NovelToon NovelToon
In Your Smile, I Find Warmth

In Your Smile, I Find Warmth

Status: tamat
Genre:Menikah Karena Anak / Anak Genius / CEO Amnesia / Tamat
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Heynura9

Reyhan, pengusaha sukses dengan masa kecil yang pahit, terpaksa menikahi Alya wanita yang pernah ia tinggalkan saat hamil enam tahun lalu. Pernikahan kontrak yang dingin mulai berubah ketika kehadiran putra mereka, Arka, anak jenius dengan IQ 152, perlahan meruntuhkan tembok hati Reyhan.

Di tengah proses belajar menjadi ayah dan suami, luka masa lalu Reyhan mulai sembuh. Ditambah kelahiran putri kecil mereka, Kirana, keluarga yang dulu hancur ini perlahan menemukan keutuhannya.

Kisah tentang kesempatan kedua, penyembuhan luka, dan cinta tanpa syarat yang akhirnya ditemukan setelah sekian lama hilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27 Tumbuh Kembang dan Tantangan Baru

Tiga minggu setelah pertemuan pertama dengan kakek-neneknya, kehidupan keluarga Mahardika memasuki fase baru. Rumah yang dulu terasa sunyi kini dipenuhi dengan kehangatan yang berbeda. Bukan hanya karena Arka yang makin cerewet, tapi juga karena kehadiran rutin kakek-nenek setiap akhir pekan.

Kehamilan Alya memasuki minggu ke-10. Morning sickness-nya mulai mereda, tapi digantikan dengan kelelahan luar biasa. Setiap sore, ia harus tidur siang dua jam sesuatu yang jarang ia lakukan sebelumnya. Badannya terasa berat, tapi hatinya ringan.

Reyhan mengambil alih hampir semua pekerjaan rumah. Masak, cuci, bersih-bersih, semua ia lakukan sambil tetap menjalankan perusahaan. Bangun jam lima pagi buat siapin sarapan, antar Arka ke sekolah, kerja, lalu pulang cepet sore hari buat masak makan malam. Capek? Iya. Tapi setiap kali lihat Alya tersenyum atau Arka tertawa, semua capeknya hilang.

Suatu sore, Alya bangun dari tidur siang dan menemukan Reyhan sedang masak sambil conference call via earphone. Kompor menyala, panci mendidih, dan suaminya itu bicara bahasa Inggris dengan klien sambil ngaduk sup. Pemandangan yang bikin Alya terharu sekaligus merasa bersalah.

"Rey," panggil Alya pelan begitu Reyhan selesai telepon.

Reyhan matiin kompor, lepas earphone, langsung menghampiri. "Kamu bangun? Minum dulu?" Ia bawa segelas air putih.

Alya duduk di kursi makan, menerima gelas itu. "Rey, aku merasa nggak berguna. Kamu kerjaan numpuk, masih harus ngurus rumah segala. Aku cuma bisa tidur."

Reyhan berlutut di depannya. Tangannya meraih kedua tangan Alya. "Alya, kamu nggak nggak berguna. Kamu lagi mengandung anak kita. Itu pekerjaan paling berat. Kamu lagi bangun manusia baru di dalam tubuh kamu. Dibanding itu, masak dan beberes rumah itu gampang banget."

"Tapi"

"Nggak ada tapi-tapian." Suaranya lembut tapi tegas. "Tugas kamu sekarang istirahat, makan cukup, jaga kesehatan. Sisanya biar aku urus. Oke?"

Air mata Alya jatuh. Campur aduk antara hormonal, terharu, dan bersyukur. "Terima kasih, Rey. Terima kasih udah jadi suami yang luar biasa."

"Sama-sama." Reyhan usap air mata Alya dengan ibu jari. "Sekarang kamu mau makan apa? Aku lagi masak sup ayam. Tapi kalau mau yang lain, aku bisa bikin."

