Di pesta 1 tahun pernikahan, dia dikhianati oleh suami dan sahabatnya. Terlibat dalam kecelakaan mobil yang membuatnya meregang nyawa,
Namun tuhan memberi Reta kesempatan untuk menjalani kehidupan kedua.
Kali ini, dia berjanji akan mengambil kembali semua yang pernah menjadi miliknya. Berencana menghubungi satu-satunya keluarga,
"Mulai sekarang kamu adalah wanitaku." tegas Max menatap tajam gadis yang telah ia lucuti,
Secuil tragedi mengantar mereka ke hubungan yang salah.
Bisakah Reta membalas dendam sembari mengatur takdir yang membelenggu tubuh keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pecahan memori
Reta Sidney, wanita berusia 26 tahun, pemilik saham terbesar di perusahaan Sidney. Sebuah perusahaan paling sukses di negara,
Dia merupakan putri kaya yang telah dijamin menjadi penerus perusahaan keluarganya,
Siapa sangka wanita seperti Reta memiliki nasib malang. Dia mati di malam pesta 1 tahun pernikahannya,
Pada nafas terakhir, Reta mendengar sahabat baiknya telah bersekongkol dengan suami tercinta.
Mereka merencanakan pembunuhan Reta demi mendapat seluruh harta milik keluarga Sidney.
Beruntung takdir masih memberi kesempatan padanya. Reta kembali hidup meski dalam tubuh lain,
Berpindah sebagai gadis berusia 20 tahun bernama Arana, putri bungsu keluarga Pratama.
Gadis yang menderita penyakit jantung sejak kecil, meski begitu keluarganya sangat menyayangi dan rela menghabiskan kekayaan demi kesembuhan putrinya.
Keluarga Pratama juga memiliki perusahaan besar yang terbilang sukses, namun posisi ayah Arana berada paling bawah karena ditekan sebagai anak bungsu.
Terlebih biaya pengobatan Arana membuat keluarganya masuk ke dalam krisis dengan hutang besar.
2 jam setelah Reta masuk ke dalam tubuh Arana.
Perawat masuk dengan beberapa peralatan di tangannya,
Orang tua Arana yang masih disana hanya diam berdiri. Membiarkan perawat tadi menjalankan tugas,
"Orang tua pasien...silahkan ikut saya menemui dokter, katanya ada hal penting yang ingin dibacarakan." ucap Suster telah selesai memeriksa kondisi pasien,
Wira ayah Leo mengangguk paham, mengenggam tangan istrinya yang tampak cemas.
"Ana, mama tinggal dulu ya..." pamit Citra tersenyum lembut,
Arana mengangguk, membalas dengan senyuman, menatap punggung mereka yang semakin menjauh dari pandangan.
Keduanya pergi menghampiri ruangan lain, menghadap dokter yang telah duduk menunggu. Wajahnya tampak kebingungan, mempersilahkan mereka berdua untuk duduk,
"Apa putri saya baik-baik saja Dok?" tanya Citra berharap penuh cemas,
"Hm, ini sedikit rumit." Dokter bergumam,
Sekali lagi memeriksa lembar laporan yang tampak kusut karena sering dibaca.
"Setelah saya cek. Menurut laporan kesehatan..."
"Disini tertulis, Arana memiliki riwayat penyakit jantung sejak kecil. Apa itu benar?"
"iya Dok, sebelumnya Arana dirawat oleh dokter Bram..."
"Tapi karena ada hal mendadak, dokter Bram harus pergi keluar negeri." sahut Wira menjelaskan,
"Jadi begini...menurut laporan, sebelum Arana dipindahkan kesini---detak jantungnya sempat berhenti secara tiba-tiba."
"Apa Bapak bisa ceritakan, apa yang terjadi pada hari itu?"
Wira mengangguk, langung bercerita mengenai kejadian minggu lalu, saat keadaan putrinya memburuk.
Perawat mendapati alat EKG tidak menunjukkan respon seperti biasanya, lalu mereka memutuskan segera memindahkan Arana ke rumah sakit besar yang memiliki dokter spesialis jantung terbaik.
"Memangnya, bagaimana keadaan putri saya saat ini dok?" lugas Citra tampak risau,
"Itu yang buat saya bingung. Padahal di laporan tertulis kalau pasien sempat koma dan punya riwayat penyakit jantung sejak kecil,"
"Saya juga lihat sendiri, selama seminggu dirawat Arana tidak menunjukkan respon apapun."
"Tapi pagi ini, dia tiba-tiba sadar...sungguh keajaiban. Hasil pemeriksaan barusan malah lebih mengejutkan,"
"Semua datanya normal. Ana sudah sembuh total dari penyakitnya," ucap Dokter menjelaskan dengan penuh takjub.
"Apa, b-bagaimana mungkin?"
