NovelToon NovelToon
NALA

NALA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dunia Masa Depan / Penyelamat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Saqila nur sasih

Sepuluh tahun lalu, hujan merenggut segalanya dari seorang gadis lima belas tahun. Tanah longsor menelan kedua orang tuanya tanpa jejak, memaksanya tumbuh sebelum waktunya. Sejak hari itu, Nala belajar satu hal: hidup bukan tentang memilih, tapi tentang bertahan.

Bersama adiknya, Niskala, ia pindah ke ibu kota dengan harapan masa depan yang lebih baik. Namun kenyataan jauh lebih kejam. Pendidikan dirampas, masa kecil dipaksa hilang, dan mereka harus berdiri di lampu merah menjual tisu demi bertahan hidup. Hingga suatu malam, dengan uang receh yang dikumpulkan diam-diam selama bertahun-tahun, Nala memilih kabur—membawa satu-satunya hal yang tak boleh hancur: mimpi adiknya.

Di kota yang tak pernah benar-benar peduli, Nala bekerja tanpa henti. Pagi sebagai kasir, siang di minimarket, malam menjadi barista, bahkan memasak mi di warnet sempit yang pengap. Tubuhnya lelah, perutnya sering kosong, tapi satu hal tak pernah goyah: Niskala harus tetap sekolah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saqila nur sasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perubahan

“tawanya lepas, namun ia menyimpan luka. Wajahnya teduh, namun hatinya rapuh”

***

Malam turun perlahan, menyelimuti kota dengan cahaya lampu yang berkilauan seperti lautan bintang buatan manusia. Di lantai paling atas sebuah gedung tinggi yang menjulang angkuh, berdiri seorang pria dewasa menghadap dinding kaca setinggi langit-langit.

Jas hitamnya terpotong rapi di bahu lebar, kemeja putihnya bersih tanpa satu lipatan pun. Rambutnya tersisir sempurna, rahangnya tegas, dan sorot matanya tenang—terlalu tenang untuk seseorang yang memegang begitu banyak kendali. Di tangannya, secangkir kopi hitam masih mengepulkan aroma pahit yang elegan.

Ia menyesap perlahan, tanpa tergesa.

Pantulan dirinya terlihat samar di kaca, berpadu dengan panorama kota di bawahnya. Lampu-lampu kendaraan bergerak seperti aliran takdir yang tak bisa dihentikan—teratur, tapi tak pernah benar-benar bisa ditebak.

Di belakangnya, suara pintu terbuka pelan.

Langkah sepatu formal terdengar terukur di lantai marmer mengilap. Seorang pria lain—lebih muda, mengenakan setelan abu-abu dengan tablet di tangan—berhenti beberapa langkah dari meja kerja besar di tengah ruangan.

“Semua sudah diatur, Tuan,” ucapnya dengan suara profesional, tertahan.

Pria di depan kaca itu tidak langsung menjawab. Ia kembali menyesap kopinya, seolah menikmati jeda. Rahangnya bergerak pelan saat menelan, lalu ia meletakkan cangkir di meja kecil di sampingnya tanpa menoleh.

“Termasuk yang saya minta?” tanyanya akhirnya, suaranya rendah dan dalam. Tenang. Tapi mengandung sesuatu yang membuat udara terasa lebih berat.

Asisten pribadi itu mengangguk cepat. “Sudah, Tuan. Tidak ada yang akan mengetahui detailnya. Semua berjalan sesuai rencana.”

Hening kembali menguasai ruangan luas itu. Hanya suara mesin pendingin ruangan dan desah angin tipis di balik kaca tebal yang terdengar samar.

Besok malam adalah pesta pertunangan rekan bisnisnya—acara besar yang akan dipenuhi wajah-wajah penting, senyum diplomatis, dan kesepakatan yang dibungkus anggur mahal. Semua akan terlihat mewah. Sempurna. Terhormat.

Namun pria itu tahu, di balik pesta, selalu ada transaksi yang lebih sunyi.

Ia akhirnya menoleh sedikit, cukup untuk memperlihatkan garis wajahnya yang tajam dalam cahaya lampu kota. Tatapannya dingin, terukur, seperti seseorang yang terbiasa mendapatkan apa yang ia inginkan—tanpa perlu meninggikan suara.

“Pastikan tidak ada kesalahan,” katanya pelan.

“As always, Tuan.”

Asisten itu menunduk hormat sebelum mundur dan meninggalkan ruangan.