"Sup ayam udah sempurna." Alya tersenyum. "Dan Rey..."

"Ya?"

"Aku sayang kamu. Sangat, sangat sayang."

Reyhan tersenyum lebar. Dia cium dahi Alya lembut. "Aku juga sayang kamu. Sekarang duduk sini, aku buatin teh hangat."

Kamis Sore Pertemuan Orang Tua di Sekolah Arka

Sekolah Arka mengadakan pertemuan orang tua khusus buat anak-anak yang ikut enrichment program. Ruang pertemuan penuh dengan orang tua yang duduk rapi, masing-masing dengan name tag di meja. Reyhan dan Alya duduk bersebelahan, tangan mereka bertaut di bawah meja.

Bu Ratna, kepala sekolah, berdiri di depan dengan senyum lebar. "Selamat sore, Bapak-Ibu. Terima kasih udah meluangkan waktu. Hari ini kita akan bahas perkembangan anak-anak di enrichment program."

Satu per satu nama dipanggil. Penjelasan tentang kemajuan anak, rekomendasi, dan hal-hal yang perlu diperhatikan orang tua. Semua berjalan biasa sampai tiba giliran Arka.

Bu Ratna membuka folder tebal milik Arka. Dia menghela napas panjang bukan napas lelah, tapi napas takjub.

"Arka Mahardika." Matanya berbinar. "Dia salah satu anak paling istimewa yang pernah saya temui dalam 20 tahun karir saya sebagai pendidik."

Reyhan dan Alya menegakkan badan, penuh perhatian.

"Perkembangan kognitifnya luar biasa pesat. Dalam tiga minggu ikut enrichment program, Arka udah menguasai materi yang biasanya diajarkan buat anak kelas 3 SD. Kemampuan coding-nya... saya berani bilang udah setara anak SMP."

Alya nahan napas. Reyhan genggam tangannya lebih erat.

"Tapi yang paling membanggakan," lanjut Bu Ratna dengan senyum hangat, "bukan cuma kecerdasannya. Tapi karakternya. Arka sangat sabar ngajarin temen-temen yang lebih lambat. Nggak pernah ngeluh, nggak pernah sombong, selalu rendah hati. Itu... sangat jarang ditemukan pada anak gifted."

Air mata Alya menggenang. Reyhan rasanya ingin teriak bangga.

"Kami merekomendasikan Arka buat ikut program akselerasi." Bu Ratna menjelaskan lebih detail. "Tapi bukan akselerasi kelas, karena secara sosial-emosional Arka masih butuh berteman sama anak seusia. Jadi akselerasi materi. Dia tetap di kelas reguler buat sosialisasi, tapi dapet materi yang lebih menantang secara individual."

Reyhan angkat tangan. "Bu, boleh tanya?"

"Tentu, Pak Reyhan."

"Akselerasi materi itu... nggak bakal bikin Arka stres atau overwhelmed? Saya nggak mau dia terbebani."

Bu Ratna tersenyum. Senyum yang ngerti kekhawatiran orang tua. "Pertanyaan bagus, Pak. Itu nunjukin Bapak orang tua yang sangat perhatian. Kami akan monitoring ketat. Kalau Arka keliatan stres atau nggak happy, kami akan adjust. Tapi sejauh ini, Arka justru lebih happy pas dikasih tantangan yang sesuai sama kemampuannya."

Alya ikut angkat bicara. "Kalau gitu kami setuju. Tapi dengan satu syarat. Arka harus tetap punya waktu bermain. Dia nggak boleh dipaksa belajar terus. Dia masih anak-anak."

"Saya sangat setuju, Bu Alya. Dan itulah yang bikin Arka istimewa Bapak dan Ibu mendidik dia dengan seimbang. Cerdas tapi tetap bahagia."

Pertemuan selesai. Reyhan dan Alya jalan ke parkiran dengan perasaan campur aduk. Bangga, haru, tapi ada juga kekhawatiran.

