Merupakan cerita alternatif dari light novel Fated Across Borders; Menceritakan Amayah yang terjebak dalam trauma masa lalu, ia berubah menjadi gadis keras yang melampiaskan lukanya lewat kekerasan dan penindasan.
Brian melihat sisi rapuh di balik sikapnya dan berusaha membantunya keluar dari kegelapan, namun kehadirannya selalu diabaikan seolah tak pernah ada. Di tengah luka yang terus menghantui Amayah, muncul satu pertanyaan: bisakah Brian benar-benar menolongnya, atau kegelapan itu telah menjadi bagian dari dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zildiano R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25
Di sisi lain kota, di pesisir pantai Beaufort, ombak bergulung pelan menyentuh bibir pantai. Angin laut berhembus lembut, sementara matahari perlahan tenggelam di ufuk barat, melukis langit dengan warna keemasan.
Seorang wanita berdiri di sana.
Amayah menatap senja, menikmati ketenangan yang sudah lama tak ia rasakan. Dadanya terasa ringan, tanpa kegelisahan yang biasa menghantuinya.
Namun ketenangan itu memudar ketika sebuah suara memanggil dari belakang.
"Amayah."
Ia menoleh perlahan.
Brian berdiri tak jauh darinya, lalu melangkah mendekat.
"Brian…?" tanya Amayah bingung.
Tanpa memberi waktu lebih lama, Brian langsung memeluk Amayah dengan erat. Wajahnya serius, begitu pula hatinya. Pelukan itu kuat, seolah ia tak ingin melepaskannya lagi.
Amayah terkejut. Napasnya sempat terasa sesak oleh pelukan Brian, namun di saat yang sama, kehangatan perlahan mengisi dadanya.
Di antara pantai dan lautan, perasaan mereka naik turun layaknya ombak yang tak pernah diam.
Amayah terdiam dalam pelukan itu, seakan kehilangan daya. Kebingungannya semakin bertambah dengan kehadiran Brian di tempat ini.
Akhirnya, ia angkat bicara. "Mengapa kau ada di sini?"
Brian menjawab datar, "Aku ingin meminta maaf atas apa yang telah aku lakukan padamu…"
Ekspresi Amayah yang semula terkejut perlahan kembali datar. Ia mulai memahami alasan Brian datang.
"Aku sangat menyesal telah mengabaikanmu yang selalu menemaniku sejak lama. Aku merasa sangat bersalah," lanjut Brian.
"Aku tahu kau sudah berusaha untuk berbaikan denganku, tapi aku malah mengabaikanmu. Aku mengaku salah," tambahnya. Meski nadanya datar, suaranya terdengar bergetar.
Amayah menyimak dalam diam. Wajahnya tetap tenang, meski hatinya masih menyimpan luka atas perlakuan Brian.
"Aku tahu, setiap hari kau berdiri di sisiku bukan karena aku pantas, tapi karena kau memilih bertahan. Bahkan saat amarahmu lebih sering hadir daripada senyum, kau tetap memastikan aku baik-baik saja. Ironisnya, justru aku yang meruntuhkan kepercayaan itu dengan kelalaianku sendiri…" ujar Brian menyesal.
Ia menarik napas sejenak sebelum melanjutkan.
"Aku minta maaf, Amayah. Bukan maaf yang ringan atau mudah diucapkan, tapi maaf yang lahir dari kesadaran bahwa aku telah mengecewakan satu-satunya orang yang tanpa ragu menaruh dirinya di barisan terdekat hidupku…"
Kata-kata itu sedikit mengguncang hati Amayah, meski rasa kesal masih tertinggal.
"Bukankah kau lebih nyaman menghabiskan waktu bersama Lena dibanding denganku?" tanyanya dengan nada marah.
"Tidak," jawab Brian cepat. "Aku lebih nyaman bersamamu. Saat kau menghilang dari sisiku, aku merasa sebagian diriku ikut hilang. Kau mengerti diriku, dan itu yang membuatku selalu memilihmu…"
Pipi Amayah merona. Ia senang mendengarnya, meski berusaha menahan diri. "Kau merasa kehilangan karena tidak ada yang membuatkanmu makanan, kan?"
