Menceritakan tentang Novita gadis berumur 27 tahun yang bekerja di sebuah perusahaan besar PT Kencana samudra jaya. perusahaan yang sangat bagus untuk memperbaiki kehidupannya. Namun semuanya tidak berjalan sesuai keinginannya saat mantannya dulu muncul sebagai direktur di perusahaan. Andra yang dulu dia kenal sebagai Arya muncul kembali. Dia berusaha keras menghindar dari masa lalunya namun masa lalunya justru datang kepadanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Novita berjalan kembali ke meja kerjanya dengan langkah lemas. Bahunya sedikit turun seolah baru saja menanggung beban berat. Padahal hari itu baru saja dimulai, tetapi rasanya sudah seperti melewati setengah hari yang melelahkan.
Yanti yang duduk di meja sebelah langsung memperhatikannya dengan penuh rasa penasaran. Ia mencondongkan tubuh sedikit ke arah Novita sambil menyandarkan siku di meja.
"Gimana?" tanya Yanti pelan, tapi penuh antusias. "Rasanya ketemu bencana perusahaan?"
Novita hanya menatap layar komputernya tanpa menjawab. Ekspresinya datar, seolah otaknya masih memproses sesuatu.
"Novita?" Yanti mengibaskan tangannya di depan wajahnya. "Halo? Masih hidup?"
Baru setelah itu Novita menarik napas pelan.
"Ruang direktur di mana?" tanyanya tiba-tiba.
Yanti mengerutkan kening. "Loh?"
"Ruang direktur," ulang Novita. "Di mana?"
Yanti menunjuk ke arah koridor panjang di ujung ruangan kantor mereka.
"Ujung koridor itu," jelasnya. "Belok kiri. Di sana ruang Pak Andra."
Novita terlihat bingung.
"Pak Andra siapa?" tanyanya polos.
Sekejap ruangan terasa sunyi.
Yanti menatapnya seperti baru saja mendengar sesuatu yang sangat aneh.
"Kamu serius?"
"Iya," jawab Novita.
Yanti menghela napas panjang lalu menyandarkan punggungnya ke kursi.
"Direktur kita," katanya pelan. "Namanya Andra Prasetya Putra."
Kalimat itu justru membuat Novita semakin bingung.
"Andra?" gumamnya.
Keningnya berkerut dalam.
"Kenapa bukan Arya?"
"Apa?" Yanti langsung menatapnya.
"Enggak... enggak apa-apa," buru-buru jawab Novita.
Ia menunduk, terlihat semakin gelisah.
Beberapa detik kemudian Novita berdiri dari kursinya. Tangannya mengepal kecil seolah sedang mengumpulkan keberanian.
"Aku ke sana dulu," katanya pelan.
Ia baru berjalan beberapa langkah ketika tiba-tiba berhenti.
Perlahan ia menoleh ke belakang dan menatap Yanti dengan tatapan memohon.
"Yanti..." katanya ragu. "Temenin aku, dong."
Yanti langsung melotot.
"Hah?!"
"Cuma sebentar," kata Novita cepat. "Aku cuma—"
"Bukannya tadi sudah dibilang jangan ngeyel?" potong Yanti. "Sudah diperingatkan juga. Kamu masih saja mau cari masalah."
Novita meringis.
"Aku takut," akunya jujur.
"Bagus," jawab Yanti tanpa simpati. "Biar kapok."
Novita langsung menunduk lesu.
Namun ia belum menyerah.
"Yanti..." katanya lagi dengan suara kecil. "Nanti sepulang kerja aku beliin kamu boba."
Yanti menyipitkan mata.
"Boba?"
"Iya. Yang besar," kata Novita cepat.
Belum sempat Yanti menjawab, Risa yang duduk dua meja dari mereka tiba-tiba ikut menyahut.
"Mau dibeliin boba satu truk tangki juga aku tetap enggak mau," katanya santai tanpa mengalihkan pandangan dari komputernya.
Yanti langsung mengangguk setuju.
"Tuh dengar," katanya. "Kami tidak bisa disuap."
"Tega," gumam Novita.
"Ini bukan soal tega," kata Yanti sambil menunjuk ke arah koridor. "Itu direktur. Kalau kamu bikin masalah, kami bisa ikut terseret."
Novita semakin menunduk.
"Baiklah," katanya pelan.
Ia tampak benar-benar kehilangan semangat.
Saat itulah seorang wanita paruh baya berjalan mendekat. Penampilannya rapi dengan map laporan di tangannya.
"Ada apa ini?" tanyanya lembut.
"Bu Dewi," sapa Yanti.
Novita langsung menoleh.
Wanita itu tersenyum ramah.
"Kenapa mukanya seperti anak yang mau dihukum?" tanyanya ringan.
Novita ragu-ragu menjawab.
"Saya... dipanggil direktur," katanya pelan.
"Oh?"
