Di Benua Dao Yin, Kekaisaran Yin berdiri di tengah empat kekuatan besar yang menyimpan ambisi pengkhianatan.
Saat perang pecah dan kekaisaran runtuh, Chen Long—pangeran Utara berdarah naga dan keturunan kesatria kuno—kehilangan segalanya.
Diburu manusia, iblis, dan akhirnya langit itu sendiri, Chen Long menapaki jalur kultivasi terlarang Yin–Yang, sebuah kekuatan yang tak diakui surga. Bersama Putri Yin Sunxin, pewaris darah murni Dewi Bulan, ia membangun kembali tatanan dunia dari reruntuhan, menantang iblis, menghancurkan para pengkhianat, dan menghadapi hukuman alam dewa.
Ketika Yin dan Yang bertabrakan dalam satu tubuh, lahirlah seorang anomali—
penguasa baru yang akan menentukan apakah dunia layak diselamatkan,
atau harus dihancurkan demi keseimbangan sejati.
(Update setiap hari)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 PANGGILAN YANG TIDAK BISA DITOLAK
Usia enam belas tahun datang bersama segel kekaisaran.
Utusan itu tiba saat matahari masih rendah—tidak membawa pasukan besar, tidak membawa ancaman terbuka. Hanya sebuah gulungan hitam berlapis emas Yin, dan sikap yang terlalu hati-hati untuk sekadar penghormatan.
“Kami membawa dekrit Kekaisaran Yin,” kata utusan itu sambil berlutut.
“Ditujukan kepada Raja Utara… dan putranya.”
Kata terakhir itu membuat halaman Benteng Utara hening.
Chen Long berdiri di sisi pilar batu, mengenakan pakaian latihan. Tidak ada senjata di tangannya. Namun sejak kegagalan misi terakhir, tubuhnya selalu berada dalam keadaan siaga rendah—seolah menunggu tekanan datang dari arah yang lebih besar.
Chen Hao menerima gulungan itu tanpa ekspresi.
Ia membacanya perlahan.
Sekali.
Lalu menutupnya.
“Kau dipanggil,” katanya kepada Chen Long.
“Bukan sebagai prajurit. Bukan sebagai sandera.”
Chen Long mengangkat pandangannya.
“Lalu sebagai apa?”
Chen Hao menatapnya tajam.
“Sebagai Pangeran Utara.”
Perjalanan menuju ibu kota Yin dilakukan dengan pengawalan minimal.
Bukan karena kekaisaran meremehkan keselamatan mereka—melainkan karena terlalu banyak mata yang mengawasi jalur itu. Tiga kekuatan besar di Benua Dao Yin tidak bodoh. Pemanggilan resmi berarti satu hal: sesuatu sedang bergerak di pusat kekuasaan.
Di dalam kereta, Chen Long duduk diam.
Ia mengenakan jubah hitam polos dengan lambang Utara di dada—pertama kalinya ia mengenakan simbol itu secara terbuka.
“Apakah ini awal perang?” tanyanya akhirnya.
Chen Hao tidak langsung menjawab.
“Ini awal dari sesuatu yang lebih berbahaya,” katanya.
“Perang bisa dimenangkan dengan kekuatan. Panggung kekaisaran dimenangkan dengan posisi.”
Chen Long mengangguk.
Ia sudah lama berhenti menganggap dunia sebagai tempat yang jujur.
Ibu kota Yin menyambut mereka dengan keheningan yang terlalu rapi.
Gerbang tinggi berlapis emas Yin terbuka perlahan. Jalan-jalan bersih. Prajurit berjajar sempurna. Tidak ada sorak. Tidak ada cemooh.
Namun Chen Long merasakannya.
Tatapan.
Dari balkon.
Dari balik tirai.
Dari dalam istana.
Mereka tidak melihat seorang anak.
Mereka melihat variabel.
Di aula utama, Kaisar Yin duduk di singgasananya—wajahnya tenang, namun auranya dalam dan berat. Di sisi kanannya berdiri Putri Yin Sunxin, mengenakan jubah bulan perak. Tatapannya jatuh pada Chen Long sesaat lebih lama dari yang pantas bagi etiket.
Ia merasakannya juga.
Dingin Yin murni.
Tenang.
Namun dalam.
“Raja Utara,” ujar Kaisar Yin.
“Dan Pangeran Chen Long.”
Chen Hao berlutut satu lutut.
Chen Long mengikuti—gerakannya tepat, tidak berlebihan.
“Kekaisaran memanggil kalian,” lanjut Kaisar Yin,
“karena bayangan telah bergerak di luar batas benteng.”
Ia mengangkat tangan.
