Seorang laki-laki yang sudah lama mencintai seseorang dalam diam, berhasil menikahinya tapi bukan dengan hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pasaribu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak Akan Terganti
Di ruang kerja lantai paling atas, CEO itu tersenyum sendiri. Membayangkan wajah Naya yang sedang fokus bekerja.
Ponselnya bergetar pelan, bunyi yang menghilangkan bayangan Naya di pikirannya.
Nama ibunya tertera di layar.
Ia menarik napas pelan, mengangkat ponselnya, "Ada apa, Ma?"
Suara di seberang terdengar lembut, "Halo, Nak. Hari ini kamu tidak sibuk kan?" terdengar memastikan.
"Sejak kapan sih, Ma, aku engga sibuk?" jawabnya ringan setengah bercanda.
Terdengar helaan napas kecil mamanya.
"Mama tahu kamu sibuk. Tapi masa untuk mama gak ada waktu?" Nada itu setengah menggoda, setengah menuntut.
Hening sejenak. Adrian mengangkat wajahnya, melihat ke atas.
"Teman lama ibu itu orang baik. Dulu kami sangat dekat. Sudah lama juga nggak jumpa. Jadi dia ingin ke rumah kita, sekalian makan malam bersama."
Adrian mengusap kepalanya perlahan. "Sekedar makan malam biasa aja kan, Ma?"
"Iya, Nak." Jawab Ibunya cepat dengan suara yang terdengar lega.
Telepon ditutup.
Ia meletakkan ponselnya perlahan, lalu melangkah ke arah jendela. Menyelipkan tangannya ke saku celana. Wajahnya tetap tenang. Profesional. Namun di balik ketenangan itu, ada rasa penasaran yang muncul.
"Itu jarang terjadi," katanya.
Ketukan pintu terdengar.
Asistennya, melangkah masuk dengan tablet di tangan. "Pak, jadwal makan malam dengan klien dari Surabaya sudah dikonfirmasi pukul tujuh malam ini."
Adrian tak menoleh, "Batalkan."
Asistennya terdiam, jelas terkejut.
"Maksud saya, tunda. Aturkan jadwalnya di lain waktu.Sesuaikan dengan jadwal yang lain. Sampaikan permohonan maaf saya secara langsung."
Nada suaranya tetap datar. Tegas. Tak memberi ruang untuk pertanyaan.
_
Sebagian karyawan mulai merapikan meja masing-masing. Satu kursi dengan kursi lain yang digeser terdengar bersahutan pelan.
Nadira, rekan kerja Naya sekaligus sahabatnya itu, terlihat berbeda dari biasanya.
Ia berdiri cepat, tangannya memasukkan dokumen ke dalam map dengan tergesa-gesa.
Naya yang duduk di sampingnya memperhatikannya.
"Dir, kamu kenapa?" melihat Nadira yang sudah menyampirkan tas di bahunya.
Nadira menoleh sekilas, wajahnya sedikit tegang namun berusaha tersenyum. "Ada urusan keluarga, Nay."
Naya hanya mengangguk.
Nadira segera meninggalkan ruang kerja dengan langkah yang jelas terlihat buru-buru.
Naya merapikan mejanya dengan gerakan pelan, saat berbalik, matanya tertuju pada satu kursi yang kosong. Bayangan Damar ingin kembali, namun ia langsung mengalihkan pandangannya, mengambil tasnya lalu keluar.
Langit sangat gelap ketika Naya keluar dari kantor, meski waktu masih sore. Awan tebal menandakan hujan akan turun.
Naya berdiri di dekat pintu utama. Ragu-ragu untuk segera pergi ke depan gerbang untuk menunggu angkot.
“Aduh….gimana ya?” tanyanya pada dirinya sendiri.
Di belakang Naya, berdiri Adrian, CEO yang selalu berpenampilan rapi.
Memperhatikan Naya sambil tersenyum tipis.
“Enam tahun yang lalu terulang lagi, melihatmu dari belakang seperti ini.”
Naya tak sengaja menoleh ke belakang, melihat CEO itu di belakang yang sedang menunduk sambil tersenyum tipis.
Adrian kembali tegak.
Mereka bertemu dalam tatapan.
Naya menunduk hormat sebentar dan segera memalingkan pandangannya kembali ke depan.
Naya menggenggam tasnya lebih erat.
Adrian menarik napas, mengusap wajahnya, memberanikan diri mendekati Naya.
Hujan cukup deras akhirnya turun. Suara air yang menghantam kaca gedung terdengar seperti irama yang berulang.
"Yah, ampun..... untung aku nggak jadi pergi," ucap Naya lega.
“Naya,” ucapnya dari samping Naya.
CEO itu berdiri beberapa langkah darinya, memegang payung lipat berwarna gelap.
“Kamu bawa payung?”
