Novel ini bercerita tentang intrik bisnis toko manisan dari keluarga Wijaya dengan toko manisan lainnya yang ada di kota Sagara. Toko keluarga Wijaya ini hancur karena fitnah dan anaknya mencari informasi yang dibantu oleh wartawan, polisi dan hakim umtuk memcari sumber fitnah tersebut
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reza Ashari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 Intimidasi misterius
Malam merayap perlahan di atas Kota Sagara, membawa hawa dingin yang menusuk tulang. Angin berdesir lirih, menyusup ke sela-sela jendela rumah keluarga Wijaya yang kini selalu terkunci rapat. Sejak ancaman demi ancaman datang, rumah itu tak lagi terasa aman.
Bima duduk di ruang tamu, menatap layar ponsel yang gelap. Tak ada pesan baru, tak ada panggilan, namun dadanya tetap terasa sesak, seolah sesuatu buruk tengah mengintai di sudut-sudut gelap.
Jam dinding menunjukkan pukul sebelas malam ketika bel pintu berbunyi.
Satu kali.
Pendek.
Tajam.
Bima bangkit seketika. Nara keluar dari kamar dengan wajah pucat, ibu menyusul dari dapur, sementara ayah hanya bisa menatap dari ranjangnya di ruang tengah.
“Siapa?” tanya Bima dengan suara tegas, meski jantungnya berdetak keras.
Tak ada jawaban.
Bel berbunyi lagi. Kali ini lebih lama.
Bima mengambil tongkat kayu yang biasa ia simpan di balik pintu. Perlahan, ia membuka sedikit daun pintu.
Tak ada siapa pun di sana.
Namun di lantai tergeletak sebuah kotak kecil berwarna hitam.
Bima membungkuk, memungutnya dengan hati-hati. Di dalam kotak itu, terdapat sebuah ponsel lama. Layarnya menyala otomatis saat disentuh, menampilkan sebuah video.
Video itu memperlihatkan lorong rumah sakit.
Bima mengenali tempat itu seketika.
Itu ruang perawatan ayahnya.
Kamera bergerak perlahan, lalu berhenti di depan pintu kamar. Sebuah suara berat terdengar dari balik layar.
“Kau punya waktu dua puluh empat jam.”
Video berhenti mendadak.
Ibu menjerit tertahan, menutup mulutnya dengan tangan. Nara mematung, sementara Bima merasakan amarah dan ketakutan bertabrakan di dadanya.
“Mereka tahu semua pergerakan kita,” gumamnya.
Malam itu, tak seorang pun tidur.
Bima menghubungi Kirana dan Pak Damar, menjelaskan situasinya. Mereka sepakat meningkatkan pengamanan, memindahkan ayah ke ruang yang lebih aman, dan mengganti rute perjalanan harian.
Namun intimidasi tak berhenti.
Keesokan paginya, Kirana menemukan kaca mobilnya tergores kasar, membentuk satu kata: BERHENTI.
Di redaksi, sebuah amplop tanpa pengirim diletakkan di mejanya. Di dalamnya, terdapat foto-foto keluarganya di kampung, lengkap dengan alamat dan jadwal aktivitas.
Kirana gemetar.
“Mereka sudah melewati batas,” katanya pada Bima melalui sambungan telepon. “Ini bukan lagi tentang berita. Ini tentang nyawa.”
Namun justru di titik itulah, keberanian mereka diuji.
Alih-alih mundur, Kirana mempercepat jadwal publikasi.
“Kita terbit besok,” katanya tegas dalam rapat redaksi darurat. “Sebelum mereka sempat menghancurkan segalanya.”
Editor menatapnya ragu. “Risikonya besar.”
“Kebenaran selalu berisiko,” jawab Kirana mantap.
Sementara itu, Bima memutuskan mengambil langkah berbahaya. Ia memasang kamera kecil di sekitar rumah dan rumah sakit, berusaha merekam siapa pun yang mengawasi.
Malam berikutnya, salah satu kamera merekam sosok bertopi yang mondar-mandir di depan rumah sakit. Gerakannya mencurigakan, seperti sedang menunggu momen tertentu.
Bima menyerahkan rekaman itu pada Pak Damar.
“Kita harus melibatkan polisi yang bersih,” kata Pak Damar. “Ini sudah masuk kategori teror.”