"Aku tidak bisa berbohong soal itu," jawab Brian jujur. "Tapi rasanya jauh lebih hampa ketika tidak ada yang menegurku, memarahiku, atau beradu argumen denganku. Semua itu hanya bisa kurasakan bersamamu…"
"Mengapa kau bersikeras ingin aku kembali setelah kau mencampakkanku?!" tanya Amayah tegas. Air matanya mulai jatuh, mengingat kembali ucapan Brian sebelumnya.
“Kau tidak peka. Tidak romantis. Tidak tahu bagaimana membuat perempuan merasa dihargai.”
Brian terdiam. Penyesalan jelas tergambar di wajahnya.
"Aku tidak rela," ucapnya akhirnya. "Aku tidak sanggup melepaskan seseorang yang telah memilihku bahkan saat aku tak layak dipilih…"
"Maafkan aku atas semua kesalahanku. Mungkin maaf saja tidak cukup. Aku terlambat menyadari setiap usaha dan perasaanmu selama ini," lanjutnya.
"Kau berani menegurku saat aku salah, memarahiku karena hal sepele, dan aku sadar kau melakukannya karena peduli. Kau rela menemaniku meski aku menyebalkan. Masakanmu, ocehanmu… aku merindukannya. Aku merindukanmu, Amayah…"
Air mata Amayah semakin jatuh. Brian perlahan melepas pelukannya, lalu memegang pundak Amayah dengan kedua tangannya.
"Aku tidak merelakan kepergianmu. Kau adalah bagian dari diriku, kau sangat berharga bagiku. Aku tidak bisa menghadapi banyak hal tanpa dirimu. Aku ingin kita tetap bersama," ucap Brian serius sambil menatap mata Amayah.
Ia mengusap air mata Amayah dengan lembut. "Aku tidak tahu apakah kau memiliki keinginan yang sama, tapi aku sudah menyampaikan perasaanku dengan jujur."
Dalam hati, Amayah bergetar. "Dia telah jujur dan tulus…"
"Aku juga ingin bersamamu," ucap Amayah sambil menangis. "Berbagi cerita, bercanda, berdebat, dan melakukan hal-hal kecil bersama…"
"Aku tidak sanggup melihat kedekatanmu dengan Lena. Hatiku hancur. Aku melakukan semua ini bukan hanya untuk membalas kebaikanmu, tapi karena ketulusanku. Namun semua usahaku terasa terlupakan saat aku melihat senyumanmu padanya… sesuatu yang tidak pernah kau berikan padaku," lirih Amayah.
"Mendengar bahwa kau makan malam bersamanya membuatku merasa kalah satu langkah."
Tangisnya semakin pecah. "Aku tidak sanggup meninggalkanmu. Aku hanya berusaha menenangkan diri di sini. Jika memang kau lebih menyukainya, aku akan mundur… meski hatiku menolak."
"Tidak," bantah Brian tegas. "Lena memang baik dan tulus, tapi aku tidak menginginkannya. Aku tidak sanggup bersamanya."
"Itu bukan alasan yang jelas," balas Amayah.
"Apa kau sanggup melihatnya?"
"Tidak."
"Sudah jelas, kan? Aku hanya menginginkanmu. Tidak yang lain," kata Brian mantap.
"Sungguh?" tanya Amayah memastikan.
"Ya. Meski aku merasa tidak pantas bagimu, aku mengagumi caramu menghadapiku," jawab Brian.
"Justru aku yang merasa tidak pantas," balas Amayah sedih. "Kau yang membuatku keluar dari kegelapan dan menjadi lebih baik…"
Brian kembali memeluk Amayah, kali ini lebih lembut. "Tapi aku ingin kau tetap di sisiku. Hanya kau yang kurasa pantas."
"Semua waktu yang kita habiskan bersama bermakna bagiku. Aku tidak ingin semuanya berakhir buruk."
"Begitu ya…" balas Amayah lirih.