"Rey," kata Alya pelan pas di mobil. "Aku bangga sama Arka. Tapi... aku takut."

"Takut apa?"

"Takut dia tumbuh terlalu cepat. Takut dia kehilangan masa kecilnya."

Reyhan berhenti. Dia menghadap Alya, pegang kedua bahunya. "Alya, kita nggak akan biarin itu terjadi. Arka akan tetap jadi anak-anak. Dia tetap main, ketawa, ngerjain hal-hal konyol. Kecerdasannya cuma satu bagian dari dia, bukan seluruh hidupnya."

"Kamu janji?"

"Aku janji. Kita jaga dia. Bareng-bareng."

Sabtu Pagi Kunjungan Rutin Kakek-Nenek

Ratna dan Reyhan Senior kini rutin datang setiap Sabtu. Udah jadi tradisi baru. Tapi Sabtu ini, ada yang beda.

Pas mereka datang, Ratna bawa tas gede penuh mainan edukatif. Puzzle, building blocks, kit sains anak-anak. Reyhan Senior juga bawa kotak berisi buku-buku klasik anak-anak.

"Nenek beliin ini semua buat Arka." Ratna ngeluarin satu per satu mainan dari tas dengan semangat. "Nenek nggak tau kamu suka yang mana, jadi Nenek beli semuanya."

Arka melongo. Matanya berbinar-binar. "Wah! Makasih, Nek! Ini banyak banget!"

"Boleh Nenek main sama kamu?" tanya Ratna dengan nada yang lembut sesuatu yang jarang banget keluar dari wanita yang dulu dikenal dingin.

"Boleh! Ayo kita rakit yang ini dulu!" Arka narik neneknya duduk di lantai, buka kotak building blocks.

Reyhan ngeliat dari pintu. Perasaannya campur aduk. Ibunya wanita yang dulu sangat formal dan kaku sekarang duduk di lantai dengan rok mewah, ngerakit mainan sambil ketawa bareng Arka.

Reyhan Senior dateng menghampiri. "Rey, boleh ngobrol sebentar?"

Mereka berdua jalan ke teras belakang. Duduk di bangku kayu yang menghadap taman. Angin sore sepoi-sepoi.

"Rey." Suara Reyhan Senior pelan. "Ayah mau bilang sesuatu."

"Apa, Pak?"

"Ayah... minta maaf. Nggak cuma buat masa lalu, tapi juga buat semua tahun yang hilang. Tahun-tahun di mana Ayah harusnya ada buat kamu, tapi Ayah terlalu sibuk sama bisnis, karir, semua hal yang nggak penting."

Reyhan diem. Tenggorokannya menyesak.

"Ayah lihat kamu sekarang. Cara kamu jadi ayah buat Arka, cara kamu perhatian sama Alya... Ayah sadar, kamu belajar jadi orang tua yang baik bukan dari Ayah, tapi dari kesalahan Ayah."

"Pak"

"Biarkan Ayah selesai." Reyhan Senior angkat tangan. "Ayah bangga sama kamu, Rey. Sangat bangga. Kamu jadi pria yang lebih baik dari Ayah. Suami yang lebih baik. Ayah yang lebih baik. Dan Ayah... minta maaf karena nggak ngajarin kamu itu semua."

Air mata Reyhan jatuh. Nggak ditahan lagi. "Pak... makasih. Makasih udah bilang itu."

Reyhan Senior peluk anaknya. Pelukan pertama sejak Reyhan dewasa. Canggung, awkward, tapi tulus.

"Ayah sayang kamu, Rey. Maafin Ayah yang baru bisa bilang sekarang."

"Aku juga sayang Ayah." Suara Reyhan bergetar. "Dan aku maafin. Aku udah maafin dari dulu."

Mereka berpelukan lama. Ngelepasin semua luka masa lalu yang udah bertahun-tahun dipendam.

