Perjodohan itu bukan untuknya. Hanya saja, dia terpaksa pergi ke desa untuk menikah dengan pria desa yang sama sekali tidak ia kenali sebelumnya. Semua gara-gara adiknya kabur karena tidak ingin dinikahkan dengan pria desa tersebut. Dan yang paling menyakitkan adalah, sang adik kabur bersama pacar yang seharusnya akan menjadi tunangan Airin dalam waktu dekat.
Akan kah kepergian Rin bisa menciptakan kebahagiaan setelah badai besar itu datang padanya? Lalu, bagaimana dengan sambutan Mbayung atas kehadiran Rin yang datang untuk menikah dengannya? Bagaimana pula kehidupan adik dan mantan pacar yang telah mengkhianati Rin selanjutnya? Ayok! Ikuti kisah mereka di KETIKA KOTA BERTEMU DESA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KKBD Part *31
"Mungkin, di desa tidak ada jaringannya, Seyara."
Yara terkekeh pelan. "Tidak ada jaringan. Tapi sepertinya, pesan yang aku kirimkan telah terbaca oleh kak Rin. Hanya saja, dia tidak bersedia untuk membalasnya. Dia tidak bersedia untuk memaafkan aku. Dia masih marah, Ma."
Sang mama langsung melepas napas berat lagi. "Kakak mu pasti butuh waktu untuk memaafkan. Percayalah, bukan dia tidak mau, Yara. Hanya saja, waktunya mungkin belum tepat. Percayalah, kakak mu pasti akan memaafkan kamu suatu hari nanti."
Yara terdiam sekarang. Dia ingin mempercayai apa yang mamanya katakan barusan. Sang mama pun terus menghibur anak bungsunya agar tidak lagi merasa bersalah dan tidak terlalu larut dalam kesedihan terlalu lama.
Entahlah. Mama Rin ini mungkin terlihat pilih kasih. Padahal, anak yang pertama telah terluka sangat dalam oleh ulah anak keduanya. Tapi tetap saja, anak kedua yang di bela. Agak lain memang. Tapi, mungkin wanita itu punya alasannya tersendiri saat melakukan hal tersebut.
*
Beberapa saat setelah mengobrol dengan mamanya, Yara memilih untuk masuk ke kamar tidur yang dulunya ia tempati. Namun, saat ingin membuka kamarnya, wanita itu malah memperhatikan kamar si kakak.
Dulu, saat masih tinggal satu atap, mereka tidur di kamar yang bersebelahan. Yara masih mengingatnya dengan sangat jelas saat-saat mereka bersama dulu.
Dia yang sangat manja, yang selalu ceria, yang selalu ingin meminjam barang-barang si kakak dengan wajah yang memelas. Hubungan mereka memang sangat dekat sebelumnya. Namun sekarang, jurang pemisah itu terasa sangat jelas.
Yara membatalkan niatnya untuk masuk ke kamar miliknya dulu. Sebaliknya, ia malah mendorong pintu kamar yang dulu menjadi tempat tidur si kakak.
Pintu terbuka, suasana di kamar tersebut masih sama walau orangnya sudah tidak ada lagi. Kamar terawat dengan sangat baik. Yara berjalan perlahan memasuki kamar tersebut langkah demi langkah.
Matanya menyapu seisi kamar secara perlahan. Perasaan rindu akan masa lalu menyusup di dalam hati. Ingatan masa lalu pun kembali menghampiri. Seakan, Yara bisa melihat bayangan masa lalu itu dengan sangat jelas sekarang.
"Kak Rin." Yara memanggil dengan suara pelan.
Lalu, di benaknya langsung terdengar panggilan dengan jelas. "Kak Rin. Pinjamkan aku baju biru yang ini ya."
"Kakak, minta uang. Aku ingin jajan."
"Kak, kamu punya banyak cemilan. Kamu harus berbagi dengan ku."
Begitulah suara-suara indah kehangatan dari masa lalu memenuhi benak dan telinga Yara. Perlahan, buliran bening jatuh secara perlahan tanpa Yara sadari.
"Kakak." Bibir Yara bergumam pelan.
Wanita itu menahan napasnya selama beberapa detik. "Maafkan aku. Maafkan adik yang tidak pantas di sebut sebagai adik ini. Aku sungguh sangat, sangat menyesal. Aku terlambat menyadari kesalahan. Aku terlalu egois."
"Kak Rin. Aku benar-benar minta maaf."
Yara terdiam di kamar itu selama beberapa saat. Duduk diam di atas ranjang si kakak tanpa melakukan apapun. Hanya diam sambil memutar kembali ingatan-ingatan dari masa lalu yang tidak akan pernah bisa ia ulang kembali.
