Bela tidak pernah berniat mencari masalah. Ia hanya ingin melarikan diri sejenak dari rumah yang penuh pertengkaran, dari hidup yang terasa terlalu berat untuk dipikul sendiri. Bersama dua temannya, ia masuk ke sebuah klub malam—tanpa tahu bahwa malam itu telah disiapkan untuknya.
Kepercayaan berubah menjadi pengkhianatan.
Kesadaran berubah menjadi kehilangan kendali.
Sementara itu, seorang pria yang tak dikenalnya juga sedang lari dari hidupnya sendiri—dari tekanan keluarga, tuntutan pernikahan, dan masa depan yang terus dipaksakan. Malam itu hanyalah pengalihan baginya. Bagi Bela, malam itu adalah awal dari segalanya.
Takdir mempertemukan dua orang asing dalam cara yang salah.
Dan dari kesalahan itu, lahir konsekuensi yang tak bisa dihindari.
Sebuah kisah tentang pilihan, manipulasi, dan bagaimana satu malam dapat mengikat dua jiwa—hingga bertahun-tahun kemudian, ketika rahasia itu kembali menuntut jawaban.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranti Septriharaira M.T (202130073), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 : Pengakuan Bela
Malam di kediaman Tante Lastri merayap dengan kecepatan yang menyiksa. Di ruang tamu yang hanya diterangi oleh lampu neon 10 watt yang berkedip-kedip, suasana terasa seperti ruang sidang di mana Bela adalah terdakwa tunggalnya. Suara jangkrik dari balik rimbunnya pohon mangga di halaman terdengar seperti ejekan alam yang merayakan kehancurannya.
Bela kini beralih, duduk bersimpuh di atas karpet tipis di bawah kaki Tante Lastri. Tangannya yang dingin seperti es mencengkeram gelas air putih yang sudah kosong, hingga buku-buku jarinya memutih. Setelah keheningan yang terasa abadi, keberanian yang tersisa di dasar batinnya yang hancur akhirnya ia kumpulkan.
“Tante... aku nggak tahu harus ke mana lagi. Aku kabur dari rumah,” suara Bela pecah, parau oleh tangis yang sejak tadi ia bendung di sepanjang perjalanan panjang menuju rumah ini.
Tante Lastri tersentak. Beliau menggeser duduknya di sofa rotan yang sudah mulai lapuk dan berderit, lalu merengkuh bahu Bela yang gemetar hebat. “Kabur? Bela, bicara yang jelas, Nak. Ada apa? Apa ini karena perceraian orang tuamu? Ibumu... dia pasti sedang gila mencarimu sekarang!"
Bela menggeleng kuat-kuat. Kepalanya tertunduk hingga rambut yang biasanya tertata rapi kini menutupi wajahnya yang sembap dan kusam. Tangannya tanpa sadar merosot ke bawah, mencengkeram perutnya sendiri di balik kemeja longgar yang sengaja ia pakai untuk menutupi kenyataan. Sebuah gerakan naluriah yang tak luput dari pandangan tajam Tante Lastri.
“Ibu jangan sampai tahu, Tante. Jangan... Aku tidak sanggup melihatnya hancur lagi. Jika dia tahu ini, dia pasti akan mati karena malu. Cukuplah ayah yang menyakitinya, jangan aku,” rintih Bela.
“Katakan pada Tante, apa yang terjadi?” suara Tante Lastri mulai bergetar, firasat buruk mulai merayapi benaknya seperti kabut hitam.
“Aku hamil, Tante.”
Hening seketika mencekik ruangan itu. Detak jam dinding seolah berhenti berdetak, berubah menjadi hantaman palu yang memukul kepala Bela. Tante Lastri menarik napas tajam, matanya membelalak tak percaya. Keheningan itu berlangsung begitu lama sampai Bela merasa ia ingin mati saja saat itu juga.
“Hamil? Siapa pacarmu, Bela? Siapa yang melakukannya? Kenapa dia tidak bertanggung jawab?” tanya Tante Lastri dengan nada yang bergetar antara marah dan kasihan.
Bela tertawa getir di sela isaknya, sebuah suara yang terdengar lebih menyakitkan daripada jeritan mana pun. “Aku nggak punya pacar, Tante. Malam itu... malam saat Ayah dan Ibu bertengkar hebat sampai semua kaca di rumah pecah... aku pergi ke kelab bersama teman-temanku. Aku hanya ingin lupa sesaat. Tapi mereka menjebakku. Mereka memberiku minuman yang membuat duniaku berputar, lalu meninggalkanku bersama pria asing di kamar hotel yang gelap.”
Bela mulai bercerita dengan suara yang semakin mengecil, menggambarkan kepingan memori yang selama ini ia kunci rapat. Ia menggambarkan bagaimana "senjata" pria asing itu yang perkasa merenggut paksa kehormatannya tanpa segan. Pria dengan bahu kokoh yang terasa seperti gunung yang meruntuhinya, suara bariton angkuh saat memerintahnya dalam kegelapan dan aroma maskulin tajam yang kini membuatnya mual setiap kali teringat.
"Tante, tolong... kasih tahu aku cara gugurin ini. Aku nggak bisa punya anak dari pria yang sama sekali tidak aku kenal! Aku benci dia! Aku benci diriku sendiri!" rintih Bela sampai ia terjatuh bersujud di lantai marmer yang dingin, memohon dengan sangat.