Di dalam rumah, Alya ngeliat dari jendela. Dia nangis. Nangis bahagia.

Minggu Sore Pemeriksaan Kehamilan

Minggu sorenya, Reyhan anter Alya ke klinik buat periksa kehamilan rutin. Arka ikut, soalnya pengen "lihat adiknya" meskipun Reyhan udah jelasin berkali-kali kalau baby masih terlalu kecil buat dilihat jelas.

Di ruang USG, dokter olesin gel dingin di perut Alya yang mulai sedikit membuncit. Layar monitor nyala, nunjukin gambar hitam-putih yang buat orang awam kayak mereka, agak susah dimengerti.

"Ini bayinya." Dokter nunjuk titik kecil di layar. "Usia kehamilan 10 minggu. Perkembangannya bagus."

Reyhan natap layar. Matanya berkaca-kaca. Itu anaknya. Anak kedua. Anak yang bakal dia saksisin tumbuh dari awal.

"Itu adik aku?" tanya Arka. Dia berdiri di samping ibunya, ikutan ngintip.

"Iya, sayang. Itu adik kamu." Alya usap kepala Arka.

"Kecil banget ya. Kayak kacang ijo."

Dokter ketawa. "Iya, sekarang masih kecil. Nanti bakal gede. Tunggu beberapa bulan lagi, adik kamu bakal mulai gerak-gerak di perut Mama."

"Wah! Nanti aku mau ajak ngobrol!" Arka semangat.

Dokter selesai USG, bersihin gel dari perut Alya, kasih print-out foto USG.

"Ini fotonya. Simpan baik-baik buat kenang-kenangan."

Di mobil pulang, Arka megang foto USG dengan hati-hati. Kayak megang harta karun.

"Ayah, Mama, boleh aku taro ini di kamar aku? Biar aku bisa liat adik aku setiap hari?"

Reynan senyum dari kaca spion. "Boleh, Nak. Tapi hati-hati, jangan sampe rusak."

"Aku akan jaga baik-baik! Ini kan foto pertama adik aku!"

Alya noleh ke belakang. "Arka... kamu excited banget ya punya adik?"

"Iya, Ma! Aku nggak sabar! Aku mau ngajarin dia banyak hal! Main robot, coding, baca buku... semuanya!"

Reyhan ketawa. "Nak, adik kamu lahir nanti masih baby. Nggak bisa langsung main robot atau coding."

"Oh iya." Arka mikir. "Terus aku ngajarin dia umur berapa?"

"Mungkin tiga atau empat tahun. Kalau dia tertarik."

"Lama banget!" Arka cemberut.

"Sabar ya, Nak. Sementara ini, kamu bantuin Ayah sama Mama jaga dia. Oke?"

"Oke! Aku bakal jadi kakak yang baik!"

Rabu Sore Tantangan di Enrichment Class

Rabu sore, pas Reyhan jemput Arka dari enrichment class, dia nemuin anaknya duduk di bangku taman sekolah. Wajahnya murung. Nggak biasa.

"Nak, kenapa?" Reyhan duduk di sampingnya.

Arka nunduk. Tangannya mainin ujung baju. "Ayah... aku dimarahin sama guru hari ini."

Jantung Reyhan deg-degan. "Dimarahin kenapa?"

"Karena... aku ngerjain soal nggak sesuai sama cara yang guru ajarin. Aku pakai cara aku sendiri yang lebih cepet, tapi guru bilang aku harus ikut cara dia."

Reyhan tarik napas. "Terus kamu bilang apa?"

"Aku bilang... cara aku juga bener, cuma lebih efisien. Terus guru marah, bilang aku nggak respect sama dia."

"Lalu?"

"Lalu aku diem aja. Aku nggak mau debat lagi. Tapi... aku sedih, Yah. Aku cuma mau ngerjain soal dengan cara yang lebih baik. Kenapa itu salah?"