Bu Dewi terlihat berpikir sejenak lalu mengangkat map di tangannya.
"Kebetulan sekali," katanya. "Saya juga mau menyerahkan laporan ke Pak Direktur. Ayo ikut dengan saya."
Mata Novita langsung berbinar.
"Benarkah, Bu?"
"Iya," jawab Bu Dewi sambil tersenyum.
Yanti berbisik pelan, "Beruntung sekali kamu."
Novita langsung berdiri cepat dan mengikuti Bu Dewi.
Meski begitu langkahnya masih terasa kaku.
Koridor menuju ruang direktur terasa jauh lebih panjang dari yang dibayangkannya.
Setiap langkah membuat jantungnya berdebar semakin keras.
"Tenang saja," kata Bu Dewi tiba-tiba seolah membaca pikirannya.
"Iya, Bu," jawab Novita cepat.
Mereka akhirnya sampai di depan pintu besar dengan papan nama berwarna emas.
Direktur administrasi.
Bu Dewi mengetuk pintu dengan sopan.
"Masuk," terdengar suara dari dalam.
Pintu dibuka.
Di dalam ruangan itu seorang pria sedang duduk di balik meja besar. Penampilannya rapi dengan kemeja putih dan jas yang digantung di kursinya.
Ia mengangkat kepala saat mereka masuk.
"Bu Dewi," sapanya dengan nada cukup ramah.
"Selamat siang, Pak," jawab Bu Dewi sambil menyerahkan map laporan.
"Ini laporan administrasi bulan ini."
Pria itu menerimanya lalu membuka beberapa halaman.
Novita berdiri di belakang Bu Dewi dengan kaku. Ia tidak berani mengangkat kepala terlalu lama.
"Baik," kata pria itu setelah melihat sekilas. "Terima kasih."
Ia kemudian menutup map tersebut.
"Kalau begitu Bu Dewi bisa kembali ke kantor dulu," lanjutnya.
Namun Bu Dewi tidak langsung bergerak.
"Maaf, Pak," katanya sopan. "Saya ingin tahu ada masalah apa sampai Novita dipanggil. Dia baru bekerja hari ini."
Pria itu menatap Novita.
Tatapannya tajam namun tetap tenang.
"Masalahnya sederhana," katanya.
Ruangan itu terasa semakin sunyi.
"Dia tidak sopan," lanjutnya.
Novita menelan ludah.
"Saat bertemu dengan saya tadi siang, dia hanya diam saja. Tidak memberi salam kepada atasannya."
Bu Dewi langsung terlihat terkejut.
"Oh..." katanya.
Ia segera menundukkan kepala sedikit.
"Maafkan dia, Pak. Saya akan menegurnya."
Novita masih diam, terlalu gugup untuk berbicara.
"Baik," jawab pria itu singkat.
Bu Dewi kemudian berbalik.
"Mari," katanya pada Novita.
Namun bukannya berjalan biasa, Bu Dewi justru langsung menarik tangan Novita.
"Permisi, Pak," katanya cepat.
Mereka segera keluar dari ruangan.
Begitu pintu tertutup, Novita langsung menghembuskan napas panjang.
"Hufff..."
Wajahnya terlihat jauh lebih lega.
"Terima kasih banyak, Bu," katanya.
Bu Dewi menatapnya dengan ekspresi serius.
"Novita," katanya pelan. "Jangan diulangi lagi."
Novita langsung mengangguk cepat.
"Iya, Bu."
"Kalau bertemu Pak Direktur, beri salam. Bersikap sopan. Minimal anggukkan kepala," jelas Bu Dewi.
"Baik, Bu. Saya mengerti."
Bu Dewi kemudian tersenyum tipis.
"Bagus."
Mereka mulai berjalan kembali ke arah ruang kerja.
"Semoga kamu betah bekerja di sini," lanjut Bu Dewi dengan nada lebih hangat.
Novita menatapnya.
"Saya juga berharap begitu, Bu."
"Kalau ada kesulitan, jangan ragu bilang pada saya," kata Bu Dewi.
Novita mengangguk.
"Terima kasih, Bu Dewi."
Langkahnya terasa jauh lebih ringan sekarang.
Setidaknya satu masalah sudah lewat.
Meski begitu, di dalam pikirannya masih tersisa satu pertanyaan yang belum terjawab.
Kenapa nama direktur itu Andra...
Bukan Arya.
Pertanyaan itu terus berputar di kepala Novita sepanjang perjalanan kembali ke ruang kerja. Ia bahkan tidak terlalu memperhatikan apa yang dikatakan Bu Dewi setelah itu. Pikirannya masih dipenuhi kebingungan yang sama.
Begitu mereka sampai di ruang kerja, Bu Dewi berhenti sejenak.
"Baik, kembali bekerja," katanya dengan nada ringan.
"Iya, Bu. Terima kasih," jawab Novita sopan.
