NovelToon NovelToon
BLIND HEIRESS: Akting Buta Sang Istri Konglomerat

BLIND HEIRESS: Akting Buta Sang Istri Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

"Di depanmu aku tetap buta, tapi di belakangmu aku sedang menggali kuburanmu!"
Gwen, sang pewaris kaya, terbangun dari kebutaannya. Namun, hal pertama yang ia lihat justru suaminya sedang bercumbu dengan sahabatnya sendiri—tepat di samping ranjangnya!
Bukannya melabrak, Gwen memilih tetap berakting buta. Ia menyusun rencana balas dendam yang rapi di bawah hidung mereka.
Keadaan makin panas saat ia menyewa Elang, bodyguard dingin yang menyimpan dendam pada keluarga Gwen. Diam-diam, Elang tahu Gwen hanya berpura-pura.
"Nona, aktingmu hebat. Tapi di depanku, matamu tidak bisa berbohong," bisik Elang.
Bisakah Gwen menghancurkan para pengkhianat itu sebelum rahasianya dibongkar oleh sang bodyguard misterius?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27: KEBANGKITAN SANG RATU ABADI

​Angin laut yang membawa aroma garam dan mesiu menyapu geladak kapal penyelamat Adiguna-01. Gwen berdiri mematung di haluan, menatap sisa-sisa ledakan Pulau Hantu yang perlahan tenggelam ditelan kegelapan Samudra Hindia. Gaun pengantinnya yang kini robek dan ternoda darah tampak seperti jubah perang seorang dewi yang baru saja kembali dari neraka.

​Di belakangnya, Elang duduk bersandar pada dinding kabin. Lukanya telah dibalut oleh tim medis Hendra, namun luka di jiwanya jauh lebih dalam. Pengakuan tentang ledakan laboratorium sepuluh tahun lalu menggantung di antara mereka seperti pedang bermata dua.

​"Gwen," suara Elang parau, memecah keheningan yang mencekam. "Kenapa kau tidak membunuhku tadi? Kau punya setiap alasan di dunia untuk melakukannya."

​Gwen berbalik perlahan. Matanya yang biasanya memancarkan kemewahan kini hanya berisi kedinginan yang absolut. "Membunuhmu adalah hal termudah yang bisa kulakukan, Elang. Tapi membiarkanmu hidup untuk menebus dosa itu... itulah hukuman yang sesungguhnya."

​Gwen melangkah mendekat, sepatu bot taktisnya berbunyi tap-tap di atas dek logam. Ia mencengkeram dagu Elang, memaksanya menatap matanya. "Kau adalah milikku, Elang. Nyawamu, detak jantungmu, bahkan dosamu adalah aset Adiguna sekarang. Kau tidak punya hak untuk mati sebelum aku yang memerintahkannya."

​Elang terpaku. Ini bukan lagi Gwen yang ia kenal. Ini adalah versi Gwen yang telah ditempa oleh pengkhianatan dan api—seorang penguasa yang tidak lagi mengenal belas kasihan.

​Markas Komando Adiguna, 03.00 WIB.

​Begitu mendarat di Jakarta, Gwen tidak pulang ke mansion. Ia langsung menuju bunker rahasia di bawah gedung Adiguna Tower. Di sana, puluhan monitor raksasa menampilkan aliran data global yang berwarna merah darah.

​"Hendra, status Protokol 'Dewi Keadilan'?" tanya Gwen sambil melepas cadar pernikahannya yang sudah usang.

​"Sistem sudah siap, Nona," Hendra mengetik dengan cepat. "Kita telah mengunci 40% aset finansial The Hive di seluruh dunia. Tapi ada sesuatu yang aneh. Seseorang dari pihak ketiga sedang mencoba meretas balik kita. Dan mereka menggunakan enkripsi yang... sangat mirip dengan milik ibumu, Diana Adiguna."

​Gwen mengerutkan kening. "Mustahil. Enkripsi itu hanya diketahui oleh aku, Ayah, dan..."

