Senja selalu identik dengan keindahan, tetapi bagi mereka yang pernah kehilangan, senja justru menjadi pengingat akan luka yang belum sembuh.
Seorang lelaki yang tumbuh tanpa orang tua dan seorang perempuan yang patah oleh cinta, dipertemukan di kota kecil yang sepi, tepat di bawah langit jingga yang sama. Keduanya sama-sama membawa masa lalu yang belum selesai, trauma yang tidak pernah benar-benar hilang.
Dalam pertemuan yang sederhana, tumbuh perasaan yang pelan—bukan untuk saling menyelamatkan, melainkan untuk saling menemani di tengah rasa hampa.
Sisi Tergelap Senja adalah kisah tentang cinta yang lahir dari luka, tentang kehilangan yang tidak selalu bisa disembuhkan, dan tentang dua manusia yang belajar menerima bahwa tidak semua yang indah berarti bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sifatori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jarak Yang Tidak Terucap
Sejak percakapan di kafe itu, aku mulai menyadari sesuatu yang aneh: kami masih sering berbicara, masih tertawa di topik-topik ringan, masih saling mengirim kabar sebelum tidur. Namun ada bagian dari diriku yang merasa bahwa sesuatu telah bergeser sedikit ke belakang, seperti bayangan yang tidak lagi tepat berada di bawah kaki.
Ia tidak berubah secara drastis.
Tidak ada sikap dingin yang mencolok, tidak ada kata-kata menyakitkan yang bisa kuingat dengan jelas, tidak juga penghindaran yang tampak disengaja. Justru itulah yang membuat jarak ini terasa lebih nyata—karena ia hadir tanpa bentuk, tanpa suara, tanpa alasan yang bisa kutunjuk dengan pasti.
Aku mulai membaca ulang pesan-pesannya, bukan untuk mencari kesalahan, melainkan untuk mencari makna. Kata-katanya masih ramah, masih hangat, tetapi tidak lagi sedalam dulu. Seolah ia tetap membuka pintu, namun tidak lagi mengajakku masuk terlalu jauh. Aku menyadari, ada perbedaan besar antara diperbolehkan hadir dan benar-benar diinginkan.
Malam itu, hujan turun pelan, seperti kebiasaan kota ini ketika tidak tahu harus bersuara keras atau memilih diam. Aku berdiri di dekat jendela kamar, menatap lampu jalan yang memantul di genangan air. Cahaya kuning itu terlihat samar, seperti perasaan yang kini sulit kujelaskan dengan kata-kata sederhana.
Ponselku ada di tangan, tapi aku tidak langsung membukanya. Ada rasa ragu yang tumbuh setiap kali aku ingin menulis pesan lebih dulu. Aku takut terlihat terlalu membutuhkan. Takut menjadi orang yang selalu datang dengan pertanyaan, sementara ia datang dengan jawaban seadanya. Takut bahwa aku sedang berjuang mempertahankan sesuatu yang sebenarnya sudah mulai melonggar dari arah sebaliknya.
Aku membuka buku catatan lagi. Kali ini tulisanku lebih lambat, lebih jujur, dan tidak terlalu berusaha terdengar indah:
"Jarak tidak selalu tercipta karena pergi. Kadang ia muncul karena salah satu berhenti mendekat, sementara yang lain terus melangkah tanpa sadar."
Aku terdiam cukup lama setelah menulis itu.
Kalimat tersebut terasa seperti cermin yang tidak bisa kuhindari. Aku mulai bertanya pada diriku sendiri, sejak kapan aku berhenti memperhatikan batas antara peduli dan bergantung. Sejak kapan aku merasa cemas hanya karena satu orang terlambat membalas pesan.
Di tengah keheningan itu, ponselku bergetar. Pesan darinya muncul, sederhana seperti biasanya:
“Kamu lagi apa?”
Pertanyaan yang dulu membuatku tersenyum lebar, kini justru membuatku terdiam sejenak. Aku menyadari, bukan pertanyaannya yang berubah—yang berubah adalah caraku menunggu.
Aku membalas dengan singkat:
“Lagi nulis.”
“Tentang apa?”
“Tentang jarak.”
Ia tidak langsung membalas.
Beberapa menit berlalu, lalu muncul satu kalimat:
“Kamu selalu mikir terlalu dalam, ya.”
Aku tersenyum tipis membaca itu.
Mungkin benar. Atau mungkin aku hanya berusaha memahami sesuatu yang tidak ingin dijelaskan. Ada hal-hal yang tidak bisa ditarik keluar dengan pertanyaan, tidak bisa dipaksa muncul dengan kejujuran sepihak.
Aku menaruh ponsel di samping bantal, lalu merebahkan tubuh di kasur. Langit-langit kamar terlihat sama seperti biasanya, tetapi malam ini terasa lebih berat. Aku menyadari, aku tidak sedang kehilangan dia—aku sedang kehilangan rasa aman yang dulu kubangun dari kehadirannya.
Dan mungkin di situlah letak masalahnya.
Aku terlalu nyaman menaruh harap pada satu arah, sampai lupa bahwa setiap orang punya ruangnya sendiri untuk bernapas. Aku lupa bahwa kedekatan tidak selalu berarti kesiapan, dan perhatian tidak selalu berarti niat untuk tinggal lebih lama.
Malam itu, aku berbicara pada diriku sendiri dalam hati:
Jika ia ingin mendekat, ia akan melangkah tanpa perlu ditarik.
Dan jika tidak, tugasku bukan mengejar—melainkan tetap berdiri, tanpa kehilangan diriku sendiri.
Untuk pertama kalinya, jarak itu tidak lagi terasa menakutkan.
Ia hanya terasa jujur. Jujur bahwa tidak semua kedekatan harus berakhir sebagai kepemilikan, dan tidak semua perasaan harus diperjuangkan sampai melukai diri sendiri.
Aku menutup jendela, membiarkan hujan tetap turun di luar, lalu mematikan lampu kamar. Dalam gelap, aku menarik napas panjang dan membiarkan satu kesadaran muncul perlahan:
Kadang, menjaga diri sendiri adalah bentuk cinta yang paling sunyi, tapi juga yang paling perlu.