Mereka berdua terdiam. Air mata Amayah kembali jatuh, tersentuh oleh setiap kata yang Brian lontarkan—kata-kata yang sederhana, namun sarat makna. Di saat itu, Amayah merasa tak ada lagi alasan untuk memperpanjang masalah. Brian telah meminta maaf, mengakui penyesalannya, dan menyampaikan perasaan yang selama ini ia pendam. Baginya, itu sudah lebih dari cukup.
Setelah beberapa menit, akhirnya suasana pun menjadi tenang. Brian melepas pelukannya dari Amayah.
“Setelah ini… apa yang akan kita lakukan?” tanya Amayah pelan.
Brian berkedip. “Apa maksudmu?”
“Apakah kita kembali seperti dulu? Bertengkar lagi tanpa status jelas?” tanyanya.
Brian terdiam cukup lama hingga Amayah mendesah kesal.
“Kau tidak tahu, kan?”
“Apa yang harus kulakukan?”
Amayah memukul pelan dadanya dengan pipi yang merah merona dan matanya yang mengarah entah kemana. “Kita bisa… mencoba bersama.... Pacaran.”
Brian mengernyit. “Bagaimana caranya?”
“Aku juga belum pernah,” gumam Amayah, wajahnya memerah. “Tapi setidaknya kita sepakat untuk saling menjaga dan tidak pura-pura tidak peduli.”
“Jadi pacaran adalah bentuk komitmen untuk tidak mengabaikan?”
“Kurang lebih begitu!” serunya kesal.
Brian berpikir sejenak, lalu mengangguk pelan. “Kalau begitu, aku ingin mencobanya.”
“Serius?”
“Iya. Denganmu.”
Amayah memalingkan wajahnya sebentar, mencoba menyembunyikan senyum. “Jangan membuatku berharap kalau kau masih akan dingin.”
“Aku akan belajar."
“Kita belajar bersama,” koreksinya. "Tapi... kau yakin? Aku akan tetap mengoceh dan memarahimu," tanya Amayah.
"Aku sudah terbiasa dengan sifatmu itu, justru itu yang aku rindukan selama kau tidak pergi," jawab Brian.
"Aku hanya menghilang selama dua hari," balas Amayah dengan wajah cemberut.
"Tapi tetap saja rasanya beda jika tanpamu..." kata Brian datar.
Amayah hanya bisa tersipu malu mendengar perkataan yang begitu jujur dari mulut Brian.
Brian melanjutkan, "Aku akan menerima segalanya tentangmu."
Hati Amayah terasa hangat.
"Kalau begitu, izinkan aku menjadi satu-satunya orang yang memilikimu. Jangan pergi dariku…" ucap Amayah lirih sambil menyandarkan kepalanya di dada Brian.
Brian tersenyum hangat. "Ya… tentu saja."
Dalam sandaran senja itu, hati mereka ikut menghangat.
Sore itu, matahari, ombak, dan pasir menjadi saksi bisu. Di bawah cahaya senja yang hangat, kebersamaan mereka perlahan berubah makna. Bukan lagi sekadar dua sahabat yang tumbuh berdampingan sejak kecil, melainkan dua hati yang akhirnya berani berjalan searah. Tanpa janji berlebihan, tanpa kata besar, hubungan itu lahir begitu saja—tenang, tulus, dan nyata.
"Jika aku jujur sejak dulu, bagaimana tanggapanmu?" tanya Amayah, masih menyandarkan kepalanya di dada Brian.
"Entahlah," jawab Brian lembut. "Manusia sulit menjelaskan apa yang ia rasakan."
"Tapi aku beruntung," balas Amayah. "Takdir berpihak padaku."
"Seistimewa itu?"
"Tentu saja. Perasaanku padamu lebih dari segalanya."
Brian tersenyum dan mengelus punggung Amayah. "Sekali lagi, aku minta maaf."
"Iya, iya. Aku sudah memaafkanmu," balas Amayah.
"Lupakan masalahnya, fokus saja pada kita," ucap Amayah bahagia.
Brian tersipu malu.
"Brian bisa malu?" ejek Amayah.
"Itu karena kau menggodaku."
"Pria tanpa pengalaman," sindir Amayah.
"Tolong jangan rusak suasana," keluh Brian. "Kau juga tidak punya pengalaman."
