Bagaimana jika ada wanita kaya yang mempermainkan cinta tulus pria miskin? Apakah wanita itu akan menyesal atau malah bangga melepaskan pria yang tulus mencintainya karena tidak "setara"? Riko Dermanto, anak pemulung dari desa yang pintar sampai mendapatkan beasiswa kuliah di kampus ternama Jakarta. Bertemu dengan wanita kaya yang membuatnya jatuh cinta dan rela melakukan apapun yang wanita itu inginkan. Di malam guntur dengan hujan deras dan sambaran petir, wanita itu ternyata memilih bersama pria lain. Berciuman didepan mata Riko. Membangkitkan amarah serta jiwa pemberontaknya. Dirinya benar benar dimanfaatkan tanpa ampun oleh wanita itu hingga sadar cintanya bertepuk sebelah tangan. Tidak berhenti disitu, Riko melakukan pembalasan yang mampu disebut CINTA MATI BERDARAH! Ia rela bertaruh darah untuk membuktikan cintanya. Ini cinta atau obsesi? Baca novel ini dan dukung yaaa!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SariRani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DATANG KE DESA
Setelah 7 jam operasi, akhirnya Riko berhasil diselamatkan meskipun belum sadar juga. Mengalami patah tulang di kakinya serta pendarahan di beberapa tempat terutama di perut membuatnya hampir saja tidak tertolong.
Dengan bantuan kakek Tito, Riko mendapatkan perawatan eksklusif.
Sedangkan kondisi Maya juga belum sadarkan diri di rumah sakit Internasional Jakarta setelah melakukan operasi di kepalanya.
Hari sudah pagi, Tito, Iyan, dan Leon tetap menemani Riko yang sudah diletakkan di kamar VVIP.
"Apa kita harus memberitahu keluarga Riko di desa ya?" tanya Leon tiba tiba.
"Hmmm...wisuda akan diadakan 2 minggu lagi. Entah bagaimana kondisi Riko saat itu" jawab Tito.
Ponsel Riko sepertinya hanyut terbawa banjir, sedangkan dompetnya masih terselamatkan.
"HP Riko hilang. Keluarganya pasti tidak bisa menghubunginya" ujar Leon.
"Aku punya nomor telepon ayahnya. Aku bisa meneleponnya. Tapi apa yang akan aku katakan?" tanya Iyan.
"Kita katakan saja yang sebenarnya. Jika mereka mau, aku akan menyiapkan transportasi untuk mereka datang kesini" jawab Tito.
"Kamu benar benat kaya ya To? Astaga kenapa kamu nyamar begini. Tau begitu, kita gak dianggap geng miskin sekampus" ujar Leon.
"Udah aku bilang. Ini tes buat kalian. Udah jangan bahas aku kaya apa miskin, kita urus dulu Riko" sahut Tito.
Iyan dan Leon pun mengangguk.
Tak lama kemudian, jadwal kunjungan dokter untuk memeriksa Riko. Mereka bertiga keluar ruangan.
Iyan menelepon ayah Riko, Pak Suprapto. Tidak kunjung diangkat.
"Aku lupa, kalau pagi gini hp nya Pak Prapto gak dibawa sedang kerja keliling cari rongsokan" ingat Iyan tiba tiba.
"Haish!!! Kamu gak punya nomor anggota keluarganya yang lain?" tanya Leon.
"Gak ada. Hp nya cuma satu. Ayah, Ibu, dan ketiga adik Riko pake bareng. Serumah cuma satu hp" jawab Iyan.
"Kamu punya alamatnya gak? Ayo kita kesana aja" ajak Tito.
"Heh, desa Riko tinggal jauh dan terpencil. Ada di Jawa Timur" ujar Leon.
"Gak masalah. Aku akan kesana sama salah satu diantara kalian. Dan satu lagi tinggal disini jaga Riko" sahut Tito.
"Ya lebih baik aku saja yang disini. Iyan yang tau keluarga Riko" ujar Leon.
"Oke. Aku akan beli tiket pesawat untuk aku dan Iyan" ucap Tito.
"Na..naik pesawat?" tanya Iyan.
"Ya..kamu akan naik pesawat bersamaku" sahut Tito.
Akhirnya diputuskan, Leon yang menjaga Riko dirumah sakit sedangkan Tito dan Iyan pergi ke kampung halaman Riko.
Di rumah sakit lain, Maya juga belum juga siuman. Membuat keluarganya panik.
"Bagaimana ini? Maya belum juga sadarkan diri" ucap Ayu, ibu Maya.
"Sabar sayang. Putri kita sangat kuat. Dia akan segera siuman" sahut Erlan, ayah Maya.
Juan izin pulang karena harus pergi ke perusahaan keluarganya.
"Aku sudah minta tolong Hania untuk memberikan dokter terbaik rumah sakit ini, Mom. Tenang saja, Maya akan pulih kembali" sahut kakak Maya bernama Lingga.
Hania adalah istri Lingga yang menjabat menjadi wakil direktur rumah sakit Internasional Jakarta karena rumah sakit ini adalah rumah sakit milik keluarganya.
Tak lama kemudian, yang disebut datang. Hania datang dengan jas putih kebanggaan dokter. Ditemani oleh beberapa dokter lainnya serta perawat.
"Selamat pagi mom, dad. Maaf aku baru bisa datang" sapa Hania sambil memeluk Ayu dan Erlan bergantian.
"Gapapa sayang, kami paham pekerjaanmu" sahut Ayu.
Melihat wajah panik dan lelah kedua mertuanya, Hania pun memberikan senyuman.