Sebuah peta terbuka di udara—wilayah Dao Yin berpendar. Tiga kekuatan besar ditandai dengan cahaya redup. Garis-garis pengaruh mereka merayap ke arah ibu kota.
“Ini bukan lagi gangguan iblis kecil,” kata sang Kaisar.
“Ini awal dari pergeseran kekuasaan.”
Tatapan Kaisar beralih ke Chen Long.
“Kami mendengar laporan,” lanjutnya.
“Seorang pemuda tanpa Nadi terbuka… namun bertahan di zona abu-abu lebih lama dari prajurit veteran.”
Aula menjadi lebih sunyi.
Chen Long menunduk sedikit.
“Itu hanya kebetulan.”
Kaisar Yin tersenyum tipis.
“Tidak ada kebetulan di tahap ini,” katanya.
“Itulah sebabnya kami memanggilmu.”
Putri Yin Sunxin melangkah maju.
“Mulai hari ini,” katanya dengan suara jernih namun dingin,
“kau akan tinggal sementara di ibu kota sebagai bagian dari pengamatan kekaisaran.”
Bukan tawaran.
Bukan permintaan.
Chen Long merasakan tekanan lembut namun luas—bukan Qi yang menyerang, melainkan otoritas.
Ia melirik ayahnya.
Chen Hao mengangguk hampir tak terlihat.
“Baik,” jawab Chen Long.
“Aku akan patuh.”
Namun di dalam dirinya, retakan yang pernah hampir menjadi jalan itu berdenyut pelan.
Bukan karena emosi.
Bukan karena amarah.
Melainkan karena—
untuk pertama kalinya, seluruh dunia fana mulai mempersempit ruang geraknya.
Malam itu, Chen Long berdiri di balkon penginapan istana.
Lampu-lampu ibu kota berkilau seperti bintang palsu. Ia merasakan banyak aura kuat—manusia, artefak, formasi—semuanya saling menekan dalam keseimbangan rapuh.
Di kejauhan, bulan naik perlahan.
Chen Long menutup mata.
Ia belum membuka Nadi.
Namun ia tahu—
mulai saat ini, setiap langkahnya akan diamati.
Dan di tempat yang lebih gelap dari bayangan istana,
sesuatu yang lain juga mulai menyusun langkahnya.
Malam turun tanpa suara, seolah langit sendiri menahan napas.
Markas perbatasan Kekaisaran Yin masih terjaga, namun ritmenya telah berubah. Tidak ada tawa ringan para prajurit, tidak ada percakapan santai di dekat api unggun. Yang tersisa hanyalah bunyi langkah teratur, gesekan logam, dan napas orang-orang yang tahu bahwa pemanggilan kekaisaran berarti perang yang lebih besar sedang mendekat.
Chen Long berdiri di atas tembok batu, menghadap ke selatan.
Ibu kota berada di balik gunung dan dataran panjang, namun arah itu terasa seperti pusat pusaran. Sejak segel perintah kekaisaran dibuka sore tadi, dadanya tak pernah benar-benar tenang. Nadi di lengannya berdenyut tak beraturan—bukan sakit, bukan panas—melainkan peringatan.
Bekas luka lama di sisi bahunya berdenyut pelan.
Itu luka dari insiden iblis bertahun-tahun lalu. Luka yang seharusnya sudah mati rasa. Namun malam ini, ia kembali hidup.
“Kamu memikirkan hal yang sama denganku.”
Suara itu muncul dari belakang, rendah dan tenang.
Chen Long tidak terkejut. Ia sudah merasakan kehadirannya sejak beberapa saat lalu.
Yin Sunxin berdiri dua langkah darinya, jubah hitamnya hampir menyatu dengan malam. Rambutnya terikat rapi, wajahnya pucat, mata gelapnya tajam namun tidak agresif.
“Kalau maksudmu pemanggilan ini,” jawab Chen Long, “aku yakin semua orang memikirkannya.”
Yin Sunxin menggeleng pelan. “Tidak. Aku bicara tentang… arah.”
Ia ikut menatap ke selatan. Angin malam meniup ujung jubahnya, namun tubuhnya tetap tegak.
“Biasanya kekaisaran memanggil pasukan seperti kita untuk menutup lubang,” lanjutnya.
“Kali ini terasa seperti… mereka ingin kita berada di tengah arus.”
Chen Long menghela napas perlahan.
“Dan kamu tidak suka berada di tengah arus.”
“Aku tidak suka arus yang terlalu tenang,” jawab Yin Sunxin. “Itu berarti pusarannya disembunyikan.”
Keheningan kembali turun. Dari kejauhan terdengar suara latihan malam—prajurit memaksakan tubuh mereka seolah esok adalah hari terakhir.
“Kamu merasa dipanggil karena sesuatu di tubuhmu, bukan?” tanya Yin Sunxin, kali ini lebih pelan.
