Di dunia nyata, Aira adalah gadis pemalu yang sangat menyukai film kultus berjudul "The Velvet Manor". Film tersebut terkenal karena adegan-adegannya yang sensual dan karakter Nyonya Isabella von Raven yang kejam namun memikat, yang dikelilingi oleh empat pelayan pribadi yang setia sekaligus berbahaya.
Suatu malam, sebuah insiden di tangga membuat Aira kehilangan kesadaran. Saat terbangun, ia mendapati dirinya berada di dalam kamar mewah yang persis seperti lokasi syuting "The Velvet Manor". Ia kini menempati tubuh Isabella von Raven, sang nyonya rumah yang dikenal kejam. Di hadapannya, berdiri empat pelayan pribadi yang memiliki reputasi berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11. Sidang dibalik Bayangan
Lampu kristal raksasa yang tergantung di langit-langit aula utama The Velvet Manor berpendar redup, memberikan bayangan panjang yang tampak seperti jari-jari raksasa yang mencoba mencengkeram setiap sudut ruangan.
Aira duduk di singgasana beludru merahnya—sebuah kursi kebesaran yang seharusnya melambangkan kekuasaan mutlak keluarga von Raven, namun malam ini, kursi itu terasa seperti takhta eksekusi yang dingin.
Gaun sutra hitam yang ia kenakan terasa sangat berat, seolah-olah beban seluruh rahasia dan dosa Isabella yang asli kini menumpuk di pundaknya, menekan napasnya hingga sesak.
Di sekelilingnya, suasana begitu sunyi hingga suara detak jam dinding kuno di ujung aula terdengar seperti hantaman palu yang menghitung mundur sisa waktunya.
Empat pasang mata predator kini menguncinya dalam lingkaran yang tak terpatahkan.
Dante berdiri tepat di belakangnya.
Tanpa sarung tangan putihnya, jemarinya yang panjang dan kuat bersandar di sandaran kursi, memberikan tekanan pelan yang konstan di bahu Aira—sebuah klaim kepemilikan yang sangat fisik.
Di sisi kiri, Kael masih memiliki napas yang berat, sisa dari kemarahan dan gairah liarnya di lorong tadi. Ia menatap bibir Aira yang sedikit membengkak dengan tatapan yang haus, seolah ia belum selesai mencicipi setiap inci dari "pemberontakan" sang Nyonya.
Di sisi kanan, Julian duduk dengan santai di tepi meja mahoni, memutar-mutar sebuah botol kaca berisi ramuan merah pekat dengan senyum manipulatif yang tidak pernah mencapai matanya.
Sementara itu, di sudut yang paling gelap di belakang mereka, Zane berdiri diam seperti bayangan kematian itu sendiri. Tangannya berada di gagang pedang, matanya mengawasi pintu keluar untuk memastikan bahwa tidak ada jalan lari bagi siapa pun di ruangan itu.
"Mari kita bicara tentang 'perubahan' ini, Nyonya," suara Dante membelah kesunyian, dingin dan tajam seperti mata pisau yang baru diasah.
Dante merendahkan kepalanya, bibirnya hampir menyentuh telinga Aira yang panas. Aroma musk dan kopi hitam dari pria itu menyelimuti indra penciuman Aira, membuatnya sulit untuk berpikir jernih.
"Isabella yang saya kenal selama belasan tahun tidak pernah takut pada kegelapan. Ia tidak pernah gemetar hanya karena seorang pelayan masuk tanpa mengetuk.
Dan yang paling penting..." Dante memberikan sedikit tekanan pada bahu Aira, "Isabella tidak pernah mendesah sepasrah itu di bawah sentuhan saya."
Aira mencengkeram lengan kursi singgasananya hingga buku-buku jarinya memutih, kontras dengan warna merah beludru yang mencolok.
"Aku... aku hanya bosan dengan semua kekerasan yang sia-sia ini, Dante. Apakah salah jika aku ingin mencoba cara baru untuk memimpin kalian?"
"Cara baru?" Julian terkekeh pelan, sebuah suara yang terdengar seperti gesekan sutra yang indah namun menyembunyikan jerat. Ia melangkah mendekat, memangkas jarak di antara mereka, lalu menggunakan dua jarinya untuk mencubit dagu Aira, memaksanya menatap mata cokelat gelapnya yang penuh selidik.
