NovelToon NovelToon
NALA

NALA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dunia Masa Depan / Penyelamat
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: Saqila nur sasih

Nala memiliki saudari kembar—Arsha. Wajah yang sama, darah yang sama, tetapi nasib yang berbanding terbalik. Arsha hidup dalam kemewahan, dilindungi nama besar dan kekuasaan. Sementara Nala tumbuh dalam kesederhanaan, tanpa nama keluarga yang bisa dibanggakan. Dua sisi cermin yang tak pernah benar-benar dipertemukan.

Dan kini, ayah mereka meminta Nala menjadi bayangan.

Menggantikan Arsha dalam sebuah perjodohan strategis demi mempertahankan aliansi dan kekuasaan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saqila nur sasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perubahan

“tawanya lepas, namun ia menyimpan luka. Wajahnya teduh, namun hatinya rapuh”

***

Malam turun perlahan, menyelimuti kota dengan cahaya lampu yang berkilauan seperti lautan bintang buatan manusia. Di lantai paling atas sebuah gedung tinggi yang menjulang angkuh, berdiri seorang pria dewasa menghadap dinding kaca setinggi langit-langit.

Jas hitamnya terpotong rapi di bahu lebar, kemeja putihnya bersih tanpa satu lipatan pun. Rambutnya tersisir sempurna, rahangnya tegas, dan sorot matanya tenang—terlalu tenang untuk seseorang yang memegang begitu banyak kendali. Di tangannya, secangkir kopi hitam masih mengepulkan aroma pahit yang elegan.

Ia menyesap perlahan, tanpa tergesa.

Pantulan dirinya terlihat samar di kaca, berpadu dengan panorama kota di bawahnya. Lampu-lampu kendaraan bergerak seperti aliran takdir yang tak bisa dihentikan—teratur, tapi tak pernah benar-benar bisa ditebak.

Di belakangnya, suara pintu terbuka pelan.

Langkah sepatu formal terdengar terukur di lantai marmer mengilap. Seorang pria lain—lebih muda, mengenakan setelan abu-abu dengan tablet di tangan—berhenti beberapa langkah dari meja kerja besar di tengah ruangan.

“Semua sudah diatur, Tuan,” ucapnya dengan suara profesional, tertahan.

Pria di depan kaca itu tidak langsung menjawab. Ia kembali menyesap kopinya, seolah menikmati jeda. Rahangnya bergerak pelan saat menelan, lalu ia meletakkan cangkir di meja kecil di sampingnya tanpa menoleh.

“Termasuk yang saya minta?” tanyanya akhirnya, suaranya rendah dan dalam. Tenang. Tapi mengandung sesuatu yang membuat udara terasa lebih berat.

Asisten pribadi itu mengangguk cepat. “Sudah, Tuan. Tidak ada yang akan mengetahui detailnya. Semua berjalan sesuai rencana.”

Hening kembali menguasai ruangan luas itu. Hanya suara mesin pendingin ruangan dan desah angin tipis di balik kaca tebal yang terdengar samar.

Besok malam adalah pesta pertunangan rekan bisnisnya—acara besar yang akan dipenuhi wajah-wajah penting, senyum diplomatis, dan kesepakatan yang dibungkus anggur mahal. Semua akan terlihat mewah. Sempurna. Terhormat.

Namun pria itu tahu, di balik pesta, selalu ada transaksi yang lebih sunyi.

Ia akhirnya menoleh sedikit, cukup untuk memperlihatkan garis wajahnya yang tajam dalam cahaya lampu kota. Tatapannya dingin, terukur, seperti seseorang yang terbiasa mendapatkan apa yang ia inginkan—tanpa perlu meninggikan suara.

“Pastikan tidak ada kesalahan,” katanya pelan.

“As always, Tuan.”

Asisten itu menunduk hormat sebelum mundur dan meninggalkan ruangan.

Kini ia kembali sendiri.

Pria itu memandang ke bawah, ke arah kota yang tak pernah benar-benar tidur. Senyum tipis—nyaris tak terlihat—tersungging di sudut bibirnya.

Malam sebelum pesta pertunangan.

Malam sebelum semuanya tampak seperti perayaan.

Dan mungkin… malam sebelum satu kehidupan berubah arah tanpa ada yang menyadarinya.

***

Hari-hari Nala kini terbagi menjadi dua kehidupan yang tak boleh saling bersentuhan.