Kini ia kembali sendiri.

Pria itu memandang ke bawah, ke arah kota yang tak pernah benar-benar tidur. Senyum tipis—nyaris tak terlihat—tersungging di sudut bibirnya.

Malam sebelum pesta pertunangan.

Malam sebelum semuanya tampak seperti perayaan.

Dan mungkin… malam sebelum satu kehidupan berubah arah tanpa ada yang menyadarinya.

***

Hari-hari Nala kini terbagi menjadi dua kehidupan yang tak boleh saling bersentuhan.

Di satu sisi, ia adalah Arsha—perempuan dengan postur tegak, suara tenang, langkah terukur, dan senyum yang tidak pernah berlebihan. Setiap pagi ia menjalani “pelajaran” yang diberikan Baskara: etika meja makan kelas atas, cara berbicara dengan rekan bisnis, bagaimana menjawab pertanyaan tanpa benar-benar memberi jawaban, hingga bagaimana menahan emosi di balik tatapan yang lembut.

Ia belajar duduk tanpa bersandar.

Belajar tertawa tanpa terlihat keras.

Belajar menatap tanpa tampak menantang.

Semua gerakan dilatih berulang-ulang sampai menjadi refleks.

Namun sesekali, setelah sesi panjang itu selesai dan Baskara merasa cukup, Nala meminta izin untuk pulang.

“Arsha juga butuh ruang,” katanya halus suatu kali, memainkan perannya bahkan saat meminta waktu untuk menjadi dirinya sendiri.

Dan Baskara mengizinkan—selama waktunya terkontrol.

Sore itu, Nala kembali ke rumah, yang kini menjadi satu-satunya tempat ia bisa bernapas tanpa pengawasan. Ia mengganti gaun elegan dengan pakaian sederhana, menghapus riasan yang membuatnya tampak seperti orang lain. Rambutnya ia ikat asal, membiarkan beberapa helai jatuh di sisi wajah.

Di depan cermin kamar, ia menatap bayangannya.

Nala.

Bukan Arsha. Ia menarik napas panjang, seolah baru saja melepas topeng yang terlalu lama menempel. Kala tidak boleh curiga. Itu satu-satunya hal yang terus ia pegang.

Saat adiknya pulang, Nala sudah duduk di ruang tengah, pura-pura sibuk dengan ponsel atau menyiapkan makanan. Ia memastikan nada suaranya tetap seperti biasa—tidak terlalu formal, tidak terlalu dingin.

“Udah makan belum?” tanyanya santai.

Ia harus mengingat untuk tidak berkata, “Sudah makan, Kala?” dengan intonasi terlalu rapi seperti yang diajarkan Baskara. Ia harus kembali pada logat lamanya, pada kebiasaan kecil yang tak pernah Arsha miliki.

Kadang ia hampir keliru.

Terlalu tegak saat duduk.

Terlalu hati-hati memilih kata.

Terlalu tenang dalam situasi yang seharusnya membuatnya mengeluh.

Namun setiap kali melihat wajah Kala, semua latihan itu runtuh sedikit demi sedikit.

Ada rasa bersalah yang halus menyelinap di dadanya. Ia menjalani hidup mewah yang bukan miliknya.

Memakai nama orang lain. Berjalan di pesta-pesta yang bahkan tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Tapi di hadapan adiknya, ia tetap harus menjadi kakak yang sama—yang cerewet soal makan, yang pura-pura marah kalau Kala pulang terlalu malam, yang tersenyum meski lelah menggantung di bawah matanya. Sesekali Kala menatapnya lebih lama dari biasanya. Dan setiap kali itu terjadi, jantung Nala berdetak lebih cepat.

Apakah Kala mulai menyadari perubahan kecil itu?

Apakah caranya berbicara sudah terlalu berbeda?

Apakah tatapannya kini terlalu dewasa untuk seorang barista biasa?

Malam hari, saat Kala tertidur, Nala sering duduk sendirian di ruang tamu. Lampu redup, rumah sunyi. Ia menatap tangannya sendiri—tangan yang kini memegang sendok perak di meja-meja elit, tapi juga tangan yang dulu mencuci piring di dapur sempit.

Ia hidup di dua dunia. Dan setiap kali ia pulang, ia harus memastikan keduanya tidak bertabrakan. Karena jika Kala tahu kebenarannya—jika ia tahu harga dari semua kemudahan itu—Nala takut bukan hanya rahasianya yang hancur. Tapi juga cara adiknya memandangnya selama ini.