Tante Lastri segera turun ke lantai, mendekap Bela erat-erat ke dadanya. Air mata wanita tua itu pun luruh. “Jangan, Nak. Jangan bicara gila. Tante tidak akan membiarkanmu melakukan dosa besar. Bagaimana kalau terjadi sesuatu padamu? Bagaimana kalau nyawamu yang melayang di meja operasi ilegal? Anak ini tidak berdosa, Bela. Biarpun ayahnya adalah setan sekalipun, dia tetap darah dagingmu. Dia satu-satunya yang tersisa dari hancurnya duniamu.”
Bela hanya bisa menangis pasrah dalam pelukan itu, tanpa tahu bahwa di luar sana, Raka sedang menikmati kehidupan barunya dengan Melani—wanita yang juga menyimpan keliaran yang sama dengan pria itu.
Keesokan paginya, siksaan yang sebenarnya dimulai. Bukan berupa hantaman fisik, melainkan melalui keheningan yang tajam dan perilaku dingin yang lebih menyakitkan dari sayatan pisau. Bayu, anak laki-laki Tante Lastri yang merupakan seorang abdi negara, baru saja pulang dinas dan kehadirannya menjadi hakim tanpa suara bagi Bela.
Langkahnya terhenti di ambang pintu dapur saat melihat Bela duduk lesu di meja makan dengan pakaian yang tampak lusuh. Bayu tidak mengucapkan sepatah kata pun untuk menyapa. Ia hanya memandang Bela dengan tatapan kosong yang penuh penghinaan. Di balik tatapan itu, memori pahit tahunan yang ia pendam mendadak meluap, membakar dadanya dengan rasa muak yang tak tertahankan.
Bayu tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Bela, apalagi soal rahasia besar di balik perut keponakannya itu. Namun baginya, melihat Bela "mengemis" tempat tinggal di rumah ini sudah cukup untuk memuaskan egonya yang selama ini terinjak.
Ia masih ingat betul, bertahun-tahun lalu, bagaimana ibu dan ayah Bela—saat mereka masih di puncak kejayaan—datang ke rumah ini bukan untuk bertamu, melainkan untuk meludahi harga diri ibunya. Ia tak akan pernah lupa kalimat tajam ayah Bela yang mengungkit kematian adiknya.
"Makanya Mbak, jadi orang itu becus dikit kalau ngerawat anak. Lihat sekarang! Anaknya mati kan? Miskin itu nggak apa-apa, asal jangan bodoh," kata-kata ayah Bela kala itu masih terngiang, diikuti cibiran ibu Bela yang merasa posisi sosialnya jauh di atas Tante Lastri yang dianggap udik.
Padahal, Bayu tahu betul betapa hancurnya sang ibu saat itu. Ibunya jatuh sakit, namun tetap dipaksa mendengar makian karena dianggap terlalu mencampuri urusan rumah tangga keluarga "Ningrat" mereka. Padahal Tante Lastri, sebagai seorang kakak, hanya ingin melindungi adiknya dari kebusukan suaminya sendiri. Keikhlasan ibunya dibalas dengan hinaan yang mencabik-cabik martabat keluarga mereka yang pas-pasan.
Dan sekarang, setelah kesombongan itu hancur, setelah perceraian yang mereka banggakan sebagai drama elit itu benar-benar terjadi, Bela datang membawa diri?
Sepanjang pagi, Bela dipaksa menelan rasa malu yang luar biasa. Bayu tidak pernah mengajaknya bicara secara langsung, namun setiap perilakunya adalah sebuah serangan. Saat Bela mencoba menuangkan air, Bayu dengan sengaja menyambar teko air tepat di depan tangan Bela, seolah tangan Bela adalah sumber penyakit yang harus dihindari.
Saat sarapan, suasana terasa begitu menyesakkan. Bayu sengaja membanting sendok ke piring porselen hingga menimbulkan suara nyaring yang membuat Bela tersentak. Ia kemudian menyindir ibunya dengan suara yang sengaja diperkeras.
"Bu, kalau nerima tamu lihat-lihat. Jangan asal kasihan cuma karena dia kelihatan susah sekarang," ucap Bayu sinis, matanya melirik Bela dengan rasa puas yang keji. "Dulu kita dianggap kotoran, dianggap nggak becus jaga anak. Sekarang? Malah anaknya yang 'ngungsi' ke rumah orang bodoh ini. Ke mana harga diri ningrat yang dulu itu?"
Bela hanya bisa menunduk, matanya menatap butiran nasi di piringnya yang seolah berubah menjadi debu.
"Bayu, jaga bicaramu! Bela ini sedang ada masalah," tegur Tante Lastri dengan suara bergetar.
"Masalah? Orang kayak mereka itu nggak punya masalah, Bu. Mereka cuma punya 'karma'," balas Bayu meledak, bangkit dari kursi hingga kakinya berderit kasar di lantai.
"Ibu mau jadi malaikat buat orang yang dulu ngetawain kematian adikku? Yang bilang Ibu nggak becus? Lihat Bela sekarang. Dia cuma sisa-sisa kehancuran orang tuanya yang sombong itu. Akhirnya tetap cerai, kan? Ibu nggak usah terlalu baik, nanti malah kita yang ketularan sialnya."
Bayu membanting pintu kamar, meninggalkan keheningan yang lebih menyakitkan dari maki-makian mana pun.
Selama dua puluh empat jam, Bela menjadi saksi bagaimana kehadirannya menghancurkan harmoni rumah itu. Ia melihat Tante Lastri yang serba salah, mencoba membela dirinya namun juga menangis diam-diam karena luka lama yang dibuka kembali oleh kata-kata Bayu. Bela merasa seperti parasit.