"Keadaan Maya sudah semakin baik. Kondisi tubuhnya juga merespon baik. Memang efek bius dan pendarahan di otaknya membuat kesadarannya belum bisa dengan cepat untuk pulih. Kita bisa menunggu 1x24 jam setelah operasi. Sekarang masih 10 jam pasca operasi. Tapi tetap kita pantau perkembangannya" jelas Hania.
Hania adalah dokter spesialis bedah. Tadi malam dia tidak ikut mengoperasi Hania karena melakukan operasi darurat lainnya.
"Perkenalkan ini dokter Marsal, yang mengoperasi dan menindaklanjuti keadaan Maya kedepan" ujar Hania.
"Selamat pagi, ibu dan bapak sekalian. Tadi malam kita sudah berkenalan tapi saya akan memperkenalkan diri kembali. Saya Dokter Marsal, dokter bedah rumah sakit ini. Seperti yang sudah dijelaskan dokter Hania, bahwa kita perlu menunggu sekitar 14 jam lagi untuk melihat kondisi pasien. Jangan panik dan tetap berdoa untuk hasil terbaik. Dan perlu saya sampaikan diawal bahwa dampak dari pendarahan otak yang dialami pasien kemungkinan ada efek sampingnya. Saya tidak bisa memastikan, tapi semoga saja tidak ada efek samping yang berkelanjutan" jelas Dokter Marcal.
Erlan dan Ayu hanya bisa mendengarkan lalu menyerahkan hal ini pada ahlinya. Mereka hanya bisa berdoa.
.
Sore ini Tito dan Iyan sudah berangkat ke Surabaya sebelum menuju Trenggalek, dimana kampung halaman Riko berada.
Tito sudah menyewa mobil dengan drivernya selama perjalanan nanti.
Surabaya ke Trenggalek cukup jauh. Memakan waktu kurang lebih 4 jaman.
Dan dengan tanya tanya orang dimana rumah Pak Suprapto, akhirnya mereka sampai saat hari sudah malam. Sekitar pukul 8 malaman lebih, mereka berada didepan rumah dengan pemandangan yang cukup memprihatinkan dan gelap. Banyak rongsokan sampah.
Untung saja rumahnya sudah berdinding semen meskipun masih menggunakan genteng asbes.
Tok..tok..tok..
Pintu rumah diketuk oleh Tito.
Tak lama kemudian, munculah seorang anak perempuan. Mungkin sekitar 7 tahunan.
"Halo dek, kami teman Riko. Ibu atau bapak ada?" sapa Tito.
"Ada ada..sebentar" sahut anak itu sambil berlari kedalam rumah.
Tak berselang lama, keluarlah ibu ibu berdaster.
"Selamat malam, Nak. Beneran kalian teman Riko?" tanya ibu ibu itu memastikan.
"Iya, bu. Perkenalkan saya Tito dan ini Iyan" jawab Tito memperkenalkan diri dan temannya.
"Oh ya ya...maaf sejak beberapa hari ini listrik rumah kami mati karena belum bayar. Nunggu kiriman Riko tapi dari kemarin nomornya gak bisa dihubungi sampai hp kami mati" ujar ibu ibu itu.
Deg!
Langsung saja Tito dan Iyan saling tatap. Sepertinya mereka sangat takut mengabari kondisi Riko saat ini ketika melihat keadaan keluarga sahabatnya ini.
"Maaf maaf, sampai lupa nawarin masuk. Ayo masuk dulu, meskipun mati lampu tapi masih ada lilin" ujar ibu Riko.
Tito dan Iyan menurut.
"Raka, tolong bawakan 2 lilin lagi, nak" minta Ibu Riko sepertinya kepada anaknya yang lain.
"Iya bu, sebentar" sahut suara anak laki laki dari dalam rumah.
Ibu Riko pun duduk bersama Tito dan Iyan. Kemudian disusul oleh anak laki laki yang tinggi sambil membawa 2 lilin lalu diletakkan diatas meja.
Anak laki laki bernama Raka itu pun kembali masuk kedalam rumah.
"Maaf ya nak, rumahnya terbatas kayak begini" ujarnya.
"Tidak masalah bu. Kami kesini untuk..." belum juga Tito selesai berbicara terdengar suara batuk batuk keras dari dalam kamar.
"UHUUUK!! UHUK!!!"
"Sebentar nak, ayahnya Riko sedang sakit. Saya masuk sebentar ya ngecek keadaannya" ucap ibu Riko.
Tito dan Iyan dibiarkan berduaan di ruang tamu kecil dirumah itu.
"Bagaimana ini? Aku tidak tega mengatakan kondisi Riko" ujar Iyan.
"Gimana lagi, mereka juga harus tau kondisi anaknya" sahut Tito.
Tiba tiba ada anak perempuan remaja yang datang sambil membawa 2 gelas minuman.
"Diminum dulu, Mas. Ibu masih ngerawat ayah dulu" ujar anak perempuan itu, bukan anak 7 tahun yang tadi membukakan pintu tapi lebih besar mungkin berumur 14 tahunan.
"Oh iya gapapa" sahut Tito.
"Kamu Rika ya? Kamu adik Riko yang kedua ya?" tanya Iyan.
Anak perempuan itu mengangguk.
"Iya, Mas. Tadi ada Mas Raka, adik pertama Mas Riko, terus aku lalu ada Lili, adik ketiganya" jelas anak perempuan yang bernama Rika.
"Oh ya ya.." ujar Iyan mengangguk paham.
"Aku masuk dulu ya Mas, gantian sama Ibu" pamit Rika.
Iyan dan Tito pun mempersilahkan.
Ibu Riko datang dan duduk kembali dihadapan kedua teman putra pertamanya.