lanjutkan seorang gadis cantik baru lulus dan sedang mencari kerja dan menemukan masalah karena orangtuanya berhutang dengan lintah darat namun ada bos muda yang membantunya namun bos itu jatuh hati kepadanya gadis cantik itu bernama Mira dan bos besar grup Nusantara itu Romano Kusuma dan ia menginginkan gadis cantik itu dan mengejaran dimulai ...... lanjutkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 15
Matahari pagi menyusup melalui celah-celah jendela rumah lama, menerangi debu-debu yang beterbangan di atas dokumen mata air tersebut. Mira tidak menunggu lama. Dalam waktu dua puluh empat jam, ia telah mengubah ruang rapat Menara Berdikari menjadi pusat komando hidrologi.
Para insinyur dan ahli lingkungan berkumpul, menatap peta yang dulunya disembunyikan oleh Rahayu. Di ujung meja, Romano duduk dengan gaya tenangnya yang khas, namun matanya yang tajam terus memantau pergerakan saham perusahaan utilitas publik yang mulai bergejolak karena rumor yang sengaja ia embuskan.
"Kita tidak akan menjual setetes pun air ini," tegas Mira, suaranya menggema di ruangan itu. "Ini adalah kedaulatan warga. Proyek ini dinamakan 'Mata Air Rahayu'. Kita akan membangun instalasi pengolahan air berbasis komunitas di setiap sudut Sektor Tujuh."
"Mira," sela salah satu direktur muda yang baru ia rekrut. "Perusahaan utilitas raksasa Globalindo—sisa-sisa sekutu Arkan dan Wijaya—sudah mengajukan gugatan sengketa hak air bawah tanah. Mereka mengklaim memiliki izin konsesi di wilayah ini sejak era ayah Romano."
Mira melirik Romano. Pria itu hanya tersenyum miring, lalu melemparkan sebuah flashdisk ke tengah meja.
"Izin konsesi itu bergantung pada kepemilikan lahan primer," ujar Romano. "Dan karena status tanah Sektor Tujuh sekarang adalah 'Lahan Kolektif Terpadu' milik warga, maka secara hukum, segala aset di bawahnya adalah milik warga. Gugatan mereka hanyalah gertakan sambal. Yang perlu kita khawatirkan adalah sabotase fisik."
Malam itu, saat konstruksi pertama pipa air dimulai, Mira turun langsung ke lapangan. Ia melihat warga Sektor Tujuh, dari yang muda hingga yang tua, bahu-membahu menggali parit-parit kecil. Tidak ada lagi rasa takut di wajah mereka, hanya ada kebanggaan.
Di tengah kesibukan itu, Romano mendekati Mira. Ia membawa dua botol air minum dan memberikannya satu pada istrinya. "Kau tahu, setelah air ini mengalir, kau bukan lagi sekadar pemimpin bagi mereka. Kau akan menjadi legenda."
"Aku tidak butuh menjadi legenda, Romano. Aku hanya ingin mereka tidak perlu lagi membayar mahal hanya untuk bisa minum dan mandi," Mira menyesap airnya, menatap kerumunan warga. "Tapi aku sadar, setiap kali kita membangun sesuatu yang baik, bayangan ayahmu selalu mencoba merayap kembali."
"Itulah sebabnya aku ada di sini," Romano menggenggam tangan Mira, jari-jari mereka bertautan erat. "Untuk memastikan bayangan itu tetap berada di tempatnya. Di bawah tanah."
Tiba-tiba, suara sorak-sorai meledak dari arah sumur bor utama. Air jernih pertama mulai menyembur keluar, membasahi wajah-wajah lelah para pekerja. Ayah Mira berdiri di sana, menampung air itu dengan telapak tangannya dan meminumnya dengan air mata bahagia.
Mira berlari menuju sumur itu, merasakan percikan air yang dingin dan murni di kulitnya. Ia menoleh ke arah Romano yang berdiri beberapa langkah di belakangnya. Di bawah sorotan lampu konstruksi, mereka menyadari bahwa misi Rahayu telah tuntas.
Lahan itu kini tidak hanya memberikan tempat tinggal, tapi juga kehidupan.