Tiba-tiba, Brian memegangi kepalanya. "Kepalaku… pusing…"
"Ada apa?!" tanya Amayah panik.
"Kurang istirahat," jawab Brian lirih.
Amayah segera merangkulnya dan mengantarkannya menuju rumah neneknya. Tangannya menopang tubuh Brian dengan hati-hati.
“Kau ini ya… sudah kukatakan agar jaga kesehatanmu…” keluhnya, nadanya terdengar kesal namun jelas dipenuhi kekhawatiran.
“Aku tidak bisa berhenti memikirkanmu…” balas Brian dengan suara lesu.
Mendengar itu, Amayah langsung tersipu. Dadanya terasa berdesir, membuatnya sedikit salah tingkah. Ia tidak sanggup menatap Brian terlalu lama.
“Kau ini tidak peka tapi selalu jujur apa adanya saat mengatakan sesuatu," katanya tegas, entah memuji atau mengejeknya, ia hanya berusaha menutupi rasa malunya.
“Oh ya, bagaimana caramu menemukanku?” tanyanya kemudian, rasa penasaran muncul di balik ekspresi dinginnya.
“Ah, aku bertanya pada ibumu,” jawab Brian santai. “Ibumu pasti sangat mengerti tentangmu, bahkan sampai tahu tempat yang akan kamu tuju saat merasa terpuruk.”
“Begitu ya,” ucap Amayah pelan. Senyuman kecil terbit di wajahnya, sementara hatinya terasa hangat tanpa ia sadari.
Brian membalas dengan senyum tipis. Perasaannya terasa jauh lebih lega. Akhirnya, semua kekacauan yang sempat menghantui pikirannya seolah mereda. Sekarang, yang perlu ia lakukan hanyalah mempertahankan kebersamaannya dengan Amayah. Ia tidak ingin kejadian seperti ini terulang lagi.
Brian menyadari bahwa rasa sakit dan sesak di dadanya ketika Amayah menghilang bukan sekadar perasaan kehilangan seorang teman. Ada sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang selama ini ia abaikan.
Yang terpenting, ia bisa kembali melihat senyuman Amayah—senyuman yang sudah lama tak ia temui.
“Ada apa?” tanya Amayah bingung saat mendapati Brian terus tersenyum menatapnya.
Brian menjawab singkat, “Tidak ada.”
Namun, Amayah justru semakin curiga. Dengan nada sedikit marah, ia berkata, “Beritahu aku.”
“Tidak mau.”
“Jahat,” ucap Amayah sambil mencemberut, lalu memalingkan pandangannya.
Alih-alih merasa takut Amayah marah, Brian justru merasa senang. Ia bahagia melihat Amayah tetap menjadi dirinya sendiri, apa adanya.
“Entah kenapa… aku baru menyadari pesonanya…” puji Brian dalam hati, memperhatikan ekspresi cemberut Amayah yang justru tampak menggemaskan.
“Amayah benar,” lanjutnya dalam benaknya, “aku pria yang tidak berpengalaman.”
Join saluran WhatsApp agar mendapatkan informasi terbaru terkait update light novel ini : https://whatsapp.com/channel/0029Vag3odvKQuJCLN490I0V (Jika tidak bisa dipencet, screenshot lalu pergi ke google lens)
Meskipun kepalanya masih terasa pusing dan Amayah telah menyuruhnya beristirahat di kamar, Brian tetap tidak bisa terlelap. Pikirannya terus dipenuhi oleh kata-kata yang sempat ia ucapkan pada Amayah—terasa begitu memalukan setiap kali diingat kembali. Ia akhirnya hanya berpura-pura tidur setelah meminum obat pereda sakit kepala yang diberikan Amayah.
Di sisi lain, Amayah tengah mengobrol santai di ruang tamu bersama neneknya dan Emilia. Suasana terasa hangat dan tenang.
“Syukurlah kalian sudah baikan. Tante sempat sangat khawatir, lho…” ucap Emilia lega.
“Ya, aku sudah memaafkan Brian. Lagipula, aku rasa tidak perlu memperpanjang masalah,” balas Amayah santai sambil menyeruput secangkir teh hangat.
