Arisa dikhianati calon suaminya sendiri di hari pernikahan. Namun karena tak mau malu, Arisa memutuskan menikahi pemuda desa bernama Ogi, yang diketahui juga sebagai murid favorit ayahnya Arisa dulu.
Ogi yang sepenuhnya punya usaha kerupuk di desa, membawa Arisa untuk ikut tinggal dengannya ke desa. Saat itulah kehidupan Arisa berubah drastis.
"Suara apa itu, Kang? Aku nggak bisa tidur," bisik Arisa sambil menghimpitkan badannya ke dekat Ogi.
"Itu cuman suara burung hantu atuh, Neng..." sahut Ogi berusaha tenang.
"Kompor gasnya mana, Kang?"
"Di sini masaknya masih pakai kayu atuh, Neng..."
"Ini kenapa sinyalnya nggak ada, Kang? Aku butuh wifi!"
"Di sini wifi belum ada atuh, Neng. Kalau mau sinyal pun harus naik ke tebing dulu."
Banyak pengalaman baru yang harus dilalui Arisa. Bagaimana kisah romantis dan kekocakkan mereka tinggal di desa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 4 - Usaha Kerupuk
Empat jam sudah bus melaju dijalanan. Membuat Arisa mulai merasa bosan.
"Udah dekat nggak?" tanya Arisa.
"Lumayan, Neng," jawab Ogi.
"Dari tadi jawabanmu lumayan aja terus. Tapi ini belum sampai-sampai juga. Sejauh apa sih desanya?"
"Kita butuh waktu sekitar enam jam naik bus. Terus pas nanti sampai terminal, nanti dijemput sama Kang Abdi. Nah, pas naik mobil itu kita perlu waktu tiga jam untuk sampai ke Desa Cikawening..."
Mulut Arisa menganga saat mendengar penjelasan itu. "Gila... Jadi kita bakalan seharian di perjalanan? Jauh banget," keluhnya.
"Makanya sebelum Neng Arisa tadi mau menikahiku aku pastikan dulu apa Eneng nya nggak masalah. Karena sama sekali nggak masalah, ya sudah aku juga nggak masalah," tutur Ogi.
Mata Arisa mengerjap cepat. Dia mencoba berpikir positif. "Tapi bagus deh. Artinya aku bisa pergi sejauh mungkin dari kota untuk sejenak. Di desamu pasti udaranya sejuk kan?" tanggapnya.
"Sejuk atuh, Neng. Kadang kalau pagi itu airnya kerasa kayak air es," ungkap Ogi.
"Hah? Air es? Itu namanya dingin bukan sejuk, Kang!" sahut Arisa.
"Benar juga ya. Tapi aku akan pastikan Neng Arisa nyaman tinggal di sana." Ogi memastikan.
Arisa mengangguk. Dia lalu menguap lebar karena mulai mengantuk.
"Tidur aja atuh, Neng. Kalau udah sampai, nanti aku bangunin," saran Ogi.
"Makasih ya, Kang. Aku akan mencoba tidur," sahut Arisa. Dia segera memejamkan mata dan menyandarkan tubuhnya ke kursi. Akan tetapi sayangnya Arisa tak bisa tidur.
Saat menoleh ke arah Ogi, justru lelaki itu yang tertidur. Arisa hanya bisa menggelengkan kepala.
"Nyuruh tidur, eh malah dia yang tidur," gerutu Arisa.
Beberapa menit kemudian bus berhenti untuk mengisi bensin. Saat itulah Arisa membangunkan Ogi.
"Eh, kenapa, Neng?" Ogi bangun dengan gelagapan.
"Kita udah sampai?" tanya Arisa antusias.
Ogi mengedarkan pandangan ke sekeliling. "Belum ini atuh, Neng. Kayaknya busnya lagi ngisi bensin. Ayo kita turun, Neng. Kita makan di warung," ajaknya. Dia berjalan keluar lebih dulu dari bus.
"Ya udah. Ayo! Aku kebetulan lapar," balas Arisa. Dia mengikuti Ogi dari belakang.
Ogi dan Arisa duduk bersebelahan di warung makan yang ada di seberang pom bensin. Kala itu mereka memesan seblak dan teh es. Keduanya tidak perlu menunggu lama untuk menunggu makanan dihidangkan.
"Ngomong-ngomong, kenapa kau mau menikahiku begitu saja? Kau bahkan terkesan santai sekali. Normalnya orang bakalan menolak," celetuk Arisa seraya melirik Ogi.
"Papanya Neng Arisa itu baik sekali sama aku. Anggap saja ini aku lakukan untuk membalas kebaikannya. Lagi pula, Neng... Aku udah nggak punya keluarga di kampung. Cuman tinggal nenek sama kakak laki-lakiku. Itu pun kakakku udah nikah dan tinggal sama keluarganya sendiri," terang Ogi sambil terus melahap seblaknya.
"Kau kenapa tinggal di kampung? Kan kau pernah kuliah di kota? Kenapa nggak tinggal di kota aja? Cari kerjaan apa gitu."
Ogi menggeleng. "Nggak bisa atuh, Neng. Aku harus meneruskan usaha peninggalan orang tuaku."
"Warisan? Usaha apa, Kang?" pupil mata Arisa membesar. Senyuman lebar mengembang di wajahnya. Dia menduga mungkin saja Ogi punya warisan banyak. Seperti memiliki tanah yang banyak misalnya. Arisa bahkan berpikir, mungkin saja Ogi lebih kaya dibanding Marcel.
"Usaha kerupuk atuh, Neng. Rasana teh ngeunah!" ungkap Ogi sambil mengacungkan jempolnya.
Seketika senyuman Arisa pudar. Kerupuk? Usaha kerupuk? Dimatanya itu hanyalah usaha kecil.
"Nanti pas udah sampai rumah. Langsung cobain kerupuknya ya," tawar Ogi.
"Iya deh, hehehe..." Arisa tertawa dengan wajah masam.