Di satu sisi, ia adalah Arsha—perempuan dengan postur tegak, suara tenang, langkah terukur, dan senyum yang tidak pernah berlebihan. Setiap pagi ia menjalani “pelajaran” yang diberikan Baskara: etika meja makan kelas atas, cara berbicara dengan rekan bisnis, bagaimana menjawab pertanyaan tanpa benar-benar memberi jawaban, hingga bagaimana menahan emosi di balik tatapan yang lembut.

Ia belajar duduk tanpa bersandar.

Belajar tertawa tanpa terlihat keras.

Belajar menatap tanpa tampak menantang.

Semua gerakan dilatih berulang-ulang sampai menjadi refleks.

Namun sesekali, setelah sesi panjang itu selesai dan Baskara merasa cukup, Nala meminta izin untuk pulang.

“Arsha juga butuh ruang,” katanya halus suatu kali, memainkan perannya bahkan saat meminta waktu untuk menjadi dirinya sendiri.

Dan Baskara mengizinkan—selama waktunya terkontrol.

Sore itu, Nala kembali ke rumah, yang kini menjadi satu-satunya tempat ia bisa bernapas tanpa pengawasan. Ia mengganti gaun elegan dengan pakaian sederhana, menghapus riasan yang membuatnya tampak seperti orang lain. Rambutnya ia ikat asal, membiarkan beberapa helai jatuh di sisi wajah.

Di depan cermin kamar, ia menatap bayangannya.

Nala.

Bukan Arsha. Ia menarik napas panjang, seolah baru saja melepas topeng yang terlalu lama menempel. Kala tidak boleh curiga. Itu satu-satunya hal yang terus ia pegang.

Saat adiknya pulang, Nala sudah duduk di ruang tengah, pura-pura sibuk dengan ponsel atau menyiapkan makanan. Ia memastikan nada suaranya tetap seperti biasa—tidak terlalu formal, tidak terlalu dingin.

“Udah makan belum?” tanyanya santai.

Ia harus mengingat untuk tidak berkata, “Sudah makan, Kala?” dengan intonasi terlalu rapi seperti yang diajarkan Baskara. Ia harus kembali pada logat lamanya, pada kebiasaan kecil yang tak pernah Arsha miliki.

Kadang ia hampir keliru.

Terlalu tegak saat duduk.

Terlalu hati-hati memilih kata.

Terlalu tenang dalam situasi yang seharusnya membuatnya mengeluh.

Namun setiap kali melihat wajah Kala, semua latihan itu runtuh sedikit demi sedikit.

Ada rasa bersalah yang halus menyelinap di dadanya. Ia menjalani hidup mewah yang bukan miliknya.

Memakai nama orang lain. Berjalan di pesta-pesta yang bahkan tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Tapi di hadapan adiknya, ia tetap harus menjadi kakak yang sama—yang cerewet soal makan, yang pura-pura marah kalau Kala pulang terlalu malam, yang tersenyum meski lelah menggantung di bawah matanya. Sesekali Kala menatapnya lebih lama dari biasanya. Dan setiap kali itu terjadi, jantung Nala berdetak lebih cepat.

Apakah Kala mulai menyadari perubahan kecil itu?

Apakah caranya berbicara sudah terlalu berbeda?

Apakah tatapannya kini terlalu dewasa untuk seorang barista biasa?

Malam hari, saat Kala tertidur, Nala sering duduk sendirian di ruang tamu. Lampu redup, rumah sunyi. Ia menatap tangannya sendiri—tangan yang kini memegang sendok perak di meja-meja elit, tapi juga tangan yang dulu mencuci piring di dapur sempit.

Ia hidup di dua dunia. Dan setiap kali ia pulang, ia harus memastikan keduanya tidak bertabrakan. Karena jika Kala tahu kebenarannya—jika ia tahu harga dari semua kemudahan itu—Nala takut bukan hanya rahasianya yang hancur. Tapi juga cara adiknya memandangnya selama ini.

Kala tidak lagi berdiri terlalu dekat dengan Nala. Ia tidak lagi duduk menempel di sofa yang sama atau bersandar santai di meja dapur seperti hari-hari sebelumnya. Jarak kecil—hampir tak terlihat—mulai tercipta di antara mereka.

Bukan jarak fisik yang mencolok.

Lebih pada jarak sikap.

Kala kini sering memperhatikan dalam diam.