"Atau Anda sedang mencoba strategi baru, Nyonya? Menciptakan sosok 'suci' yang palsu, yang begitu rapuh dan butuh perlindungan, agar kami semua kehilangan akal sehat dan menjadi budak emosi Anda?" Julian menyodorkan gelas berisi cairan merah pekat ke depan bibir Aira. Aroma jamu yang pahit dan menusuk segera menyerbu penciuman Aira.
"Minumlah. Jika Anda benar-benar Isabella, ramuan pembersih darah ini adalah minuman favorit Anda setiap kali Anda merasa 'terganggu' oleh pikiran lemah."
Aira menatap cairan itu dengan ngeri. Di dunia aslinya, ia bahkan kesulitan menelan obat sirup yang pahit. Namun di sini, gelas ini adalah ujian kesetiaan.
"Kenapa diam?" Kael melangkah maju, memojokkan Aira dari sisi lain.
Tangannya yang kasar mencengkeram lutut Aira melalui kain sutra gaunnya, sebuah tindakan yang sangat tidak sopan namun penuh dengan hasrat yang tertahan.
"Biasanya Anda akan menyiramkan gelas ini ke wajah Julian jika dia berani memerintah Anda. Kenapa sekarang Anda terlihat seperti mangsa yang sedang menunggu giliran untuk diterkam?"
Ketegangan di aula itu menjadi begitu pekat, menciptakan atmosfer sensual yang menyesakkan.
Aira merasa terjepit di antara dominasi Dante, manipulasi Julian, dan hasrat liar Kael. Di saat yang sama, ia melirik ke arah cermin besar yang tergantung di dinding samping.
Di sana, di balik tirai merah yang gelap, Aira melihat Isabella asli. Sosok itu tersenyum lebar, menatap Aira dengan mata hijau yang berkilat haus akan kekacauan.
"Ayo, Aira... minum saja. Biarkan mereka terus menebak-nebak siapa kau sebenarnya di balik topeng porselen itu.
Jangan biarkan mereka menang semudah itu," bisik suara itu di kepala Aira, menyerupai cakaran kuku di atas kaca.
Aira memejamkan matanya sejenak, mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. Ia tidak boleh menyebut nama "Aira". Belum saatnya. Ia harus mempertahankan rahasia ini selamanya jika bisa.
"Kalian terlalu banyak bicara untuk orang-orang yang statusnya hanya sebagai pelayan keluarga von Raven," ujar Aira dengan nada yang ia paksakan menjadi serak dan angkuh, persis seperti nada bicara Isabella dalam film.
Ia meraih gelas itu dengan tangan yang ia usahakan agar tidak gemetar, lalu menenggak ramuan itu dalam satu tarikan napas panjang. Rasa pahit yang luar biasa—seperti empedu bercampur logam—membakar tenggorokannya, memicu rasa mual yang hebat di perutnya.
Namun, Aira menahannya dengan sekuat tenaga, memaksakan cairan itu turun meski matanya mulai berair karena rasa pedih.
Setelah gelas itu kosong, ia meletakkannya kembali ke nampan dengan suara klontang yang cukup keras.
Ia menghapus tetesan merah di sudut bibirnya dengan punggung tangannya, lalu menatap mereka satu per satu dengan pandangan menantang.
Dante menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara kecurigaan yang mendalam dan sebuah kekaguman gelap yang baru saja tumbuh.
Ia menjilat ibu jarinya yang tadi sempat menyentuh bibir Aira, matanya tetap terkunci pada milik Aira.
"Akting yang sangat bagus, Nyonya," bisik Dante, kini benar-benar mencium leher Aira di hadapan yang lain sebagai penutup sidang malam itu.
"Tapi permainan ini baru saja dimulai. Karena perilaku Anda yang 'tidak stabil' akhir-akhir ini, saya memutuskan untuk memperketat pengawasan. Mulai malam ini, salah satu dari kami akan berjaga di dalam kamar tidur Anda. Setiap malam. Bergiliran."
Julian tersenyum penuh kemenangan, sementara Kael mengepalkan tangannya karena tidak sabar menunggu gilirannya.