"Aku salah. Tapi sayangnya, kesalahan itu tidak akan pernah bisa ku perbaiki lagi seumur hidup."
Penyesalan itu memang selalu datang belakangan bukan? Jadi, memang itulah kenyataan yang tidak akan bisa diubah. Makanya, jika ingin melakukan sesuatu, jangan mengandalkan ego. Karena akhirnya, akan berubah menyedihkan. Hidup dalam kepahitan yang sangat nyata.
Di sisi lain, Rin malah menjalani hari-hari dengan bahagia. Perlakuan suaminya benar-benar membawa iya ke jalan yang penuh dengan kebahagiaan.
"Mm ... hari ini aku akan bekerja hanya setengah hari saja. Siangnya, aku akan pulang, lalu setelahnya, pergi ke desa kecamatan." Bayu berucap sambil menyiapkan nasi goreng untuk istrinya.
Pagi ini, Bayu yang membuat sarapan untuk mereka berdua. Sementara Rin, sang ratu hati Bayu hanya duduk manis di meja makan sambil memperhatikan gerakan-gerakan cekatan yang Bayu perlihatkan saat menyiapkan sarapan tersebut.
"Nah, sudah selesai. Istriku, silahkan menikmati sarapan spesial dari suamimu," ucapnya sambil meletakkan piring dengan nasi goreng plus terus ceplok di depan Rin.
Rin tersenyum lebar. "Terima kasih, Tuan."
"Nona, jangan sungkan. Aku adalah raja mu sekarang."
Rin langsung terkekeh. "Mana ada raja menyiapkan sarapan untuk istrinya. Yang benar saja."
"Tentu saja ada, nona. Raja yang sangat istrinya akan menyiapkan sarapan untuk sang istri."
"Oh, ada ya? Aku rasa, raja itu sedang kekurangan pekerjaan sekarang. Makanya dia bisa menyiapkan sarapan yang harus ia masak dengan tangannya sendiri hanya untuk sang istri."
Bayu tersenyum kecil sambil duduk di depan Rin. "Ya, begitulah kira-kiranya. Raja sekarang memang tidak punya rakyat untuk di perintah. Jadi, bukan masalah jika ia hanya sibuk melayani istrinya saja."
Keduanya pun terus bercanda sambil menikmati sarapan mereka. Sesekali, mereka tertawa lepas bersama-sama saat ada candaan yang lucu menggelitik hati.
Beginilah kehidupan manis yang saat ini sedang Rin jalani bersama Bayu. Pria tampan, meskipun hanya anak desa, tapi sikapnya sungguh luar biasa. Rin adalah prioritas Bayu sejak pertama bertemu hingga saat ini. Perlakuan Bayu tidak berubah sedikitpun. Malahan, semakin bertambah-tambah romantis saja sekarang.
"Oh iya, Rin. Kamu, beneran gak mau ikut aku ke desa kecamatan nanti?"
"Mm ... aku .... " Rin memikirkan ulang keputusan yang telah ia ambil. Saat ingat apa yang terjadi di cafe waktu itu, rasa cemas mulai muncul.
"Kamu beneran gak akan ke cafe itu kan, Bay?"
Aroma kecemburuan langsung tercium. Sifat jahil Bayu yang tidak pernah ia perlihatkan pada orang lain sebelumnya, termasuk pada Mela pun akhirnya muncul.
Dengan wajah jahil, Bayu berucap. "Mm ... masih aku pertimbangkan."
"Bayu .... "
"Iya, tidak. Percaya sama aku, tidak."
Rin langsung manyun. "Jika ingin pergi juga gak papa. Aku gak keberatan. Kamu pergi saja sana. Aku lagi malas buat ikut. Akhir-akhir ini, aku merasa sering lelah dan agak malas. Malas banget buat bergerak."
Wajah jahil Bayu langsung berubah cemas.
"Kamu, gak sakit kan, Rin?
"Sepertinya, nggak. Aku hanya malas gerak saja. Malas buat ngelakuin apa-apa."
"Beneran gak sakit? Apa, kita pergi ke puskesmas saja pagi ini?"
"Gak perlu, Bayu. Aku beneran gak papa kok. Memang hanya males aja gitu. Tapi aku baik-baik saja."
"Kamu yakin?" Bayu menatap Rin dengan tatapan penuh selidik. Wajah cemasnya masih terlihat dengan sangat jelas.
"Iya. Aku yakin. Jangan cemas. Aku baik-baik saja."
"Baiklah kalau gitu, aku akan percaya. Tapi, jika merasa tidak nyaman atau ada yang sakit, jangan kamu sembunyikan dari aku. Cepat katakan padaku."
"Iya, raja. Iya. Raja kok bawel sih?"
"Rin .... Aku serius. Tidak bercanda. Aku beneran cemas sekarang."