Wira dan Citra saling menoleh, tertegun mendengar pernyataan tadi. Kalimat indah itu bagai hadiah yang selama ini mereka mimpikan,
"Apa benar, Arana sudah sembuh total?"
"Benar. Barusan saya sudah menyuruh perawat untuk memeriksa kembali dan hasilnya sama,"
"Anak kalian tidak memiliki penyakit jantung. Keadaannya sudah membaik dan boleh dibawa pulang,"
Bagaikan pelangi yang muncul di tengah badai. Pasangan itu saling berpelung bahagia merayakan kesembuhan putri mereka,
"Papa, anak kita sembuh... Akhirnya, Ana bisa hidup normal." ujar Citra meneteskan air mata,
"Terima kasih Dok..."
Mereka tersenyum harus, berpamitan sebelum berjalan kembali menghampiri putrinya.
Leo yang menunggu di dalam, langsung cemas melihat mata ibunya sudah membengkak, bahkan pipi ayahnya juga masih basah dipenuhi tangisan.
"Loh, Pa! Ada apa? Kenapa kalian menangis,"
"Gapapa, ini air mata bahagia." sahut Citra tersenyum,
Kakinya melangkah ke samping Arana, tanpa sadar linangan air matanya kembali lolos membasahi punggung gadis yang dipeluk erat.
"M-mama kenapa?" ujar Ana melirik kebingungan,
"Apa kata dokter?" tambah Leo penasaran.
"Kata dokter, Ana sudah sembuh total dan boleh pulang." jawab Wira,
Menceritakan kembali percakapan yang terjadi sebelumnya.
"Wah. Berarti Ana bisa sekolah lagi!" Leo tersenyum bahagia.
"Sembuh? Beneran? Apa karena Ana yang asli udah meninggal? jadi sekarang penyakitnya ikutan ngilang,"
"Tapi, syukurlah. Aku ga perlu dipasangi alat alat ini lagi,"
Aranan menatap sekilas, alat yang masih menempel erat di tubuhnya.
Waktu berlalu...
Setelah menyelesaikan administrasi, mereka langsung membawa Arana kembali pulang.
Di tengah deraian hujan, mobil putih itu melaju, melawan derasnya hujan yang menyisakan bising gemericik dari dalam kendaraan.
Mengenakan long dress biru muda, tampak Arana sedang terlelap di sandaran ibunya.
Pukul 16.00
"Ng.." Ana mengernyit, merasa kedutan di seluruh kepala.
Tiba tiba banyak sekali ingatan baru yang bermunculan. Kutikula wajahnya dipenuhi tetesan keringat, meski udara di dalam mobil terbilang cukup dingin.
"Hah!" pekiknya terbelalak, berhasil mengejutkan orang lain.
Citra terjingkat, mengusapi kening putrinya sambil menenangkan gadis yang tampak ketakutan. "Ada apa sayang?"
Arana terengah-engah, berusaha menenangkan diri. "Apa itu tadi? Kenapa aku bisa melihat setiap kenangan yang Arana rasakan?"
"Apa karena tubuh ini?" batinnya mengernyit,
Tak sengaja menoleh ke arah kaca.
Mendapati bangunan rumah yang begitu asri, padahal dia belum pernah kesana tapi ingatan di tubuh Arana membuatnya terasa familiar.
"Sayang..." Citra memanggil lirih, "Kamu gapapa?"
"Nggak. Gapapa, cuma habis mimpi buruk." sahut Ana tersenyum singkat,
Tangannya mengepal, merasakan debaran jantung yang masih berdegup kencang.
"Sejak lahir Arana selalu terbaring sakit-sakitan dan menghabiskan uang orang tuanya,"
"Badannya sangat kurus, seperti mayat hidup. Selama ini alat-alat medislah yang mebantunya bertahan hidup," batin Arana merasa iba dengan nasib pemilik asli.
Betapa kagetnya Reta ketika mengingat kejadian, dimana Arana berusaha mengakhiri hidupnya sendiri dengan meminum obat-obatan melebihi dosis.
"Dia pasti lelah mendengar hinaan orang lain,"
"Dia pasti juga merasa bersalah karena menjadi beban bagi orang tuanya."
Termenung, mengingat jelas saat-saat terakhir sebelum Arana yang asli meninggal.
"Aku tidak tahu, bahwa ada gadis lain yang lebih sial dari diriku."
"Pasti dari kecil, dia tidak pernah bermain di luar..."
"Maaf Ana. Mulai hari ini aku janji bukan hanya demi hidupku yang dulu, tapi aku akan membalas mereka yang berani mengusikmu!"
"Dan tenang saja, aku pasti membalas budi kepada orang tuamu. Asal tahu saja...mereka tidak pernah sedikitpun menganggapmu sebagai beban,"
Dia tersenyum menyambut tangan lembut Citra yang menuntunnya keluar dari mobil.
"Jadi, tenanglah di surga. Biar aku yang melanjutkan hidupmu sebagai Arana,"