Sambil menatap air yang terus memancar, Mira tahu bahwa meskipun badai baru mungkin akan datang dari korporasi-korporasi besar, fondasi yang ia bangun bersama Romano sudah terlalu dalam untuk digoyahkan. Sektor Tujuh telah menjadi jantung yang berdenyut, dan mereka adalah penjaganya.
Sepuluh tahun sejak percikan air pertama menyembur di Sektor Tujuh, Menara Berdikari kini bukan lagi sekadar gedung perkantoran, melainkan simbol perubahan peta kekuatan ekonomi nasional. Proyek "Mata Air Rahayu" telah berkembang menjadi jaringan distribusi air mandiri terbesar di wilayah tersebut, membuat korporasi utilitas raksasa harus bertekuk lutut dan menyesuaikan tarif mereka.
Di sebuah sore yang tenang, Mira berdiri di balkon rumah lamanya yang telah dipugar sempurna. Ia tidak lagi memegang map emas atau dokumen sengketa. Di tangannya hanya ada sebuah jurnal kecil milik ibunya yang baru saja ia selesaikan bacaannya.
Romano muncul dari balik pintu jati, membawakan dua cangkir kopi. Rambut di pelipisnya mulai sedikit memutih, namun tatapan matanya saat melihat Mira masih tetap sama—penuh kekaguman yang tak pernah padam.
"Putra kita baru saja memenangkan kompetisi debat di sekolahnya," ucap Romano sambil bersandar di pagar balkon. "Dia berargumen tentang etika bisnis di depan para guru. Sepertinya dia mewarisi lidah tajammu."
Mira terkekeh rendah, menerima cangkir kopi itu. "Atau mungkin dia mewarisi kelicikanmu dalam bernegosiasi, Romano."
Mereka berdua menatap ke arah pemukiman Sektor Tujuh. Dari ketinggian itu, mereka bisa melihat anak-anak bermain di taman yang dialiri air mancur jernih, dan pasar yang kini menjadi pusat kuliner paling dicari di Jakarta. Tidak ada lagi sengketa, tidak ada lagi premanisme. Yang ada hanyalah sebuah komunitas yang berdaya.
"Kau tahu," Romano memulai, suaranya terdengar reflektif. "Dulu aku berpikir kesuksesan adalah tentang seberapa banyak orang yang bisa aku kendalikan. Tapi melihat ini semua... aku baru sadar bahwa kesuksesan sejati adalah membangun sesuatu yang bisa berjalan tanpa harus kita kendalikan lagi."
Mira mengangguk, menyandarkan kepalanya di bahu Romano. "Kita telah memutus kutukan keluarga Kusuma, dan kita telah menebus air mata Rahayu. Sekarang, tempat ini milik mereka sepenuhnya."
Tiba-tiba, suara tawa anak-anak terdengar mendekat. Putra mereka berlari masuk ke halaman, diikuti oleh ayah Mira yang meski sudah renta, masih tampak kuat saat menggendong cucunya. Pria tua itu melambaikan tangan ke arah balkon, sebuah lambaian yang penuh dengan kedamaian.
"Warisan kita bukan gedung-gedung itu, Romano," bisik Mira, matanya berkaca-kaca melihat kebahagiaan ayahnya. "Warisan kita adalah keberanian mereka untuk bermimpi."
Romano mengecup puncak kepala Mira, merangkulnya erat saat matahari perlahan tenggelam di cakrawala Jakarta, memberikan warna emas pada setiap sudut kota yang pernah mereka perjuangkan.
Bagaimana jika malam itu, di gudang bawah tanah Nusantara Group, Mira tidak menemukan dokumen yang menyelamatkan Sektor Tujuh, melainkan sebuah fakta yang jauh lebih gelap?
Mira menatap nanar pada selembar foto lama yang terjepit di antara dokumen proyek tahun 1996. Di sana, ibunya, Rahayu, sedang berjabat tangan dengan ayah Romano. Namun, yang membuat napas Mira tercekat adalah latar belakang foto tersebut: sebuah laboratorium ilegal di pinggiran Sektor Tujuh.
"Ini bukan soal tanah," bisik Mira, suaranya bergetar hebat. "Ibuku... dia bukan korban. Dia adalah bagian dari mereka."