Reyhan peluk Arka erat. "Nak, kamu nggak salah. Cara kamu bener. Tapi kadang... orang dewasa punya ego. Mereka nggak suka kalau anak kecil lebih pintar dari mereka. Itu bukan salah kamu."

"Terus aku harus gimana?"

"Besok Ayah bakal bicara sama guru kamu. Ayah jelasin kalau kamu nggak bermaksud nggak hormat. Kamu coba berpikir kreatif. Oke?"

Arka ngangguk. Dia balas peluk Reyhan. "Makasih, Yah. Makasih udah ngerti aku."

"Ayah akan selalu ngerti kamu, Nak. Selalu."

Kamis Pagi Pertemuan dengan Guru

Keesokan harinya, Reyhan dateng lebih pagi ke sekolah buat ketemu Pak Budi guru enrichment class Arka. Pak Budi pria paruh baya, terkenal ketat dan disiplin.

"Selamat pagi, Pak Budi. Saya Reyhan, ayah Arka." Reyhan sapa sopan tapi tegas.

"Pagi, Pak Reyhan. Silakan duduk." Pak Budi nunjuk kursi di depan mejanya.

Mereka duduk berhadapan. Atmosfir sedikit tegang.

"Pak, saya dengar kemarin ada insiden dengan Arka. Boleh saya tahu detailnya?"

Pak Budi hela napas. "Arka itu anak yang sangat pintar, Pak. Tapi kadang terlalu... mandiri. Kemarin saya ngajarin algoritma sorting bubble sort. Arka ngerjain pakai merge sort, algoritma yang lebih advanced. Saya tegur karena instruksi saya jelas: gunakan bubble sort."

"Dan Arka bilang apa?"

"Dia bilang merge sort lebih efisien. Itu benar. Tapi bukan itu pointnya. Pointnya adalah dia harus belajar mengikuti instruksi."

Reynan diem sebentar. Pilih kata. "Pak Budi, saya paham posisi Bapak sebagai guru. Disiplin dan ikut instruksi penting. Tapi Arka itu anak gifted dengan IQ 152. Otaknya bekerja beda. Dia nggak bermaksud nggak hormat. Dia cuma berpikir di luar kotak."

"Saya mengerti, Pak. Tapi"

"Saya belum selesai." Potong Reyhan sopan tapi tegas. "Arka itu sensitif. Kalau dia dimarahi keras, dia akan merasa dia salah karena dia pintar. Dia bakal belajar buat sembunyiin kecerdasannya biar nggak dihukum. Itu yang paling saya takutkan."

Pak Budi diem. Kayaknya baru nyadar dampak tegurannya kemarin.

"Saya nggak minta Bapak kasih treatment spesial ke Arka. Tapi saya minta... Bapak hargai cara berpikirnya yang beda. Kalau dia ngerjain soal dengan cara lebih advanced, mungkin Bapak bisa appreciate itu, sambil tetap jelasin kenapa cara Bapak juga penting dipelajari."

Pak Budi ngangguk pelan. "Bapak benar. Saya... minta maaf. Saya akan lebih perhatian dengan pendekatan saya ke Arka."

"Terima kasih, Pak. Itu saja yang saya minta."

Keluar dari ruangan, Reyhan lega. Dia tau ini bukan pertama dan terakhir kali dia harus jadi advocate buat Arka di dunia yang nggak selalu ngerti anak gifted.

Jumat Malam Family Time

Jumat malam, mereka adain "family movie night". Tradisi baru yang dimulai beberapa minggu lalu.

Arka pilih film animasi tentang robot jelas. Mereka duduk bertiga di sofa. Arka di tengah, Reyhan di kanan, Alya di kiri. Semangkuk besar popcorn di pangkuan Arka.

Di tengah film, Arka tiba-tiba bilang, "Ayah, Mama... makasih."

Alya bingung. "Makasih buat apa, sayang?"

"Makasih udah jadi orang tua yang baik. Yang ngerti aku. Yang nggak maksa aku jadi orang lain."