Ia berdiri di lorong, pura-pura melihat ponsel, padahal matanya sesekali terangkat mengamati setiap gerakan kakaknya. Cara Nala berjalan yang kini lebih teratur. Cara ia duduk yang terlalu tegak. Cara tangannya memegang gelas dengan jemari yang lebih anggun dari biasanya.

Perubahan-perubahan kecil itu seperti serpihan kaca—halus, tapi terasa jika disentuh. Kala tidak bertanya lagi. Tidak mendesak. Ia hanya mengamati.

Saat Nala menyisir rambutnya, Kala memperhatikan bagaimana gerakannya lebih lambat dan rapi. Saat Nala menata meja makan, ia mencatat bagaimana posisi sendok dan garpu kini sejajar sempurna, sesuatu yang dulu tak pernah begitu dipedulikan.

Kala menyadari pula bahwa kakaknya lebih sering menatap kosong beberapa detik sebelum kembali tersenyum. Senyum yang sama, namun terasa seperti hasil latihan. Semakin ia melihat, semakin dadanya terasa berat. Ia tidak ingin mencurigai. Tidak ingin berpikir buruk. Tapi instingnya mengatakan ada sesuatu yang disembunyikan. Dan alih-alih bertanya, ia memilih menjaga jarak.

Bukan karena marah.

Bukan karena kecewa.

Melainkan karena ia takut jika terlalu dekat, ia akan menemukan jawaban yang tak ingin ia dengar. Di meja makan, mereka duduk berhadapan tanpa banyak suara. Kala sesekali mengangkat wajahnya, menatap Nala lama sebelum kembali menunduk. Tatapannya bukan lagi tatapan polos seorang adik yang sepenuhnya bergantung.

Itu tatapan seseorang yang sedang menyelidiki, mengumpulkan potongan kebenaran dalam diam. Nala mungkin tidak mendengar pertanyaan apa pun. Namun ia pasti bisa merasakan perubahan itu. Udara di antara mereka kini lebih hati-hati. Dan dalam keheningan yang rapuh itu, Kala perlahan bersiap—bukan untuk menjauh sepenuhnya, tapi untuk mencari tahu sendiri, tanpa sepengetahuan kakaknya.

***

Keesokan malamnya, di dalam kamar luas dengan cermin setinggi tubuh, Nala berdiri dalam diam.

Gaun yang melekat di tubuhnya jatuh sempurna, potongannya elegan dengan detail halus di bagian bahu. Rambutnya ditata rapi—gelombang lembut yang disisir ke satu sisi, sama persis seperti gaya Arsha yang biasa muncul di majalah sosialita. Riasannya tipis namun tegas, menonjolkan garis wajahnya, menyamarkan lelah yang selama ini menghuni matanya.

Jika seseorang berdiri di ambang pintu dan menatapnya, mereka tak akan menemukan Nala. Yang ada hanya Arsha. Senyumnya dilatih. Cara berdirinya diatur. Bahkan cara ia mengangkat dagu sudah diajarkan berulang-ulang.

Di belakangnya, berdiri Baskara. Pria itu memperhatikan dengan sorot mata tajam dan penuh perhitungan. Jas gelapnya terpasang rapi, dasinya lurus sempurna. Aura wibawanya memenuhi ruangan sebelum ia berbicara.

“Bahumu terlalu tegang,” ucapnya datar.

Nala menarik napas, lalu mengendurkan sedikit posturnya.

“Arsha tidak pernah terlihat gugup,” lanjutnya. “Ia tenang. Ia percaya diri. Ia tidak banyak bicara, tapi ketika berbicara semua orang mendengar.”

Nala menatap bayangannya sendiri di cermin. Ia mencoba mengingat setiap detail yang telah dipelajari—cara Arsha berjalan, cara tertawa kecil tanpa memperlihatkan gigi, cara menatap orang dengan hangat tapi berjarak.

“Tidak boleh ada kesalahan,” suara Baskara kini lebih rendah. “Satu gerakan yang berbeda, satu kata yang keliru, semuanya bisa runtuh.”

Nala mengangguk pelan. “Saya mengerti.”

Kalimat itu keluar begitu saja. Bukan aku mengerti, tapi saya. Bahkan pilihan kata pun harus seragam. Baskara mendekat satu langkah, merapikan anting di telinganya dengan gerakan terukur. “Ingat, malam ini hanya pesta pertunangan rekan bisnis. Semua orang akan sibuk. Tidak ada yang akan mencurigai selama kamu menjadi Arsha.”

