gua tersebut sebelumnya.
Rasa penasaran mulai muncul di dalam hatinya.
Ia menyingkirkan semak-semak yang menutupi celah itu.
Ternyata di baliknya memang ada sebuah gua.
Udara dingin keluar dari dalamnya.
Gelap.
Sangat gelap.
Namun Goo Yoon tetap melangkah masuk.
Langkahnya bergema pelan di dalam gua.
Tap… tap… tap…
Cahaya bulan yang masuk dari celah pintu perlahan menghilang saat ia berjalan semakin dalam.
Untungnya tidak lama kemudian Goo Yoon melihat sesuatu yang aneh.
Di dinding gua terdapat ukiran.
Ukiran itu terlihat sangat tua.
Bentuknya seperti gambar manusia yang sedang mengayunkan pedang.
Goo Yoon mendekat.
Semakin ia melihatnya, semakin ia merasa aneh.
Gerakan pada ukiran itu terlihat… hidup.
Seolah-olah orang dalam gambar itu benar-benar sedang bergerak.
"Ini… teknik pedang?"
Jantung Goo Yoon mulai berdetak lebih cepat.
Ia mengikuti ukiran berikutnya di dinding gua.
Ada banyak gambar.
Puluhan.
Mungkin ratusan.
Setiap gambar menunjukkan gerakan pedang yang berbeda.
Beberapa terlihat sederhana.
Namun beberapa lainnya terlihat sangat aneh dan tidak biasa.
Seolah-olah melanggar semua aturan teknik pedang yang pernah ia pelajari.
Namun entah kenapa…
Goo Yoon merasa gerakan-gerakan itu memiliki kekuatan yang luar biasa.
Di tengah gua, ia akhirnya melihat sesuatu yang lain.
Sebuah kerangka manusia.
Kerangka itu duduk bersandar di dinding gua.
Di sampingnya terdapat sebuah pedang tua yang sudah berkarat.
Dan sebuah batu besar dengan tulisan yang diukir di atasnya.
Goo Yoon mendekat dengan hati-hati.
Tulisan itu terlihat sangat tua.
Namun masih bisa dibaca.
Ia membaca pelan.
“Bagi siapa pun yang menemukan tempat ini…”
“Teknik pedang yang terukir di gua ini adalah warisan terakhirku.”
“Namaku adalah Mad Sword Master.”
“Teknik ini disebut… Teknik Pedang Dewa Gila.”
Napas Goo Yoon terhenti sejenak.
Mad Sword Master.
Nama itu terasa asing… namun juga sangat kuat.
Tulisan di batu itu berlanjut.
“Teknik ini terlalu berbahaya untuk dunia Murim.”
“Siapa pun yang mempelajarinya harus siap menghadapi kematian.”
“Namun jika berhasil menguasainya…”
“Orang itu akan menjadi pendekar pedang yang tak terkalahkan.”
Goo Yoon berdiri terpaku.
Matanya kembali melihat ukiran-ukiran pedang di dinding gua.
Jantungnya berdetak semakin cepat.
Selama ini…
Ia selalu mencari cara untuk menjadi lebih kuat.
Dan sekarang…
Kesempatan itu ada tepat di depannya.
Goo Yoon menggenggam tangannya erat.
Matanya dipenuhi tekad yang kuat.
"Aku tidak peduli seberapa berbahaya teknik ini…"
Ia menatap ukiran pertama di dinding.
"Aku akan mempelajarinya."
Malam itu…
Di dalam gua tersembunyi Gunung Hitam…
Seorang pemuda lemah yang selama ini diremehkan oleh semua orang…
Mulai melangkah ke jalan yang akan mengguncang seluruh dunia Murim.
yg bner mn nih?
Hubungannya dengan gurunya membuat aku nostalgia sama guruku /Determined/