Namun melibatkan aparat berarti membuka kartu terlalu cepat.
Di tengah dilema itu, ancaman terakhir datang.
Telepon Kirana berdering saat dini hari. Suara di seberang terdengar tenang, nyaris santai.
“Hentikan artikel itu. Atau kau akan menyesal.”
“Kenapa kalian begitu takut pada kebenaran?” tanya Kirana, berusaha menahan gemetar.
“Karena kebenaran menghancurkan segalanya,” jawab suara itu singkat, lalu sambungan terputus.
Kirana menatap layar ponsel yang gelap. Di dalam hatinya, ketakutan bercampur dengan tekad yang semakin mengeras.
Di sisi lain kota, Bima duduk di samping ranjang ayahnya, menggenggam tangan yang kini terasa lebih dingin.
“Ayah, aku takut,” bisiknya pelan.
Ayah membuka mata perlahan. “Takut itu wajar. Tapi jangan biarkan takut menghentikan langkahmu.”
Bima menunduk. “Aku hanya ingin semuanya berakhir.”
Ayah tersenyum lemah. “Semua badai pasti berlalu.”
Kata-kata itu menancap dalam di dada Bima.
Di luar, hujan turun deras, disertai kilat yang membelah langit. Kota Sagara seolah ikut bergemuruh, menandai bahwa puncak badai kian dekat.
Di tengah intimidasi misterius yang semakin brutal, Bima dan Kirana berdiri di ambang keputusan terbesar dalam hidup mereka.
Mundur, atau melangkah ke dalam api demi kebenaran.
Dan mereka tahu, apa pun pilihan mereka, tak akan ada jalan kembali.
Kesadaran itu menggantung berat di udara malam yang dingin. Di ruang tamu rumah kontrakan sempit tempat mereka kini tinggal, Bima, ayah, ibu, dan Kirana saling memandang tanpa kata. Lampu kuning redup memantulkan bayangan wajah-wajah letih yang menyimpan kecemasan dan tekad sekaligus. Di luar, hujan rintik turun perlahan, seolah menegaskan bahwa badai belum benar-benar berlalu.
Sejak teror itu datang, hidup mereka berubah. Telepon-telepon misterius, pesan ancaman tanpa nama, hingga bayangan orang asing yang kerap terlihat di ujung gang, membuat langkah mereka selalu diiringi rasa waswas. Setiap derit pintu dan suara kendaraan yang melintas terasa seperti peringatan. Namun, justru dalam tekanan itulah keberanian mereka ditempa.
“Kita tidak boleh mundur,” ucap ayah Bima akhirnya, memecah keheningan. Suaranya serak, tetapi penuh keyakinan. “Jika kita berhenti sekarang, semua yang kita lakukan akan sia-sia. Fitnah itu akan selamanya menempel, dan toko itu… tidak akan pernah kembali.”
Ibu Bima menunduk sejenak, menggenggam tangan suaminya erat. Ketakutan jelas terpatri di matanya, tetapi di sana juga ada keteguhan. “Aku takut,” katanya lirih. “Tapi aku lebih takut jika kita membiarkan kebohongan menang. Anak kita berhak atas masa depan yang bersih dari noda fitnah.”
Bima menghela napas panjang. Di dadanya, konflik berkecamuk. Ia ingin melindungi keluarganya dari segala ancaman. Namun, ia juga tahu bahwa menyerah berarti membiarkan ketidakadilan berkuasa. “Aku akan terus maju,” ucapnya tegas. “Apa pun risikonya.”
Kirana yang sejak tadi terdiam akhirnya berbicara. “Kita harus lebih hati-hati,” katanya. “Orang-orang itu jelas mulai merasa terancam. Artinya, kita sudah semakin dekat dengan kebenaran.”
Sejak kesepakatan rahasia mereka terjalin, potongan demi potongan informasi berhasil dikumpulkan. Namun, data penting yang menjadi kunci utama masih hilang. Dan kini, dengan teror yang semakin intens, jelas bahwa pihak lawan tak lagi sekadar mengawasi—mereka siap menghentikan.