Bu Dewi kemudian berjalan kembali ke ruangannya sendiri.
Novita baru saja melangkah menuju mejanya ketika Yanti tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya. Wajahnya penuh rasa ingin tahu.
"Nah!" katanya cepat. "Akhirnya balik juga."
Novita bahkan belum sempat duduk.
"Ada apa?" tanya Yanti langsung.
"Kenapa kamu dipanggil Pak Andra?"
Risa yang tadi sibuk dengan komputernya juga sedikit memiringkan kepalanya, tampak ikut mendengarkan meskipun pura‑pura tidak peduli.
Novita langsung menundukkan kepala.
"Maaf," katanya pelan.
Yanti berkedip bingung.
"Hah?"
"Maaf," ulang Novita lagi.
"Kenapa kamu malah minta maaf ke aku?" tanya Yanti heran.
Novita terlihat sedikit gelisah.
"Karena aku tadi ngeyel," katanya.
Yanti menghela napas panjang.
"Iya memang," jawabnya datar.
"Aku kan sudah bilang jangan cari masalah sama orang itu."
Novita mengangguk kecil.
"Iya..."
"Terus?" tanya Yanti lagi tidak sabar. "Kenapa kamu dipanggil?"
Novita duduk perlahan di kursinya.
"Tadi waktu di lift..." katanya pelan.
"Aku tidak memberikan salam."
Yanti langsung terdiam beberapa detik.
Kemudian ia menatap Novita dengan ekspresi tidak percaya.
"Serius?"
Novita mengangguk pelan.
"Aku cuma diam saja," katanya. "Aku bahkan tidak tahu dia direktur."
Yanti menepuk dahinya pelan.
"Ya ampun, Novita..."
Risa yang sejak tadi mendengarkan akhirnya ikut menyahut.
"Berarti kamu benar‑benar bikin kesan pertama yang buruk," katanya santai.
Novita semakin menunduk.
"Aku tidak sengaja," gumamnya.
Yanti menghela napas lagi lalu bersandar di meja Novita.
"Dengar," katanya lebih serius.
"Kalau di kantor ini, ada satu aturan tidak tertulis."
Novita mengangkat kepala sedikit.
"Apa?"
"Kalau ketemu Pak Andra, minimal beri salam," kata Yanti.
"Kalau lewat, anggukkan kepala. Kalau bicara, pakai bahasa yang sopan."
Novita mengangguk.
"Iya. Bu Dewi juga bilang begitu."
"Bagus kalau kamu sudah diingatkan," kata Yanti.
Ia kemudian menyilangkan tangan di dada.
"Karena orang itu..."
Yanti berhenti sebentar seolah mencari kata yang tepat.
"Tidak suka basa‑basi," lanjutnya.
"Dan kalau dia menegur seseorang, biasanya keras."
Novita menelan ludah.
"Keras?"
"Sangat," jawab Risa singkat dari mejanya.
Yanti mengangguk setuju.
"Dia pernah memarahi satu manajer di depan banyak orang," katanya.
"Cuma karena laporan telat sepuluh menit."
Mata Novita membesar.
"Sepuluh menit saja?"
"Iya," jawab Yanti.
"Makanya jangan cari gara‑gara dengan dia."
Novita langsung mengangguk berkali‑kali.
"Aku tidak mau lagi," katanya cepat.
Yanti menatapnya beberapa detik lalu akhirnya tertawa kecil.
"Lihat wajahmu," katanya.
"Seperti habis dimarahi kepala sekolah."
Novita menghela napas panjang.
"Aku benar‑benar takut tadi," akunya jujur.
"Apalagi waktu Bu Dewi hampir disuruh keluar."
"Lalu?" tanya Yanti penasaran.
"Apa yang terjadi?"
"Bu Dewi bilang aku baru bekerja hari ini," jawab Novita.
"Dia juga yang minta maaf ke Pak Andra."
Yanti mengangguk pelan.
"Untung ada Bu Dewi," katanya.
"Kalau tidak, mungkin kamu sudah dimarahi panjang lebar."
Novita langsung menunduk lagi.
"Jangan menakut‑nakuti begitu," katanya lemah.
Yanti tertawa kecil.
"Aku cuma jujur."
Beberapa detik kemudian Yanti menepuk bahu Novita.
"Sudahlah," katanya.
"Yang penting masalahnya sudah selesai."
Novita mengangguk pelan.
"Iya."
"Mulai sekarang kerja yang benar," lanjut Yanti.
"Dan kalau lihat Pak Andra..."
Novita langsung menyela cepat.
"Salam."
Yanti tersenyum.
"Bagus."
"Setidaknya kamu cepat belajar."
Novita menunduk kembali ke mejanya dan berpura‑pura fokus pada layar komputer.
Tetapi pikirannya masih dipenuhi tanda tanya yang sama.
Apa mungkin...
Itu hanya kebetulan?