“Kamu sudah menjadi anak yang bijak, Amayah,” ujar Betty, neneknya, dengan senyum tenang.
Amayah membalas dengan senyum kecil. “Ini semua berkat Brian. Dia membantuku berkembang,” ucapnya jujur, nada suaranya terdengar tulus.
“Pria itu pantas untukmu. Dia sangat luar biasa,” kata Betty santai.
“Nenek mengatakannya seolah-olah sudah mengenalnya lama…” ujar Emilia heran.
Betty tersenyum lembut, lalu berkata, “Pemuda itu datang jauh-jauh hanya untuk meminta maaf padamu. Namun, dia tahu bahwa meminta maaf saja tidak cukup untuk menaklukkan hatimu…”
“Maka dari itu, nenek menyarankan agar ia melakukan sesuatu yang berbeda—sentuhan fisik, seperti pelukan,” lanjut Betty sambil tersenyum hangat.
Mendengar hal itu, Amayah langsung tersipu, ingatannya kembali pada kejadian sore tadi. “Pantas saja dia melakukannya…”
“Eh? Kalian berpelukan di tepi pantai saat senja?” seru Emilia antusias. “Romantis sekali!” pujinya, meski terdengar sedikit iseng.
Mendengarnya, wajah Amayah semakin memerah. “Tolong jangan membuatku mengingat momen memalukan itu…”
Emilia dan Betty hanya saling tersenyum melihat reaksi Amayah yang begitu manis.
“Lalu, bagaimana hubungan kalian sekarang?” tanya Emilia penasaran. “Apa kalian sudah berpacaran?” tanyanya lagi.
Dengan pipi yang masih memerah, Amayah menjawab dengan percaya diri, “Ya… bisa dibilang begitu.”
“Wah, selamat!” seru Emilia bahagia. “Tante akan mendukung kalian sepenuhnya. Bahkan, Tante rela tinggal di tempat lain demi membiarkan kalian berduaan!”
Mendengarnya, Amayah langsung salah tingkah. “Eh?!” serunya kaget, suaranya sedikit bergetar.
Emilia tertawa lepas melihat ekspresi Amayah yang begitu menghibur. Di sisi lain, Betty menggenggam tangan Amayah dengan lembut.
“Nenek sangat senang,” ujar Betty tulus. “Nenek harap hubungan kalian bisa bertahan hingga ke jenjang yang lebih serius. Jika kamu memang menyayanginya, jagalah hubungan itu baik-baik. Jangan sampai berakhir hanya karena masalah sepele.”
“Itu benar,” sambung Emilia. “Jangan gara-gara serangga sampai berujung jadi orang asing! Hahaha!”
Amayah tersenyum hangat. Hatinya pun terasa hangat mendengar nasihat neneknya yang begitu bermakna. Ia bersyukur dikelilingi oleh orang-orang yang begitu peduli padanya. Untuk pertama kalinya, Amayah benar-benar merasakan kasih sayang—dan kali ini, takdir seolah berpihak padanya. Ia merasa sangat, sangat beruntung.
Di sisi lain, Brian yang ternyata menguping pembicaraan mereka dari dalam kamar hanya bisa tersenyum kecil. Ia merasa tenang dan lega karena Amayah akhirnya bisa merasakan kebahagiaan. Namun, dalam hatinya, Brian kini menetapkan satu tujuan—membahagiakan Amayah, apa pun caranya.
“Tapi aku tidak tahu caranya pacaran…” gumam Brian pelan sambil perlahan menutup mata.
Malam itu menjadi malam terbaik dalam hidup Amayah. Begitu pula bagi Brian. Keduanya sama-sama ingin memahami bagaimana rasanya dicintai. Karena itulah, mereka tak sabar menunggu hari esok—hari-hari di mana mereka bisa menghabiskan waktu bersama, kini dan seterusnya.
Bersambung.
Ditunggu sekuelnya! 😉
Join saluran WhatsApp agar mendapatkan informasi terbaru terkait update light novel ini : https://whatsapp.com/channel/0029Vag3odvKQuJCLN490I0V (Jika tidak bisa dipencet, screenshot lalu pergi ke google lens)
semangat terus bang!!!