NovelToon NovelToon
Reverb

Reverb

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Konflik etika / Idol / Tamat
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Lucky Caleb adalah definisi kesempurnaan di Berlin—seorang penyanyi dan aktor papan atas dengan kekayaan melimpah dan popularitas yang menggila.
Namun, di balik kemewahan hidupnya, Lucky adalah pria yang terjebak di masa lalu. Kesuksesan lagu-lagu hitsnya sebenarnya merupakan rahasia yang ia simpan bersama Renata Brox, kekasih masa SMA yang juga merupakan penulis lirik di balik jeniusnya musik Lucky.
Tiga tahun lalu, saat mereka berusia 19 tahun, Renata memilih mundur. Muak dengan tekanan industri dan merasa tidak lagi menjadi prioritas di tengah kesibukan Lucky yang egois, Renata menghilang dan memulai hidup baru sebagai mahasiswi hukum yang cerdas di London.
Di tengah kesepian dan kegagalannya untuk move on, Lucky hanya memiliki Freya, asisten pribadinya yang setia. Freya adalah satu-satunya orang yang mampu menghadapi sisi dingin dan manja Lucky, sosok yang mengatur seluruh hidup sang bintang dan menjadi jangkar di tengah badai ketenaran.

Selamat Bacaaaa 🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#11

Lampu gantung kristal di restoran VIP kawasan Mayfair memancarkan cahaya keemasan yang redup, menciptakan suasana eksklusif bagi para tamu terpilih.

Setelah tiga jam berdiri di bawah lampu sorot, melayani ribuan pasang mata, dan tersenyum hingga otot wajahnya kaku, Lucky Caleb benar-benar berada di titik nadir energinya.

Di dalam bilik privat yang tertutup rapat dari jangkauan publik, Lucky duduk merosot di kursi beludru. Matanya terpejam, dan tanpa memedulikan citranya, ia kembali menyandarkan kepalanya yang berat ke bahu Freya yang duduk di sampingnya.

Freya, yang sudah kembali memakai masker hitam dan jaket hoodie kebesarannya, hanya diam. Ia sudah terbiasa menjadi bantal bagi Lucky setiap kali pria itu selesai tampil. Tangan Freya bergerak pelan, memberikan pijatan ringan di pelipis Lucky untuk meredakan sakit kepala akibat kebisingan sound system tadi sore.

"Tahan sedikit lagi, Luc. Renata hampir sampai," bisik Freya pelan.

"Hmm," gumam Lucky, enggan beranjak. "Kenapa tulang bahumu kecil sekali, Frey? Tapi rasanya lebih nyaman daripada bantal hotel."

Freya hanya memutar matanya di balik masker. Ia merasa canggung, tapi ia tidak bisa mendorong Lucky. Ia tahu pria ini butuh "pengisian daya" sebelum ia harus bersikap romantis di depan kekasihnya.

Tak lama kemudian, pintu bilik terbuka. Renata masuk dengan balutan gaun simpel berwarna krem yang membuatnya tampak sangat anggun sebagai mahasiswi hukum berprestasi. Namun, langkahnya terhenti di ambang pintu. Matanya membelalak kecil melihat pemandangan di depannya.

Ia kira ini adalah makan malam romantis berdua. Ia kira, setelah tiga tahun berpisah, Lucky akan memberikan seluruh ruang dan waktunya untuknya malam ini. Namun, yang ia lihat justru Lucky sedang bersandar manja pada bahu seorang asisten perempuan yang wajahnya bahkan tidak terlihat.

"Lucky?" panggil Renata, mencoba menetralkan nada suaranya.

Lucky membuka matanya perlahan, namun ia tidak langsung menegakkan tubuhnya. Ia hanya menoleh sedikit ke arah Renata dengan senyum lelah namun bahagia. "Hai, Ren. Sini, duduklah."

Renata duduk di hadapan mereka, mencoba menekan rasa tidak nyaman yang merayap di dadanya. Pikirannya yang biasanya logis sebagai calon pengacara kini mulai terusik oleh bibit-bibit keserakahan. Ia ingin Lucky sepenuhnya menjadi miliknya lagi. Ia merasa terganggu melihat betapa intimnya Lucky dengan "pegawainya".

"Kau mau pesan apa, Lucky? Biar aku panggil pelayan," ucap Renata, mencoba mengambil alih kendali situasi.

Lucky menguap kecil, masih dengan kepala di bahu Freya. "Oh, tidak perlu, Ren. Pesanan kita sudah dipesan Freya sebelum kau datang. Dia tahu aku sedang ingin makan steak dengan tingkat kematangan medium-well dan kau... aku bilang padanya kau suka pasta dengan saus krim."

Renata tertegun. Ia menatap Freya yang hanya menunduk sopan. Ada rasa syukur karena kebutuhannya diperhatikan, namun di sisi lain, ada rasa perih saat menyadari bahwa asisten ini tampaknya lebih memahami jadwal makan dan selera Lucky daripada dirinya saat ini.