Naya menggeleng pelan.
"Tidak, Pak."
CEO itu mengulurkan payung itu.
Naya menatap payung itu, cukup lama. Hujan memang selalu membawa kenangan.
Tanpa sadar, pikirannya kembali ke satu sore beberapa bulan lalu.
“Ya ampun, Dam. Ini gimana kita pulangnya?” tanya Naya.
“Main hujan aja,” jawab Damar tersenyum.
Naya memukul kecil Damar, “Ihhhh.....Dam. Ingat ya besok kita harus kerja lagi,”
“Bercanda, sayangku…..” mencubit pipi Naya pelan.
Naya memegang pipinya, sedikit mengerucutkan bibirnya dengan manja.
Damar berlari kecil kembali masuk ke kantor. Ia kembali sambil membawa payung berwarna hitam.
“Darimana payung itu?” tanya Naya heran.
“Ini aku pinjam bentar.”
Damar tetap berdiri di samping Naya sambil membuka ponselnya.
“Dam…. Kita kan naik motor, payung ini untuk apa?”
Damar terdiam.
"Dam.... dengar aku nggak sih?" memukul lengan Damar.
Damar menyimpan ponselnya, “Mobilnya sudah dipesan. Lima menit lagi sampai.” Damar tersenyum sangat tulus.
Damar mengantar Naya ke dalam mobil pakai payung itu. Membuka pintu belakang untuk Naya.
“Sudah, ayok masuk.”
Naya masih ragu.
“Sudah…..Aku pulang naik motor pakai mantel kok.” Ucap Damar tersenyum.
“Naya….Ini payungnya, ambil saja” tawar Adrian.
Suara itu menariknya kembali ke masa sekarang.
“Terimakasih, Pak. Tidak apa-apa. Saya sudah pesan online.”
Mobil tiba tepat di depan mereka.
Tanpa menunggu jawaban, Naya langsung berlari menembus hujan menuju mobil.
Pintu mobil terbuka cepat, lalu tertutup rapat.
Suara hujan kembali teredam.
“Aku hanya berusaha menjagamu, Nay,” ucap Adrian dalam hati.
Ketika akhirnya Naya sampai di rumah, lampu ruang tamu sudah menyala. Pintu belum terkunci.
Ia mendengar dari balik pintu, “Tapi Mama tidak terluka kan?” tanya ayah Naya.
“Ibu?”panggil Naya sambil masuk.
Belum sempat melepaskan sepatu, ibunya tiba-tiba memeluk Naya.
“Naya….”
Naya kaget.
“Ibu? Kenapa? Tadi aku dengar ayah bilang ibu terluka?”
“Ibu takut sekali tadi, Nak….”Suara ibu bergetar.
Naya langsung memegang bahu ibunya.
“Takut? Ibu kenapa?”
Ibunya menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri.
“Tadi di pasar, ibu hampir dirampok.’’
Mata Naya langsung membesar.
“Apa? Ibu nggak apa-apa kan?”
“Ibu nggak terluka,” jawabnya cepat. “Untung ada orang yang menolong.”
Naya menggenggam tangan ibunya.
“Syukurlah Bu. Ada yang menolong? Siapa, Bu?”
“Seorang pria. Dia bekerja di kantor yang sama denganmu, Nak.” Jelas ibunya.
Naya heran.
“Sekantor sama Naya? Namanya siapa Bu?”
“Ibu lupa, sayang. Yang pastinya dia berpakaian sangat rapi, tinggi juga. Dia sampai memastikan ibu tidak terluka.”
Naya mendengar dengan serius.
“Waktu ibu sebut nama kantor kamu, dia bilang bekerja disana juga.” Jelas ibu Naya.
Naya membuka ponselnya dan menunjukkan foto Adrian.
“Yang ini, Bu?”
“Iya, Nak. Ini orangnya.”
Naya langsung menduga itu adalah Adrian, karna hanya Adrian yang berpenampilan sangat rapi setiap harinya, dan dimanapun.
Naya duduk perlahan di kursi ruang tamu.
“Kamu kenal dia, Nay?” tanya ibu duduk di samping Naya.
“Kenal, Bu.”
“Dekat?” lanjut ibu bertanya.
Naya memilih untuk tidak menjelaskan kepada ibunya, bahwa Adrian adalah CEO di tempat kerja Naya.
“Teman kantor, Bu.”
Naya memeluk ibunya kembali.
“Yang penting Ibu nggak terluka. Naya nggak mau kehilangan Ibu sama Ayah.” Ucap Naya dengan mata berkaca-kaca.
“Ibu sama ayah akan selalu ada buat Naya.” Ucap ibunya menenangkan.
Melihat hal itu, ayah Naya tersenyum.
Ikut memeluk dua perempuan yang sangat ia cintai itu.