Chen Long mengepalkan tangannya. Otot lengannya menegang, dan nadi yang belum sepenuhnya terbuka berdenyut kasar.
“Sejak gagal Pembuka Nadi,” berkata akhirnya, “aku sering merasa… diperhatikan. Seperti ada sesuatu yang menunggu aku melangkah terlalu jauh.”
Yin Sunxin tidak menunjukkan ekspresi terkejut. Itu justru membuat Chen Long semakin yakin bahwa instingnya tidak salah.
“Kalau begitu,” katanya, “jangan beri mereka kepuasan itu.”
Chen Long menoleh.
“Kepuasan apa?”
“Berjalan sendirian.”
Untuk sesaat, Chen Long hampir tertawa kecil—bukan karena lucu, tapi karena kalimat itu terlalu sederhana untuk situasi sebesar ini.
Namun ia tahu, di dunia mereka, kalimat sederhana sering kali yang paling sulit dilakukan.
Sebelum ia sempat menjawab, bunyi lonceng rendah bergema di markas—tanda pergantian jaga sekaligus peringatan kesiapan penuh.
Malam benar-benar bergerak.
Dan jauh dari tembok manusia, sesuatu telah lebih dulu melangkah.
...****************...
Rencana Umpan
Di ruang yang tidak berada di atas maupun di bawah dunia, kabut hitam berlapis-lapis berputar seperti lautan tanpa dasar. Setiap lapisan memuat jeritan samar—bukan suara, melainkan sisa kehendak makhluk yang telah dilumat waktu.
Di pusatnya berdiri sebuah singgasana dari tulang dan obsidian retak.
Sosok tinggi duduk di sana, satu kaki bersilang, satu tangan menopang dagu. Matanya merah gelap, namun tenang—ketenangan predator tua yang sudah terlalu sering menang untuk merasa terburu-buru.
“Manusia bergerak,” katanya pelan.
Di bawah singgasana, empat iblis tingkat tinggi berlutut. Aura mereka cukup untuk menghancurkan benteng manusia, namun di hadapan sosok itu, mereka tidak lebih dari bayangan.
“Pemanggilan kekaisaran telah dikeluarkan,” lanjut sang penguasa iblis.
“Pasukan akan berkumpul. Perhatian akan terkunci.”
Sebuah peta energi terbentuk di udara. Garis-garis cahaya manusia mengalir cepat, berkumpul menuju satu titik terang.
Ibu kota Kekaisaran Yin.
“Indah,” gumamnya. “Mereka masih berpikir kota adalah jantung dunia.”
Salah satu iblis menggeram rendah. “Apakah kita akan menghancurkannya sekarang?”
Sang penguasa tertawa kecil—suara itu tidak keras, namun membuat kabut di sekeliling bergetar.
“Menghancurkan kota hanya melahirkan dendam,” katanya.
“Aku tidak menginginkan dendam.”
Ia mengangkat satu jari.
Peta itu berubah. Di balik cahaya terang ibu kota, muncul satu titik kecil, redup, hampir tertelan oleh bayangan arus besar.
Seorang anak.
Tubuh kecil, nadi yang retak namun tidak runtuh, denyut yang tidak mengikuti hukum dunia.
“Benih,” bisiknya.
“Dia belum menjadi apa-apa,” kata iblis lain ragu. “Mengapa tidak menunggu sampai matang?”
“Karena benih seperti ini,” jawab sang penguasa, “paling rapuh saat dunia belum menyadari nilainya.”
Ia berdiri. Kabut bergulung liar di sekeliling singgasana.
“Kirim umpan ke ibu kota. Buat mereka yakin ini serangan langsung.”
“Biarkan para jenderal, pembudidaya, dan mata-mata berkerumun di sana.”
Matanya menyipit, menembus peta energi.
“Sementara itu… kita gerakkan tangan lain.”
“Perlahan. Tanpa suara.”
Bayangan bergerak di balik kabut—pengintai, pemburu, makhluk yang bahkan iblis lain enggan menatap terlalu lama.
“Jika benih itu bertahan,” katanya pelan, “dia akan menjadi masalah besar bagi kita.”
Senyum tipis terukir di wajahnya.
“Dan jika tidak… dunia manusia akan kehilangan sesuatu sebelum sempat menyebut namanya.”
Kabut menutup peta.
Di dunia manusia, lonceng peringatan masih berdentang. Pasukan bersiap, strategi disusun, dan semua mata mengarah ke ibu kota.
Tak satu pun menyadari bahwa perang sesungguhnya baru saja dimulai di tempat yang mereka anggap terlalu kecil untuk diperhitungkan.
...BERSAMBUNG...
...****************...