Ditinggalkan ,dihina, dan dicap mandul, Azura kembali ke desa kerumah orang tuanya dengan hati hancur setelah 5 tahun pernikahan diceraikan suaminya . Namun saat hidupnya mulai bangkit, rahasia besar keluarga terungkap, ancaman, dan musuh berbahaya . Di tengah badai itu, Azura bertemu Rayyan ,duda kata dengan dua anak kembar dan luka masa lalu . Akankah Azura mempertahankan harga diri, keluarga, dan cintanya? Atau masa lalu kembali meruntuhkan segalanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Niskala NU Jiwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak yang Terputus dan Panggilan Baru
Malam itu, setelah memastikan ibu Laras dan si kembar tidur di kamar tamu, Azura menarik Farhan masuk ke ruang kerjanya.
Suasana tentang menyelimuti ruangan.
"Hasil interogasi?" tanya Azura to the point.
Farhan menggeleng frustasi. "Mereka tidak tahu siapa majikan sebenarnya. Mereka hanya disewa oleh seorang wanita dengan bayaran 100 juta rupiah. Nomor telpon yang di gunakan adalah nomor luar negeri yang terenkripsi dan tidak bisa dilacak."
Azura menyipitkan mata. "Wanita itu... Aku curiga pengasuh si kembar terlibat. Mas, jangan biarkan mereka lepas. Ini penculikan profesional."
"Besok pagi Mas akan menanyakan kontak keluarga mereka pada Bu Laras," kata Farhan.
Pagi harinya, suasana di rumah Azura berubah ceria. Rafa, anak Farhan, tampak sangat antusias melihat arka dan Aidan yang wajahnya sangat mirip. Meski Azura awalnya melarang karena kondisi si kembar yang belum pulih total, antusiasme mereka untuk melihat kebun belakang tak terbendung. Akhirnya, dengan pengawasan ketat Bu Hana, Bu Sulastri dan pak Hadi ,mereka di izinkan bermain di sana , Rafa bahagia sekali dengan berjalan mengandeng tangan Arka dan Aidan kanan dan kiri.
Di ruang kerja, ibu Laras akhirnya mengungkap indentitasnya. " Putra saya Rayyan, adalah pemilik Twins Group, perusahaan ritel terbesar di negara ini."
Farhan terkesiap. Twins group adalah mitra bisnis utama perusahaannya sebagai pemasukan sayur dan daging segar milik perkebunan Farhan.
"Apakah ibu punya atau mengingat no kontak yang bisa dihubungi?" tanya Farhan.
"Saya tidak ingat satupun no telpon anak dan suami saya. Dan juga sekarang Rayyan sedang di luar negeri bersama ayahnya. Jika dinas, mereka selalu menonaktifkan ponsel. Baru aktif saat sudah sampai di bandara atau jika mereka sendiri yang menelpon," jelas Bu Laras pasrah
Kegusaran nampak di wajah Azura justru meledak saat mendengar kebiasaan keluarga itu.
"Bodoh sekali!" potong Azura tajam. Wajahnya merah padam karena kesal. "Apa gunanya punya ponsel jika dimatikan saat kerja? Bagaimana kalau terjadi musibah seperti ini? Mereka tidak bertanggung jawab pada keselamatan keluarga sendiri!"
Farhan tersedak ludahnya sendiri, takut kerja samanya dengan Twins Group terancam putus jika ibu Laras tersinggung. Anehnya by Laras justru tertawa kecil melihat kekesalan Azura yang jujur apa adanya.
"Mas Farhan," suara Azura memecah keheningan ruang kerjanya. "Mas kan punya kerjasama bisnis dengan Twins Group. Hubungi bosnya sekarang juga."
Farhan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, wajahnya tampak cemas. "Mas tidak punya nomor pribadi bosnya, Azura. Mas cuma punya kontak Angga, asisten pribadinya ."
"Ya sudah, terserah Mas mau pakai jalur apa pun! Hubungi asisten itu sekarang, cari tahu di mana mereka berada!" Perintah Azura tegas.
Farhan meraih ponselnya , ia mengetik pesan ke nomor Angga, tetapi seperti dugaannya pesan itu hanya menunjukkan centang satu. Dan di telpon tidak aktif.
"Masih centang satu, Azura. Angga juga ikut ke luar negeri, jadi di juga tidak bisa dihubungi lapor Farhan lesu.
Azura menghela panjang, emosinya kembali meledak. Ia menatap ibu Laras dengan pandangan tajam, bukan karena marah pada wanita tua itu, tapi pada sikap keluarga Twins Group yang menurutnya sangat tidak masuk akal.
"Waduh, Ibu ... kenapa ibu punya anak seperti itu?" keluh Azura dengan nada geram namun peduli "Kalau nanti anak ibu datang dan menjemput, tolong kasih nasihat yang keras! Bilang padanya, kalau keluar negeri untuk dinas atau kemana pun, ponsel harus tetap aktif! Apa susahnya sih? Jika ada musibah pada keluarga sendiri, bagaimana mereka mau memberi kabar?"
Farhan yang duduk di samping sudah berkeringat dingin. Ia nyaris ingin membekap mulut adiknya itu 'Gila, Azura! Itu bos besar! Kalau dia tersinggung, bisa tamat kontrak kerjasama kita!' batin Farhan ngeri
Tetapi, reaksi yang terjadi justru di luar dugaan. Ibu Laras tidak terlihat marah. Sebaliknya, wanita itu tersenyum manis, menatap Azura dengan tatapan penuh kekaguman dan kasih sayang. Ia melihat kejujuran, ketegasan, dan perhatian yang tulus dari seorang gadis muda yang baru ia kenalan
'Anak ini berani sekali bicara jujur tentang Rayyan,' batin ibu Laras. Azura dia benar benar cocok jadi calon mantuku.
"Iya, Nak Azura," jawab Bu Laras lembut sambil memegang tangan Azura. "Nanti kalau mereka datang ibu akan sampaikan nasihatmu."
Farhan hanya bisa melongo. Ketakutannya hilang digantikan kebingungan.
Pada malam harinya setelah makan malam, mereka berkumpul semua di ruang keluarga.
Arka dan Aidan memberanikan diri mendekat ke pada Azura.
"Bunda.." panggil Arka pelan.
Azura tertegun, lalu menatap ibu Laras. Laras mengangguk dengan mata berkaca-kaca.
"Mereka tidak memiliki ibu, Nak Azura. Mereka tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu."
Hati Azura luluh. Ia memeluk si kembar dengan erat. "Tentu, kalian boleh memanggil Bunda."
Si kembar lalu menatap Bu Lastri dan pak Hadi dengan senyum manis. "Kakek.. Nenek.." ucap mereka mengikuti panggilan Rafa.
Alya yang melihat itu berseru jahil, "Wah,asik! Aku punya keponakan kembar ganteng! Arka, Aidan, panggil Tante Alya dengan sebutan cantik, ya!"
"Idih, maunya! Cantik sih cantik, tapi cerewet!" sahut Fikri yang disambut tawa semua orang.
Di sudut hati Azura merasa ada tanggung jawab baru. Ia melihat si kembar yang kini tersenyum lepas, berbeda dengan tatapan kosong yang mereka miliki saat pertama kali diselamatkan. Azura bersumpah, siapapun yang berani menyakiti mereka, termasuk ayah mereka sendiri akan berhadapan dengannya.