Kala tidak lagi berdiri terlalu dekat dengan Nala. Ia tidak lagi duduk menempel di sofa yang sama atau bersandar santai di meja dapur seperti hari-hari sebelumnya. Jarak kecil—hampir tak terlihat—mulai tercipta di antara mereka.

Bukan jarak fisik yang mencolok.

Lebih pada jarak sikap.

Kala kini sering memperhatikan dalam diam.

Ia berdiri di lorong, pura-pura melihat ponsel, padahal matanya sesekali terangkat mengamati setiap gerakan kakaknya. Cara Nala berjalan yang kini lebih teratur. Cara ia duduk yang terlalu tegak. Cara tangannya memegang gelas dengan jemari yang lebih anggun dari biasanya.

Perubahan-perubahan kecil itu seperti serpihan kaca—halus, tapi terasa jika disentuh. Kala tidak bertanya lagi. Tidak mendesak. Ia hanya mengamati.

Saat Nala menyisir rambutnya, Kala memperhatikan bagaimana gerakannya lebih lambat dan rapi. Saat Nala menata meja makan, ia mencatat bagaimana posisi sendok dan garpu kini sejajar sempurna, sesuatu yang dulu tak pernah begitu dipedulikan.

Kala menyadari pula bahwa kakaknya lebih sering menatap kosong beberapa detik sebelum kembali tersenyum. Senyum yang sama, namun terasa seperti hasil latihan. Semakin ia melihat, semakin dadanya terasa berat. Ia tidak ingin mencurigai. Tidak ingin berpikir buruk. Tapi instingnya mengatakan ada sesuatu yang disembunyikan. Dan alih-alih bertanya, ia memilih menjaga jarak.

Bukan karena marah.

Bukan karena kecewa.

Melainkan karena ia takut jika terlalu dekat, ia akan menemukan jawaban yang tak ingin ia dengar. Di meja makan, mereka duduk berhadapan tanpa banyak suara. Kala sesekali mengangkat wajahnya, menatap Nala lama sebelum kembali menunduk. Tatapannya bukan lagi tatapan polos seorang adik yang sepenuhnya bergantung.

Itu tatapan seseorang yang sedang menyelidiki, mengumpulkan potongan kebenaran dalam diam. Nala mungkin tidak mendengar pertanyaan apa pun. Namun ia pasti bisa merasakan perubahan itu. Udara di antara mereka kini lebih hati-hati. Dan dalam keheningan yang rapuh itu, Kala perlahan bersiap—bukan untuk menjauh sepenuhnya, tapi untuk mencari tahu sendiri, tanpa sepengetahuan kakaknya.

***

Keesokan malamnya, di dalam kamar luas dengan cermin setinggi tubuh, Nala berdiri dalam diam.

Gaun yang melekat di tubuhnya jatuh sempurna, potongannya elegan dengan detail halus di bagian bahu. Rambutnya ditata rapi—gelombang lembut yang disisir ke satu sisi, sama persis seperti gaya Arsha yang biasa muncul di majalah sosialita. Riasannya tipis namun tegas, menonjolkan garis wajahnya, menyamarkan lelah yang selama ini menghuni matanya.

Jika seseorang berdiri di ambang pintu dan menatapnya, mereka tak akan menemukan Nala. Yang ada hanya Arsha. Senyumnya dilatih. Cara berdirinya diatur. Bahkan cara ia mengangkat dagu sudah diajarkan berulang-ulang.

Di belakangnya, berdiri Baskara. Pria itu memperhatikan dengan sorot mata tajam dan penuh perhitungan. Jas gelapnya terpasang rapi, dasinya lurus sempurna. Aura wibawanya memenuhi ruangan sebelum ia berbicara.

“Bahumu terlalu tegang,” ucapnya datar.

Nala menarik napas, lalu mengendurkan sedikit posturnya.

“Arsha tidak pernah terlihat gugup,” lanjutnya. “Ia tenang. Ia percaya diri. Ia tidak banyak bicara, tapi ketika berbicara semua orang mendengar.”

Nala menatap bayangannya sendiri di cermin. Ia mencoba mengingat setiap detail yang telah dipelajari—cara Arsha berjalan, cara tertawa kecil tanpa memperlihatkan gigi, cara menatap orang dengan hangat tapi berjarak.