​Tiba-tiba, seluruh layar di bunker itu bergetar. Warna merah berganti menjadi putih bersih. Sebuah logo muncul—bukan lebah, melainkan bunga Lotus Putih.

​Sesosok wanita muncul di layar utama. Ia mengenakan jubah sutra putih, duduk di sebuah singgasana perak di sebuah taman zen yang tersembunyi. Wajahnya tertutup topeng porselen setengah wajah, namun bibirnya yang dipulas lipstik merah tua menyunggingkan senyum yang membuat bulu kuduk Gwen berdiri.

​"Selamat, Gwen. Kau telah berhasil menghancurkan mainan Maximilian," suara wanita itu lembut, namun berwibawa, seperti suara ibu yang membacakan dongeng pengantar tidur. "Tapi kau baru saja membuka kotak pandora yang seharusnya tetap tertutup."

​"Siapa kau?!" teriak Gwen ke arah layar. "Berani-beraninya kau mencuri frekuensi komunikasiku!"

​Wanita itu perlahan melepas topeng porselennya. Detik itu juga, napas Gwen seolah terhenti. Jantungnya berdegup kencang hingga terasa menyakitkan.

​Wajah di layar itu... adalah wajah yang selama ini ia tangisi di depan nisan. Wajah yang ada di setiap foto masa kecilnya.

​"Ibu?" bisik Gwen lemas.

​Diana Adiguna.

​Wanita yang dikabarkan tewas dalam ledakan yang dipicu Elang sepuluh tahun lalu, kini menatapnya dengan pandangan dingin yang tidak tersentuh emosi.

​"Diana Adiguna yang kau kenal sudah mati bersama ledakan itu, Sayang," ucap wanita itu dingin. "Panggil aku The Matriarch. Aku adalah pemimpin dari 'The White Lotus', organisasi yang selama ini menjadi musuh bebuyutan The Hive. Maximilian mengira dia memenangkan perang, padahal dia hanya pion yang kusiapkan untuk menguji kekuatanmu."

​Gwen merasa dunianya terbalik untuk kesekian kalinya. "Jadi... ledakan itu? Kau yang merencanakannya? Kau membiarkan Elang menekan tombol itu hanya untuk memalsukan kematianmu?!"

​The Matriarch tertawa kecil. "Dunia ini butuh pengorbanan, Gwen. Aku butuh menghilang agar bisa membangun kekuatan yang lebih besar untuk menghancurkan kebusukan keluarga Adiguna. Dan sekarang, kau telah membuktikan bahwa kau cukup kuat untuk memimpin. Bergabunglah denganku, atau kau akan hancur bersama sisa-sisa The Hive."

​"Gwen, jangan dengarkan dia!" Elang yang baru saja masuk ke ruangan langsung berteriak. Ia menatap layar dengan kebencian yang mendalam. "Wanita itu bukan ibumu! Dia adalah iblis yang mengorbankan suaminya sendiri!"

​The Matriarch menatap Elang melalui layar. "Ah, Elang... anjing kecil yang malang. Kau masih merasa bersalah? Harusnya kau berterima kasih padaku. Tanpa ledakan itu, kau tidak akan pernah memiliki alasan untuk melindungi putriku dengan begitu fanatik."

​"DIAM!" Gwen menghantam meja kontrol dengan tangannya. Matanya berkilat dengan amarah yang murni. "Kau memalsukan kematianmu, membiarkan Ayah lumpuh dan menderita, membiarkan aku hidup dalam ketakutan... dan kau menyebut itu pengorbanan?!"

​"Itu adalah evolusi, Gwen," sahut The Matriarch tenang. "Aku akan menunggumu di Singapura. Jika kau tidak datang dalam 24 jam, aku akan merilis virus 'Black Rain' yang akan menghapus seluruh catatan medis dan identitas penduduk Jakarta. Kota itu akan menjadi kota hantu dalam semalam."