Zane hanya mengangguk pelan dari kegelapan.
Aira menyadari bahwa ia tidak benar-benar berhasil menipu mereka.
Ia hanya berhasil membuat mereka semakin terobsesi untuk membongkar siapa dia sebenarnya melalui ketegangan yang menyiksa. Penjaranya kini bukan lagi hanya sebuah mansion mewah, tapi sebuah kamar tidur di mana ia tidak akan pernah benar-benar sendirian lagi.
Hening yang mencekam menyelimuti ruangan setelah gema suara Dante memudar. Aira merasakan hawa dingin yang merayap dari lantai marmer, seolah-olah sejarah kelam rumah ini sedang berusaha menariknya masuk ke dalam tanah.
Tatapan mata keempat pria di sekelilingnya terasa seperti beban fisik yang menekan bahunya, menuntut kejujuran yang bahkan ia sendiri tidak yakin bisa berikan.
Dante melangkah mundur satu jentikan jari, memberikan sedikit ruang bagi Aira untuk bernapas, namun pengaruh kehadirannya tetap terasa dominan.
Ia menyesuaikan letak sarung tangan putihnya dengan gerakan yang sangat presisi, sebuah tanda bahwa ia sedang mengendalikan emosinya sendiri.
"Ketidakpastian adalah musuh terbesar dalam rumah ini, Nyonya," ucapnya dengan nada datar namun penuh ancaman tersembunyi. "Kami telah membangun fondasi berdasarkan kesetiaan yang mutlak, dan setiap keraguan akan dianggap sebagai ancaman."
Zane, yang sejak tadi berdiri diam seperti patung di sudut remang-remang, akhirnya bergerak.
Langkah kakinya nyaris tak terdengar, sebuah keahlian yang hanya dimiliki oleh mereka yang terbiasa bergerak dalam kegelapan.
Ia berhenti tepat di depan Aira, matanya yang tajam menatap lurus ke dalam pupil mata wanita itu, mencari celah atau kebohongan yang mungkin terselip di sana.
"Dinding aula ini telah menyaksikan banyak hal," bisik Zane, suaranya parau namun stabil.
"Ia tahu perbedaan antara pengkhianatan dan kebingungan. Saat ini, Nyonya, Anda terlihat seperti orang yang tersesat di labirin buatan Anda sendiri. Pertanyaannya adalah, apakah Anda benar-benar ingin menemukan jalan keluar, atau justru ingin terkubur di dalamnya?"
Julian, yang biasanya tampil dengan senyum sinis, kini tampak lebih serius. Ia berjalan perlahan mengitari kursi singgasana Aira, jari-jarinya sesekali menyentuh ukiran kayu yang rumit.
"Permainan identitas ini melelahkan, bukan?" tanyanya tanpa menoleh.
"Isabella yang lama mungkin memiliki duri, tapi setidaknya kami tahu di mana letak racunnya. Anda... Anda adalah teka-teki yang belum terpecahkan."
Kael tetap berada di posisi yang paling dekat dengan Aira, namun amarah yang tadi berkobar di matanya kini telah berubah menjadi kewaspadaan yang dingin.
Ia memperhatikan setiap helai napas Aira, seolah sedang menghitung sisa waktu yang dimiliki wanita itu sebelum rahasianya terbongkar.
Ketegangan di ruangan itu memuncak saat lampu gantung di atas mereka sedikit berderit, ditiup angin malam yang masuk melalui celah jendela yang tinggi.
Dante memberikan instruksi terakhirnya untuk mengakhiri sidang informal malam itu.
"Zane akan memastikan Anda tetap berada di bawah pengawasan ketat. Keamanan Manor ini tidak boleh dikompromikan oleh siapa pun, bahkan oleh mereka yang memakai wajah Nyonya rumah."
Aira hanya bisa terpaku, merasa bahwa setiap langkah yang ia ambil akan membawanya semakin dalam ke dalam konspirasi yang tidak ia mengerti.
Di kejauhan, ia merasa seolah melihat bayangan lain yang bergerak di cermin aula, sebuah siluet yang mengingatkannya bahwa ia bukanlah satu-satunya yang menyimpan rahasia di tempat ini.
btw udah lama Kael tidak menampakkan diri Thor...
Lanjuutt