“Tidak boleh ada kesalahan,” suara Baskara kini lebih rendah. “Satu gerakan yang berbeda, satu kata yang keliru, semuanya bisa runtuh.”

Nala mengangguk pelan. “Saya mengerti.”

Kalimat itu keluar begitu saja. Bukan aku mengerti, tapi saya. Bahkan pilihan kata pun harus seragam. Baskara mendekat satu langkah, merapikan anting di telinganya dengan gerakan terukur. “Ingat, malam ini hanya pesta pertunangan rekan bisnis. Semua orang akan sibuk. Tidak ada yang akan mencurigai selama kamu menjadi Arsha.”

Selama kamu menjadi Arsha.

Kalimat itu menggantung di udara.

Nala menahan napas sesaat. Lalu ia tersenyum—senyum yang bukan miliknya, tapi milik perempuan lain yang harus ia hidupi malam itu.

Beberapa menit kemudian, pintu rumah mewah itu terbuka.

Lampu taman menyala hangat, memantulkan cahaya ke marmer putih di teras. Angin malam berhembus lembut, menggerakkan ujung gaunnya. Dari luar, rumah itu tampak seperti tempat yang hanya dihuni orang-orang terhormat—tenang, megah, tak tersentuh masalah.

Baskara berjalan lebih dulu menuruni anak tangga, langkahnya mantap dan penuh kendali. Nala mengikuti setengah langkah di belakangnya, menjaga jarak yang sudah diajarkan—tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh.

Dari kejauhan, mereka tampak seperti ayah dan anak yang serasi. Elegan. Berkelas. Sempurna. Mobil hitam mengilap sudah menunggu di depan gerbang. Sopir membukakan pintu dengan hormat. Baskara masuk terlebih dahulu, lalu menoleh sedikit memastikan Nala mengikuti.

Sebelum masuk, Nala sempat mendongak ke langit malam. Untuk sepersekian detik, ada kilatan ragu di matanya.

Namun saat ia duduk di dalam mobil dan pintu tertutup, wajahnya kembali tenang. Arsha telah siap menghadiri pesta.

Dan Nala… perlahan menghilang di balik peran yang terlalu sempurna.

1
wasiah miska nartim
lanjut thooooooooooor
Qilass
jangan lupa, like, komen, vote dan juga subscribe ya biar aku semakin semangat buat nulis. Selamat menikmati kisah Nala
Qilass
di tunggu ya, akan ada up 3 episode sekaligus setiap harinya
Qilass
halo pembaca setia Nala 👋👋, cerita ini akan up setiap hari 3 episode ya jadi tungguin aja kelanjutannya terimakasih 🙏
falea sezi
males deh cwek oon gini jd lacur aja dripada nurutin bapakmu
falea sezi
jangan mau mending kala putus kuliah kalian pergi jauh oon bgt lemah
Qilass: haha dapet banget emosinya kak
total 1 replies
falea sezi
adek g tau diri usir aja lah
wasiah miska nartim
lanjut thoooooooor
wasiah miska nartim
mentalnya nala itu mental baja,semangat thoooooor up nya😁😁
Qilass: Nala memang harus mental Baja, karena dia ngandelin diri sendiri
total 1 replies
anymous
kasiaan banget nala
Sopo Jarwo
sukaaa banget thorr lanjut
Anonymous
nalaaa yang kuat ya
wasiah miska nartim
ko banyak bawang nya thor
Qilass: jujurly aku sebagai author aja gak tega. tapi Nala kuat kok tenang aja
total 1 replies
Sopo Jarwo
okee banget aku penasaran sama si erlic cuuy di misterius banget
anymous
suka banget sama ceritanya. nala sosok Kaka yang tegar, semua ia lakukan demi sang adik. di sisi lain dia juga ketempu sama ayah kandungnya tapi bukannya menanyakan kabar malah memanfaatkannya
Qilass: huhu iya kasian banget ya dia, ikutin ceritanya terus ya. bakal ada plot yang seru kedepannya
total 1 replies
anymous
baskara pilih kasih banget iih
Anonymous
baguss banget Nala ini tipe anak perempuan pertama yang gak mau nyusahin orang
Anonymous
gass up crazy thor
Qilass
semangat dong, tungguin terus up cerita selanjutnya ya. bakal crazy up aku
wasiah miska nartim
semangat up nya thor,ceritanyaaaaaaaaa wooooow
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!