​Layar padam. Ruangan kembali gelap.

​Gwen jatuh terduduk di kursi kebesarannya. Kepalanya terasa ingin pecah. Ibunya masih hidup, namun ibunya adalah ancaman yang jauh lebih besar dari kakeknya sendiri.

​Elang mendekati Gwen, ia berlutut di depan wanita itu dan menggenggam tangannya yang gemetar. "Gwen, aku tidak akan membiarkan dia menyentuhmu. Kali ini, aku tidak akan menekan tombol apa pun selain tombol untuk melindungimu."

​Gwen menatap Elang. Di tengah badai yang tak kunjung usai, pria ini adalah satu-satunya hal yang nyata. Meskipun Elang adalah orang yang memicu ledakan itu, Gwen kini sadar bahwa Elang hanyalah bidak dalam permainan catur mengerikan yang disusun oleh ibunya sendiri.

​"Hendra," suara Gwen kini terdengar berat dan penuh wibawa. "Siapkan jet ke Singapura. Kita tidak akan bergabung dengannya."

​"Lalu apa rencana kita, Nona?" tanya Hendra ragu.

​Gwen mengeluarkan sebuah benda dari balik kalungnya—sebuah kunci manual yang diberikan ayahnya sebelum ia pergi ke Pulau Hantu. "Kita akan melakukan apa yang seharusnya dilakukan sepuluh tahun lalu. Kita akan menghancurkan sistem utama Adiguna yang kini dikuasai oleh 'The White Lotus'. Jika dunia harus kiamat digital, maka aku yang akan menjadi pelakunya, bukan dia."

​"Gwen, itu artinya kau akan menghancurkan seluruh harta kekayaanmu!" Elang memperingatkan.

​Gwen tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat mirip dengan senyuman The Matriarch di layar tadi. "Aku tidak butuh harta untuk menghancurkan musuhku, Elang. Aku hanya butuh kau di sisiku."

​Gwen berdiri, ia mengambil mantel hitamnya dan memakainya dengan gagah. "Operasi 'Mawar Hitam' dimulai. Kita akan memburu wanita yang melahirkanku, dan aku sendiri yang akan mengakhiri legenda Diana Adiguna."

​Saat mereka melangkah keluar dari bunker, ribuan pengawal Adiguna yang kini telah berubah menjadi pasukan elit membungkuk hormat. Gwen berjalan di tengah mereka, bukan lagi sebagai seorang ahli waris, melainkan sebagai seorang Panglima yang siap membakar dunia demi keadilan.

​Di dalam bayangan, Garuda yang ternyata selamat dari ledakan Pulau Hantu, mengamati pergerakan mereka dari balik teropong jarak jauh. Ia memegang ponselnya dan mengirimkan pesan singkat.

​"Target sudah bergerak. Siapkan penyambutan di Marina Bay. – Garuda."

​Konspirasi keluarga Adiguna baru saja memasuki babak yang paling berdarah. Dan di atas segalanya, cinta antara Gwen dan Elang kini diuji oleh darah yang sama yang mengalir di nadi mereka.

1
Anonymous
Semakin seru dan misterius
Anonymous
Semakin komplek dan misterius
Anonymous
Paman ?Memang harta lebih agung dan sangat berharga apalagi hanya sekedar ponak'an
Anonymous
Reno "I B L I S "
Anonymous
Reno kurang bersyukur dengan kehadiran Gwen dalam hidupnya seorang istri yang csntik punya harkat martabat dan derajat
masih saja dikhianati atau mungkin sejak awal tujuan Reno memang bukan membentuk keluarga yang bahagia
Anonymous
Mulai membaca dan larut di dalamnya
Anonymous
Tegar dan percaya diri Gwen tidak mudah terbawa perasaan
Anonymous
Masih misterius semua
Anonymous
Sip.....aku suka karakter Gwenn👍
Leebit
siap!! makasih ya udah berkunjung ke karyaku😊
vania larasati
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!