Romano yang berdiri di belakangnya tampak sama terkejutnya. Ia mengambil dokumen di bawah foto itu. "Proyek Chimera. Mira, ibumu bukan melawan penggusuran karena peduli pada warga. Dia melawan karena ayahku ingin menjual hasil penelitian mereka ke pihak asing, sementara ibumu ingin menggunakannya untuk... kontrol populasi?"
Dunia Mira runtuh. Pahlawan yang selama ini ia bela, alasan di balik setiap tetap air matanya, ternyata adalah arsitek dari sebuah rencana jahat yang jauh lebih besar dari sekadar korporasi. Seluruh narasi "pahlawan rakyat" yang ia bangun hanyalah sebuah kebohongan yang tidak disengaja.
"Mira, dengar," Romano memegang kedua bahu Mira, memaksa gadis itu menatapnya. "Ini mengubah segalanya. Jika publik tahu siapa Rahayu sebenarnya, Sektor Tujuh tidak akan dianggap sebagai korban. Mereka akan dianggap sebagai sisa-sisa eksperimen gagal."
"Maksudmu?"
"Darah warga di sana... ayahku dan ibumu menyuntikkan sesuatu ke sistem air mereka tiga puluh tahun lalu. Itulah sebabnya tidak ada orang luar yang mau tinggal di sana. Bukan karena kumuh, tapi karena mereka semua adalah subjek uji coba yang dipantau."
Tiba-tiba, lampu gudang berkedip dan mati total. Suara langkah kaki berat terdengar dari tangga darurat. Bukan satu atau dua orang, tapi sebuah pasukan.
"Romano, Sofia tidak melakukan ini sendirian," Mira menyadari sesuatu saat ia melihat titik merah laser di dada Romano. "Keluarga Kusuma dan keluargaku... mereka adalah satu organisasi yang sama. Dan kita baru saja membuka kotak pandora yang seharusnya tetap terkunci."
Pintu gudang ditendang hingga hancur. Bukan polisi yang muncul, melainkan pasukan elit tanpa atribut. Di belakang mereka, muncul sosok yang seharusnya sudah meninggal sepuluh tahun lalu: Ayah Romano, yang duduk di kursi roda elektrik dengan oksigen di hidungnya.
"Anak-anakku yang malang," suara tua itu terdengar serak namun penuh otoritas. "Kalian terlalu sibuk bermain cinta dan keadilan hingga lupa bahwa bisnis ini dibangun di atas genetik, bukan sekadar tanah."
Romano berdiri di depan Mira, melindunginya. "Ayah? Kau memalsukan kematianmu?"
"Hanya untuk melihat apakah kau cukup kuat untuk memimpin proyek yang sebenarnya," pria tua itu menunjuk Mira. "Dan kau, Mira... kau adalah keberhasilan terbesar ibumu. Kau tidak pernah bertanya kenapa kau memiliki kecerdasan dan kekuatan fisik yang melampaui rata-rata? Kau adalah subjek 'Alpha'."
Mira merasakan mual yang luar biasa. Semua perjuangannya, rasa sakitnya, dan ambisinya... apakah itu semua hanyalah hasil dari rekayasa laboratorium?
"Sekarang," ayah Romano melanjutkan, "kalian punya dua pilihan. Bergabung denganku untuk meluncurkan fase kedua di seluruh Jakarta, atau menjadi sejarah yang terkubur bersama gudang ini."
Mira menatap tangan Romano yang gemetar, lalu menatap dokumen di tangannya. Ia tidak lagi melihat dirinya sebagai pahlawan. Ia melihat dirinya sebagai senjata.
"Romano," bisik Mira, matanya kini berkilat dengan kegelapan yang belum pernah terlihat sebelumnya. "Jika kita adalah monster yang mereka ciptakan... maka mari kita tunjukkan pada mereka bagaimana cara monster menghancurkan penciptanya."
Mira tidak lari. Ia justru melangkah maju menuju ayahnya Romano, menghancurkan dokumen di tangannya, dan menatap pasukan bersenjata itu dengan senyum miring yang mengerikan.
"Persetan dengan Sektor Tujuh," ucap Mira dingin. "Malam ini, kita akan membakar seluruh menara ini."