Tak lama kemudian, makanan disajikan. Lucky akhirnya menegakkan tubuhnya, namun jaraknya dengan Freya tetap sangat dekat. Sepanjang makan malam, Lucky memang melakukan apa yang ia janjikan: ia menatap mata Renata dengan binar bahagia, menggenggam tangan Renata di atas meja, dan sesekali melemparkan pujian betapa cantiknya Renata malam itu.

Namun, yang membuat Renata harus berulang kali menghela napas panjang adalah interaksi Lucky dengan Freya yang terjadi secara otomatis, seolah itu adalah refleks saraf yang sudah mendarah daging selama bertahun-tahun.

"Frey, kau harus makan lebih banyak. Kau tadi hanya minum air saat aku di panggung," ucap Lucky tanpa menoleh, tangannya sibuk memindahkan potongan dagingnya, namun mulutnya mengomel pada asistennya.

"Aku sudah makan roti tadi, Luc," jawab Freya singkat.

"Roti bukan makanan. Makan ini," Lucky menyendokkan salad ke piring Freya. Kemudian, dengan gerakan yang sangat alami, Lucky menarik piring sup miliknya ke arah Freya. "Frey, pisahkan kacang polongnya. Aku benci teksturnya malam ini."

Renata terpaku dengan garpu yang menggantung di udara. Ia menyaksikan asisten itu, dengan kesabaran luar biasa, mengambil sendok dan mulai memisahkan kacang polong dari sup Lucky satu per satu tanpa banyak bicara. Freya melakukannya seolah itu adalah ritual suci yang sudah ia lakukan ribuan kali.

"Lucky, asistenmu juga perlu makan dengan tenang," tegur Renata lembut, mencoba mengingatkan Lucky bahwa ada batas antara atasan dan bawahan.

Lucky malah tertawa, ia menoleh ke Freya dan mencubit lengan jaket gadis itu pelan. "Dia sudah biasa, Ren. Freya itu asisten, manajer, sekaligus pengasuhku. Kalau tidak ada dia, mungkin aku sudah mati tersedak kacang polong sejak tahun lalu."

Renata terdiam. Ia melihat Lucky kembali menatapnya dengan penuh cinta, bahkan Lucky mengecup punggung tangannya berkali-kali. Namun, setiap kali Lucky bicara padanya, Lucky akan sesekali menyenggol bahu Freya atau meminta Freya mengambilkan tisu, air, bahkan memotongkan sisa steaknya yang keras.

Ada kehangatan yang luar biasa antara Lucky dan Renata, seperti kekasih yang baru menemukan kembali separuh jiwanya. Tapi ada "kebiasaan" yang tak terpecahkan antara Lucky dan Freya—sebuah simbiosis yang membuat Renata merasa seperti tamu di hidup Lucky sendiri.

Freya sendiri merasa sangat canggung. Ia berusaha seprofesional mungkin, namun ia bisa merasakan tatapan menyelidik dari Renata. Ia tahu Renata mulai merasa terancam. Di balik maskernya, Freya hanya bisa menghela napas pahit. Ia ingin sekali pergi dan membiarkan mereka berdua, tapi Lucky terus-menerus menariknya kembali ke dalam percakapan, seolah keberadaan Freya adalah penyeimbang bagi emosi Lucky yang sedang meluap-luap.

"Frey, besok pagi siapkan mobil jam delapan ya. Aku ingin mengajak Renata jalan-jalan ke Hyde Park sebelum wawancara radio," perintah Lucky sambil mengunyah makanannya.

"Sudah kusiapkan, Luc. Supir akan stand-by," jawab Freya datar.

Renata hanya bisa tersenyum kaku. Sepanjang makan malam itu, ia harus menyaksikan bagaimana Lucky memuja dirinya lewat kata-kata dan tatapan mata, namun secara fisik dan fungsional, Lucky sepenuhnya bergantung pada gadis bermasker itu.

Renata menyadari satu hal malam itu: ia mungkin memiliki hati Lucky, tapi gadis bernama Freya ini telah memiliki seluruh sisa hidup Lucky. Dan bagi seorang calon ahli hukum yang ambisius, kenyataan itu mulai terasa seperti sebuah tantangan yang harus ia singkirkan.

Sementara itu, Freya terus bekerja dalam diam, memisahkan setiap "kacang polong" dalam hidup Lucky, sambil menelan kenyataan bahwa ia hanyalah asisten yang menyiapkan panggung bagi cinta orang lain.

🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
Ridwani
👍👍
winpar
hujn2 bca cerita sedih ini 😥😥😥😥
smngt Thor ceritanya bgus bgt
ros 🍂: Aaaa ma'aciww udah semangatin 🤭
total 1 replies
Ridwani
👍👍👍
winpar
pinter bgt kk thornya1 hari bnyk bnget up nya 🥰😍
ros 🍂: Makasih jejak nya kak, kan jadi tambah semangat nulisnya 🥰
total 1 replies
winpar
up lgi kk seru bgt ceritanya🥰😍
ros 🍂: Ma'aciww jejak nya kak🥰🙏
total 1 replies
winpar
sedih banget 😥😥😥😥
ros 🍂: Kita harus bahagia Kak 😭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!