Selama kamu menjadi Arsha.

Kalimat itu menggantung di udara.

Nala menahan napas sesaat. Lalu ia tersenyum—senyum yang bukan miliknya, tapi milik perempuan lain yang harus ia hidupi malam itu.

Beberapa menit kemudian, pintu rumah mewah itu terbuka.

Lampu taman menyala hangat, memantulkan cahaya ke marmer putih di teras. Angin malam berhembus lembut, menggerakkan ujung gaunnya. Dari luar, rumah itu tampak seperti tempat yang hanya dihuni orang-orang terhormat—tenang, megah, tak tersentuh masalah.

Baskara berjalan lebih dulu menuruni anak tangga, langkahnya mantap dan penuh kendali. Nala mengikuti setengah langkah di belakangnya, menjaga jarak yang sudah diajarkan—tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh.

Dari kejauhan, mereka tampak seperti ayah dan anak yang serasi. Elegan. Berkelas. Sempurna. Mobil hitam mengilap sudah menunggu di depan gerbang. Sopir membukakan pintu dengan hormat. Baskara masuk terlebih dahulu, lalu menoleh sedikit memastikan Nala mengikuti.

Sebelum masuk, Nala sempat mendongak ke langit malam. Untuk sepersekian detik, ada kilatan ragu di matanya.

Namun saat ia duduk di dalam mobil dan pintu tertutup, wajahnya kembali tenang. Arsha telah siap menghadiri pesta.

Dan Nala… perlahan menghilang di balik peran yang terlalu sempurna.

1
Aysah Meta
Nyesek juga Lim..Jadi km,Mencintai laki² dengan tulus tapi gak pernah di balas.
Tinggalin ajj lah dia untuk sementara waktu,biarkan arka sibuk meratapi masa lalu cintanya dengan arsha.Dr pada km capek cuma jadi Penenang hati arka,dan bukan pemenang hatinya.
Qilass: soon ya kak tungguin aja
total 3 replies
Chalimah Kuchiki
kalo ada pras bakal bisiki ke telinga bos nya "sepertinya anda cemburu" 🤭
Qilass: emang gak peka orangnya wkwkwk
total 1 replies
Qilass
kak yuk bisa yuk baca Dari awal aku udah singgung dikit tentang Nala, Arsha Dan arkana ini 😄
Chalimah Kuchiki
tolong selamatkan nala erlic😭
Qilass: bakal dateng gak ya?
total 1 replies
Aysah Meta
Apa karena Arkana bapaknya Arsya nyembunyiin dia di luar negeri..hingga akhirnya Nalanyh di jadikan tumbal..Part-nya mulai terbuka satu persatu ini weyy..Makin seru.
Chalimah Kuchiki
jangan sakiti nala yaa kasian
Chalimah Kuchiki
iiihhh kenapa nanya2 cinta pria kulkas ini🤭
Qilass
stay tune kak banyak surprise 😄
Chalimah Kuchiki
udah tau.. terus nanti gimana nasib pertunangan kalian..
Chalimah Kuchiki
iya🫣.. ga ada yg lebih menakutkan dari ga punya uang, kesulitan keungan menyedihkan.
Chalimah Kuchiki: hooh apapun dijalanin yg penting ada uangnya, kepepet kan nala jatohnya. badai nya bnyk. 😭
total 2 replies
Aysah Meta
Nasib mu Nala..Nala
ibarat hidup segan mati tak mampu
Bapak yg gak adil,dapat calon tunangan modelan gitu lagi..wes apes

mudahan happy ya laa..sesuai ingin mu.Tenang dan gak perlu drama
Chalimah Kuchiki
sabar ya
Chalimah Kuchiki
haha singkat bgt, 🤣
Chalimah Kuchiki
jadi ya kencan kalian.. udah nala pendiam bukan ciwi menye2.. tapi suka aku, nah erlic galak dingin. jadi ga sabar pdkt nya gmn 🤭
Qilass
poor Nala peluk jauh 👐
falea sezi
nala kok kasian bgt sih thor
Qilass: tunggu episode selanjutnya kak🤭
total 1 replies
falea sezi
q like deh
Chalimah Kuchiki
kok nala kasihan kali... ga ada yg sayang nala denga tulus selain adiknya 😭, calon tunangannya juga galak dingin 🫣
Qilass
gengs yuk di like dong like ya
Chalimah Kuchiki
apa bakal ketahuan 🫣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!