Reyhan dan Alya saling pandang. Tenggorokan mereka menyesak.

"Temen-temen aku di sekolah... banyak yang orang tuanya maksa mereka ikut les ini-itu, kompetisi ini-itu, sampe mereka nggak punya waktu main." Arka lanjut. "Tapi Ayah sama Mama... kalian kasih aku kesempatan belajar hal yang aku suka, tapi juga kasih aku waktu buat main. Itu... yang bikin aku bahagia."

Air mata Reyhan jatuh. Dia nggak malu. Dia peluk Arka dari samping.

"Nak, dengerin Ayah. Tujuan hidup itu bukan cuma sukses atau jadi yang terbaik. Tujuan hidup itu... bahagia. Ayah sama Mama cuma pengen kamu bahagia. Apapun yang kamu pilih nanti, apapun yang kamu jadi... selama kamu bahagia, Ayah sama Mama udah sukses jadi orang tua."

"Aku bahagia, Yah. Sangat bahagia."

Alya ikut peluk mereka berdua. Pelukan bertiga yang hangat. Penuh cinta.

"Kita juga bahagia, sayang. Bahagia punya kamu."

Film lanjut diputer, tapi nggak ada yang beneran nonton. Mereka terlalu sibuk ngerasain kehangatan keluarga yang utuh.

Malam Hari Kamar

Abis Arka tidur, Reyhan dan Alya berbaring di ranjang. Tangan mereka bertaut.

"Rey." Alya bisik.

"Ya?"

"Aku lihat tadi... kamu nangis pas Arka bilang makasih."

"Iya." Reyhan tarik napas. "Aku nggak pernah bilang makasih ke orang tua aku waktu kecil. Soalnya nggak ada yang perlu disyukuri. Tapi Arka... dia bilang makasih karena dia beneran bahagia. Itu bikin aku sadar kita berhasil."

"Berhasil apa?"

"Berhasil jadi orang tua yang beda dari orang tua aku. Berhasil kasih Arka masa kecil yang aku nggak pernah punya. Berhasil... jadi keluarga yang sesungguhnya."

Alya genggam tangannya lebih erat. "Kita berhasil karena kita jalani bareng. Kamu, aku, dan Arka. Kita tim."

"Tim terbaik." Reyhan senyum.

Mereka diem sebentar. Nikmatin kedamaian.

"Rey," Alya mulai lagi.

"Ya?"

"Baby kita di perut ini... dia bakal tumbuh dengan kakak yang luar biasa, ayah yang luar biasa, dan keluarga yang penuh cinta. Dia beruntung banget."

Reyhan letakin tangan di perut Alya yang mulai membuncit. "Dia beruntung punya ibu kayak kamu. Dan aku akan pastiin... dia nggak bakal pernah ngerasain kesepian yang aku rasain dulu."

"Janji?"

"Janji. Aku bakal jadi ayah yang hadir. Yang peluk mereka. Yang bilang 'aku bangga sama kamu' setiap hari. Yang... mencintai mereka tanpa syarat."

Air mata Alya jatuh. "Rey... kamu udah jadi ayah kayak gitu. Kamu lihat sendiri Arka seberapa bahagia."

"Dan aku bakal terus jadi kayak gitu. Buat Arka, buat baby kita ini, buat kamu. Selamanya."

"Aku sayang kamu, Rey."

"Aku juga sayang kamu. Sangat, sangat sayang."

Di luar, bulan bersinar terang. Angin malam sepoi-sepoi. Mereka berbaring dalam kehangatan, merasakan kebahagiaan yang sederhana tapi berharga.

Keluarga yang dulu hancur, sekarang utuh.

Luka yang dulu perih, sekarang sembuh.

Cinta yang dulu ragu, sekarang tumbuh.

Dan harapan untuk masa depan semakin cerah.

[Bersambung]

1
tia
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!