Malam itu, Bima memutuskan keluar sebentar untuk membeli obat bagi ayahnya yang mulai sering sakit akibat tekanan. Ia berjalan cepat menyusuri gang sempit, menahan rasa gelisah yang terus menghantui. Langkah-langkahnya terdengar nyaring di atas genangan air, sementara bayangan lampu jalan menciptakan siluet panjang di aspal basah.
Tiba-tiba, sebuah motor tanpa plat berhenti di ujung gang. Dua orang bertopi gelap berdiri di sampingnya, menatap Bima tanpa ekspresi. Jantungnya berdegup kencang. Ia mempercepat langkah, berpura-pura tak memperhatikan. Namun, saat ia melewati mereka, salah satu dari pria itu berbisik, cukup keras untuk didengar, “Berhenti sebelum terlambat.”
Bima membeku sejenak, lalu melanjutkan langkah tanpa menoleh. Tangannya gemetar, tetapi ia memaksa diri tetap tenang. Pesan itu jelas: mereka diawasi, dan waktu mereka semakin sempit.
Sesampainya di rumah, ia menceritakan kejadian itu. Wajah Kirana menegang. “Kita harus memindahkan data cadangan,” katanya. “Jika mereka berhasil meretas atau menyita perangkat kita, semua bukti bisa lenyap.”
Malam itu, mereka bekerja dalam senyap. Laptop dinyalakan, dokumen dipindahkan ke beberapa penyimpanan terpisah, dan sebagian dikirim ke jaringan wartawan yang dipercaya Kirana. Setiap klik terasa seperti langkah di atas jembatan rapuh—salah sedikit, mereka bisa jatuh ke jurang.
Di sela-sela kesibukan, ibu Bima menyeduh teh hangat. Tangannya sedikit bergetar, tetapi ia berusaha tersenyum. “Apa pun yang terjadi,” katanya pelan, “kita sudah memilih jalan ini. Jangan pernah menyesal.”
Kata-kata itu menancap dalam di benak Bima. Ia menatap ibunya, sosok yang selama ini menjadi sumber kekuatan. Di balik tubuhnya yang ringkih, tersimpan keberanian yang luar biasa. Ia sadar, perjuangan ini bukan hanya tentang membuka kembali toko manisan, melainkan tentang harga diri, keadilan, dan masa depan.
Beberapa hari kemudian, teror semakin menjadi. Sebuah batu dilempar ke jendela rumah mereka pada dini hari, disertai secarik kertas bertuliskan ancaman. Tidak ada nama, hanya simbol samar yang mengingatkan pada jaringan kekuasaan yang selama ini mereka lawan. Tetangga mulai resah, dan pemilik kontrakan menyarankan mereka pindah demi keamanan.
“Kita tidak punya banyak pilihan,” ujar ayah Bima. “Untuk sementara, kita harus berpindah tempat.”
Perpindahan itu dilakukan diam-diam, di tengah malam. Mereka membawa barang secukupnya, meninggalkan rumah kecil yang selama ini menjadi benteng terakhir. Di lokasi baru yang lebih tersembunyi, mereka melanjutkan perjuangan dengan lebih waspada.
Kirana semakin intens berkomunikasi dengan redaksi. Beberapa artikel mulai disiapkan, menunggu saat yang tepat untuk dipublikasikan. Setiap informasi diverifikasi berlapis, demi menghindari kesalahan yang bisa dimanfaatkan lawan. Sementara itu, Bima menelusuri jejak transaksi mencurigakan yang berpotensi mengungkap aktor utama di balik fitnah.
Di tengah kelelahan, rasa putus asa sempat menghampiri. Ada malam-malam panjang di mana Bima terbangun dengan keringat dingin, dibayangi kemungkinan terburuk. Namun, setiap kali itu terjadi, ia teringat sumpah di depan toko kosong yaitu sumpah untuk tidak menyerah.
“Tak ada jalan kembali,” gumamnya suatu malam, menatap langit gelap dari jendela sempit. “Dan mungkin, memang seharusnya begitu.”
Karena ia tahu, jalan yang mereka tempuh, seberat apa pun, adalah satu-satunya cara agar kebenaran kembali menemukan cahayanya. Di balik intimidasi misterius, di balik ketakutan yang terus mengintai, harapan kecil itu tetap menyala dan menuntun mereka melangkah, meski dunia seolah berusaha memadamkannya.
Dan selama harapan itu masih ada, perjuangan mereka belum berakhir.